RSS

Tag Archives: vampire

Vampire Academy 2 – Frostbite


  • Pengarang               :    Richelle Mead
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    380 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Matahati
  • Harga                      :    64.500 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan                   :    Juli 2010
  • Tanggal Beli             :    21 Agustus 2011

Rose Hathaway berada pada tahun terakhirnya di St. Vladimir. Enam bulan lagi dia akan menjadi pengawal penuh dan bertugas melindungi sahabatnyam Lissa, seorang bangsawan Moroi.

Kemudian, serangan besar-besaran Strigoi terhadap sebuah keluarga Moroi menyebabkan Akademi St. Vladimir bersiaga. Para pengawal dikerahkan untuk melindungi sekolah ─termasuk ibu Rose yang berwatak keras, Janine Hathaway. Tetapi pihak sekolah tidak mau mengambil risiko. Mereka memutuskan membawa para murid pergi liburan ski.

Namun, tempat liburan musim dingin yang megah di Idaho itu ternyata tidak sepenuhnya aman. Ketika tiga temannya melarikan diri untuk melawan Strigoi yang mematikan, Rose terpaksa bekerja sama dengan Christian untuk menyelamatkan mereka. Hanya kali ini Rose berada dalam bahaya yang lebih besar daripada yang pernah dibayangkan…

Review :

Cerita buku kedua kali ini dibuka oleh prolog yang merangkum segala informasi dan kejadian yang dipaparkan buku pertamanya, Vampire Academy. Karena cukup lengkap informasi yang disuguhkan, sampai-sampai aku merasa tidak perlu membaca buku pertamanya pun kalian pasti akan mengerti dan tidak bingung saat membaca buku kedua. Tapi bukan berarti aku setuju lho yaa.. Aku tetap menyarankan kalian untuk membaca Vampir Academy karena buku ini memang BAGUS!

Rose Hathaway memang berada pada tahun terakhirnya di St. Vladimir, dan ia harus menjalani sebuah tes yang seharusnya sudah ia jalani sejak setahun yang lalu, namun karena saat itu Rose kabur dari sekolah, terpaksa baru sekarang ia ujian. Pengujinya adalah seorang legenda di dunia pengawal, Arthur Schoenberg. Dia pembantai Strigoi terhebat sepanjang sejarah pengawal dan pernah menjabat sebagai ketua Dewan Pengawal. Dia sudah pensiun dan kini kembali bertugas melindungi salah satu keluarga bangsawan, keluarga Badica.

Butuh perjalanan lima jam untuk mencapai kediaman Badica. Namun sayangnya, setiba mereka disana mereka malah menemukan keluarga, para pengawal, dan para tamu keluarga Badica mati terbantai. Seluruh rumah berisi banyak mayat. Sebuah pukulan yang hebat bagi sejarah vampir. Pasalnya, rumah itu telah dilapisi sihir pertahanan yang hebat, belum lagi dengan pengawal-pengawal yang tangguh, termasuk Arthur. Rose syok melihat mayat sang panutan tergeletak tak bernyawa di depan matanya. Ditambah dengan pesan berisi peringatan bagi para Moroi yang Strigoi tinggalkan di atas permukaan sebuah cermin. Jelas menimbulkan kegemparan diantara kaum Moroi dan dhampir.

Ternyata di kelas teori pengawal Rose kedatangan tamu kehormatan, tiga orang pengawal hebat  yang akan menceritakan pengalaman mereka selama masa tugas, dan salah satunya adalah ibu Rose, Janine Hathaway. Well, disini sangat digambarkan bagaimana tegangnya hubungan ibu-anak ini. Keduanya sama-sama keras kepala dan tangguh, hingga timbul perdebatan sengit diantara keduanya. Ditambah dengan lebam besar di mata kiri Rose akibat pukulan sang ibu. Rose benar-benar membenci ibunya.

Untuk liburan Natal, Rose berlibur dengan Lissa, Christian, bibi Christian yang bernama Tasha Ozera, dan Mason, sahabat dan cowok yang tergila-gila pada Rose. Setelah peristiwa ciuman panas antara Rose dan Dimitri hingga cowok itu semakin menahan diri dan menjaga jarak dengan Rose, akhirnya Rose memutuskan untuk membuka hati pada cowok lain. Dan Mason lah cowok itu.

Lalu ada kabar yang seolah menonjok perutnya dan merengut jantungnya. Bahwa Dimitri diminta untuk menjadi pengawal Tasha. Dan karena Tasha tertarik pada Dimitri dan ingin punya anak-anak dhampir, ada kemungkinan ia bisa jadian dengan Dimitri, dan punya anak darinya. Umm, tidak heran kalau melihat keakraban Tasha dan Dimitri beberapa hari ini karena mereka ─memang─ teman lama. Weeeeell, weeell, kasihan Rose. Semakin terpuruk aja perasaannya.

Tapi paling nggak liburan Rose tidak membuatnya begitu sengsara karena terlalu mewah dan luasnya resort ski itu memberikan kemungkinan kecil padanya untuk bertemu dengan Dimitri dan Tasha. Bahkan bisa dibilang Rose dan Lissa melakukan kencan ganda, Lissa bersama Christian sementara Rose dengan Mason. Saking gila pada tantangan, Rose dan Mason bertanding ski di medan yang cukup berbahaya. Rose berhasil melewatinya, tentu saja. Tapi Mason harus gagal di saat-saat akhir dan membuat kakinya jadi terkilir. Alamak..

Sekembalinya Rose dari gudang setelah meletakkan alat-alat ski mereka, ia berjumpa dengan seorang cowok Moroi yang menggodanya. Adrian Ivashkov, salah satu lelaki dari keluarga bangsawan yang paling kaya dan berkuasa. Mereka terkenal dengan sifat mereka yang arogan, tidak terkecuali sikap yang ditunjukkan Adrian ini. Terang-terangan Adrian menggoda Rose dan, sungguh, menurutku cara cowok ini menggoda Rose sangat… keren 😀 Biar sikapnya menjengkelkan Rose, cewek itu tetap merasa penasaran dengan sosok Adrian. Umm, kurasa kebelakangnya karakter Adrian ini bakal cukup berperan nih 😉

Lalu kabar serangan Strigoi kembali terdengar. Walaupun serangan yang menewaskan satu keluarga  bangsawan Drozdov beserta para karyawan dan pengawal mereka ini terjadi di negara bagian lain, nyatanya cukup membuat kegemparan di resort. Mereka mengadakan rapat besar-besaran. Tapi tetap saja hasilnya tidak membawa pencerahan karena nyatanya, para Moroi tetap saja berpendapat lebih baik ‘bersembunyi’ di belakang para dhampir yang bertarung.

Kemudian Rose mendapat kabar tentang sarang Strigoi di Spokane. Sialnya, Mason, Eddie Castile dan Mia Rinaldi kabur dari Resort dengan tujuan ingin membantai Strigoi di Spokane. Bodoh memang. Dan Rose jadi panik. Pasalnya, kalau bukan karena ia yang bercerita tentang penemuan para pengawal tentang Spokane, teman-temannya tidak akan berambisi untuk membunuh Strigoi saat ini juga. Apalagi Mia yang paling besar ambisinya karena ibunya merupakan salah satu korban Strigoi bersama keluarga majikannya, keluarga Drozdov.

Segera dia menemui Christian dan meminta bantuannya. Ia tidak melaporkan hal ini karena menganggap kawan-kawannya itu pasti akan mendapat masalah di sekolah kalau sampai ketahuan. Bertekad akan menemukan ketiga temannya sebelum mereka bertemu dengan Strigoi, Rose dan Christian kabur dari Resort.

Mereka memang menemukan Mason, Eddie dan Mia dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi suasana berubah mencekamkan saat kelima anak ini dalam perjalanan kembali ke terminal bus. Mereka diculik. Oleh manusia. Bawahan Strigor. Dan dikurung di ruang bawah tanah sebuah rumah yang jauh dari keramaian. Si pemimpin Strigor tidak membunuh mereka, tapi berusaha membuat Mia dan Christian yang kaum Moroi membunuh rekan-rekannya yang hanya dhampir. Para Strigor membuat Mia dan Christian sangat kelaparan dan kehausan yang jelas-jelas dapat menghilangkan akal sehat mereka. Kali ini Rose benar-benar tersudut. Bahkan ia harus menyaksikan kematian temannya di depan hidungnya sendiri. Rose menganggap ini semua salahnya.

Oh well, aku suka novel kedua Vampire Academy ini. BAGUS! Nuansa percintaannya jauh lebih banyak, alias lebih mendominasi. Kehadian Adrian pun memberikan warna tersendiri. Apalagi ternyata cowok berusia dua puluh satu tahun ini memiliki kemampuan yang istimewa. Sama seperti Lissa, Adrian juga seorang pengendali Roh. Ia bisa masuk dan berbicara dengan Rose lewat mimpinya. Dan yang jelas, ia cukup tertarik pada Rose 😉 Aah, mau baca buku ketiganyaaa..! Kapan aku bisa beli SHADOW KISS ya?? Hhe..

Ratingku buat novel ini : 8,4

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on September 19, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags:

Sookie Stackhouse 5 – Definitely Dead


  • Pengarang        :    Charlaine Harris
  • Genre               :    Fantasy, Drama
  • Tebal                :    462 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Esensi
  • Harga               :    75.000 IDR
  • Pertama terbit   :    28 April 2006
  • Cetakan            :    2010
  • Tanggal Beli      :    7 Oktober 2010

Kali ini Sookie Stackhouse, sang telepatis, harus pergi ke New Orleans untuk membereskan barang-barang Hadley, sepupunya yang seorang vampir dan baru mati terbunuh. Sookie adalah ahli waris Hadley satu-satunya, padahal siapa yang tahu hal mengerikan apa yang diwariskan oleh Hadley? Sookie juga diundang untuk hadir di pesta dansa mencurigakan oleh Ratu Vampir Lousiana, untuk merayakan pernikahannya dengan Raja Arkansas. Untunglah ada Quinn, teman kencan baru Sookie, seorang manusia harimau yang tampan dan berkharisma. Tapi apakah Quinn dapat melindungi Sookie dari serangan para makhluk supernatural… yang menginginkan berbagai hal dari Sookie, termasuk nyawanya?

Review :

Buku kelima Sookie Stackhouse Series, Definitely Dead dimulai oleh Sookie dan Claude ─si peri kembaran Claudine─ yang sedang menjalani sesi pemotretan bersama Al Cumberland si fotografer, dan Maria-Star Cooper si asisten yang sekarang jadi kekasih Alcide Herveaux. Buat informasi, dulu Alcide dan Sookie sempat terlibat asmara yang sayangnya, hanya sesaat.

Malam berikutnya, muncul Quinn si weretiger saat Merlotte’s hampir tutup. Well, Quinn ini mulai ngajakin kencan Sookie dan Sookie menerimanya dengan senang hati. Kemudian kita tahu kalo Quinn kerja di Extreme(ly Elegant) Events, yah, semacam event organizer gitu lah, tapi nggak cuma buat acara manusia, tapi juga  acara-acara supranatural. Dan event-event yang ditanganinya biasanya termasuk event berskala besar, seperti ritual kenaikan untuk seorang dukun atau penyihir. Kemudian ada pemilihan packmaster ─seperti yang digambarkan di buku sebelumnya, atau juga pernikahan hierarki vampir yang nanti bakal dihadiri Sookie. Unik kan? Hhe.. Nah, kalo di Bon Temps sendiri, E(E)E bakal meng-handle acara pernikahan ganda Bellefleur bersaudara, Andy si detektif dan Portia si pengacara, besok April.

