RSS

Category Archives: Horror/Mystery

The Darkest Powers 2 – The Awakening


  • Pengarang               :    Kelley Armstrong
  • Genre                      :    Mystery
  • Tebal                       :    424 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Ufuk Fiction
  • Harga                      :    59.900 IDR
  • Pertama terbit          :    28 April 2009
  • Cetakan                   :    Oktober 2011
  • Tanggal Beli             :    30 Desember 2011

Chloe Saunders terkejut. Rupanya dirinya adalah kelinci percobaan bagi suatu eksperimen ilmiah. Tubuh Chloe secara genetis diubah saat lahir oleh Grup Edison yang menyeramkan. Sering kali kekuatan Chloe mengundang kejadian-kejadian mengerikan. Kekuatannya yang semakin besar membuat Grup Edison merasa terancam. Mereka pun memutuskan kalau kini sudah waktunya untuk mengakhiri eksperimen mereka secara permanen.

Chloe berusaha menyelamatkan diri bersama tiga remaja supernatural lainnya: cowok penyihir yang memesona, cowok manusia serigala yang bermasalah, dan cewek penyihir yang pemarah. Kalau tetap bersama, mereka punya kesempatan untuk bebas. Tapi, dapatkah Chloe memercayai teman-teman barunya?

The Awakening, seri kedua trilogi Darkest Powers yang memukau ini sangat kuat dan mencekam dari penulis terlaris Kelley Armstrong.

Review :

Hai, jumpa lagi di The Darkest Powers Series 😀

Kali ini kita ulas mengenai petualangan Chloe Saunders yang sebelumnya telah kita jumpai di The Darkest Powers 1 – The Summoning.  Kalau sebelumnya aku kurang tertarik dengan novel ini, semoga kali ini cerita Chloe bakal lebih asik dan seru yaa.. Hmm, enjoy guys ^.^v

Chloe Saunders berada di sebuah ruangan mewah yang nyaman, namun tidak senyaman yang dikira karena ruangan tersebut tidak berjendela dan tidak memiliki gagang pintu dari dalam. Ya, dia terkurung. Sebelumnya, ia melakukan aksi kabur dari Rumah Lyle, tempat bagi anak-anak bermasalah. Tapi ternyata saat aksi kaburnya ini, ia dan Rae malah tertangkap lagi, sementara Simon dan Derek masih dalam pelarian.

Chloe ditemui oleh Dr. Davidoff dan Mrs. Enright. Mereka mengintrogasinya mengenai keberadaan Simon dan Derek, dan Chloe berusaha mengacaukan pencarian mereka. Kemudian Dr. Davidoff dan Mrs. Enright mengatakan bahwa Simon memiliki kondisi kesehatan yang berbahaya karena ia pengidap diabetes dan harus mendapatkan suntikan insulin tiga kali sehari, namun tas Simon ditemukan dan persediaan insulin miliknya tertinggal.

Oia, kembali mengingatkan kalian, disini mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda, seperti Chloe yang bisa memanggil dan bicara dengan hantu, Rae bisa membakar orang dengan jari-jarinya, Simon bisa merapal mantra, dan Derek adalah manusia serigala. Tapi untuk tujuan dikumpulkannya mereka belum tahu, hingga kemudian diketahui bahwa mereka sebenarnya adalah hasil rekayasa genetika, bukan murni mutasi genetik kayak para pahlawan X-Men yang kita kenal 😛

Mereka adalah subyek eksperimen dari Grup Edison dan sekarang mereka tampaknya sedang menghadapi ancaman pemusnahan. Chloe yang membaca jurnal penelitian itu sempat terpaku dan hampir ketahuan kalau saja Liz ─salah satu temannya di Rumah Lyle─ yang telah meninggal tidak membantunya. Berkat hantu Liz, Chloe berhasil meloloskan diri. Nah, kalau Liz ─Elizabeth─ ini kekuatannya adalah poltergeist,  bisa mengerakkan benda dengan pikirannya, bahkan setelah ia menjadi hantu seperti sekarang, dan nanti  Liz yang banyak membantu Chloe dalam pelariannya.

Disini juga ada sosok Victoria ─Tori─ Enright, yang di buku sebelumnya menjadi bebuyutan Chloe namun disini ia membantu Chloe kabur dari Grup Edison, walopun nanti tabiat Tori membuat teman-temannya jengkel setengah mati. Ibu Tori ─Mrs. Enright─ lah yang menjadi sosok antagonis dalam cerita ini.

Saat Chloe dan Tori di bawa pergi untuk melakukan pelacakan jejak terhadap Simon dan Derek, keduanya berhasil kabur. Tentu saja dengan bantuan Liz dan campur tangan Tante Lauren, bibi dari Chloe yang sebelumnya menyerahkan Chloe pada Grup Edison dan kemudian menyadari kesalahannya karena keputusannya tersebut malah membahayakan nyawa sang keponakan. Namun saat mereka sedang menunggu kegelapan malam turun, Tori berkata bahwa ia tidak akan ikut perjalanan Chloe mencari Simon, Derek dan ayah Simon, Kit. Tori mengatakan bahwa ia akan mencari ayahnya. Disinilah keduanya berpisah.

Sampai disini, kurasa aku cukup menikmati ceritanya. Entah kenapa aku kurang suka dengan buku sebelumnya, tapi kemudian saat aku baca buku kedua seri The Darkest Power ini aku cukup menyukainya. Well, walaupun masih sepertiga jalan cerita sih. Hhe..

Oke, kita kembali ke kisah Chloe. Ternyata rencana Tori tidak berjalan lancar karena saat ia menunggu ayahnya menjemput dirinya, yang ia lihat malah sang ibu yang keluar dari mobil ayahnya. Tori sedih karena merasa dikhianati ayahnya. Tori pun kembali berpetualang bersama Chloe.

