RSS

Category Archives: Science Fiction

Incarceron


  • Pengarang               :    Catherine Fisher
  • Genre                      :    Advanture
  • Tebal                       :    492 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Matahati
  • Harga                      :    64.000 IDR
  • Pertama terbit          :    3 Mei 2007
  • Cetakan                   :    Agustus 2011
  • Tanggal Beli             :    7 Februari 2012

Incarceron adalah penjara yang begitu luas sehingga tidak hanya berisi sel, tetapi juga kota, hutan logam, rimba raya, dan lautan. Penjara itu terkunci dari dunia luar selama berabad-abad, dan hanya satu orang, menurut legenda, yang pernah lolos darinya.

Finn, tahanan berusia tujuh belas tahun, tidak ingat masa kecilnya dan yakin berasal dari luar Incarceron. Finn menemukan sebuah kunci kristal yang membuatnya dapat berkomunikasi dengan seorang gadis bernama Claudia, putri Sipir Incarceron. Claudia hidup di dunia luar dan telah dijodohkan dengan seorang pria yang dibencinya.

Finn bertekad keluar dari penjara, dan Claudia yakin dapat membantunya. Namun, mereka tidak  menyadari bahwa Incarceron menyimpan begitu banyak misteri. Upaya untuk keluar begitu mustahil dan hanya nyawa taruhannya.

Review :

Oh, well. Lihat covernya, aku suka. Baca sinopsisnya, aku penasaran. Penjara macam apa yang begitu luas dan sangat beragam?? Oke, aku beli. Dan akhirnya aku baca. Hmm.. Saat kumulai baca, seriously, aku harus konsentrasi penuh, apa sih yang pingin disampaikan sang pengarang??

Gini, aku suka sama ide ceritanya. Suer. Menggambarkan dua dunia yang berbeda, tapi juga masing-masing punya pengembangan yang beragam. Yang satu penjara, dengan keberagaman penduduk, luasnya yang aku sendiri ngebayangin sangat ─sangat─ luas, serta punya kemampuan buat mengendalikan tubuhnya sendiri. Dan yang satunya lagi adalah dunia seperti kita, tapiiiii, mereka menggunakan Protokol yang melarang perkembangan teknologi. Mereka harus hidup di jaman Era dimana tingkah laku orang sangat dijaga, dan gampangnya, bayangin aja jaman Victoria dulu, yang mana ceweknya pake baju-baju ketat mengembang. Pew..­ Yang jelas, konsep utama novel ini menyatukan antara teknologi dan magic. Hmm, magic?

Oke, kita mulai aja review singkatku. Jadi, seperti yang sudah kita tahu dari sinopsisnya, kita punya tokoh Finn dan Claudia disini. Perjalanan Finn dan Claudia nantinya diceritakan dalam lima bagian yang akan mewakili inti cerita tiap bagian. Seperti pada bagian pertama, Elang Kristal, Angsa Hitam. Kita akan disuguhkan cerita bagaimana Finn dan Claudia masing-masing mendapatkan Kunci yang kelak akan menjadi alat komukasi mereka.

Finn sangat menyesalkan bagaimana ia mendapatkan kristal yang ternyata Kunci tersebut. Harus ada pengorbanan nyawa, yang sangat ia hindari. Namun apa boleh buat. Kelompok tempat Finn tinggal sangatlah brutal. Mereka hanya hidup bersenang-senang diatas penderitaan orang lain dan mementingkan harta jarahan. Finn memiliki saudara angkat, Keiro, yang juga culas dan sok cakep 😛 Di perkenalan awal, aku masih dibingungkan dengan karakter Keiro, benarkah dia memang peduli pada Finn, atau ada maksud tersembunyi dari kebaikannya? Yah, seiring perkembangan cerita kita bakal semakin mengenal sosoknya, walaupun yaah, bisa saja si pengarang memutar balikkan karakter ciptaannya sesuka hati. Hhe..

Nah, kalau di dunia Finn harus dengan kebrutalan untuk mendapatkan kunci ini, maka lain di dunia Claudia. Bersama Jared Sapient, gurunya, Claudia harus mengandalkan kenekatan dan keberaniannya untuk mendapatkan kunci. Hmm, memang bukan Kunci secara langsung sih target mereka. Maksudnya, mereka mendapatkan Kunci ini tidak sengaja. Kalau Claudia, saat ia memberanikan diri masuk ke dalam ruang kerja ayahnya yang seorang Sipir Incarceron ─yang keberadaan penjara itu pun tidak diketahui dimana. Tapi ternyata ia menemukan Kunci ini. Dan yang lebih mengejutkan, nanti di bagian berikutnya, Di Bawah Tanah, Bintang-Bintang adalah Legenda, akhirnya masing-masing mengetahui bahwa Kunci dapat berhubungan dengan Kunci satunya. Itu artinya, Finn dan Claudia dapat berkomunikasi. Terjadi pertama kali saat Finn sedang melakukan pelarian bersama Keiro, Gildas dan seorang budak bernama Attia yang berjanji akan mengabdikan diri pada Finn sang Penglihat Bintang karena Finn telah menyelamatkan nyawanya.