Suatu siang Jason datang ke rumah Sookie dan bercerita tentang Crystal ─tunangan Jason yang seorang shapeshifter juga─ yang keguguran namun keadaannya tidak kunjung membaik. Crystal melarang Jason untuk memberitahukan keadaannya pada seorang pun. Karena terlalu cemas, Jason pun meminta bantuan Sookie. Sookie membantu dengan menghubungi dr.Ludwig yang sebelumnya pernah menyembuhkan Sookie karena sebuah insiden yang melibatkan racun Naiad.

Sore harinya ia berangkat ke Merlotte’s. Setibanya disana ia sudah ditunggu oleh keluarga Pelt yang masih saja mencari Debbie yang menghilang, walaupun sebenarnya Debbie sudah mati. Sookie sangat jengkel jadinya. Kemudian ada kabar buruk, Cody anak Holly ─salah satu pegawai Merlotte’s─ yang masih berumur enam tahun menghilang dari sekolah. Sookie turun tangan. Ia pergi kesekolah Cody, dan dengan kemampuan ‘telepati’nya ia mencari jejak penculikan Cody. Beruntung anak itu dapat diselamatkan.

Hari Jumat adalah hari libur dan hari kencan Sookie dengan Quinn. Saat Quinn menjemput Sookie dirumahnya, muncul Eric yang marah dan cemburu. Ahhahai 😀 Tapi sayangnya Sookie dan Quinn mendapat serangan dari dua remaja Were baru seusai mereka nonton theater. Hari berikutnya, ada berita tentang pembunuhan dua remaja ini di dalam penjara mereka. Siapa yang melakukannya masih jadi tanda tanya. Kemudian malam harinya, Sookie mendapat sebuah kunjungan dari Felicia, vampir bawahan Eric yang baru saja pindah dari Arkansas. Buat informasi, Raja Arkansas, Peter Threadgill, dan Ratu Louisiana, Sophie-Anne Leclerg, baru saja menikah dan nanti Sookie mendapat undangan ke pesta gabungan mereka yang pertama.

Beberapa minggu yang lalu, sepupunya yang bernama Hadley terbunuh di New Orleans dan Sookie harus kesana buat mengurus warisannya. Bersama dengan pengacara Sang Ratu, Tn. Cataliades, Sookie pergi ke New Orleans. Untuk sementara, Sookie menginap di apartemen Hadley. Ia bertemu dengan si pemilik bangunan bernama Amelia Broadway yang seumuran dengannya dan ia adalah seorang penyihir muda yang periang dan percaya diri. Saat memilah-milah barang Hadley inilah Sookie menemukan seorang mayat Were bernama Jake Purifoy yang disembunyikan di bawah lemari pakaian. Oke, ternyata Jake tidak benar-benar mati. Ternyata ia diubah menjadi vampir! Hmm, usut punya usut, ternyata mantra pelindung statis untuk apartemen yang dibuat Amelia semenjak Hadley meninggal membuat tubuh Jake tidak mengalami perubahan alias tidur terus, daaan, dengan kehadiran Sookie, mantra pelindung itu terputus dan Jake kembali ‘aktif’. Wah, ini kejadian langka seorang Were berubah jadi vampir oey. Nah, karena Sookie dan Amelia ada dilokasi saat si vampir baru yang kelaparan ini  terbangun, maka mereka pun dapat serangan yang cukup parah. Untung bantuan segera datang.

Saat dirumah sakit, Sookie mendapat kunjungan dari Eric dan Bill. Akhirnya Sookie tahu tentang fakta yang sangat menyakitkan hatinya, bahwa ternyata kedatangan Bill ke Bon Temps dulu ada alasannya, yaitu atas perintah dari Sang Ratu bahwa Bill harus menggoda Sookie dan menjadikannya kekasih. Karena Ratu sangat tertarik dengan bakat Sookie, tentu saja. Wahwah..

Disisi lain, ia sungguh berharap tak pernah lagi berjumpa dengan Bill dan disisi lain ia juga tidak ingin terpuruk karenanya. Bersama Amelia, Sookie punya rencana buat mencari tahu apa yang terjadi pada Hadley dan Jake di apartemen itu. Mereka kemudian melakukan prosedur ektoplasmik, semacam reka ulang kejadian gitu, tapi nanti tampak kaya memutar ulang rekaman yang menampilkan adegan  sebelum Jake ‘terbunuh’. Wew.. Dan ternyata Ratu ingin menyaksikan rekonstruksi itu karena, well, ia ingin tahu apa yang terjadi dengan Hadley, kekasihnya. Uum, ya, si Ratu ini biseks, tapi ia menikah dengan Raja Arkansas jelas bukan karena cinta atau nafsu lhoo. Pernikahan mereka hanya bersifat politis semata. Ya ampun, ternyata pernikahan mereka benar-benar digambarkan sangat, yah.. buruk. Saat pesta, peperangan pun terpecah antara kedua belah pihak. Ya ampun 😉

Satu hal yang aku suka dari seri kali ini adalah bagaimana Quinn digambarkan sangat keren, manis, gentle, sopan, dan tergila-gila pada Sookie walaupun ia sangat berusaha untuk tidak melampaui batas di awal  kencan mereka. Dan aku suka bagaimana Quinn digambarkan dalam wujud macan benggala nya. Wah, rasanya keren banget, dengan panjang tubuh dua meter dan tinggi satu meter serta berat badan dua ratus kilo, gimana nggak ngabayangin kalau sosok Quinn macan pasti gagah?? Hhe..

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
Leave a comment

Posted by on September 12, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags: , ,

Sookie Stackhouse 4 – Dead As A Doornail


  • Pengarang        :    Charlaine Harris
  • Genre               :    Fantasy, Drama
  • Tebal                :    444 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Esensi
  • Harga               :    77.000 IDR
  • Pertama terbit   :    3 Mei 2005
  • Cetakan            :    2010
  • Tanggal Beli      :    3 Oktober 2010

Sookie Stackhouse telah banyak bersinggungan dengan hal-hal supernatural. Tetapi sekarang semua itu mulai memengaruhi kehidupan pribadinya. Dengan cemas Sookie harus menerima kenyataan bahwa Jason, kakaknya, akan menjadi werepanther, manusia panter. Tetapi kekhawatiran Sookie berubah menjadi ketakutan saat seseorang mulai menembaki populasi shapeshifter, para pengubah wujud, di kotanya. Saudarasaudara panter Jason yang baru malah mencurigainya sebagai penembak misterius tersebut. Sookie hanya memiliki waktu sampai bulan purnama berikutnya untuk mengetahui dalang dari penembakan-penembakan ini. Kecuali bila pembunuh tersebut memutuskan untuk menembaknya terlebih dahulu….

Review :

Bulan purnama pertama setelah Tahun Baru, Sookie mengantar kakaknya, Jason, ke Hotshot untuk mendapatkan bimbingan di perubahan pertamanya. Malamnya, Sookie tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan sang kakak. Esok harinya, Calvin Norris mengantarkan Jason kembali ke rumah Sookie. Ia bisa sedikit tenang karena tampaknya sang kakak tidak menyesali keadaan dirinya sekarang.

Malam harinya, Jason kembali ke Hotshot, dan Sookie pergi ke Merlotte’s Bar tempat ia bekerja. Untuk malam ini tugas Sam Merlotte, bosnya, digantikan oleh seorang veteran perang bernama Terry Bellefleur karena Sam juga harus menghilang. Yups. Sam juga seorang shapeshifter dan sayangnya keberadaan para pengubah wujud ini belum diketahui khalayak umum alias manusia. Tidak seperti vampir yang sudah membuka diri pada dunia luas mengenai eksistensi mereka. Sayangnya, malam itu terjadi sedikit kekacauan di Merlotte’s karena adanya perkelahian seorang penduduk lokal dan mahasiswa Lousiana Tech. Tapi untungnya cukup mudah dilerai. Selain itu kehadiran seorang vampir bernama Mickey memberikan ketegangan tersendiri. Sookie hanya penasaran, apa hubungan Tara Thornton, teman Sookie, dengan Mickey ini mengingat Tara sekarang sedang menjadi kekasih seorang vampir tua yang kaya raya, Franklin. Yah, terlepas dari mereka, ada seorang pengunjung yang juga menarik perhatian Sookie. Karena mencium bakal adanya masalah, Sookie membaca pikiran si wanita berdandanan lusuh itu. Benar saja, wanita ini membawa tiga botol darah vampir yang ingin ia jual. Bisa jadi wanita ini seorang drainer ─orang yang mengambil darah vampir─ atau bisa juga hanya seorang penyalur. Tentu saja Terry dan Sookie berhasil menggagalkan usaha jual beli wanita ini di Merlotte’s.

Malam hari berikutnya, Merlotte’s cukup ramai. Ada Andy Bellefleur dan kekasihnya, Halleigh Robinson. Dan Claudine muncul menjelang Merlotte’s tutup. Seperti biasa, Claudine selalu menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Claudine adalah seorang peri yang cantik dan.. entahlah, rupawan pokoknya. Hhaha.. Nah, kedatangan Claudine kesini dengan membawa kabar buruk bahwa tadi pagi ada insiden penembakan dan seorang werephanter terkena. Tentu saja pikiran Sookie langsung ke Jason, tapi ternyata yang kena adalah Calvin Norris. Tertebak di dada, masih hidup tapi cedera parah. Padahal seminggu sebelumnya juga ada peristiwa penembakan dan Heather Kinman meninggal karenanya. Heather juga seorang shapeshifter ─ia seorang werefox. Setelah Merlotte’s tutup, Sam dan Sookie keluar dari pintu belakang. Saat Sam mengunci pintu itulah ia mendengar suara tembakan dan darah tercecer dari kaki Sam. Tentu saja Sookie langsung menjerit. Yah, sudah pasti kan, ada pemburu shapeshifter gila di luar sana. Tapi siapakah ia??

Hari berikutnya Sookie mengunjungi Eric di Fangtasia untuk membicarakan ‘bisnis’. Ia meminjam seorang bartender dari Eric atas nama Sam untuk Merlotte’s. Eric pun memerintahkan Charles Twining ─ seorang bartender baru di Fangtasia yang menggantikan Chow, bartender sebelumnya yang mati. Jabatan bartender di Fangtasia juga nggak awet. Sebelumnya, Chow menggantikan Long Shadow, yang terbukti mencuri dari Fangtasia dan hampir membunuh Sookie hingga memaksa Eric membunuh Long Shadow. Sebenarnya, vampir dilarang keras saling membunuh, itulah kenapa Eric harus membayar denda yang sangat besar atas tindakannya. Nah, setelah mendapatkan Charles ia pun membawa pulang bartender bermata satu itu. Kalau dari pembicaraan yang dilakukan Charles dan Sookie, Charles ini tipe cowok yang menarik dan bersahabat walaupun digambarkan sedikit ‘ngeri’ karena satu penutup mata bajak lautnya.

Hari berikutnya, saat Sookie sedang bertugas di Merlotte’s ada suami istri yang makan disitu dan ternyata mereka adalah sepasang detektif ─Jack dan Lily Leeds─ yang disewa oleh keluarga Debbie Pelt untuk menyelidiki perihal menghilangnya Debbie. Hingga saat ini keluarga Pelt percaya kalau Debbie sudah meninggal dan beranggapan bahwa Sookie tahu sesuatu. Oke, Sookie memang tahu karena ia yang membunuh Debbie. Untuk pertahanan diri tentu saja. Namun Sookie terus mengelak dan berusaha tenang saat menghadapi detektif ini. Walaupun sesungguhnya dadanya berdebar keras karena menyembunyikan faktanya. Umm, buat kalian yang belum kenal Debbie, kalian bisa baca dua buku sebelumnya, Sookie Stackhouse 2 – Club Dead dan Sookie Stackhouse 3 – Dead To The World.