Tak lama kemudian mereka menemukan pesan Simon dan menunggu. Tentu saja mereka berkumpul kembali, Simon, Derek, Chloe dan Tori. Well, di bagian pertemuan ini kalian akan disuguhi perang mulut sengit antara Derek yang keras dan Tori yang bermulut tajam. Hhaha.. Tapi tenang, selalu ada jalan keluar bagi peperangan kecil mereka 😉

Nah, seperti yang kita tahu bahwa Chloe memiliki kekuatan memanggil hantu. Tapi ternyata tidak hanya itu, ia bisa membangkitkan orang mati, mengembalikan nyawa pada raganya, membuat makhluk hidup seperti zombie. Pertama ia menyadari adalah saat ia tidak sengaja membangkitkan kelelawar-kelelawar mati, tapi kemudian tidak sengaja ia juga membangkitkan mayat yang ada tidak jauh dari tempat Chloe dan kawan-kawan bermalam. Untung Chloe berhasil memisahkan nyawa mayat itu dari raganya lagi. Hadeh.. Kini si hantu mayat itu sangat marah karena merasa di perbudak Chloe, memaksa Chloe dan kawan-kawan mencari tempat singgah yang baru.

Serius, sampai sini aku makin suka ma novel ini. Penuturan ceritanya pun asik, terasa natural serta santai. Adooh, aku jadi bingung, kenapa buku pertamanya ngga membuatku terkesan yaa.. Hhaha 😀

Saat mencari tempat singgah lagi, Chloe dan Tori harus berhadapan dengan anak jalanan yang mengacungkan pisau pada mereka. Well, seperti biasa, Derek yang kemudian jadi penyelamat. Sehari lagi berlalu dan mereka dalam perjalanan untuk menemui Andrew  Carson di sekitar New York City. Andrew adalah sahabat ayah Simon dan Derek. Ia lah orang yang harus segera Simon dan Derek datangi kalau keduanya terlibat dalam masalah. Sayang dalam perjalanan, Derek dan Chloe harus turun dari bus karena lagi-lagi Derek harus mengalami fase perubahannya yang tidak kunjung sempurna, dan Chloe menemaninya dengan tenang di samping Derek.

Seusai prosesi perubahan Derek selesai, mereka segera menyusul Simon dan Tori. Mereka menumpang sebuah mobil box dan sayangnya ketahuan. Saat berikutnya mereka berhasil lolos, mereka ganti masuk ke tangan dua manusia serigala lain yang bermaksud menjadikan Derek sebagai kambing hitam untuk Kawanan yang berada di sekitar situ. Lagi-lagi Derek dan Chloe berhasil lolos. Tapi saat mereka dengan susah payah berhasil naik ke bus, berjalan jauh, lalu tiba di rumah Andrew, keadaan tidak sesuai harapan mereka.

Derek menemukan pintu rumah Andrew terbuka sedikit dan jejak Andrew yang menghilang begitu saja, seperti keadaan saat Derek dan Simon menemukan fakta bahwa ayahnya menghilang bertahun silam. Setelah menemukan Simon dan Tori, mereka kembali berdiskusi apa yang sebaiknya mereka lakukan. Karena kelelahan, merek amemutuskan untuk beristirahat dan bergantian jaga. Nah, saat Derek dan Chloe sedang berjaga, ternyata mereka baru menyadari bahwa Grup Edison telah menemukan mereka. Mereka terkepung. Ditengah hiruk-pikuk pelarian mereka meloloskan diri dari kejaran anggota Grup Edison dan upaya mereka bertemu dengan Simon dan Tori lagi, Chloe melihat sosok Tante Lauren yang membimbing jalannya. Yups, sayangnya Derek tidak melihat Tante Lauren yang berjalan melewatinya. Chloe langsung lemas mengingat kemungkinan besar bahwa tantenya itu telah meninggal.

Well, well, well.. Boleh juga ceritanya. Ada saat dimana plot cerita berhasil membuatku ngeri. Lalu asyik dan seru. Selain itu, kita juga merasakan bumbu cinta walaupun masih acip-acip aja 😛 Ntahlah, kedua cowok ini ─Simon dan Derek─ kurasa punya perasaan sayang pada Chloe kecil yang manis. Hhaha, kalau Tori mendebat dan mengeluarkan argumen kasarnya mengenai perasaan jengkelnya pada Chloe, ntah kenapa ngga bikin aku sebel sama karakternya, hanya.. lucu. Itu karena keseringan, kedua cowok ini langsung membela Chloe. Hhihi.. Oia, satu lagi mengenai Chloe. Berdasar apa yang aku rasa, lagi-lagi karakter Chloe kurang greget. Hmm, mungkin karena memang karakter dia tipe cewek yang tenang yaa, jadi sampai akhir cerita, ketenangan itu mendominasi. Padahal menurutku pasti lebih seru kalau karakternya bisa menyisipkan perasaan ceria dan semangat 😉 Tapi overall, aku tetep suka ma cerita kali ini kok. Lebih hidup ^.-d

Ratingku buat novel ini :  7

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on October 15, 2012 in Horror/Mystery

 

Ghostgirl 3 – Lovesick


  • Pengarang               :    Tonya Hurley
  • Genre                      :    Drama, Mystery
  • Tebal                       :    378 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Atria
  • Harga                      :    50.000 IDR
  • Pertama terbit          :    1 Januari 2009
  • Cetakan                   :    Februari 2011
  • Tanggal Beli             :    25 Februari 2011

Setelah melalui perjalanan panjang di dunia dan akhirat, Charlotte akhirnya bisa beristirahat dengan damai.

Tetapi, kenyataannya tidak sesederhana itu. Satu tugas lagi masih menunggunya. Bukan tugas biasa, karena dia dan teman-teman sekelasnya harus kembali ke lokasi kematian tragisnya: Hawthorne High.

Charlotte berhadapan kembali dengan sosok-sosok yang pernah mengisi kehidupannya.Dan dunia ternyata tidak seceria yang diingat Charlotte. Scarlet, sahabat terbaiknya, kini kehilangan jati diri. Damen, mantan pujaan hatinya, kebingungan menentukan arah. Petula, idola sejatinya, terlibat dalam kegiatan misterius setiap tengah malam. Dan kehadiran Darcy, seorang siswa baru di SMA mereka, semakin memperkeruh suasana.