Saat perjalanan itulah Finn dan Claudia pertama kali berkomunikasi. Awalnya hanya berupa suara, namun berikut-berikutnya muncul sebuah citra yang semakin lama semakin jelas. Menurut dugaan Claudia dan Jared itu karena mereka semakin dekat dengan pintu menuju Incarceron. Well, aku memang berpikiran bahwa Incarceron ini terletak di dalam tanah. Yah, mengingat beberapa novel lain pernah mengangkat tema cerita kehidupan di bawah tanah, seperti Tunnel Series misalnya. Atau Hunger Games 3-Mockingjay yang juga memakai bawah tanah sebagai sebuah dunia dalam ceritanya. Makanya aku ngga heran kalau memang cerita Incarceron kali ini juga mengangkat sebuah dunia bawah tanah. Tapi ternyata eh ternyataaaaaa.. Hmm. Disinilah campuran antara Teknologi dan Magic, yang sejujurnya, aku kurang suka.

Tapi eh, itu nanti dulu ah. Pokoknya yang jelas nii, Finn dan kawan-kawan terus melakukan perjalanan yang penuh tantangan. Bahkan Finn dan Gildas sampai tertangkap oleh sebuah komunitas untuk kemudian dijadikan persembahan bagi sang Buas, yang ternyata adalah Incarceron, makhluk yang sangat pintar dan tercipta dari teknologi dan tinggal di dalam Gua tersembunyi. Aduh. Imajinasinya, campur aduk lah. Hhaha.. Tapi untung disini Keiro dan Attia berhasil menyelamatkan Finn dan Gildas lagi.

Sementara itu, Claudia harus menghadapi kemelut politik yang membuatnya muak. Ia harus menikah dengan Caspar, Pangeran yang tingkahnya sangat menyebalkan dan tidak berwibawa. Dan sayangnya, pernikahan itu jelas jauh lebih cepat datangnya karena sang ayah dan sang Ratu memajukan tanggal pernikahan mereka. Hmm.. Itulah kenapa ia sangat bersemangat untuk membantu Finn keluar dengan mencari pintu menuju penjara. Ia ingin menghindari pernikahan ini.

Saat hari keberangkatannya menuju Istana tiba. Ia sangat kesal. Ia dan Jared harus pintar-pintar menyembunyikan aktifitas mereka. Tapi ternyata, di Istana, terjadi hal yang mengejutkan. Claudia mengikuti ayahnya diam-diam, dan menemukan ayahnya memasuki sebuah pintu yang mencurigakan. Pintu menuju Incarceron. Claudia makin bersemangat. Apalagi setelah menyadari dan menduga bahwa Finn adalah sosok yang selama ini dikenalnya, seorang Pangeran yang hilang. Hmm..

Sayang, saat ia dan Jared berhasil masuk ke dalam ruang itu diam-diam, mereka harus kecewa. Karena bukannya menemukan sebuah dunia penjara di baliknya, mereka malah hanya menemukan ruang kerja yang sama persis dengan ruang kerja ayahnya di rumahnya dulu. Aneh. Tapi mengecewakan. Tapi dari sini Jared malah menemukan satu fakta yang mengejutkan, dan sangat tidak diduga. Mengenai keberadaan Incarceron, yang menurut logikaku sendiri, wew, ngga sampai. Hhaha.. ajaib. Belum lagi dengan keberadaan portal yang menghubungkan dengan Incarceron dan bagaimana caranya orang-orang dari Incarceron keluar ke dunia. Ya ampun. Terlalu mudah kurasa. Ngga asik -.-a

Sampai akhir cerita, sesungguhnya aku masih ngawang lhoo tentang kehidupan di dalam Incarceron. Di dalam penjara maksudku. Setiap plot yang mendeskripsikan suatu tempat, aku agak kesulitan ngebayanginnya. Hmm, kurasa karena imajinasinya ngga bisa aku capai kali yaa. Kalau dari kabar sejauh ini sih besok bakal di bikin versi filmnya. Nah, kalau memang bakal ada filmnya, smoga keberadaannya bisa memberi gambaran yang lebih jelas, dunia gimana sih yang dimaksud Catherine Fisher, karena sumpa, aku penasaran kali, dunia macam apa Incarceron itu. Belum lagi dengan fakta bahwa ternyata keberadaan dunia itu diluar imajinasi, banget 😉 Semoga Incarceron 2-Sapphique bisa lebih mudah dimengerti.

Ratingku buat novel ini : 7

 
Leave a comment

Posted by on October 30, 2012 in Science Fiction

 

Lorien Legacies 2 – The Power of Six


  • Pengarang               :    Pittacus Lore
  • Genre                      :    Action
  • Tebal                       :    428+102 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Mizan Fantasi
  • Harga                      :    65.000 IDR
  • Pertama terbit          :    1 Januari 2011
  • Cetakan                   :    November 2011
  • Tanggal Beli             :    30 Desember 2011

Aku melihatnya di berita. Mengikuti kisahnya sejak apa yang terjadi di Ohio. John Smith ada di luar sana, dalam pelarian …. Bagi dunia dia adalah misteri; teroris internasional yang berbahaya.  Tapi bagiku, dia salah satu dari kami.

Sembilan orang yang datang, tapi kadang aku berpikir apakah waktu sudah mengubah kami? Masihkah kami percaya pada misi yang dipercayakan kepada kami? Bagaimana aku bisa yakin? Kini, kami tinggal berenam. Sembunyi, tidak saling kontak .…

Namun, Pusaka kami bermunculan, dan tak lama lagi kami siap untuk bertempur. Apakah John Smith, si  Nomor Empat dan kemunculannya adalah pertanda yang kutunggu selama ini? Bagaimana dengan Nomor Lima dan Enam? Mungkinkah salah satu diantaranya adalah gadis berambut hitam dengan mata berbadai yang muncul dalam mimpiku? Gadis dengan kekuatan yang tak terbayangkan? Gadis yang mungkin cukup kuat untuk menyatukan kami berenam?

Mereka menangkap Nomor Satu di Malaysia.