Setelah jam kerjanya, Sookie dan Jason pergi mengunjungi Calvin Norris di rumah sakit. Tentu saja penjagaannya lumayan ketat, bahkan ada pengawal Were ─singkatan untuk werewolf─ juga. Ia hanya mengobrol singkat dengan Calvin. Lelaki itu masih mengungkit perihal kemungkinan Sookie menjadi istrinya dan obrolan mengenai pelaku penembakan. Ia mengatakan bahwa banyak shapeshifter yang mencurigai Jason. Tentu saja Sookie mengelak dan melindungi Jason dan Calvin percaya pada Sookie.

Malam harinya Alcide Herveaux datang ke rumah Sookie. Sookie dan Alcide pernah memiliki sejarah singkat dan Debbie adalah mantan tunangan Alcide, yang selalu dibakar cemburu oleh keberadaan Sookie. Alcide mengabari Sookie bahwa Kolonel Flood ─seorang packmaster─ meninggal kemarin dan akan dimakamkan esok hari. Alcide mengajak Sookie untuk menghadiri pemakaman itu bersama. Tentu saja Sookie mau karena ia mengenal sosok Kolonel Flood yang baik.

Pukul sepuluh hari berikutnya, sepasang detektif tadi datang kerumah Sookie dan mengajukan banyak pertanyaan mengenai hubungan Sookie dan Debbie. Ouch.. Untung wawancara berhasil dilewati dengan baik walaupun sikap Lily Leeds sangat dingin bak patung pualam. Tak lama setelah pasangan ini pergi, datang Alcide yang menjemput Sookie. Mereka langsung berangkat ke upacara pemakaman yang resmi dan khidmat ini. Disini, Sookie diperkenalkan pada Jackson Herveaux ─ayah Alcide─ dan Christine Larrabee ─janda dari packmaster sebelum Kolonel Flood. Dari Christine inilah ia tahu mengenai perebutan kursi packmaster yang sekarang kosong. Dua kandidatnya tentu saja Jackson Herveaux dan satu lagi adalah Patrick Furnan. Ternyata Alcide meminta Sookie untuk membaca pikiran Patrick karena lelaki itu akan menyabotase ayahnya. Tentu saja Sookie marah karena Alcide tidak mengatakan sebelumnya. Tapi Alcide mengatakan bahwa ia tahu kalau Sookie sudah membunuh Debbie. Lah, semacam ngancam ni kayaknya.. Hhe.. Tapi Sookie terlanjur marah dan benci pada perasaan diperdaya yang Alcide lakukan terhadap Sookie. Begitu mobil Alcide berhenti di pelataran rumah Sookie seusai pemakaman, Sookie langsung keluar dari mobil dan Alcide langsung menyusulnya. Dengan jelas Sookie mengatakan bahwa ia tidak ingin bertemu dengan Alcide untuk jangka waktu yang lama. Tentu saja pernyataannya ini membuat Alcide merasa terpukul karena ia cukup mencintai Sookie walaupun perasaannya terus ngambang. Bingung akan berbagai banyak hal.

Saat bekerja, Sam meminta bantuannya untuk menampung Charles dirumahnya karena rupanya vampir itu tidak betah harus tinggal di dalam gudang. Seperti sebelumnya, ia menolak dengan keras karena ia merasa rumahnya bukan penginapan untuk para vampir. Namun dengan alasan logis dari Sam, akhirnya Sookie mengalah dan mempersilakan Charles untuk masuk kerumahnya. Pukul tiga malam, saat Sookie sedang nyenyak tidur sementara Charles ‘jalan-jalan malam’ di hutan dekat rumah Sookie, Charles membangunkannya kemudian. Ia mengatakan bahwa ada seseorang yang mengendap-endap di sekeliling rumahnya dan saat Charles keluar, ia sudah membekuk seorang vampir. Bill Compton, mantan kekasih Sookie. Yaelah..

Setelah urusan dengan Bill selesai, Sookie kembali tidur, tapi lagi-lagi ia terbangun dari tidur pulasnya oleh suara mendesak yang membangunkannya. Kali ini gantian Claudine, si peri. Ternyata terjadi kebakaran di rumah Sookie dan setelah mereka keluar Sookie dapat melihat kalau Charles sudah membekuk dan membunuh si pembakar rumah. Lelaki dengan identitas bernama Jeff Marriot itu ternyata seorang anggota fellowship of the sun, yaitu Persekutuan Matahari dimana mereka terkenal sebagai antivampir. Memang hanya bagian belakang rumah, terutama dapur, yang terbakar habis, dan juga mobil Sookie yang ternyata juga ikut terbakar. Namun hal ini membuat rumah itu tidak layak huni untuk sementara waktu. Malam pertama, ia dan Charles terpaksa menginap di rumah Bill. Hari berikutnya ia segera mengurus asuransi dan proses perbaikan rumah. Saat bekerja, datang seorang wanita tua dan anaknya yang ternyata adalah ibu dan saudara kembar Jeff Marriot. Mereka ingin tahu bagaimana Jeff meninggal dan Jay, si saudara kembar, yakin kalau ada sesuatu yang janggal. Tapi akhirnya mereka meninggalkan Merlotte’s dalam duka yang lebih mendalam lagi. Saat dalam kesendirian inilah Sam menghibur Sookie dan mereka terlibat dalam situasi yang melibatkan gairah asmara. Ouch.. Sayangnya Bill masuk dan mengganggu adegan ini. Tentu saja Bill dan Sam langsung terlibat perkelahian. Padahal kaki Sam yang masih di gips sudah cukup membuatnya kesakitan. Hhuhu..

Untuk malam ini, Sookie memutuskan untuk tinggal di rumah abangnya. Dan rupanya ini cukup membuat Bill kecewa. Ohoh, Bill masih cinta sama Sookie 🙂

Hari berikutnya ia berbenah rumah dengan Terry. Ia menyingkirkan segala macam benda yang tidak akan ia pakai lagi dan menyisihnya beberapa yang masih bisa ia gunakan nanti di dapur barunya. Alcide muncul dan diikuti oleh Randall dan Delia Shurtliff, kontraktor Sookie, yang akan menangani pembangunan dapur. Saat Randall dan Alcide ngobrol, Delia memberi suatu informasi pada Sookie mengenai panangkapan Connie Babcock, sekretaris Jackson Herveaux. Connie ketahuan mencuri berkas-berkas Jackson atas suruhan seorang pria yang memiliki dealer sepeda motor. Bagi Delia berita ini memang aneh, tapi bagi Sookie hal ini sejelas matahari siang bahwa ini salah satu muslihat Patrik Furnan untuk mengalahkan Jackson dalam pemilihan packmaster.

Seusai Randall dan Delia pergi, Alcide kembali meyakinkan Sookie untuk menjadi kekasihnya karena ia sangat mencintai Sookie. Alamak. Jadi Sookie bingung juga ya.. Empat cowok oey yang mengejarnya. Eric, Bill, Sam, dan Alcide. Wkakaka.. Eh, satu lagi ding, ada Calvin Norris juga 😛 Tapi kali ini tampaknya Eric nggak banyak keluar nih.. Sayang, padahal aku suka kepribadian Eric yang keras kepala dan lucu. Hha..

Malam itu giliran Bill yang ‘memanasi’ Sookie setelah mempergoki Sookie ciuman dengan Sam. Bill membawa teman kencannya ke Merlotte’s. Selah Pumphrey, seorang agen real estate sukses. Sookie harus menjaga sikapnya dan berlagak ‘cool’  di depan Bill. Tapi suasana hati Sookie semakin panas saat Eric muncul di depan pintu Merlotte’s dan langsung mendatangi Charles dan memarahi vampir itu karena dianggap lalai oleh Eric. Eric memang memerintah Charles untuk mengikuti perintah Sookie dan kurasa itu maksudnya juga melindungi Sookie. Aduuh.. Kasihan Charles, serba salah..

Ya ampun, ternyata selama ini Eric terus penasaran tentang hubungannya dengan Sookie dulu saat ia amnesia dan ia sangat ingin tahu, juga selalu mencari tahu dengan memaksakan diri untuk mengingat. Hhihi.. Eric, Eric.. Untung saat Sookie mulai tersudut dengan pertanyaan-pertanyaan Eric, Sam muncul hingga membuat Eric pergi dan Sookie kembali ke kerjaannya. Kembali kepada Bill dan Selah. Hhoho..

Hari berganti dan Sookie menuju rumah yang disewakan Sam ─dengan harga jauh dibawah standar penyewaan─ padanya. Untuk sementara Sookie akan tinggal disini saat rumahnya sedang direnovasi. Umm, solusi yang tepat memang, mengingat ia tidak bisa merepotkan orang lain dengan menumpang tidur selama berbulan-bulan.

Setelah membawa barangnya ke rumah kontarakan, Sookie pergi mengunjungi Calvin. Sepulang dari tempat Calvin ia mampir sebentar ke Perpustakaan Daerah. Di halaman parkir ini sesuatu yang mengejutkan terjadi. Ia mendapat tembakan di pundaknya. Portia Bellefleur yang saat itu juga ada di pelataran parkir, berteriak. Saat berikutnya Sookie tersadar, ia sudah berada di rumah sakit. Bill yang menemaninya semalaman. Esok harinya ia sudah diijinkan pulang. Ia beruntung, hanya bahunya yang terkena, untung ia sempat menunduk saat mendengar percikan suara di kepalanya. Orang itu pasti mengincar jantung Sookie.

Saudara kembar Claudine yang ternyata menjemput Sookie. Claude digambarkan sebagai cowok yang, wow, keren dan cakep abis. Seperti saudaranya, Claude ini juga sangat menarik perhatian. Namun sifatnya yang cuek dan cukup dingin membuat Sookie tidak banyak bicara didepan Claude. Tapi sayangnya, hhuhu, cowok ini gay. Sookie ingat dari cerita Claudine kalau Claude baru saja putus dengan kekasih prianya. Euw.. Tapi toh nggak banyak yang tahu kehidupan pribadi Claude. Yang mengejutkan buat Sookie, Claude meminta bantuannya untuk menjadi partner foto portfolio untuk kontes model  yang sedang ia ikuti. Sookie pun mengiyakan.