Sanggupkah Charlotte mengemban tugasnya sebagai malaikat pelindung dan meluruskan masalah teman-temannya? Dan di tengah kepungan tugasnya, mampukah Charlotte mempertahankan cintanya?

Review :

Buku ketiga dimulai oleh Scarlet yang membeli sebuah rangkaian bunga mawar berbentuk hati untuk sahabatnya terkasih, Charlotte. Kala itu menjelang Valentine dan ia berjalan menyusuri pemakaman untuk kemudian singgah di makam Charlotte yang sudah di beri nisan dan sebuah patung peringatan ─berbentuk gambaran surgawi Charlotte─ oleh Scarlet untuk Charlotte. Ia merasa sangat berhutang budi pada Charlotte karena telah menyelamatkan dirinya dan Petula (di cerita sebelumnya) dan ia juga mempersembahkan patung ini karena ia merasa Charlotte pantas mendapatkannya, mengingat Charlotte tidak pernah mendapatkan upacara pemakaman yang layak karena kondisi keluarganya. Ya ampun, aku terharu banget sama apa yang Scarlet perbuat T.T Ia bahkan meninggalkan sebuah surat di makam Charlotte, berharap sahabatnya itu membacanya.

Di sisi lain kehidupan, hari ini merupakan hari terakhir Charlotte menjadi pegawai magang di kantor akhirat. Hal lain yang membuat ia lebih bahagia adalah kenyataan bahwa sekarang ia tinggal bersama kedua orang tuanya yang telah lama meninggal, sehingga setiap ia bangun pagi, ia akan mendengar suara ibunya yang sangat ia rindukan. Seperti biasa, pagi itu ia berangkat ke kantor magang bersama kedua sahabatnya, Pam dan Prue. Mereka membicarakan ‘kekasih’ Charlotte. Yups! Sekarang Charlotte punya cowok oey.. Namanya Eric. Eric ini seorang pemusik kala masih hidup dan ia udah meninggal cukup lama dan ia sekarang menempati bilik di samping Charlotte di kantor magang. Sayang, kedua sahabatnya ini tidak menyetujui hubungan Charlotte dan Eric. Mereka terus-terusan mengingatkan Charlotte agar memikirkan kembali hubungan cinta ini. Sebenarnya Pam dan Prue hanya cemas kalau Eric itu cowok brengsek karena mereka baru saja kenal tapi udah langsung pacaran. Mereka tidak ingin kalau Charlotte harus sakit hati nantinya. Waduh, kalo itu mah resiko, iya nggak sih?? Hhe.. Memang sih, kalau bisa dihindari ya dihindari aja 😉

Nah, kita beralih ke Petula yang berubah sejak ia ‘kembali’ dari pengalaman di ambang maut. Kini ia lebih memperhatikan sekelilingnya dan bahkan ia merawat bayi boneka yang menjadi tugas dari sekolahnya dengan sungguh-sungguh. The Wendys pun ikut dibuat pusing dengan perubahan sikap Petula. Tapi lucunya, The Wendys menganggap bahwa ini merupakan tanda-tanda kegilaan dari Petula. Walaupun begitu, Petula tetap merasa superior kalau disekolah. Ia sekarang punya seorang musuh yaitu Darcy, anak baru pindahan dari Gorey High. Kebelakangnya, Darcy nanti terus merongrong Petula dan menghasut The Wendys agar mereka menjadi pengikutnya. Keadaan pun berbalik, kini Petula yang terasing.

Perubahan juga terjadi pada Scarlet. Kini cewek itu berubah, tidak lagi berdandan seperti dulu yang cenderung seperti ratu rock. Kini ia menyingkirkan semua pakaian lamanya dan mengganti dengan pakaian baru yang lebih rapi. Namun yang mengherankan Scarlet, kakaknya, Petula, malah meminta pakaian-pakaian Scarlet yang akan ia sumbangkan dengan alasan membuat prakarya. Padahal kenyataannya, tanpa sepengetahuan siapapun, Petula pergi di tengah malam dengan membawa kantung-kantung pakaian dan membagikannya pada para gelandangan. Sayangnya, The Wendys mengikuti Petula dan mereka jijik dengan apa yang telah dilakukan Petula.

Kembali ke Charlotte. Rupanya hari terakhir Charlotte dan kawan-kawan di tempat magang bukan berarti mereka akan naik ke surga 🙂 Tapi mereka mendapatkan tugas selanjutnya di tempat kejadian perkara. Mereka kembali ke Hawthorne dan mendapatkan tugas untuk mengawasi dan berusaha menjadi ‘angel’ buat seseorang. Jadi misi mereka kali ini adalah menolong mereka yang masih hidup mengatasi masalah mereka, yah, masalah sepele kehidupan lah.. Masing-masing anak mengawasi satu orang. Tebak siapa yang menjadi tanggung jawab Charlotte?? Tentu saja Damen!! Ahhahai.. Sedangkan CoCo mendapatkan Petula, Pam dan Prue mendapatkan The Wendys, dan Eric mendapatkan Scarlet. Saat pengumuman, Eric merasakan gejolak emosi asing, bahwa ia cemburu! Ihir.. Masalahnya ia salah tangkap dengan reaksi takjub yang diperlihatkan Charlotte. Sebelum pengumuman tu Charlotte udah girang setengah mati bahwa ia kemungkinan besar akan mendapatkan Scarlet sebagai pasangannya, tapi ternyata nama Damen yang keluar dari mulut Mr. Markov, tentu saja ia melongo, dan Eric salah menafsirkan arti muka Charlotte. Eric pikir Charlotte senang mendapat Damen sebagai pasangannya. Ckck..