Nomor Dua di Inggris.

Dan Nomor Tiga di Kenya.

Mereka mencoba menangkap Nomor Empat di Ohio—dan gagal.

Aku Nomor Tujuh. Satu dari enam yang masih bertahan.

Dan aku siap bertempur.

Review :

Novel yang terdiri dari 33 bab ini dimulai dengan 2 bab cerita mengenai perjalanan hidup Marina ─si Nomor Tujuh dari sembilan Garde Planet Lorien yang selamat─ bersama Cêpan-nya, Adelina, sejak mereka tiba di bumi, sebelas tahun yang lalu. Kini mereka berdua tinggal di Santa Teresa, sebuah biara sekaligus panti asuhan bagi anak perempuan di Spanyol. Bagi Marina, tempat ini memang serasa ‘penjara’. karenanya ia ingin segera pergi dari sini dan mencari saudara-saudara Loriennya yang lain. Terutama sejak tanda ketiga terbakar di kakinya. Ia harus benar-benar bersabar menunggu dirinya berusia 18 tahun untuk dapat keluar dari biara dengan bebas, entah itu bersama Adelina atau tidak, karena tampaknya hati Adelina benar-benar tertanam di biara. Selama ini ia selalu mengikuti perkembangan berita John Smith dan Henry, buronan karena dugaan teroris. Marina sangat yakin bahwa John adalah salah satu Garde dan Henry adalah Cêpan-nya.

Kemudian, cerita berpindah pada John, Sam, dan Nomor Enam yang sedang dalam pelarian. Sudah satu setengah minggu ini mereka lari dari kejaran polisi serta para Mogadorian dan bersembunyi di sebuah motel kecil. Pada dasarnya mereka berempat, di tambah Bernie Kosar, seekor anjing yang sebenarnya adalah Chimæra dari Planet Lorien. Namun diantara mereka berempat, hanya Sam yang manusia.

Selama bersembunyi ini mereka juga menyembuhkan diri akibat luka-luka pertempuran melawan Mogadorian di sekolah John di Paradise, Ohio, yang sayangnya ikut hancur luluh lantah. Itulah kenapa sekarang mereka adalah buronan dan terutama John serta Henry diumumnya secara nasional sebagai teroris. Yang menyedihkan bagi John, Henry menjadi salah satu korban saat pertempuran. Ia tewas 😦 Well,  setelah sekian waktu tinggal di dalam kamar motel yang tertutup, malam itu akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan entah kemana. Dengan menggunakan truk ayah Sam, mereka pun kembali melancong.

Oia, untuk informasi kalian, disini John memiliki kekuatan kinetis dan tahan terhadap api sedangkan Nomor Enam memiliki kemampuan menghilangkan diri beserta benda yang ia pegang dan menciptakan badai. Untuk Nomor Tujuh, sejauh ini ia memiliki kekuatan kinetis, melihat dalam gelap, bernafas dalam air dan yang paling keren, ia bisa menyembuhkan makhluk hidup yang sekarat.

Kemudian, cerita kembali ke Marina. Minggu itu merupakan minggu yang membosankan baginya. Ia sangat menantikan sore hari saat ia bisa terbebas dari tanggung jawab dan bisa pergi ke tempat persembunyiannya, sebuah goa tersembunyi dimana ia bisa meluapkan bakat menggambarnya. Ya, ia melukis di dinding goa. 😀 Namun, ada sesuatu yang salah. Saat perjalanan ke goa, entah kenapa ia merasa diikuti, dan saat sudah tiba kembali di Biara, ia melihat sosok lelaki berambut panjang di luar jendela. Yang membuat ia terkesiap, lelaki itu mengerikan dan terus memperhatikannya. Saat Marina menceritakan hal ini pada Adelina, ia tidak percaya. Haiss, kayaknya petualangan action Marina bakal sendiri nii, ngga akan disertai sang Cêpan 😦

Sementara itu, saat John dan kawan-kawan sedang melintasi Tennessee mereka diberhentikan oleh polisi patroli. Awalnya polisi tidak sadar kalau anak-anak ini adalah buronan. Baru setelah patroli bantuan datang, mereka sadar dan terpaksa John, Sam dan Nomor Enam kabur. Mereka berlari dengan membawa barang-barang mereka, termasuk Peti Loric. Kini patroli udara pun ikut memburu mereka. Dan hampiiiiiiiir saja tertangkap, kalo John dan Nomor Enam nggak segera bertindak. Kali ini, berkat Bernie Kosar lah ketiganya berhasil lolos.

Setelah berhasil kabur, mereka menumpang kereta barang di Tennessee. Selama perjalanan inilah Nomor Enam bercerita mengenai bagaimana ia mendapatkan pusaka pertamanya dan bagaimana ia kehilangan Cêpan-nya, Katarina. Sejak itulah Nomor Enam berkelana seorang diri padahal usianya masih cukup belia.

Lalu cerita kembali pada Marina. Setelah kedatangan anak baru bernama Ella di panti asuhan itu, kini ia semakin dekat dengannya. Ella masih berusia tujuh tahun, namun Marina nyaman berada dekat dengannya. Di bab ini kalian juga akan tahu bagaimana Marina mendapat kemampuan bernafas dalam airnya 🙂 Oia, saat kalian membaca bab mengenai Marina, kalian akan bertemu dengan karakter Héctor Ricardo, seorang yang suka minum alkohol namun sosoknya sangat manis dan baik hati. Sejauh ini, aku masih menduga kalau sosok Héctor ini kelak akan menjadi tokoh penting, entah bagaimana.