Saat ia dirumah, Andy Bellefleur datang untuk menanyakan mengenai penembakan itu. Ia juga memberi Sookie berita ─secara tidak langsung─ kalau peluru yang mengenai Sam berbeda dengan peluru yang lain. Yang jelas, satu fakta bahwa penembaknya adalah manusia bisa dibuktikan karena Sookie bisa mendengar pikiran sang penembak dengan jelas, karena ia tidak bisa mendengar benak vampir dan benak seorang shapeshifter hanya berupa suara statis dan lebih sulit di cerna daripada benak manusia. Setelah kunjungan Andy, muncul Tara. Tara akhirnya bercerita tentang bagaimana ia bisa terjebak dengan Mickey. Untuk membantu temannya ini, Sookie meminta bantuan Eric dan Eric segera mendatangi rumah Sookie. Eric bersedia membantu Sookie untuk menyingkirkan Mickey dengan satu syarat, bahwa Sookie harus menceritakan segalanya tentang hubungan mereka selama ia amnesia 😀 Mau nggak mau Sookie bercerita dan Eric kemudian menghubungi Salome, atasan Mickey, meminta wanita itu menarik Mickey dari wilayah teritorinya. Ternyata Salome bertindak cepat. Mickey yang tahu mengenai penarikan dirinya langsung mendatangi rumah Sookie dan membuat masalah. Bahkan Eric sempat tumbang karena Mickey ini. Untung Sookie punya inisiatif yang menarik untuk mengalahkan Mickey. Wkakaka.. Pintar Sook.. 😉

Hari selanjutnya menjadi hari pengungkapan. Akhirnya beberapa fakta mengejutkan dari Charles terungkap. Belum lagi Andy kini mengetahui kalau ada dunia lain selain dunia vampir. Dan sekali lagi, Sookie mendapat ancaman penembakan, tapi kini ia tahu pelakunya dan apa motifnya. Semuanya terjadi dengan cepat. Bahkan bagaimana Alcide datang berkunjung dan ia memberikan undangan untuk  menghadiri kontes pemilihan packmaster juga berlangsung singkat. Tapi wah, kontes itu termasuk brutal dan ngeri oey.. Apalagi ada ritual yang menurutku cukup menjijikkan. Euu.. Tapi yang jelas, ada satu lagi tokoh lelaki yang muncul di kehidupan Sookie. Seorang weretiger bernama Quinn. Kita lihat bagaimana kelanjutan hubungan mereka di buku kelimanya ya, Sookie Stackhouse 5 – Definitely Dead.

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
Leave a comment

Posted by on August 27, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags: , ,

Vampire Academy 1


  • Pengarang               :    Richelle Mead
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    416 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Matahati
  • Harga                      :    64.500 IDR
  • Pertama terbit          :    2007
  • Cetakan ke-2            :    Agustus 2010
  • Tanggal Beli             :    30 Juli 2011

SELAMAT DATANG DI AKADEMI ST. VLADIMIR

Di balik gerbang kokoh Akademi St. Vladimir terdapat rahasia besar. Akademi tersebut bukan sekolah berasrama biasa. Di tempat itu para vampir Moroi dididik dengan ilmu sihir, sementara para dhampir ─makhluk setengah vampir setengah manusia─ dilatih untuk melindungi mereka.

Rose Hathaway adalah dhampir yang bertugas melindungi sahabat karibnya, Lissa, seorang putri vampir dari kaum Moroi. Selama dua tahun mereka melarikan diri. Namun akhirnya mereka  tertangkap lalu diseret kembali ke Akademi Vampir tersebut ─yang sebenarnya merupakan tempat paling berbahaya…

Review :

Cerita dibuka dengan Lissa yang mendapat mimpi buruk dan Rose pun mengalaminya. Jadi seolah mimpi itu merasuki pikiran Rose juga. Tenyata mereka memiliki ikatan batin. Rose dapat merasakan apa yang Lissa rasakan dan sesekali ia dapat masuk ke dalam kepala Lissa, seolah ia melebur menjadi satu dengannya. Karena saat itu Lissa terlihat pucat, maka Rose memaksa Lissa untuk ‘makan’ dengan menggigit dan meminum darah Rose. Akibatnya, gantian Rose yang sekarang pusing dan kelelahan karena kehilangan darah tiba-tiba. Wew..

Saat Lissa keluar kamar untuk mencarikan Rose cemilan, Rose melihat seseorang ─atau dua orang─ dalam bayang-bayang pepohonan, tidak jauh dari jendela kamar Rose dan Lissa, dan jelas, mereka bisa melihat apa yang baru saja Rose dan Lissa lakukan. Saat itu jam tiga pagi. Dengan sisa tenaga, Rose segera mempersiapkan diri dan menyambar jaket Lissa, menyerahkannya pada Lissa yang berada di dapur. Mereka harus pergi sekarang. Lissa tahu maksud Rose. Dengan kemampuan kompulsi ─mempengaruhi seseorang dengan sugesti─ Lissa meminta kunci mobil seorang pelajar yang satu rumah dengan mereka. Mereka pun segera berlari ke mobil Jeremy yang berjarak empat blok dari rumah. Dengan kelemahan Rose yang cukup menghambat, akhirnya mereka pun terkepung dan terpaksa menghentikan pelarian mereka yang sudah berlangsung selama dua tahun ini.

Yups. Selama dua tahun ini Rose dan Lissa kabur dari tempat mereka dibesarkan. Delapan bulan terakhir, mereka menetap di Portland sementara mereka tetap berusaha menyelesaikan sekolah menengah mereka. Ternyata keberadaan mereka kali ini berhasil terlacak. Namun sayangnya mereka tidak mampu menghilangkan jejak lagi, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Richelle Mead mengangkat cerita ini dari sudut pandang Rosemarie Hathaway, seorang dhampir berusia tujuh belas tahun dan sahabat karib dari Vasilisa Dragomir sejak mereka duduk di bangku taman kanak-kanak. Mereka tidak pernah terpisahkan. Rose adalah anak dari ibu yang seorang dhampir berasal dari Skotlandia dan ayah seorang Moroi dari Turki. Sebagai dhampir, Rose memang bertugas untuk melindungi pasangannya, dalam hal ini adalah Lissa yang seorang putri di antara kaumnya, Kaum Moroi. Karena tertangkap, terpaksa mereka pun ikut kembali ke Akademi St. Vladimir.

Dimitri Belikov, si pengawal terlatih yang bertugas membawa mereka kembali membuat Rose dan Lissa terpisah selama perjalanan dengan Jet Akademi. Dimitri tidak mau kedua sahabat ini mengobrol ─curiga mereka sedang merencanakan pelarian lagi─ dan akibatnya Rose semakin benci padanya. Setibanya mereka di Akademi St. Vladimir ─astaga, Akademi ini digambarkan sangat besaar dan mantap, kayak sebuah Universitas─ mereka berdua digiring untuk menemui kepala sekolah Kirova, wanita yang menurut Rose seperti nenek sihir. Hhaha.. Sejauh ini aku suka dengan penjabaran ceritanya. Sangat santai dan enak buat diikuti. Apalagi dengan penggambaran Rose tentang kehidupan SMA nya dan bagaimana teman-temannya, yah, layaknya SMA pada umumnya lah, ada yang berlagak jadi ratu sekolah gitu.. heem.. Nggak terlalu kaku juga kan ceritanya? Tapi tunggu, ini masi awal cerita. Kita lihat gimana kelanjutannya.

Setelah melewati parade di depan warga Akademi yang sedang sarapan, mereka tiba di ruang kepala sekolah Kirova. Saat Kirova hampir menyemburkan amarahnya, muncul sosok Victor Dashkov ─Pangeran Victor Dashkov─ dari sebuah kursi sudut di ruangan itu. Victor adalah paman Lissa ─bukan secara genetis. Kaum Moroi menggunakan istilah keluarga dengan sangat bebas, terutama untuk kalangan bangsawan (dalam cerita digambarkan ada dua belas keluarga bangsawan yang memegang sistem pemerintahan). Victor ini adalah teman dekat keluarga Lissa. Beliau lah yang mengasuh Lissa sejak kematian orangtuanya, dua tahun yang lalu. Dan sosok Victor ini digambarkan sangat baik hati namun sayangnya beliau sedang sakit parah. Yang membuat Lissa dan Rose semakin sedih melihat kerapuhan paman Lissa ini.

Sayangnya, kemudian mereka harus kembali mendengar ceramah dan kemarahan dari Kirova yang membosankan. Namun, karena Rose tipe cewek yang nggak bisa menahan amarah, kemarahannya meledak hingga membuat Kirova mengambil keputusan untuk mengeluarkan Rose dari Akademi. Rose dianggap telah melalaikan kewajiban melindungi sang putri yang bahkan Rose sendiri belum menjadi pengawal. Ia masih seorang Novis. Namun karena pernyataan Dimitri yang mengejutkan, tentang hubungan batin yang dimiliki Lissa dan Rose, membuat Kirova dan Victor terkejut. Kirova tidak percaya dan Victor kagum, karena ternyata hubungan batin antara pengawal dan vampir Moroi yang dilindunginya adalah hal yang langka. Bahkan hal seperti ini tidak pernah terjadi dalam beberapa abad terakhir. Namun Dimitri bisa langsung menduganya saat pertama kali melihat mereka berdua. Dan satu lagi, ternyata Garda Belikov ini adalah pengawal sang putri sekarang. Hal yang semakin membuat Rose jengkel setengah mati. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, malah Dimitri yang membantunya tetap bertahan di Akademi ini. Dia terus beradu argumen dengan Kirova hingga ujung-ujungnya Dimitri mau mengorbankan sebagian waktunya untuk mengajar ketertinggalan Rose. Asiik.. Kayaknya bakal ada tanda-tanda ─ehem─ nih.. wkakaka.. Akhirnya keputusan diambil. Kirova menyatakan bahwa Rose adalah murid percobaan, itu artinya ia dilarang melakukan satupun pelanggaran. Hal yang susah mengingat Rose adalah gadis yang aktif dan ternyata sering menimbulkan kekacauan sebelumnya. Bandel lah istilahnya 😛

Hampir saat itu juga, Rose dan Lissa langsung mengikuti pelajaran mereka. Rose dibawa ke kelas Novis sementara Lissa ke kelas Moroi. Setelah mendapatkan jadwal, Rose memulai harinya yang padat. Setidaknya di pelajaran pertama ia kembali berjumpa dengan teman-teman lamanya yang hampir semua laki-laki ─karena dhampir perempuan memang mulai jarang. Ya ampun. Kehidupan sekolah Rose ternyata cukup seru lhoo.. Oia, aku udah menyinggung tentang jam sekolah Akademi St. Vladimir lum? Gini, dengan jadwal noktunal Akademi, pagi dan sore merupakan istilah yang relatif. Itu artinya jadwal pelajaran pagi dimulai saat matahari terbenam. Jadi mereka mengatakan malam saat ternyata di dunia yang sesungguhnya adalah siang hari. Menarik kan??

Saat dikelas Teori Pengawalan dan Perlindungan Pribadi, Rose diperintahkan oleh sang guru, Garda Alto ─yang sedikit lebih tua dari Dimitri, lewat usia dua puluh empat─ untuk maju ke depan kelas dan menceritakan tentang Teknik Perlindungan yang dia gunakan selama pelarian mereka. Well, Garda satu ini terlihat sangat menyebalkan 😦 Apalagi saat itu ada Dimitri berdiri di belakang kelas. Di luar Akademi, para pengawal memusatkan diri dengan melindungi satu orang saja. Tapi di sini, di dalam Akademi, para pengawal memiliki lebih banyak orang untuk dilindungi sementara  mereka juga harus melatih para novis. Jadi, daripada mengikuti seseorang kemana-mana, mereka bekerja bergantian untuk melindungi sekolah secara keseluruhan dan mengawasi kelas-kelas. Alhasil, saat Rose merasa dipermalukan di depan kelas, Dimitri ada disana menyaksikannya.

Musuh terbesar kaum Moroi adalah kaum Strigoi. Jadi selama ini mereka dilatih untuk mempertahankan diri dan melawan Strigoi yang dengan senang hati membunuh Moroi, apalagi Moroi bangsawan. Dalam kasus Rose, ia selalu dianggap beruntung karena tidak bertemu dengan Strigoi selama pelarian. Belum lagi karena ketertinggalan pelajaran yang dialami Rose, ia jadi mendapat kecaman dari Garda yang lain, terutama Garda Alto. Karena itu, Ia harus mengikuti sesi tambahan dengan Dimitri alias Garda Belikov, yang jelas membuat hari-harinya sangat padat dan melelahkan.