Kemudian, saat Eric sedang menyendiri dan merenung di sebuah klub tempat band-band baru biasa manggung, Scarlet yang saat itu sedang keluyuran karena kegundahan hatinya terhadap segala perubahan yang ia jalani, juga pergi ke klub ini. Klub ini belum waktunya buka, namun saat itu ada sebuah band yang sedang berlatih, Scarlet melihat Eric yang berdiri sendirian di bawah bayang-bayang, iapun menghampirinya dan mengajak bicara. Eric kaget saat ada cewek yang mengajaknya ngobrol. Mereka pun berkenalan. Ternyata perbincangan mereka nyambung, dan segera mereka menjadi dekat. Selanjutnya, mereka pun jadi sering melakukan latihan gitar bersama-sama dan bahkan curhat tentang masalah mereka. Sayangnya Scarlet nggak tahu kalau Eric ini udah meninggal. Disisi lain, hubungan Scarlet dan Damen meregang. Entah kenapa Scarlet uring-uringan dan saat Damen mendatanginya di sekolahnya, Scarlet malah nggak suka. Padahal Damen cuma mau memberi kejutan pada Scarlet, apalagi sekarang ia sedang magang di sebuah stasiun radio yang berada di Hawthorne, setidaknya ini karena Damen ingin dekat dengan Scarlet. Namun reaksi Scarlet membuat Damen sedih dan patah hati. Aduuh, aku kasihan sama Damen 😦 apalagi saat ia tanya pada Scarlet, “Scarlet, apakah kau menyukai orang lain?” awaw.. Damen, Damen, malangnya nasibmu nak..

Suatu hari, saat Charlotte ingin mengunjungi Scarlet, ia malah mendapati Scarlet sedang asyik bermain gitar bersama Eric. Charlotte hanya bisa memandang pasangan ini dari balik kaca. Charlotte merasa sepasang punk ini saling melengkapi dan cocok satu sama lain. Ia mengikuti segala perbincangan Scarlet dan Eric, segala canda tawa mereka, hingga akhirnya ia mendapati Eric senang saat cowok itu  menganggap pertemuannya dengan Scarlet berikutnya adalah sebuah kencan. Gantian Charlotte yang cemburu. Belum lagi dengan perkara putusnya Damen dan Scarlet. Haduh, membuat Charlotte semakin sedih dan berusaha lebih keras agar hubungan Damen dan Scarlet membaik. Sayangnya, Eric menolak untuk membantu. Ia malah beranggapan bahwa bisa jadi misi mereka kali ini bukan untuk semakin menyatukan hubungan Scarlet dan Damen, tapi bisa jadi malah untuk memisahkan pasangan ini. “Pernahkah terpikir olehmu,” kata Eric, “bahwa kita mungkin dikirim kemari untuk memisahkan mereka?” Alamak.. Semakin keruh juga hubungan Charlotte dan Eric. Semuanya jadi berantakan..

Apa yang harus Charlotte, Scarlet, Damen dan Eric lakukan untuk memperbaiki keadaan?? Yah, setidaknya akhir ceritanya cukup bagus 😀 Tapi kok lagi-lagi ada satu kata yang diikuti sebuah tanda tanya besar, tamat? Oh tidaaak..! Jangan sampai ada lanjutannya deh. Cukup sampai disini aja. Sampai sini udah cukup bagus kok, jangan sampai bikin kami bosan.. Hhu..

Yah kita kembali ke pendapatku mengenai buku ini aja deh. Ehm, aku secara keseluruhan lebih suka buku ini daripada kedua buku sebelumnya. Kenapa? Karena menurutku di buku ini kita lebih banyak menemukan campur aduk perasaan. Dalam artian, cerita kali ini bumbu percintaannya lebih banyak dan melibatkan berbagai macam emosi. Jadi cerita tidak hanya berkutat mengenai sebuah teka-teki dan misteri yang harus dipecahkan dengan segera, seperti halnya kedua buku sebelumnya, tapi juga mengenai hubungan percintaan, dan juga mengenai perubahan sifat yang positif dari seseorang yang memiliki pengalaman nyaris mati.

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
Leave a comment

Posted by on July 27, 2011 in Horror/Mystery

 

Ghostgirl 2 – Homecoming


  • Pengarang               :    Tonya Hurley
  • Genre                      :    Drama, Mystery
  • Tebal                       :    350 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Atria
  • Harga                      :    50.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2009
  • Cetakan                   :    April 2010
  • Tanggal Beli             :    16 Juli 2010

Mana mungkin surga ternyata adalah sebuah kantor telepon?

Setelah lulus dari Kelas Pendidikan Kematian, Charlotte berharap pintu surga terbuka lebar untuk menyambutnya. Nyatanya, dia malah harus menangani hotline untuk remaja bermasalah. Dan yang lebih payah, sementara teman-temannya sibuk bekerja, teleponnya tidak sekali pun berdering! Rasa kesepian begitu menyiksa Charlotte jika bukan karena Maddy, teman barunya yang baik hati dan penuh perhatian.
 

Sementara itu, Petula terlempar ke pintu kematian gara-gara pedikur yang gagal. Scarlet pun rela mempertaruhkan hubungannya dengan Damen sekaligus nyawanya untuk menyelamatkan kakak yang dibenci-namun-disayanginya itu. Upaya Scarlet sekali lagi mempertemukannya dengan Charlotte. Dan bersama-sama, mereka menjelajahi Alam Kematian dan Alam Kehidupan demi Petula. Akankah upaya mereka berhasil? Mampukah Charlotte menahan diri dari godaan Alam Kehidupan dan Damen yang masih tampan dan menawan?

Dan yang terpenting, ketika kesempatan untuk menjadi seorang Ratu Homecoming hadir di depan matanya, mampukah Charlotte menolaknya?

Review :

Perjalanan ‘hidup’ Charlotte di mulai lagi. Kali ini ceritanya dia sudah lulus dari kelas Pendidikan Kematian dan sekarang ia dan teman-teman sekelasnya sedang menjalani semacam magang, mungkin istilahnya gitu, di sebuah kantor hotline untuk remaja bermasalah. Jadi intinya, mereka akan menangani satu saluran telepon dimana setiap anak yang mendapatkan ‘panggilan’ harus membantu si penelepon untuk menyelesaikan atau paling tidak membantu dengan memberi nasihat-nasihat yang baik. Mungkin kalo di kita jadi semacam perang batin gitu ya kalo kita lagi bingung?? Hhe.. Itu sih imajinasiku aja atas deskripsi yang digambarkan si pengarang, Tonya Hurley..