John mengalami mimpi buruk. Dan makin sering. Namun ia tidak yakin ia benar-benar bermimpi karena menurut teman-temannya bisa jadi ia mendapat penglihatan. Kali ini ia melihat sosok raksasa yang ia percaya sebagai pimpinan Mogadorian dan di dalam mimpinya, si pimpinan menyadari keberadaan John yang hanya mengamati dari jauh. Bahkan ia menunjukkan benda yang ia pegang, memastikan John bisa melihat. Ya, pimpinan itu memegang tiga kalung liontin seperti yang John dan Nomor Enam kenakan. John sangat yakin kalau pimpinan itu naik ke sebuah pesawat dan dari hasil analisa Nomor Enam, kalau memang ia melakukan perjalanan ke bumi, maka mereka dalam masalah besar untuk beberapa waktu kedepan. Itulah kenapa pelarian mereka sebenarnya tidak sekedar hanya pelarian karena mereka juga melakukan latihan rutin untuk mengasah kemampuan bertarung mereka, termasuk Sam.

Saat Marina ingin melarikan diri karena ia mendapat masalah di biara, ia mendatangi goa rahasianya. Namun sayang, ia malah menemukan jejak sepatu bot berukuran besar di sekitar pintu masuk goa dan jejak itu menghilang kedalam. Tentu saja Marina langsung berpikir Mogadorian telah menemukannya dan ia pun segera berlari pulang. Ia langsung mengadu pada Adelina. Namun ia malah merasa konyol dan tolol karena sia-sia saja ia menghadapnya. Adelina tidak menanggapinya dengan serius. Bahkan saat Marina meminta Peti Loric miliknya, Adelina tidak mau memberikan informasi dimana ia menyembunyikannya. Lagi, Marina kabur. Kali ini ia pergi ke kafe dan menemukan Héctor. Ia duduk dengan lelaki itu. Namun perasaan aneh tidak bisa menghilang dari benaknya. Untuk beberapa saat ia memang mengobrol dengan Héctor. Namun ternyata lelaki berkumis aneh yang duduk di dekat Marina terang-terangan mengamatinya dan membaca buku dengan judul Pittacus dari Mytilene dan Perang Athena. Nah lhoo.. Spontan Marina beranjak dan segera keluar dari kafe, berlari pulang. Mogadorian benar-benar telah menemukannya!

Akhirnya, setelah sekian lama membawa-bawa Peti Loric, kini John memutuskan membukanya. Dengan dikelilingi Sam dan Nomor Enam, mereka membongkar isinya dan berusaha mengetahui fungsi dari masing-masing pusaka itu. Namun nihil. Mereka tidak tahu fungsi dari sebagian besar barang-barang tersebut. Namun sayang, malam harinya, saat John dan Nomor Enam sedang jalan-jalan, Sam yang tinggal dirumah kosong tersebut sedang kewalahan. Rupanya Mogadorian berhasil menemukan mereka. Untung John dan Nomor Enam kembali tepat waktu untuk membunuh beberapa Mogadorian dan menyelamatkan Sam. Lagi-lagi mereka harus kabur.

Walaupun berhari-hari telah berlalu, Marina tidak bertemu dengan mata-mata Mogadorian lagi. Kini dugaan sementara mungkin Mogadorian hanya mengamatinya dulu karena ini bukan giliran Marina mati. Taulah kalian dengan aturan bagaimana para Garde bisa dibunuh, yaitu secara berurutan. Itulah kenapa sekarang John yang mati-matian dikejar, karena ia adalah Si Nomor Empat.

Suatu malam, Ella mendatangi Marina dan memberitahu bahwa ia telah menemukan Peti yang Marina minta Ella cari. Well, disini Ella diceritakan sangat gesit dan suka menjelajah biara secara diam-diam. Alhasil sekarang ia menemukan Peti Loric yang disembunyikan Adelina. Dengan semangat Marina segera mengikuti kemana Ella membawanya. Sayang, saat mereka sedang berusaha mengeluarkan Peti itu, kelompok anak-anak yang suka menganggu Marina ternyata muncul dan bersikap menyebalkan, membuat Marina terpaksa memakai pusaka nya. Saat Ella berusaha membantu, bocah itu malah mendapat luka yang cukup parah. Kakinya patah dan tangannya remuk. Marina pun mengerahkan kemampuan penyembuhnya. Beruntung Ella dapat diselamatkan. Peti pun disimpan Marina ditempat lain.

Setelah melakukan perjalanan ke Utara, tiba di Alabama, dua hari singgah, lanjut ke Barat, tinggal di Oklahoma. Kemudian dua malam lagi di Nebraska, sebelum akhirnya mereka tiba di Pegunungan Maryland, lima menit dari perbatasan West Virginia, tiga jam dari goa Mogadorian dimana Nomor Enam dulu pernah ditawan, dan 317 Km dari Paradise, Ohio, dimana semua ini berawal. Di Maryland inilah akhirnya John membuka surat yang ditinggalkan Henry dan menemukan beberapa informasi penting, terutama seputar ayah Sam yang menghilang bertahun-tahun yang lalu. Namun berkat surat itu pula akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Paradise karena Sam mengingat sesuatu yang bisa jadi itu adalah sebuah petunjuk yang dahulu ayahnya tinggalkan untuknya. Dengan memegang harapan akan menemukan benda yang dapat digunakan untuk mencari Loric yang lain ini, maka mereka pun kembali ke Paradise. Well, well, well.. Perjalanan jauh hingga akhirnya membawa mereka kembali ke titik nol lagi. Hhihi..