Hari-hari terus berlalu. Semakin banyak detail yang diungkapkan oleh Richelle Mead mengenai dunia imajinasi ini. Dia menggambarkannya dengan sangat jelas dan terperinci hingga mampu membuat kita menganggap bahwa dunia ini memang ada. Tentang bagaimana kaum Moroi dan dhampir saling memerlukan, juga tentang kekuatan elemental yang dimiliki kaum Moroi namun tidak oleh kaum dhampir ataupun Strigoi. Kita juga akan mendapat banyak informasi mengenai perbedaan kaum Moroi dan Strigoi, bahwa Moroi adalah vampir hidup, sementara Strigoi adalah vampir mati yang memburu darah Moroi untuk mendapatkan kekuatan dan kehidupan abadi. Walaupun Moroi dan dhampir hidup berdampingan, namun ada silsilah ‘perkembang biakan’ yang cukup rumit namun simpel diantara mereka, bahwa dhampir hanya bisa memiliki anak dengan Moroi, sementara hubungan Moroi-dhampir tidak pernah berlangsung lama karena Moroi cenderung ingin memiliki dan merawat anak Moroi sendiri, jadi pada akhirnya ia akan kawin dengan Moroi untuk mendapatkan keturunan Moroi. Anak Moroi-dhampir adalah seorang dhampir. Sementara hubungan dhampir-dhampir atau dhampir-manusia tidak bisa memiliki keturunan. Namun yang mengkhawatirkan, kebanyakan kaum Moroi wanita tidak suka berhubungan dengan dhampir laki-laki, sedangkan Moroi laki-laki sukanya ‘main-main’ dengan dhampir wanita. Itulah kenapa banyak dhampir laki-laki yang tidak memiliki keturunan sehingga meyakini bahwa menjadi pengawal adalah kewajibannya satu-satunya. Dan disisi lain, banyak dhampir wanita yang kemudian harus menjadi orangtua tunggal karena hubungan Moroi-dhmapir, seperti halnya ibu Rose.  Walaupun begitu, kita akan diberi tahu bahwa ternyata seorang Moroi yang meminum darah dhampir dianggap sebagai aib. Terutama bagi dhampir, tentu saja. Jadi Rose dan Lissa berusaha untuk menyembunyikan hal ini dari warga sekolahnya karena mereka tidak mau diasingkan dari kehidupan sosial. Ada sebuah komunitas yang disebut pelacur darah, yaitu dhampir-dhampir yang menyediakan darah bagi kaum Moroi dan hal ini biasanya identik dengan semacam… prostitusi ─kali ya?─ kalau di dunia manusia. Alamak.. Detail kan? Yang jelas, kalian baca novel ini, seperti dikenalkan dunia lain yang ternyata cukup menarik untuk dikenal dan ditelusuri lebih jauh. Aku nggak menyangkal kalau aku menikmati karya Richelle Mead ini. Apalagi dengan konflik-konflik yang disajikan. Terasa cukup rumit namun bikin kita penasaran dengan cerita selanjutnya. Alhasil, aku jadi terus menerus membalik setiap halamannya karena keayikan. Dan satu lagi, karakter-karakter ciptaan Mead menurutku cukup kuat. Terutama Rose si tokoh utama. Perangainya yang santai, tegas, simpel, ramah, tapi kadang sinis, berani, humoris, pantang menyerah, dan easy going membuat dia jadi sosok yang, well, asyik menurutku..

Oke. Cerita berlanjut. Benih-benih hubungan mulai terlihat. Maksudku, aku main tebak kalau nanti pasti Rose jadian sama Dimitri dan Lissa dengan Christian Ozera. Christian ini seperti Moroi yang terbuang di sekolahnya. Hampir sepanjang waktu orang-orang tidak memperhatikan keberadaannya. Kenapa? Karena sejarah keluarganya. Orang tua Christian ternyata dulunya adalah Strigoi, walaupun, well, keluarga Ozera adalah satu dari dua belas bangsawan. Karena reputasi dan perangainya yang tertutup inilah tidak ada yang mau berteman dengan Christian. Rose pun memperingatkan Lissa untuk menjauhi Christian karena ia merasa Christian berbahaya. Namun kekuatan cinta tidak bisa dilawan, rupanya.. hha..

Nah, dengan berlalunya waktu, kehidupan Lissa dan Rose ternyata semakin sulit. Banyak cobaan yang menghadang dan menguji persahabatan mereka. Teman-teman Rose semakin menyudutkannya, apalagi dengan ─akhirnya─ tersebarnya kabar tentang ‘pelacur darah’ itu. Rose semakin terdesak. Giliran Lissa yang merasakan kemarahan yang membuncah. Selama ini Rose lah yang melindunginya. Tapi kini gantian ia yang bertekad akan melindungi Rose. Namun Rose dapat merasakan kebencian kelam di hati Lissa dan Rose jadi semakin takut karenanya. Ia takut Lissa malah terjerumus dalam kegelapan. Rose harus mengembalikan Lissa pada keceriaannya dulu. Tapi bagaimana?

Benar  saja apa yang dicemaskan Rose. Lissa menggunakan kemampuan kompulsi nya untuk memperngaruhi orang-orang agar meyakini bahwa Rose bukan pelacur darah. Kini popularitas Lissa pun semakin menanjak karena banyak teman-temannya yang memujanya. Dia jadi senang berpesta dan semakin menjadi-jadi dalam pengunaan kompulsi. Rose tahu ia harus segera bertindak.

Belum lagi Rose juga semakin dihadapkan oleh kecemasan akan ‘kemampuan’ sahabatnya. Akhirnya kita tahu apa yang menyebabkan kedua sahabat ini memutuskan untuk kabur dulu. Lissa menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tidak memiliki spesialisasi terhadap elemen tertentu. Padahal seorang vampir yang tidak mengalami spesialisasi elemen sama halnya dengan seseorang yang tidak mengalami puber. Dan ini sangat jarang terjadi. Dilain sisi, Lissa malah memiliki kemampuan menyembuhkan dan menghidupkan makhluk mati. Lissa lah yang menghidupkan Rose saat Rose seharusnya mati dalam kecelakaan yang merenggut nyawa keluarga Lissa yang lain. Namun kemampuan ini hanya Rose, Lissa dan seorang mentor bernama Ms.Karp yang tahu. Tapi sayangnya, Ms. Karp dibawa pergi dan tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Dari Ms. Karp lah Rose mendapat peringatan untuk melindungi Lissa dan menyuruh gadis itu membawa pergi Lissa dari Akademi atau kalau nggak mereka akan menangkapnya juga. Kini Rose mulai menyelidiki tentang kemampuan Lissa yang ternyata sepanjang pengetahuan dan hasil penyelidikannya, hanya dimiliki Ms. Karp dan St. Vladimir ─si pemilik nama sekolah ini─ sendiri. Tentu saja kalau kemampuan St. Vladimir banyak orang yang tahu karena kisahnya tertuang di banyak catatan sejarah. Tapi Ms. Karp dan Lissa? Hanya mereka yang tahu karena Rose pernah disembuhkan oleh Ms. Karp diam-diam. Belum lagi dengan kemampuan super-kompulsi yang sama-sama mereka miliki. Rose menyebut hal ini dengan ‘teori Lissa-Karp-Vladimir’, dan bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan Lissa. Christian lah orang yang pertama ia mintai tolong. Cukup ironis mengingat sikap Rose sebelumnya pada Christian. Tapi kini mereka sudah berbaikan dan saling melempar ejekan sarkastis seperti seorang teman lama. Selain Christian, ada Dimitri juga, yang sekarang diam-diam menyimpan perasaan pada Rose, begitu pula sebaliknya. Cihui.. 🙂

Oia, ternyata masalah tidak sebatas ini saja lho. Ternyata selama ini ada seseorang yang tahu dan ingin memanfaatkan kekuatan Lissa hingga membuat orang itu melakukan pengkhianatan besar-besaran dan menculik Lissa. Belum lagi ambisi ngeri yang dimiliki orang ini. Umm, kurasa pasti orang ini bakal lebih berperan aktif di buku keduanya 🙂

Oke. Sejauh ini aku menyukai Vampire Academy.. Walaupun alur cerita yang diambil maju mundur, namun tidak membuat kita kebingungan kapan flashback terjadi karena pemaparannya cukup jelas. Hanya saja ada satu hal yang membuatku kecewa saat membaca buku ini. Aku menemukan kerusakan pada beberapa halaman buku yang aku miliki. Entah ini hanya terjadi di bukuku atau semua cetakan Vampire Academy edisi ini juga bermasalah. Saat aku mencapai halaman 146, dua halaman dihadapanku terlihat kacau karena blur, seolah terjadi dua kali penge-print-an di halaman yang sama namun kertas yang dimasukkan dalam posisi tergeser, jadi tulisan yang terbentuk jadi tumpang tindih. Selain halaman 146-147, kejadian serupa juga terjadi di halaman 150-151, 154-155, dan 158-159. Huh. Menyebalkan memang.. Tapi sayang saat aku ingin menukarkannya, ternyata notaku udah hilang entah kemana. Yasuda deh.. Apa bole buat kan 😉

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
7 Comments

Posted by on August 21, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags:

Sookie Stackhouse 3 – Dead To The World


  • Pengarang        :    Charlaine Harris
  • Genre               :    Fantasy, Drama
  • Tebal                :    462 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Esensi
  • Harga               :    77.000 IDR
  • Pertama terbit   :    4 Mei 2004
  • Cetakan            :    2010
  • Tanggal Beli      :    18 September 2010

Tidak setiap hari kau berpapasan dengan seorang pria setengah telanjang di pinggir jalan. Itulah kenapa Sookie Stackhouse, sang pelayan bar, tidak melewatkannya begitu saja. Ternyata, pria yang malang itu mengalami amnesia. Dialah Eric si vampir, tapi sekarang ia adalah Eric yang lebih baik hati serta lemah lembut. Dan Eric yang ketakutan, karena siapa pun yang menghapus ingatannya sekarang berniat membunuhnya. Penyelidikan Sookie untuk mengetahui siapa dalang dari semua itu mengantarnya ke tengah pertempuran antara penyihir, vampir, dan werewolf. Tapi, bahaya yang lebih besar justru mengancam hatinya, karena versi Eric yang berbeda ini sulit sekali untuk ditolak….

Review :

Sudah satu minggu sejak peristiwa penculikan Bill oleh sekelompok vampir di Mississippi dan salah satu anggota kelompok itu adalah Lorena, mantan kekasih Bill. Namun sejak itu Bill dan Sookie tidak pernah saling bicara hingga suatu hari Sookie menemukan surat yang ditulis Bill dan mengijinkan Bill untuk masuk kerumahnya ─vampir harus mendapat undangan untuk bisa masuk ke rumah seseorang. Mereka ngobrol dan Bill menjelaskan perihal kejadian yang lalu, yang mana ia mencampakan Sookie untuk kembali pada mantan kekasihnya, Lorena. Hati Sookie sangat sakit, namun ia bertahan. Beberapa saat kemudian, Bill berpamitan. Bill akan pergi ke Peru atas tugas yang diberikan oleh Ratu Lousianna untuknya. Yah, inilah akhir hubungan Bill dan Sookie.