Kini Charlotte memiliki teman seapartemen ─yang akan menjadi asrama mereka selama mereka magang─ baru bernama Matilda MIner atau biasa di panggil Maddy. Sayangnya Maddy ini keseringan menghasut Charlotte agar dia membenci sahabat-sahabatnya, Pam dan Prue. Belum lagi ia sering membuat Charlotte terlibat masalah dengan Mr. Markov, pengawasnya di tempat magang. Tapi yang menyebalkan, Charlotte memakan umpan Maddy mentah-mentah dan ia mulai meluapkan kekesalannya pada sahabat-sahabatnya itu.

Di Hawthorne High, sahabat Charlotte yang masih bernyawa, Scarlet Kensington, sedang merenungkan hubungannya dengan sang kekasih, Damen Dylan. Kini Damen sudah kuliah dan diluar kota pula, sehingga mereka jarang bertemu dan akhir-akhir ini mulai jarang berteleponan. Belum lagi dengan kata-kata Petula, sang kakak, mengenai hubungan mereka ini dan ia menyebut Scarlet dengan anak SMA tolol yang mengejar-ngejar Damen. Ckck.. Tentu saja ini semakin menyuntikkan tambahan kebimbangan ke hati Scarlet.

Sementara itu, karena adanya insiden Pesta Dansa Musim Gugur yang lalu, Petula dan The Wendys jadi harus menjalani hukuman tinggal kelas selama setahun. Namun seperti halnya pribadi Petula, ia tidak pernah memusingkannya. Ia tetap aja seenak hati dan kali ini ia membolos sekolah hanya untuk pergi pedikur. Lucunya, ia bilang rencana pedikur ini adalah sebuah urusan yang mendesak karena ia sedang mempercantik diri untuk persiapan kencan besarnya dengan cowok yang lebih muda, Josh Valence, siswa senior di Gorey High yang menjadi saingan terberat Hawthorne High dalam olahraga futbol. Rupanya tujuan kencan ini untuk membuat sakit hati Damen. Ckck.. Anak inii..

Tapi pesta hampir tidak berjalan lancar, berakhir bencana malah.. Petula mulai merasa tidak enak badan dan muntah di mobil Josh. Cowok itu marah dan membawa Petula pulang. Tapi rupanya cowok itu cuma meletakkan Petula di halaman depan rumahnya, hingga akhirnya Scarlet yang baru saja pulang dari kerja yang menemukannya. Awalnya Scarlet duga Petula hanya keasyikan berpesta, mabuk berat. Namun semakin dibangunkan, kakaknya yang tidur terlentang di atas rumput itu tidak kunjung bangun. Ia menyentuh Petula yang ternyata sangat demam, iapun langsung menelepon 911. Petula pun dinyatakan  koma. Yang bodoh dan menyebalkan, The Wendys bukannya nolongin atau setidaknya duduk manis berdoa, mereka malah sibuk huru hara dan mondar-mandir di ruangan Petula. Bener-bener kurang kerjaan banget mereka ini. Njengkelin.

Kini Scarlet mulai menyadari bahwa sebenarnya ia juga menyayangi kakaknya yang menyebalkan ini. Scarlet terus menemani ibunya dan juga tinggal dirumah sakit untuk menunggui si kakak yang koma. Ia bahkan rela melepaskan Damen untuk si kakak kalau memang kakaknya masih mencintai Damen dan begitu juga Damen. Ia sangat sedih saat melihat raut wajah Damen yang terus memperhatikan Petula yang terbaring bisu. Bahkan Damen juga mengutarakan segala kenangannya bersama Petula agar gadis itu mendengarkan dan bisa siuman. Namun rupanya Scarlet merasa hatinya teriris-iris kalau mengingat pernah ada sejarah antara Damen dan Petula. Untuk ‘mengembalikan’ Petula, Scarlet tiba-tiba memikirkan Charlotte.

Kembali ke Charlotte. Seperti biasa, dia tidak mendapatkan satu telepon pun. Ia pun jalan-jalan ke kubikel Pam untuk mengobrol saat tiba-tiba teleponnya berdering. Deringan pertama sejak ia tiba di sini. Namun kebahagiannya dipenggal oleh Maddy yang mengangkat telepon itu dan menutupnya tidak lama kemudian. Charlotte sangat kecewa. Apalagi ia malah mendapat teguran dari Mr. Markov karena meninggalkan kubikelnya. Pam, Prue, Suze dan teman-temannya yang lain bertanya-tanya mengapa Maddy berbuat demikian. Padahal ia tahu kalau Charlotte sangat menantikan telepon itu. Mereka bahkan sempat memiliki ide untuk mengusahakan panggilan buat Charlotte. Baiknya mereka inii..

Kembali lagi ke Scarlet. Kini dia sudah yakin dengan rencananya. Ia sudah mengutarakannya pada Damen yang mulai ketakutan dengan rencana nekat Scarlet. Namun cowok itu tahu, ia tidak bisa merubah pendirian dan keputusan Scarlet. Dengan berat hati iapun mendukung rencana sang kekasih untuk menemui Charlotte dan meminta bantuannya. Kemudian, Scarlet pun ikutan koma! Kedua kakak adik ini kini terbaring koma bersama. Ya ampun, kasihan ibunya yang nggak tahu apa-apa..

Kini kita mulai bertemu dengan Petula yang tersadar di Dunia Lain. Ia terbangun di semacam rumah sakit namun kosong mlompong. Seperti kebiasaannya, ia terus saja marah-marah. Ia belum menyadari bahwa ia dalam kondisi koma. Di ruang tunggu inilah ia nanti berkenalan dengan seorang gadis kecil bernama Virginia. Gadis itu rupanya adalah seorang model dan sering ikut berbagai macam kontes. Namun mereka sama-sama memiliki watak yang keras. Seringkali mereka harus berdebat panjang lebar untuk mempertahankan argumennya atau sekedar untuk mematahkan argumen lawannya. Namun lama kelamaan mereka merasa aneh tinggal di tempat itu. Kenapa mereka memakai gaun rumah sakit? Mengapa tidak ada seorang pun yang terlihat di rumah sakit itu? Mereka belum menyadarinya..