Dalam perjalanan kembali ke Paradise, ketiganya mendapat gambaran telah terjadi sesuatu di Spanyol melalui sebuah bola dunia yang memancarkan cahaya tepat di negara tersebut. Disaat yang sama akhirnya Marina berhasil membuka Peti Loric-nya dengan sebuah siasat. Kemudian saat tiba di rumah Sam dimana Nomor Enam serta John berhasil membuka pintu rahasia yang ditinggalkan ayah Sam, mereka menemukan benda yang mereka kira pemancar dan sayangnya, tiba-tiba ketegangan muncul. Sepasukan Mogadorian menyerang mereka, bahkan berhasil mendapatkan Peti Loric John. Mereka pun berpisah untuk mendapatkan peti itu lagi, John bersama Sam, sementara Nomor Enam bersama Bernie Kosar. Sayangnya John dan Sam tidak berhasil mendapatkan peti itu. Yang ada mereka malah tiba di dekat rumah Sarah, dan John mamaksa menemui Sarah padahal Sam sudah mengingatkan bahwa mereka tidak boleh menemui siapa pun dan harus bergegas pergi. Disinilah aku jadi sebel kali sama John karena ia begitu egois dan membuat mereka terkepung oleh FBI dan pasukan polisi! Rupanya Sarah semacam umpan. Ckck.. Kedua anak ini pun dibawa ke tahanan dengan borgol dan rantai serta kepala ditutup. Capedee -.-a

Tapi, kalau kita kembali ke Marina, kini ia akhirnya ‘mendapatkan’ Adelina kembali. Hhe.. Setelah menyadari bahwa situasi yang dialami Marina mulai berbahaya, bahwa ia terus dikuntit, dan Mogadorian mulai memasuki biara, Adelina pun kembali menjadi pelindung Marina. Mereka bahkan sudah bersiap meninggalkan biara saat serangan Mogadorian terjadi.

Yang terjadi kemudian sangatlah cepat. Segala ketegangannya muncul hampir bersamaan dan beberapa  rahasia pun terungkap. Bagaimana Marina bertemu dengan dua Loric lain. Bagaimana ia kehilangan orang-orang terkasihnya. Bagaimana Nomor Enam terpaksa berpisah dengan John. Bagaimana John merasa bersalah karena telah mengkhianati Sam. Dan bagaimana dirinya bertemu dengan seorang Loric yang di dalam imajinasiku sangatlah tampan 😛 Dan ternyata pesawat kedua memang ada. Mereka bukan sembilan, tapi bersepuluh.  Tiga mati, sisa tujuh. Dan sial, sekarang aku penasaran dengan kelanjutannya, The Rise of Nine.

Aku suka akhir-akhir cerita. Dan aku suka bagaimana nama Pittacus yang notabene adalah nama yang digunakan oleh para pengarang buku ini digunakan dan disebutkan beberapa kali dalam cerita karena nama Pittacus dalam cerita ini merupakan sebuah karakter yang bisa jadi cukup penting karena ia adalah Tetua dari Bangsa Lorien 😀 Oia, kalau kalian baca buku ini, dibagian belakang buku disertakan pula bonus buku tipis dengan judul The Lost File: Six’s Legacy yang berisi cerita perjalanan singkat si Nomor Enam dari awal ia tiba di bumi hingga bagaimana seorang diri ia menemukan John Smith, Si Nomor Empat.

Hanya satu yang menurutku kurang menarik dari novel ini, cover-nya. Hmm, kalo aku pribadi kurang suka dengan cover yang menurutku ngga eye catching banget. Bagi mereka yang ngga ngikutin buku pertamanya, kurasa buku ini bisa dengan mudah mereka lewatkan karena taulah, cover merupakan salah satu daya tarik sebuah novel, selain sinopsis di bagian belakang buku tentu saja. Umumnya, orang akan tertarik saat melihat cover sebuah buku, memegangnya, baru kemudian orang tersebut akan membaca sinopsisnya. Nah, kalo covernya kurang menarik, sayang kan 😉 Tapi overall, dari segi cerita novel ini bagus kok. Enjoy! 😀

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
17 Comments

Posted by on June 14, 2012 in Science Fiction

 

Lorien Legacies 1 – I Am Number Four


  • Pengarang               :    Pittacus Lore
  • Genre                      :    Fantasy, Action
  • Tebal                       :    496 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Mizan
  • Harga                      :    59.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2010
  • Cetakan                   :    Januari 2011
  • Tanggal Beli             :    1 Juni 2011

 Kami hidup tersamar di tengah-tengah kalian,

di kota kalian, menjadi tetangga kalian.

Menunggu hari saat kami saling bertemu untuk bertempur terakhir kalinya.

Bila kami menang, kalian akan terselamatkan. Bila kami kalah, semua akan musnah.

Sepuluh tahun lalu, sembilan anak dilarikan ke Bumi dari Planet Lorien yang hancur karena perang. Anak-anak tersebut disembunyikan di berbagai tempat di Bumi dan dimantrai sehingga kaum Mogadorian yang kejam tak bisa membunuh mereka kecuali secara berurutan. Kini, satu per satu anak terbunuh, sesuai urutan nomornya: Satu, Dua, Tiga. Dan, John Smith adalah Nomor Empat.

Itu sebabnya John selalu dalam pelarian. Berpindah-pindah, memakai nama dan identitas baru setiap enam bulan. Hingga pelariannya itu membawanya ke Paradise, Ohio, tempat dia menemukan Sarah ―menemukan cintanya. Dan John tak ingin lari lagi. Dia bertekad untuk melawan. Dia pun berjuang mengembangkan kekuatannya, Pusaka Lorien, untuk melawan kaum Mogadorian yang terus memburu.