Hari berganti dan perayaan Tahun Baru akhirnya selesai. Merlotte’s sangat ramai pengunjung untuk merayakan Tahun Baru bersama. Saat Sookie pulang pagi itu setelah selesai memberesi Merlotte’s, diperjalanan ia melihat seseorang yang berjalan hanya mengenakan Jins. Sookie menghampirinya dan ia kaget karena ternyata itu Eric. Yang mengherankan, Eric tidak mengenali Sookie dan ia juga menunjukkan paras takut pada Sookie. Bahkan Eric yang selama ini selalu tampil percaya diri kini tampak bingung dan linglung. Karena kasihan, Sookie pun mengajak Eric pulang kerumahnya. Kemudian ia menghubungi Fangtasia yang ternyata sedang terjadi huru-hara. Pam meminta Sookie untuk menampung Eric sementara karena saat itu matahari pagi akan menjelang beberapa jam lagi. Eric kemudian ‘tidur’ di kamar rahasia buatan Bill dulu.

Sore hari menjelang senja, kakak Sookie berkunjung. Ia kemudian kaget saat melihat sosok Eric yang baru saja terbangun dari tidur siangnya. Sookie minta tolong Jason untuk membeli beberapa botol TrueBlood dan pakaian ganti buat Eric. Sekembalinya Jason dari Wal-Mart ia mendapati Pam dan Chow di rumah Sookie. Awalnya timbul ketegangan saat Jason muncul, tapi menurutku situasi ini agak lucu, karena memang kadang-kadang ada bumbu lelucon yang disajikan oleh Charlaine Harris untuk novel serinya. Jadi nggak bakal membosankan dan karena cerita juga beralur cepat, maka semakin asik buat mengikuti seri Sookie Stackhouse ini 🙂

Well,  akhirnya Pam pun bercerita tentang asal mula kejadian Eric amnesia. Rupanya ada sekelompok penyihir yang datang ke kota dan mereka ingin mengambil alih usaha Eric atau setidaknya Eric harus membayar upeti kepada mereka kalau tidak ingin diganggu. Ternyata penyihir juga manusia, butuh duit 😛 Nah, awalnya pemimpin sekte ini yang bernama Hallow melakukan penawaran. Sayangnya ia kemudian ‘bernafsu’ pada Eric. Ia meminta agar Eric mau menemaninya selama tujuh hari dan sebagai balasannya ia hanya akan mengambil seperlima dari bisnis Eric, alih-alih setengahnya. Namun ternyata Eric menolak tawaran itu dengan mengunakan istilah-istilah yang cukup menghina. Hallow marah dan memutuskan untuk mengutuk Eric. Wew, Eric yang saat itu ikut mendengarkan kisah ini juga ikut meringis. Ia sama sekali tidak ingat dengan kejadian apapun dan juga pada siapapun. Bahkan saat mendengar cerita ini Eric duduk bersila di lantai dan memeluk kaki Sookie ─yang duduk di sofa─ dengan erat. Ya ampuuun.. Eric pokoknya di gambarkan kaya anak kecil yang ketakutan dengan lingkungannya dan hanya mempercayai Sookie. Hhihi..

Jadi, karena keadaan belum terlalu membaik, ditambah lagi dengan pengumuman yang tersebar di kota tentang orang hilang dan menawarkan uang sebesar lima puluh ribu dolar sebagai imbalan menemukan Eric, Pam akhirnya meminta Sookie dan Jason untuk menampung, merawat, dan menjaga Eric sementara waktu. Tentu saja dengan imbalan yang lumayan tinggi. Dan tentu saja ini bukan inisiatif Sookie. Jason lah yang melakukan penawaran dan mau nggak mau Sookie jadi punya tanggung jawab seorang bayi gede’. Hhe.. Eric jadi manis banget waktu amnesia gini. Jadi bener-bener kayak anak kecil yang polos 😀

Pagi hari berikutnya Sookie mendapat telepon dari Catfish, bos Jason yang bertanya tentang keberadaan Jason. Rupanya Jason tidak berangkat kerja, setelah di cek, mobilnya ada di depan rumah, kunci masih tergantung dan pintu mobil dalam posisi terbuka. Sookie jadi cemas dengan keberadaan abangnya yang menghilang itu. Seharian ia terpaksa meninggalkan Eric yang sedang tidur dan pergi kesana kemari untuk mencari informasi tentang keberadaan Jason karena polisi belum mau mengambil tindakan atas laporan Sookie. Pertama, ia pergi kerumah Jason, lalu ke tempat Tara ─sahabat SMAnya. Di tempat Tara ia berkenalan  pertama kali dengan Claudine ─yang nanti kebelakangnya bakal cukup berperan. Ia bahkan pergi mengunjunggi Holly atas saran Tara. Holly ternyata seorang Wiccan, penyihir yang menganut suatu ajaran (kepercayaan Pagan). Holly memberi Sookie cukup banyak informasi walaupun ia sendiri sangat ketakutan. Sebenarnya Sookie mendapat informasi ini secara tidak langsung, yaitu dengan membaca pikiran Holly. Kadang kelebihan Sookie ini bisa sangat berguna 😉

Ternyata sekte penyihir yang dipimpin Hallow adalah penyihir-penyihir yang mempraktikan sihir gelap,  peminum darah vampir dan sebagian dari mereka adalah Werewolf. Holly memperingatkan Sookie untuk menjauhi mereka, namun tentu saja Sookie tidak menuruti saran itu. Karena waktu masih tengah hari Sookie memutuskan untuk pergi ke Shreveport untuk menemui Carla Rodriguez, mantan pacar Jason. Tapi ia tidak mendapat petunjuk apapun. Ia pun kemudian pergi ke Fangtasia, Bar milik Eric. Ia tahu kalau masih siang gini nggak ada seorang vampirpun. Tapi yang mengejutkan ia malah menemukan dua karyawan Fangtasia dalam kondisi kaki tertekuk kebelakang karena disihir dan salah satunya sudah meninggal. Setelah mendapat informasi dari salah seorang yang masih hidup, ia lalu menghubungi polisi dan segera pergi meninggalkan TKP. Tanpa sadar ia berkendara tanpa tujuan dan tersesat di kota asing itu. Saat itulah ia menghubungi Alcide Herveaux, dan lelaki werewolf itu membimbing Sookie ke alamat kantornya. Sekedar informasi, Sookie pernah terlibat asmara singkat dengan Alcide dimana hubungan mereka ini menyulut amarah dari mantan tunangan Alcide yang pencemburu, Debbie Pelt. Tapi Debbie ini emang nyebelin sih orangnya 😉

Oke, perjalanan Sookie berlanjut. Setelah ia bercerita pada Alcide tentang informasi yang ia punya, bahwa ada penyihir yang seorang Were dan peminum darah vampir, Alcide pun membawa Sookie kepada packmaster nya ─packmaster atau pack adalah pemimpin sekawanan werewolf untuk suatu daerah tertentu. Kolonel Flood, si packmaster, mendengarkan cerita Sookie dan ia segera memerintahkan kelompok pelacak untuk melacak keberadaan para penyihir. Ternyata ia sedang mempertanyakan kredibilitas wakilnya sendiri karena si wakil ini tidak hadir dalam suatu pertemuan kelompok, jadi ada kamungkinan si wakil ─Adabelle─ juga terlibat dengan sekte penyihir ini.

Sebelum mengantar Sookie kembali ke mobilnya yang ia tinggal di kantor Alcide, Alcide dan Sookie  mampir ke rumah dan butik Adabelle. Sayangnya hari itu adalah hari menemukan mayat bagi Sookie. Alcide dan Sookie menemukan Adabelle sudah tak bernyawa dengan tubuh yang tercincang. Dan dari hasil penyelidikan sementara polisi ternyata potongan-potongan tubuh itu berasal dari dua orang. Dugaan sementara Sookie dan Alcide, Adabelle berhasil melawan seorang penyihir sebelum penyihir lain membunuhnya dan karena potongan tubuh tercampur, penyihir yang lain itu kesulitan membawa pergi tubuh temannya. Setelah pihak kepolisian melepaskan Sookie dan Alcide yang merupakan saksi penemuan, Sookie segera kembali ke Bon Temps karena hari sudah cukup sore dan ia ingin kembali sebelum Eric bangun dan ketakutan karena tidak menemukan Sookie di rumah.

Di perjalanan pulang Sookie bertemu dengan Hoyt Fortenberry, sahabat Jason. Hoyt mengungkapkan kecurigaannya bahwa bisa jadi Jason ada di rumah cewek yang dikencani Jason malam tahun baru kemarin. Crystal Norris, seorang shapeshifter yang tinggal di Hotshot. Dengan informasi dari Sam, bosnya di Merlotte’s, hari berikutnya Sookie pun pergi ke Hotshot. Ia langsung kerumah Crystal dan menemuinya. Saat itulah muncul Calvin Norris, paman Crystal yang tegas dan rupanya semacam packmaster di Hotshot. Hotshot adalah sebuah komunitas were dimana mereka memiliki kebiasaan inses (kawin dengan keluarga). Setelah mendapatkan informasi dari Crystal, Sookie berpamitan dan yang mengejutkan Calvin ternyata tertarik pada Sookie dan dengan sopan menanyakan apakah Sookie mau menjadi ibu dari anak-anaknya, karena Sookie akan menjadi induk yang baik. Yah, intinya sih Hotshot memerlukan sebuah darah baru untuk keturunan mereka karena dengan kebiasaan inses ini kekuatan kelompok ini semakin menurun. Hhe.. ada-ada aja..

Sore harinya ia bekerja di Merlotte’s. Saat itulah muncul seorang wanita cantik dan laki-laki tampan yang ingin meminta ijin untuk memasang poster perihal menghilangnya Eric. Sookie langsung tahu kalau perempuan itu adalah Hallow dan adiknya. Mereka bertanya pada Sookie dan Sam tentang seorang vampir yang tinggal di Bon Temps, Bill Compton tentu saja, dan mereka menanyakan alamat Bill. Rumah Bill dan Sookie hanya dipisahkan dengan sebuah kuburan. Itulah kenapa Sookie cemas kalau kedua penyihir ini bakal mampir ke rumah Sookie sementara Eric ada dirumah. Setelah keduanya pergi, Sam mengizinkan Sookie pulang. Ternyata Eric sudah menantikannya di rumah. Saat mendengar peringatan Sookie dan perintah Sookie untuk bersembunyi, sifat keras kepala dan harga diri Eric yang asli muncul. Ia malah menggendong Sookie melintasi pekuburan dan bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Benar saja, di depan rumah Bill sedang ada dua penyihir itu. Si penyihir cowok merasakan ada seseorang disitu, lalu iapun berubah wujud menjadi serigala. Saat keberadaan Sookie mulai terancam, muncul serigala-serigala lain yang menolong Sookie. Sayangnya ada satu serigala yang berhasil di tabrak Hallow dengan mobilnya dan serigala wanita itu terluka parah. Setelah Hallow dan saudaranya pergi, Sookie membawa serigala yang sudah berubah menjadi gadis bernama Maria-Star ini kerumah sakit. Ternyata para serigala itu adalah kawanan Kolonel Flood.

Sepulang Sookie dari rumah sakit, ia sangat kelelahan dan hampir tertidur di mobil. Beruntung ada Claudine yang tiba-tiba muncul dan duduk di samping Sookie, dan membangunkan Sookie sebelum terjadi kecelakaan. Ternyata Claudine adalah seorang peri dan semacam pelindung Sookie saat ia dalam bahaya. Kenapa baru muncul sekarang?? Padahal sebelum-sebelumnya Sookie selalu terlibat dalam bahaya. Hhe.. Yah, pokoknya setelah itu mereka pergi ke Merlotte’s yang tampaknya sekarang menjadi tempat perkumpulan para makhluk supranatural. Ada Sam, Alcide, Kolonel Flood dan kawanannya, Eric, Pam, Chow dan seorang vampir lain, dan sekarang ada si peri Claudine yang berhasil menarik perhatian mereka semua dengan pesonanya padahal saat itu Sookie sungguh tidak berniat lagi buat melakukan hal lain karena ia sangat kelelahan dan ingin tidur. Inilah yang aku suka dari novel ini. Seiring dengan perjalanan waktu selalu ada adegan yang terjadi dan terjadinya pun tidak penuh basa-basi alias disampaikan dengan cepat dan lugas. Baca buku ini bener-bener kayak nonton film..