Disisi lain, Scarlet menemukan Charlotte. Bersama Maddy mereka bertiga berusaha mencari Petula. Namun mereka tidak tahu bahwa Maddy menyembunyikan sesuatu. Saat mereka tiba di persimpangan, karena berbeda pendapat, Maddy dan Scarlet mengambil jalan yang berbeda. Namun sayangnya, Charlotte memihak Maddy. Disaat Scarlet bergentayangan entah kearah mana, ia ditemukan oleh Pam dan Prue. Ia sangat bersyukur setidaknya ia menemukan teman ‘dunia lain’nya yang lain. Sementara itu, Maddy dan Charlotte telah tiba di rumah sakit dimana tergeletak tubuh Petula dan Scarlet. Rupanya Maddy sangat ingin hidup lagi. Ia ingin memasuki tubuh Petula yang tak bernyawa dan memaksa Charlotte agar dia memasuki tubuh Scarlet yang terbujur kaku. Namun setidaknya Charlotte masih punya hati nurani.

Lalu tiba-tiba kehebohan terjadi, Damen dan The Wendys tiba di ruangan dan dengan kegilaannya, Damen akan membawa Petula ke Pesta Homecoming dalam keadaan koma! Ia bahkan memakaikan gaun Petula dan The Wendys membantunya untuk membawa kabur Petula dari rumah sakit. Yang parah, sekarang Maddy malah mengomporinya agar Charlotte mau masuk ke tubuh Petula dan menikmati kehidupan kembali, terutama menjadi seorang Ratu Homecoming yang akan dinobatkan kepadanya. Maddy meyakinkannya bahwa sebenarnya Damen masih mencintai Petula, itulah kenapa ia meninggalkan Scarlet untuk membawa Petula ke pesta Homecoming. Astaga.. Charlotte semakin bimbang dan ia pun memutuskan akan memasuki tubuh Petula.

Well, cerita yang ringan dan enak buat diikuti. Apalagi dengan perubahan karakter Petula yang  membuatku cukup senang. Penggambaran persahabatan Charlotte, Scarlet, Pam dan Prue juga membuatku terharu.  Walaupun lelucon yang disampaikan di buku ini kebanyakan adalah lelucon sarkastik, namun tetap saja akan membuat kita bisa tersenyum miring dan menggelengkan kepala.

Ratingku buat novel ini : 8

 
Leave a comment

Posted by on July 20, 2011 in Horror/Mystery

 

Ghostgirl 1 – Rest In Popularity


  • Pengarang               :    Tonya Hurley
  • Genre                      :    Drama, Mystery
  • Tebal                       :    404 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Atria
  • Harga                      :    50.000 IDR
  • Pertama terbit          :    1 Januari 2008
  • Cetakan ke-3            :    November 2009
  • Tanggal Beli             :    *

Inilah faktanya. Charlotte Usher telah meninggal dunia. Dengan cara terkonyol : tersedak permen kenyal berbentuk beruang. Di tengah sebuah misi terpenting : menjadi cewek terpopuler di sekolah. Sebelum berhasil mencapai tujuan termulia : merebut hati Damen Dylan, cowok terkeren di Hawthorne High.

Dan sekarang, dia menjadi hantu. Bayangkan, HANTU! Dia bergentayangan di sekolah, tidak terlihat, bisa menembus dinding, dan menjadi penghuni rumah hantu. Tetapi, sama seperti kehidupan, ternyata kematian juga penuh tantangan. Setidaknya, Charlotte tetap harus bersekolah hingga lulus dan menghadapi persaingan dengan hantu tergarang di kelasnya.

Lalu, apakah dengan menjadi hantu berarti Charlotte harus melupakan misi dan tujuan hidupnya? Ataukah justru semua itu lebih mudah tercapai? Dan relakah Charlotte menerima “takdir” barunya dan menjalani hari-harinya sebagai hantu?

Review :

Baru baca sinopsisnya aja aku udah mikir, ni buku kok kayaknya konyol kali isinya. Tema ceritanya menurutku lucu dan beda. Drama tapi juga horor, tapi nggak horor-horor amat. Malah nggak ada seremnya sama sekali ding, walaupun notabene ceritanya tentang hantu. Hha..

Di bab-bab awal, kita masih disajikan dengan kehidupan Charlotte ‘manusia’. Gimana dia dengan semangatnya memulai semester barunya di Hawthorne High. Ia bertekat akan menjadi pribadi yang baru dan menjadi gadis populer. Naif memang, tapi itulah angan-angannya. Dan seperti kejatuhan meteor keberuntungan, di kelas Fisika, Charlotte mendapat rekan lab lelaki pujaannya, Damen Dylan. Bener-bener tolol dan entah polos ato gimana sih bocah ini, tapi ya ampun.. pengambaran reaksi Charlotte di sini sangat bodoh, konyol, tolol, dan lucu. Belum lagi saat Damen meminta Charlotte untuk menjadi guru pribadinya, wkakaka, reaksi Charlotte bikin ngakak. Senangnya minta ampuunn..

Di sekolah ini, ada geng anak populer yang dipimpin oleh Petula Kensington sedangkan kedua pengikutnya terkenal dengan sebutan The Wendys, yaitu dua cewek dengan nama yang sama, Wendy Thomas dan Wendy Anderson. Petula sendiri adalah kekasih Damen, dan ia memiliki adik cewek yang berbeda ‘aliran’, Scarlet Kensington. Dibanding dengan kakaknya yang cantik dan sangat modis, Scarlet ini lebih begaya darkwave-meets-burlesque, atau kadang gothic ato rockin’. Kedua bersaudara inipun tidak pernah akur, mereka selalu melemparkan komentar sarkastik kepada mesing-masing. Namun tidak bisa dipungkiri, nanti tokoh Scarlet ini bakal berperan aktif dalam kisah Charlotte.