Berhasilkah John mengalahkan kaum Mogadorian? Ataukah John harus meninggalkan Sarah dan hidup diburu selamanya? Ikuti kisah heroik pelarian Planet Lorien yang diklaim sebagai The Next Twilight Saga ini!

Review  :

Aku penasaran sama bukunya karena aku sudah nonton filmnya. Saat aku mulai baca bukunya, aku semakin semangat karena buku ini ditulis dengan apik dan lugas dan diambil dari sudut pandang si tokoh utama, John. Pada pembukaannya juga cerita ini sama dengan di filmnya, jadi aku menyimpulkan bahwa film I Am Number Four ini dibuat semirip mungkin dengan bukunya. Mengenai penulis novel ini sebenarnya bukanlah Pittacus Lore beneran. Pittacus Lore hanyalah panggilan yang digunakan oleh Jobie Hughes dan James Frey. Jadi intinya, buku ini ditulis oleh dua orang pengarang, yaitu Hughes dan Frey.

Awal cerita diceritakan tentang kaum Mogadorian yang berhasil menemukan Nomor Tiga di Kongo dan membunuhnya. Nomor Empat yang saat itu tinggal di Florida dan bernama Daniel Jones dapat merasakan kematian Nomor Tiga. Mereka memiliki sebuah sistem yang dapat memberitahukan keadaan masing-masing. Jika salah satu dari mereka ditemukan dan dibunuh oleh Mogadorian, akan muncul bekas luka berbentuk goresan di sekeliling pergelangan kaki kanan mereka yang masih hidup. Dan dipergelangan kaki kiri mereka terdapat tanda melingkar kecil yang serupa dengan jimat yang mereka kenakan.

Diceritakan sembilan anak kecil dilarikan dari Planet Lorien untuk melindungi mereka. Setiap anak didampingi oleh satu pelindung. Anak-anak itu di sebut Garde, warga yang memiliki Pusaka atau kekuatan, sedangkan pelindung mereka di sebut Cȇpan, warga yang tidak memiliki kekuatan. Dalam hal ini John adalah Garde sedangkan Henri adalah Cȇpan nya. Setelah sampai di Bumi, mereka berpencar dan menjalani hidup masing-masing. Mereka diberi mantra pelindung. Mantra pelindung itu menjamin bahwa mereka hanya bisa dibunuh sesuai dengan nomor urut mereka, asalkan mereka tetap terpisah. Jika mereka bertemu, mantra pelindung itu terpatahkan.

Setelah tanda Nomor Tiga muncul, Henri langsung membawa Daniel pergi dari kota itu dan berganti identitas menjadi John Smith sedangkan Henri tetap memakai namanya, hanya berganti nama belakang untuk disesuaikan dengan nama baru si Nomor Empat. Mereka memutuskan kali ini mereka akan menetap di Paradise Ohio. Henri adalah pelindungnya. Dan dalam peran kehidupan mereka, Henri adalah ayah John.

Lagi, dan lagi. Nama baru dan sekolah baru. John berusaha untuk tidak tampil mencolok. Aku suka perbincangan John dan Henri saat mobil berhenti di depan sekolah baru John. Karakter Henri sangat manis. Ia digambarkan dengan ayah yang baik, penyayang dan sedikit protektif terhadap anak lelakinya. Menurutku itu manis banget 🙂

Di hari pertama dan baru mau masuk gedung, John berkenalan dengan Sarah Hart, anak dari agen properti yang membantu Henri mencari rumah. John menyukai Sarah seketika itu juga. Sayangnya ia juga segera mendapat peringatan dari Mark James, bintang tim football di sekolah ini. Mark ternyata pernah berkencan dengan Sarah saat gadis itu bergabung di tim cheerleaders. Tapi tiba-tiba ia berhenti dari tim dan mencampakan Mark. Namun Mark tetap saja masih ngejar Sarah. Setelah keluar dari tim, Sarah menekuni hobi fotografi nya sehingga kemanapun ia pergi selalu saja membawa kamera. Disekolah baru ini setidaknya John punya teman baru bernama Sam Goode yang sangat tertarik dengan alien dan tetekbengeknya.

Di festival halloween kota Paradise, John pergi dengan Henri dan bertemu Sarah serta Sam disana. Sarah kemudian mengajak John untuk naik wahana gerobak dorong yang membawa mereka memasuki sebuah rumah hantu. Sayangnya John malah di keroyok Mark dan gengnya. Karena emosi saat mendengar teriakan Sarah, John menggunakan kekuatannya untuk melawan mereka. Ia tidak peduli kalau harus meninggalkan Ohio malam itu juga asalkan orang-orang ini berhenti menganggu Sarah. Ia sungguh jatuh cinta pada Sarah.

Sarah mengundang John dan Henri untuk merayakan Thanksgiving bersama keluarganya. Sayangnya, hari itu Henri harus ke Athens untuk mencari tahu kebenaran sebuah artikel majalah yang menyebutkan tentang keberadaan kaum Mogadorian. Henri berjanji pada John maksimal jam satu siang ia sudah dirumah untuk kemudian memenuhi undangan makan malam. Sayangnya, sampai jam lima lewat John tidak mendapatkan kepastian keberadaan Henri. Ia sangat cemas dan kalut kalau-kalau Henri meninggal. Saat makan malam itulah John mendapatkan kemampuan telekinetisnya, padahal selama ini ia dan Henri hampir yakin dan putus asa bahwa John tidak akan mendapatkannya. Saat itu juga ia pamit pada Sarah sekeluarga dan meminta bantuan Sam untuk mencari Henri.