Hari berikutnya, polisi datang dan mengabari tentang jejak darah dan kaki binatang sejenis panther di rumah Jason. Hari itu juga warga Bon Temps melakukan pencari bersama-sama ke dalam hutan belakang rumah Jason untuk mencari jejak Jason karena mereka menduga Jason diserang panther itu dan dibawa ke dalam hutan. Saat itu Sookie satu tim dengan Calvin, Crystal, dan Felton Norris. Sayangnya Crystal diserang babi hutan dan Calvin dan Felton hampir saja kelepasan dengan berubah wujud akibat bahaya yang mengancam. Inilah dimana ia melihat keanehan tangan Felton yang tidak seperti Calvin, berubah jadi tangan yang berbulu. Namun Sookie tidak memikirkan lebih jauh. Malam harinya Sookie melakukan perjalanan ke Shreveport bersama Eric karena inilah saat peperangan yang sudah mereka rencanakan. Kaum vampir dan Were akan berperang melawan Hallow dan penyihir yang lain. Di perkumpulan sebelum berperang, Sookie tidak menyangka akan bertemu dengan Bill yang sudah pulang dari Peru, lalu ada Bubba si vampir yang lucu, dan yang paling membuatnya kesal, ada Debbie Pelt. Sookie kaget ternyata Alcide dan Debbie udah balikan, namun kemudian Alcide harus mengingkari keberadaan Debbie ─itu semacam putus hubungan dan yang melakukan pengingkaran biasanya tidak ingin berhubungan dan bertemu lagi dengan orang yang diingkarinya. Pengingkaran Alcide terhadap Debbie dikarenakan oleh Bill yang membuka kebusukan Debbie, bahwa Debbie terlibat dalam penyiksaan Bill saat ia diculik oleh Raja Mississippi, dan fakta bahwa Debbie berusaha membunuh Sookie. Alcide marah pada Debbie dan Debbie semakin marah pada Sookie. Tapi yah, lupakan masalah ini untuk sesaat karena mereka harus bertarung segera. Saat peperangan ini terjadi, diceritakan dengan sangat mantap dan, wew, cukup ngeri dan brutal. Tentu saja Sookie terlibat di dalamnya. Sayangnya ia sedih karena tidak menemukan Jason yang semula ia kira diculik oleh para penyihir.

Sekembalinya Sookie dan Eric kerumah mereka dikejutkan oleh Debbie yang duduk dan mengacungkan pistol pada Sookie. Pistol meletus dan Eric berhasil menghalangi peluru untuk mengenai Sookie, tapi malah kini bersarang ke tubuhnya sendiri. Spontan, sebagai tindak pertahanan Sookie mengambil senapan Jason dan menembakkan isinya pada Debbie. Kini Sookie benar-benar telah membunuh Debbie dan kejadiannya sangat cepat. Eric ─yang sembuh dengan cepat─ yang akhirnya membersihkan tubuh  Debbie dan menguburnya di suatu tempat di hutan yang Sookie sendiri tidak tahu dimana itu, bahkan untuk selamanya. Bahkan Sookie juga tidak tahu kemana Eric membawa pergi mobil Debbie karena ia sudah sangat kelelahan. Sookie bertugas memberesi rumahnya yang terciprat darah Debbie. Kemudian  iapun pergi tidur karena matahari terbit menjelang dan Eric sudah kembali ke lubang persembunyiannya untuk tidur juga.

Sookie baru bangun menjelang senja, dan tenyata Eric bangun lebih awal. Eric menunjukkan bahwa ia tidak mengingat kejadian beberapa hari terakhir dan ini artinya Pam berhasil memaksa Hallow untuk menarik kutukan dan Eric sudah kembali menjadi dirinya yang dulu. Nah kan, Eric aja nggak tahu menahu bahwa malam sebelumnya ia sudah mengubur mayat entah dimana. Sookie pun bungkam dan tidak mengungkitnya.

Sookie pergi ke Merlotte’s untuk shift malam, meninggalkan Eric dan Pam dirumah untuk membicarakan ‘waktu yang telah berlalu’ tanpa ia ingat. Sam berkata bahwa Calvin sempat mampir dan mengatakan bahwa ia serius dengan lamaran yang diajukannya pada Sookie. Satu lagi masalah yang harus Sookie hadapi 😉 Sam pun bercerita tentang Calvin dan yang mengejutkan, ternyata selama ini Sookie salah mengerti. Ternyata Hotshot bukan komunitas Were. Maksudnya, mereka bukanlah Were dengan huruf kapital W (Were merupakan singkatan dari Werewolf, manusia yang berubah menjadi serigala). Ternyata masyarakat Hotshot adalah were-panther! Inilah titik terang yang dibutuhkan Sookie. Kini ia tahu siapa yang menculik Jason. Belum lagi ternyata Felton cinta mati sama Crystal sementara Crystal menyukai Jason. Akhirnya, motifnya jadi semakin jelas. Sookie pun segera mendatangi Hotshot dan menemukan Jason. Namun kondisinya sangat mengenaskan dan, umm, melihat bekas gigitan berulang di tubuh Jason, ada kemungkinan kakaknya itu akan berubah menjadi were-panther juga.

Sayangnya ada kekacauan dari novelku. Entah ini terjadi pada semua buku Sookie Stackhouse 3 – Dead to The World, atau hanya terjadi pada buku yang aku punya. Saat mencapai halaman 454, halaman selanjutnya kembali menjadi halaman 447. Kemudian saat aku mulai melanjutkan ke halaman 455 dan mencapai halaman 460 aku dihadapkan dengan selembar kertas, halaman bolak balik kosong sebelum kemudian lembar berikutnya kembali mengulang ke halaman 455 dan berakhir di 460. Aduh.. payah pokoknya. Jadi intinya aku dapat bonus halaman yang malah bikin pusing. Hha..

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
3 Comments

Posted by on August 3, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags: , ,

Sookie Stackhouse 2 – Club Dead


  • Pengarang        :    Charlaine Harris
  • Genre               :    Fantasy, Drama
  • Tebal                :    382 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Esensi
  • Harga               :    68.000 IDR
  • Pertama terbit   :    1 Mei 2003
  • Cetakan            :    2010
  • Tanggal Beli      :    18 September 2010

Hanya ada satu vampir yang pernah menjalin hubungan dengan Sookie Stackhouse, dan ia adalah Bill Compton. Ketika Bill menghilang secara misterius, Eric pun mengirim seorang werewolf, Alcide, untuk membantu Sookie dalam usahanya mencari Bill. Penyelidikannya menyeret Sookie dalam dunia para makhluk malam di Club Dead. Selain harus berusaha menyelamatkan diri dari werewolf misterius yang ingin membunuhnya, Sookie juga harus menahan diri untuk tidak tergoda oleh Alcide yang tampan, simpatik, dan sangat menyukai Sookie. Tapi ketika Sookie akhirnya menemukan Bill, kenyataan yang Sookie hadapi membuatnya tidak yakin apakah harus menyelamatkan kekasihnya itu… atau malah meraut pasak kayu hingga runcing.

Review :

Kali ini cerita diawali dengan Sookie yang mulai lelah menghadapi sikap Bill akhir-akhir ini. Bill selalu saja terpaku pada layar komputernya dan sering mengabaikan Sookie. Memang, kali ini Bill mendapat tugas rahasia dari sang Ratu Louisiana langsung, bahkan Eric yang secara teknis adalah bosnya langsung ─Eric adalah sherrif Area Lima─ tidak tahu menahu mengenai tugas yang diemban Bill dari sang Ratu.

Di awal buku seri Sookie Stackhouse 2 – Club Dead ini, kita mendapat cukup banyak informasi mengenai hal-hal yang belum diuraikan di buku pertamanya, Sookie Stackhouse 1 – Living Dead In Dallas. Kita diberitahu mengenai siapa pembuat darah sintetis pertama kali dan bagaimana sistem penyebaran pengumuman tentang keberadaan kaum vampir melalui jaringan televisi yang ternyata dilakukan dalam ratusan bahasa dan oleh ratusan vampir terpilih. Alamak.. Bahkan kita diberi gambaran mengenai reaksi para manusia di berbagai negara dalam menanggapi pengumuman ini. Negara mana yang menentang dan menolak pengakuan keberadaan makhluk immortal itu dan negara mana yang menerima dan bersedia hidup berdampingan dengan mereka. Selain itu kita juga akan mendapatkan informasi mengenai Kerajaan Vampir di Amerika dan bagaimana sistem pemerintahannya. Kalo bagian ini, aku suka. Menurutku idenya bagus juga, ada Kerajaan Louisiana, Kerajaan Texas, Kerajaan Mississippi, yang mana nanti setiap kerajaan dibagi menjadi jadi beberapa Area yang tiap areanya dipimpin oleh seorang sherrif. Ahhahai..

Masih di bab pertama buku ini, Bill memang sedang menyembunyikan banyak hal dari Sookie, terutama mengenai proyeknya. Namun ia berpesan dan meminta Sookie berjanji, kalau Bill tidak kembali dalam beberapa hari, Sookie diminta mnyembunyikan segala perangkat komputer dan CD milik Bill di ruang persembunyian yang Bill buat di rumah Sookie dan kalau Bill tidak kembali dalam 8 minggu, barulah Sookie harus mendatangi Eric untuk menceritakan apa yang Bill ceritakan dan meminta perlindungan dari Eric. Jelas saja Sookie cemas dan sedih karena ia tahu Bill hanya berbohong saat kekasihnya itu mengatakan akan pergi ke ‘Seattle’. Kemudian diketahui bahwa sebenarnya Bill pergi ke Mississippi.  Namun tetap saja Sookie berjanji.

Benar saja, waktu terus bergulir dan Bill menghilang. Bahkan Sookie mendapat pengawalan dari si vampir nyentrik, Bubba, selama Eric atau bawahannya yang lebih ‘berkompeten’ belum datang. Baru juga sebentar dalam pengawasan Bubba, ada seorang werewolf yang akan membunuh Sookie. Beruntung Bubba menyelamatkannya. Malam hari berikutnya, Eric dan kedua bawahannya, Pam dan Chow, mengunjungi rumah Sookie. Mereka membawa kabar bahwa Bill diculik dan kemungkinan dibawah perintah Raja Mississippi, Russell Edgington. Eric juga memberitahukan sebuah hal yang walaupun cukup mengejutkan Sookie dapat menanggapinya dengan tenang ─inilah yang aku suka dari karakter Sookie. Dia selalu saja tenang dan terkesan santai. Dia nggak pernah menimbulkan reaksi yang terkesan berlebihan. Selain itu dia juga seorang yang berani, pekerja keras dan tidak mudah menyerah. Pribadi yang menarik─ yaitu bahwa Bill pergi ke Mississippi untuk memenuhi panggilan seorang vampir wanita bernama Lorena yang kemudian diketahui bahwa ia adalah mantan kekasih Bill. Kembali lagi ke Eric dan kawan-kawan, mereka punya sebuah rencana untuk membebaskan Bill, dan itu melibatkan Sookie. Singkat cerita, Eric memerintahkan seorang werewolf untuk menemani Sookie ke Mississippi dan menjalankan misi. Werewolf itu bernama Alcide Herveaux. Selama perjalanan mereka banyak bercerita, terutama Alcide, bahkan mengenai mantan kekasihnya dulu, Debbie Pelt, yang mana mereka berpisah tidak baik-baik.