Well, oke.. Charlotte ‘manusia’ memang hanya sampai pada akhir bab ke dua, tapi dari bab ke tiga kita akan mulai mengikuti perjalanan hidup Charlotte ‘hantu’. Lucu banget, masa tar Charlotte pakai ngisi formulir pendaftaran siswa baru di dunia hantu segala. Trus dia menjadi siswa di Kelas Pendidikan Kematian alias Pendidikan Khusus Menyambut Kematian. Buku pelajarannya pun lucu, namanya Deadiquette alias Etiket kematian 😛 Tapi seperti halnya siswa baru, dia juga harus melalui tahap orientasi. Wkakaka.. Ada-ada aja..

Nah, di ruang 1313 tempat bagian resepsionis berada, nanti Charlotte berkenalan dengan teman hantu pertamanya, Pam si Piccolo. Uniknya, setiap hantu di kelas Charlotte nanti pasti memiliki nama kematian yang biasanya menunjukkan penyebab kematian, kayak Pam ini, ia dijuluki Pam si Piccolo karena ia tersandung dalam sebuah pertunjukkan di kapal, di sebuah acara parade band dan tanpa sengaja menelan Piccolo yang ditiupnya. Selain Pam, nanti ada Mike si Metal, Jerry si Kepala Berat, dll. Tonya Hurley membuat berbagai kisah kematian orang-orang ini seolah kematian mereka karena satu hal yang konyol, nggak wajar. Tapi emang bener-bener konyol kok. Hha..

Rupanya, Charlotte yang terlepas dari si populer Petula, kini menjadi incaran si ratu lebah Pendidikan Kematian, Prudence alias Prue. Ia selalu mengejek dan menyepelekan orang-orang di sekitarnya. Tapi Charlotte nggak ambil pusing. Ia lebih memikirkan Damen Dylan, cowok yang seharusnya menjadi partner lab dan ‘murid’ di kursus privat mereka. Sayangnya dengan mengecewakan ia harus melepas impiannya untuk mendapatkan Damen karena ia bukan lagi manusia. Tapi heii, rupanya ada satu hal yang membuat ia tidak patah semangat. Ia menemukan satu fakta menarik. Rupanya Scarlet, adik Petula, dapat melihat dan ngobrol dengan Charlotte! Ini artinya, Charlotte tidak benar-benar meninggalkan kehidupan lamanya. Yups, bersama Scarlet nanti Charlotte banyak menyiapkan dan menjalani rencana-rencana nekat. Di satu sisi, Charlotte ingin kembali ke dunia manusia untuk bertemu dengan Damen, disisi lain Scarlet sangat penasaran dengan dunia kematian. Ampuuun.. Kebayang kan gimana rencana-rencana mereka?? Tapi sayangnya, ada beberapa halangan yang menghadang, terutama dari Prue dan Petula sendiri.

Menurutku, cerita novel ini cukup lucu, imajinatif banget, tapi bukan tergolong fantasy yang berat, karena sungguh, cerita novel ini sangat ringan. Lumayan lah buat jadi selingan bacaan.

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
Leave a comment

Posted by on July 11, 2011 in Horror/Mystery

 

The Mediator 6 – Twilight


  • Pengarang               :    Meg Cabot
  • Genre                      :    Drama, Horror
  • Tebal                       :    288 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    40.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2004
  • Cetakan                   :    April 2011
  • Tanggal Beli             :    21 April 2011

Suze sudah terbiasa menghadapi para hantu. Suze kan memang seorang mediator, dan berkomunikasi dengan para orang mati sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Jadi jelas dia tidak pernah menyangka akan jatuh cinta pada hantu: Jesse, hantu abad kesembilan belas yang tampan.

Saat Suze menyadari dia memiliki kekuatan untuk menentukan siapa yang akan menjadi hantu duluan, Suze mulai panik. Karena itu berarti dia bisa mengubah jalannya sejarah… dan mencegah pembunuhan atas diri Jesse, mencegahnya menjadi hantu gentayangan—dan mencegahnya bertemu Suze 150 tahun kemudian.
Jalan manakah yang akan dipilih Jesse: hidup tanpa Suze atau mati demi cintanya pada Suze?

Review :

Masa diawal cerita sudah dibikin jengkel sama Paul! Ya ampun cowok itu, bikin gregetan! Serius.. Somboongg nya minta ampun. Tapi disini Suze malah ada nunjukkin tanda-tanda dia punya sedikit  perasaan pada Paul. Padahal hubungan asmara Suze dan Jesse sudah jauh mengalami kemajuan lhoo.. Walaupun ada bagian lucu-lucu, saat Suze dan Jesse ciuman, Jesse lah yang mundur dulu dan malah minta maaf pada Suze karena sudah kelewatan. Whahaha.. Yups, disini Jesse ceritanya masih kolot, memegang tegus prinsip gentleman jaman 1850-an dimana kehormatan wanita harus dijunjung tinggi. Tentu saja Suze hanya bisa memutar bola matanya karena jengkel  =b

Di lain pihak, Paul yang masih ngejar-ngejar Suze memberitahu cewek itu bahwa sebagai Pengelana, mereka masih memiliki kemampuan lainnya, yaitu menjelajah waktu. Pengelana dapat kembali dan  merubah apa yang terjadi di masa lampau. Jelas saja Suze tergoda untuk menyelamatkan ayahnya yang sudah meninggal. Namun Dr. Slaski ―kakek Paul yang berakting menderita penyakit Alzeimer dan tidak pernah merespon perkataan orang-orang disekitarnya kecuali pada Suze, ia mau bersikap biasa dan bicara pada cewek itu asalkan tidak ada orang lain di sekitar mereka, dan ini juga merupakan bagian yang memiliki kelucuan tersendiri saat membacanya― memperingatkan Suze agar jangan terlalu banyak merubah sejarah dan memberi tahu efek samping berkelana melintasi waktu.