Benar saja, ternyata John menemukan Henri disekap di kantor majalah itu. Dan saat mereka akan pergi, muncullah kaum Mogadorian. Beruntung mereka dapat pergi dengan segera. Sejak saat itu Sam tahu mengenai siapa John sebenarnya. Sering kali ia juga ikut menyaksikan sesi latihan John bersama Henri. Suatu hari John, Sam dan Sarah mendapat undangan pesta di rumah Mark. Awalnya pesta berjalan lancar, dengan para pemain football yang mabuk disana-sini. Tapi ternyata menjelang tengah malam timbul kegemparan. Rumah Mark dilahap api dan Sarah terjebak di dalamnya bersama dua anjing Mark. John yang memiliki kemampuan tahan api segera menerobos ke dalam untuk menyelamatkan mereka. Sayangnya, walaupun John sudah berhati-hati agar tidak ada yang melihatnya masuk dan keluar dari rumah, tetap saja ada dua orang yang melihat dan mereka mengungkapkannya kepada polisi dan seorang wartawan bernama Baines. Walaupun John dengan lihainya berdalih dan menghapus kecurigaan polisi, wartawan itu tetap bersikukuh untuk mendapatkan kebenarannya karena ia tidak mempercayai cerita John.

Setelah penyelamatan itu, Sarah menjadi tahu bahwa John adalah alien dari planet Lorien. Tidak seperti yang John takutkan, ternyata Sarah menanggapinya dengan biasa. “…. Aku tak peduli apa kau ini atau dari mana kau berasal. Bagiku kau adalah John, laki-laki yang kucintai.”  Wew.. Dasar cinta 🙂

Oia, tar di hari senin pasca kejadian kebakaran, mulailah terjadi kekacauan. Berita mengenai John muncul di media online, bahkan ada video saat ia masuk dan keluar dari rumah Mark. Pokoknya kacau. Henri aja sampe marah besar. Tapi aku iba sama dia. Hhu.. Kasihan Henri. Terlihat banget kalau dia sangat menyayangi John dan sangat ingin melindunginya. Tapi kan sekarang prioritas John lebih ke Sarah, jadi dia tidak memperdulikan keselamatannya sendiri. John meninggalkan Henri untuk kembali ke sekolah dan menemui Sarah. Saat itu jam usai sekolah, dan situasi di sana terasa mencekam dan tidak wajar. John menemukan Sarah di ruang fotografi dan saat mereka akan pergi, mereka di hadang oleh para Mogadorian. Mereka terus berlari dan bersembunyi. Saat inilah muncul si Nomor Enam. Nomor Enam memiliki kemampuan menghilang. Dia bisa menghilangkan diri dan benda apapun yang dipegangnya, seperti kemampuan kakek John. Saat situasi menggenting, muncul Henri dan Mark. Jadi sekarang mereka berlima harus melarikan diri secara diam-diam karena Mogadorian sudah mengepung mereka. Peperangan pun tak terelakkan lagi. Keadaan sangat kacau hingga mereka lupa pada kenyataan bahwa mantra pelindung mereka sudah terpatahkan karena John dan Nomor Enam ada di satu lokasi yang sama. Mereka harus lebih berhati-hati lagi. Sayang berhati-hati saja pun tidak cukup. Mereka jelas-jelas kalah jumlah. Yang jelas, waktu aku baca bagian ini, heu, aku nggak bisa berhenti membalik halaman. Aku benar-benar terhanyut dalam cerita dan terhipnotis dari adegan ke adegan. Huaa.. Kasihan Henri, aku cinta karakter Henri!! Aku nggak rela dia mati 😥

 

Hah, sudahlah. Daripada terlarut dalam kesedihan terus, lebi baik sekarang kita bahas filmnya aja. Film dengan judul I Am Number Four yang diproduseri oleh Michael Bay ―produser dari seri Transformer― ini dibawah naungan DreamWorks SKG, Reliance Big Entertainment dan Bay Films. Film ini berdurasi 109 menit dan direlease tanggal 18 Februari 2011 di USA.

Para aktor dan aktris yang terlibat dalam proyek film ini adalah Alex Pettyfer sebagai John Smith, Timothy Olyphant  sebagai Henri Smith, Teresa Palmer sebagai Number Six, Dianna Agron sebagai Sarah Hart,  Callan McAuliffe sebagai Sam Goode, dan Jake Abel sebagai Mark James.  

Secara keseluruhan aku memang lebih suka versi bukunya. Tapi menurutku versi filmnya juga nggak kalah seru, walaupun ternyata versi filmnya merubah beberapa detail yang menurutku kebanyakan tidak terlalu penting. Tapi ada satu detail paling penting yang berubah, yaitu mengenai kemampuan John. Di buku, John diceritakan memiliki kemampuan tahan api. Tapi kalau di film, kemampuan tahan api Ini dimiliki bukan oleh John, tapi Nomor Enam. Wew.. Jadi kebayang kan nanti bagaimana bedanya situasi perang di buku dan film. Hhe.. Nah, alasan lain ku suka versi buku karena kalau di versi buku, aku bisa mendapatkan feel nya.. Terutama bagaimana perasaan John dan Henri selama perjalanan hidupnya ini. Perasaan mereka lebih tergambarkan melalui kata-kata daripada gambar di film.