Di Mississippi, mereka tinggal di apartemen Alcide dan Sookie dikenalkan dengan adik Alcide yang memang tinggal di Jackson, Janice Herveaux Philips. Karena misi mereka disini adalah mencari informasi sebanyak mungkin di Club malam dan peranan Sookie adalah teman kencan Alcide, maka Janice cukup membantu karena Janice adalah pemilik sebuah salon kecantikan, dan cukup berhasil merubah Sookie menjadi wanita yang sangat menawan. Bahkan Alcide pun terpesona.

Malam itu saat mereka mengunjungi sebuah Club, mereka bertemu dengan Debbie, walaupun mereka berdua mengacuhkannya, Sookie tahu kalau Debbie terus-terusan mencuri pandang pada Alcide. Rupanya Sookie memicu amarah Debbie karena Sookie dan Alcide berlaku layaknya sepasang kekasih. Yups. Debbie cemburu. Tapi yang gawat, rupanya nanti Debbie mati-matian ngejar Sookie dan berniat membunuhnya. Astaga.. Satu lagi Sookie dapat ancaman kematian. Hidupnya memang penuh halangan, tantangan, dan cukup jauh dari ketenangan dan ketentraman. Begitu juga di Club ini. Sookie dan Alcide terlibat perkelahian namun malah mempertemukannya dengan si tokoh incaran langsung, Russell Edgington. Karena Russell dan Alcide kurang lebih saling mengenal dan karena sang Raja Mississippi cukup tertarik pada Sookie, maka ia mengundang Alcide dan Sookie untuk sebuah acara makan malam. Tentu saja ini dimanfaatkan oleh Alcide dan Sookie dengan baik. Sayangnya mereka harus menghadapi satu hal lagi sebelumnya, mereka menemukan mayat seorang biker yang malam sebelumnya membuat keributan dengan Sookie dan Alcide di Club. Bagaimana mayat itu bisa ada di dalam lemari mereka sendiri tidak tahu karena hanya Alcide dan Ayahnya yang memiliki kunci apartemen.

Di Club, lagi-lagi terjadi suatu perkara dan kali ini Sookie harus kena tusuk pasak yang sebenarnya  ditujukan pada vampir. Si pelaku adalah Steve Newlin, pemimpin terdahulu dari Ikatan Persaudaraan Matahari, sebuah organisasi militer antivampir yang di buku satu juga muncul. Rupanya kegiatan persaudaraan ini tetap berlanjut walaupun sudah dibubarkan sejak Sookie mengacaukannya, dulu. Karena terluka cukup parah, Russell membawa Sookie ke kediamannya. Sebenarnya ini kesempatan emas untuk menemukan Bill di rumah itu kalau saja keadaan Sookie sedang tidak selemah ini. Belum lagi ia merasa takut kalau ternyata dugaannya selama ini benar, bahwa Bill tidak mau ditemukan dan ingin tetap tinggal bersama Lorena. Dilemaa.. Nah, tidak sengaja Eric jadi terlibat karena saat kejadian penusukan, Eric ada disana  sehingga mau nggak mau ia harus menolong Sookie dan berbohong mengenai identitasnya pada Russell. Sayangnya Russell tidak mudah percaya. Tapi untungnya, dengan bantuan seorang vampir bodoh dan lucu (hhe..) Sookie dapat menemukan Bill dan kini hanya sisa masalah, bagaimana caranya membawa Bill yang sekarat keluar dari rumah yang penuh dengan vampir ini?? Belum lagi dengan adanya ancaman pembunuhan dari Debbie. Haiiss.. Tapi yang jelas, akhir ceritanya cukup menarik dan konyol karena buku ini memang selalu ada bumbu leluconnya 😀

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
Leave a comment

Posted by on July 13, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags: , ,

The Mortal Instrument 2 – City Of Ashes


  • Pengarang               :    Cassandra Clare
  • Genre                      :    Fantasy, Adventure
  • Tebal                       :    616 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Ufuk
  • Harga                      :    99.900 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan                   :    Juli 2010
  • Tanggal Beli             :    7 September 2010

Clary hanya ingin hidup normal kembali, tapi ia telanjur terlibat dengan para Pemburu Bayangan yang bertugas membantai iblis. Masalah semakin menjadi-jadi karena ibunya tidak bisa dibangunkan dan Clary tidak bisa berhenti mencintai Jace. Tentu saja ini menyakiti hati Simon, yang mendadak pergi ke sarang vampir seorang diri. Valentine pun datang lagi, kali ini untuk mengambil Pedang Mortal. Lagi-lagi dia menawari Jace untuk ikut dengannya. Ketika Jace diketahui telah pergi untuk menemui Valentine, akankah Clary tetap memercayainya?

Review :

Cerita dibuka oleh Valentine yang memanggil iblis bernama Agramon. Tapi tujuan pemanggilan ini tidak dijelaskan dengan pasti. Kemudian cerita beralih pada Jace, Alec, dan Isabelle yang baru saja pulang dari memburu Iblis Dragonidae di terowongan bawah tanah. Namun rupanya Jace dan Alec harus berhadapan dengan lumpur sementara Isabelle tetap dapat mempertahankan dirinya dalam kondisi bersih dan ini menyulut rasa kesal sang kakak, Alec. Hhe..

Di seri ini, City Of Ashes, kita dikenalkan dengan pasangan Lightwood, Maryse dan Robert ―orang tua dari Alec dan Isabelle, dan Max, adik mereka. Namun yang lebih dominan perannya adalah Mrs.Lightwood. Kini sejak kemunculan Valentine kembali, Maryse Lightwood tidak sepenuhnya percaya pada Jace lagi. Bahkan ia meminta Jace untuk pindah dari Institut. Maryse takut kalau ternyata Jace adalah mata-mata Valentine dan dia menuduh Jace telah bersekongkol dengan Valentine dalam pencurian Piala Mortal. Ya Ampuun.. Bisa-bisanyaa.. Padahal Maryse udah membesarkan Jace sejak kapan coba?? Tega bener..

Awalnya Jace memang keluar dari institut dan menjadi tanggung jawab Magnus alias dia tinggal dengan Magnus dan ada dalam pengawasan Magnus atas izin dari sang Inkuisitor Imogen Herondale. Ya Ampuun.. Setiap kali karakter Magnus keluar, aku selalu tertawa. Karakter ini kan selalu digambarkan nyentrik dan… gemerlap, karena serbuk kilau. Jadi ngebayanginya juga dia ini sosok yang , wew.. Belum lagi kalau ada adegan yang melibatkan Magnus dan Alec bersama. Selalu ada kelucuan. Hhaha..

Selama selang waktu Jace tinggal dengan Magnus inilah, ia berbuat nekat. Ia menemui ayahnya, Valentine, di markasnya, sebuah kapal di tengah-tengah sungai East. Nah, ternyata saat Magnus membawa Jace pergi ke rumah Luke, mereka ―Jace, Alec, Isabelle, Clary, Luke, Maia― diserang oleh segerombol iblis yang menyebabkan Maia dan Luke dalam pengobatan Magnus, sang Warlock Tinggi Brooklin. Lalu muncullah Maryse, Robert dan sang Inkuisitor. Sayangnya ternyata selama ini Imogen tetap mengawasi Jace dan ia tahu mengenai kepergian Jace menemui Valentine. Semua orang yang ada di situ sangat terkejut dan kenyataan Jace menemui Valentine sangat menggoyahkan kepercayaan keluarga angkatnya, terutama Alec.

Kini Jace harus merasakan siksaan dari sang Inkuisitor yang mengorek sebanyak mungkin informasi dari Jace mengenai rencana Valentine karena mereka percaya Jace juga terlibat dalam rencana Valentine dalam pencurian Pedang Malaikat. Inkuisitor Herondale adalah wanita yang terus mengawasi gerak-gerik Jace alias Jonathan Morgenstern selama ini dan kenyataannya Ia sangat membenci segala hal yang berhubungan dengan Valentine. Hal ini di karenakan oleh kematian anaknya dahulu, Stephen Herondale, yang saat mudanya ikut terlibat dalam jaringan organisasi Valentine, yaitu Lingkaran, bersama dengan Maryse dan Robert Lightwood. Bahkan Jace dikurung disebuah penjara di Idris yang tidak bisa dibobol. Namun beruntung Alec memiliki ide untuk membebaskan Jace. Ia merasa bersalah telah meragukan Jace.

Dan oh wow, sekarang Simon adalah Makhluk Malam juga lhoo.. Ia adalah seorang vampir baru. Nanti Simon diburu sama Valentine karena orang itu punya niat buat membangkitkan Iblis-iblis ke muka bumi ini. Untuk itulah ia membutuhkan darah vampir baru, werewolf, fae, dan warlock. Untuk darah fae dan warlock diceritakan Valentine udah punya. Untuk vampir baru ia kemudian menculik Simon, dan untuk darah werewolf, ia menculik Maia, ‘teman’ Luke yang masih berusia 15 tahun. Untuk menyelamatkan teman-temannya inilah mereka harus melakukan pertempuran di akhir-akhir cerita. Pertempuran di atas kapal. Seru lhoo.. Yang mengejutkan nii, sang inkuisitor terbunuh hanya untuk menyelamatkan Jace. Ow ow.. Ada apakah ini??

Di akhir cerita, Kita dikejutkan dengan kenyataan hidup Simon. Oke, Ia memang seorang vampir baru. Tapi vampir yang istimewa, karena ia tidak bisa terbakar sinar matahari! Wow.. Padahal kalau vampir-vampir yang lain kan harus bersembunyi di siang hari, tapi Simon nggak. Kenapa bisa gitu coba? Rahasianya ada di Jace. Walaupun hubungan Jace dan Simon tidak baik, namun sebenarnya mereka saling menghormati dan sesungguhnya aku malah suka dengan hubungan unik mereka. Candaan mereka sama-sama sarkastis kalau sedang bertemu. Jatuhnya malah lucu.. Hhe.. Nah, kembali ke masalah ke-vampir-an Simon yang unik. Rupanya ini disebabkan oleh darah Jace yang diminum Simon. Kan waktu ditemukan pasca di siksa oleh Valentine dan dikuras darahnya, Simon sekarat. Itulah kenapa Jace yang menemukannya mau nggak mau harus merelakan darahnya untuk dihisap Simon, Fana yang dibencinya. Hhe… Itulah rahasia vampir ini kenapa ia kemudian bisa berlenggang di bawah sinar matahari.

Pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan komentarku untuk buku sebelumnya. Aku masih menyukai novel ini, bahkan mencintainya.. Ceritanya sungguh lugas dan lucu namun juga miris dan kasihan kalau sudah beralih membicarakan kisah cinta Clary dengan sang kakak, Jace. Simon yang mencintai Clary pun tidak bisa mendapatkan cinta dari gadis itu. Ditambah lagi dengan Alec yang masih dibingungkan oleh perasaannya sendiri terhadap Magnus namun dilain pihak diam-diam ia mencintai Jace. Yah, yah.. sedikit rumit kan.. Tapi setidaknya kisah cinta mereka sedikit banyak menjadi bumbu cerita seri The Mortal Instrument inilah..

Ratingku buat novel ini : 8,8

 
4 Comments

Posted by on June 23, 2011 in Magic

 

Tags: , , ,