Perbedaan lain antara buku dan film yaitu kalau di filmnya, di akhir-akhir cerita waktu perang Mark sama sekali tidak ada alias tidak terlibat padahal kalau di buku Mark cukup memegang peran. Selain itu kalau di film, Henri tidak ada dalam peperangan karena Henri diceritakan mati di penggerebekan oleh para Mogadorian saat di kantor majalah, tapi kalau dibukunya Henri baru mati saat perang ini. Huh, menyedihkan waktu lihat Henri mati di versi filmnya, tapi lebih menyedihkan waktu baca di bukunya 😦

Ada satu hal yang menarik dari buku ini, nama yang digunakan kedua penulis, Pittacus Lore, sebenarnya juga dicantumkan atau disebutkan satu kali dalam cerita, di halaman 99, yaitu sebagai nama Tetua terkuat, pemimpin para Tetua planet, dan dengan kata lain penguasa Planet Lorien. Hhihi..

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
Leave a comment

Posted by on June 9, 2011 in Science Fiction

 

The Host


    • Pengarang               :    Stephenie Meyer
    • Genre                      :    Fantasy Adventure
    • Tebal                       :    776 hlm
    • Penerbit                   :    Gramedia
    • Harga                      :    99.900 IDR
    • Pertama terbit          :    2008
    • Cetakan                   :    Juli 2009
    • Tanggal Beli             :    9 Agustus 2009

Melanie Stryder menolak dilenyapkan.

Bumi dikuasai musuh tak kasatmata dan manusia dijadikan inang oleh para penguasa ini. Otak mereka diambil alih sementara tubuh mereka meneruskan kehidupannya yang lama, seolah-olah tak ada yang berubah. 

Ketika Melanie tertangkap, tubuhnya diberikan kepada Wanderer, sang “jiwa” pengelana yang menjadi penguasa barunya. Wanderer telah diperingatkan mengenai berbagai tantangan yang akan dihadapinya dengan hidup dalam inang manusia: luapan emosi, perasaan yang melimpah, dan ingatan yang teramat kental. Namun ada satu yang 

tak pernah dibayangkan Wanderer: penguasa lama tubuh ini—Melanie Stryder—menolak menyerahkan benaknya sepenuhnya.

Wanderer menyelidiki pikiran-pikiran Melanie, berharap mengetahui di mana keberadaan segelintir manusia yang masih bersembunyi. Namun tanpa disadarinya, Melanie malah memenuhi pikiran Wanderer dengan sosok Jared, laki-laki yang dicintainya dan masih hidup dalam persembunyian. Perlahan namun pasti, Wanderer mulai mendambakan dan menginginkan Jared, dan bersama Melanie ia memutuskan untuk memulai perjalanan panjang mencari laki-laki yang sama-sama mereka cintai itu.

Pendapatku :

First of all, aku suka cover bukunyaaa… keren!

And the second, aku mau memuji Stephenie Meyer. Wow. Dia penulis yang bener-bener berbakat. Meyer ini paling pintar dalam menciptakan tokoh dengan karakter yang kuat. Aku aja sampe kagum. Belum lagi dengan kemampuannya menciptakan sebuah cerita yang imajinatif dan kreatif. Tema cerita yang diambilnya sangat umum, yaitu invasi alien. Hanya saja pengembangan cerita alien ini lah yang bagus. Dalam dunia Meyer, alien yang menginvasi umat manusia di bumi ini disebut ‘jiwa’ yang mana sangat mencintai kedamaian dan tidak mengenal kekerasan. Itulah kenapa muncul kelompok pemberontak yang anggotanya adalah mereka manusia-manusia yang belum ‘berubah’ dan keberadaan manusia ini mulai langka.

Satu hal yang membedakan manusia dengan mereka yang telah di invasi ‘jiwa’ adalah terdapat sebuah gambaran cincin yang melingkari pupil mata mereka.

Konflik yang disajikan dalam novel ini beragam, belum lagi dengan konflik batin antara Wanderer ―si ‘jiwa’― dan Melanie ―inang Wanderer yang tidak mau menyerahkan tubuhnya pada Wanderer. Mereka berdua berbagi tubuh dan benak namun memiliki pikiran masing-masing. Nanti mereka memasuki sebuah komunitas pemberontak dimana Jared dan Jamie berada, yang tempat tinggalnya tersembunyi hingga para Pencari pun tidak dapat menemukan mereka. Di komunitas ini, Wanderer ―dan Melanie― awalnya diasingkan dan disiksa untuk waktu yang cukup lama hingga akhirnya ia diterima dengan baik walaupun terdapat segelintir orang yang tetap tidak menyukai keberadaan Wanderer karena merasa terancam. Seiring berjalannya waktu Wanderer mulai membuktikan etiket baiknya dan berusaha membantu kelompok itu dalam hal persediaan makanan dan obat-obatan dengan ikut dalam penjarahan mereka.

Satu hal yang mulai rumit, saat dimana Melanie semakin mencintai Jared, Wanderer mulai memiliki perasaan khusus terhadap Ian. Tentu saja semuanya dapat berjalan dengan normal seandainya saja Melanie dan Wanderer tidak terjebak di dalam satu tubuh.

Wew.. waktu aku baca novel ini berat rasanya mau nutup buku, habisnya yang ada rasa penasaran dan terlanjur asyik karena tenggelam dalam ceritanya. Belum lagi kemampuan Meyer mengendalikan perasaan kita melalui si tokoh utama sangat patut diacungi jempol. Saat suasana mencekam pun kita bisa ikut takut. Hha..

Yang jelas aku nggak nyesel baca novel ini. Sebenarnya aku sangat mau buat membaca ulang, tapi sayangnya masih banyak novel lain yang harus kubaca. Tapi yah, seperti yang kubilang, novel ini memang menimbulkan perasaan ingin membaca ulang suatu saat nanti..

Ratingku buat novel ini : 8,8

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2011 in Science Fiction