Suze baru sadar kalau ia mencegah ayahnya meninggal, ibunya akan tetap bahagia, tidak pernah bertemu dan menikah dengan Andy, Suze tidak perlu pindah ke California, ia tidak menempati rumah baru, dan yang tepenting, ia tidak akan pernah mengenal Jesse, lelaki yang sangat ia cintai. Tapi sayangnya, Paul yang memiliki pengetahuan ini mengancam akan mencegah kematian Jesse. Dan di lain pihak memang  membahagiakan Suze tapi di sisi lain juga membuat Suze ketakutan. Ia tidak mau kehilangan Jesse. Jesse yang tahu mengenai kecemasan Suze hanya menganggap enteng masalah ini dan menentramkan Suze dengan mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja. Benarkah begitu?

Well, hingga akhirnya Paul benar-benar kembali ke masa Jesse sebelum meninggal dan Suze ikut kembali untuk mencegah Paul melakukan apa yang diniatkannya, mencegah Jesse terbunuh. Tapi sayangnya setelah bertemu dengan Jesse Hidup, ia tidak sanggup untuk melihat lelaki itu mati. Suze pun merelakan Jesse untuk kembali menjalani hidupnya dan siap menerima konsekuensi tidak akan mengenal Jesse di masa depan bahkan kemungkinan besar lupa mengenai Jesse sama sekali. Hew..

Pokoknya ya, ini novel terakhir yang KEREN! Aku suka jalan cerita akhir kisah Suze, Jesse, dan Paul. Digambarkan dengan sangat mantap dan… wow!

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
6 Comments

Posted by on April 30, 2011 in Horror/Mystery

 

The Darkest Powers 1 – The Summoning


  • Pengarang     :   Kelley Armstrong
  • Genre            :    Mystery
  • Tebal             :  460 hlm
  • Penerbit         :   UFUK
  • Harga            :   44.925 IDR
  • Cetakan kelima          :   Februari 2011
  • Tanggal Beli   :   14 Maret 2011

Chloe Saunders biasa hidup normal. Tapi hidupnya berubah pada hari dia bertemu dengan hantu pertamanya. Terkunci di Rumah Lyle ―sebuah rumah kelompok untuk anak-anak bermasalah― dia menemukan bahwa rumah itu lebih daripada sekadar rumah tinggal remaja sebagaimana kelihatannya. Akankah Chloe bisa menyingkap rahasia-rahasia Rumah Lyle yang berbahaya… atau apakah makhluk-makhluk aneh datang kembali untuk menghantuinya?

Buku ini akan membuatmu tetap terjaga pada waktu tergelap di malam hari. Volume pertama yang mendebarkan dalam seri The Darkest Powers yang dikuatkan secara supernatural oleh penulis terlaris internasional, Kelley Armstrong.

Pendapatku :

Setidaknya kali pertama kubuka buku ini, kupikir lumayanlah, tiap halamannya nggak padat tulisan ―28 baris tiap halaman oey. Jadi setidaknya mencoret satu alasan yang bikin aku setengah hati buat baca novel ini.  Sebenarnya aku beli buku ini karena suka sama covernya, eye catching banget. Kupikir ceritanya bakal tentang kalung merah yang tertera sangat ―sangat― jelas di cover itu. Well, ternyata aku salah. Hhehe…

Satu hal yang beda dari novel ini, biasanya kalau novel lain dengan tema sama ―tokoh utama yang bisa lihat hantu, si pengarang lebih suka menciptakan karakter yang berani dan menyadari akan kelebihannya itu namun seolah mengabaikannya. Tapi kalau Kelley Armstrong, ia menciptakan karakter Chloe yang penakut dan cenderung mengingkari kemampuannya. Secara naluriah ia berteriak ketakutan kalau melihat penampakan hingga hal inilah yang menyebabkan ia dimasukkan ke sebuah ‘rumah sakit jiwa’ dan di diagnosis menderita Schizofrenia ―gangguan kejiwaan dengan munculnya delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).

Tapi, hem, kok aku nggak terlalu excited sama tokoh-tokohnya ya? Gini, waktu aku baca novel ini, karakter tokohnya tu nggak bisa bikin greget, kurang kuat, jadi rasanya nggak ada yang bikin terikat. Yang ada aku baca serasa cuma sekedar baca, nggak bisa menyelami ceritanya lewat si tokoh utama. Sayang sekali.. Tapi kalau dari segi ide cerita, yah, lumayan lah.. Walau kadang alurnya bikin bosan.. =) Maap bagi yang suka sama novel ini ya, tapi kalau aku pribadi kurang suka..

Ratingku buat novel ini : 6,4

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2011 in Horror/Mystery

 

The Mediator 5 – Haunted


  • Pengarang     :   Meg Cabot
  • Genre            :    Drama, Horror
  • Tebal             :   248 hlm
  • Penerbit         :   Gramedia
  • Harga            :   28.000 IDR
  • Cetakan         :   April 2011
  • Tanggal Beli   :   9 April 2011

Suze sudah terbiasa berurusan dengan masalah, tapi kali ini dia benar-benar dalam masalah besar: Jesse si hantu tampan sudah merebut hatinya, tapi Paul Slater, cowok ganteng yang masih hidup dan bernafas, kelihatannya mengejar-ngejar Suze. Dan Paul adalah seorang mediator, sama seperti Suze, yang tahu bagaimana caranya mengirim Jesse ke alam lain. Untuk selamanya.

Paul bilang dia tidak akan melakukan apa pun terhadap Jesse selama Suze bersedia berkencan dengannya. Karena takut dia akan kehilangan Jesse selamanya, Suze setuju. Tapi bahkan kalaupun Suze bisa memancing Jesse mengakui perasaannya pada cewek mediator itu, masa depan seperti apa yang bisa diharapkan dari berpacaran dengan cowok yang sudah mati?

Kira-kira siapa yang akan jadi pilihan Suze? Paul, si mediator ganteng yang misterius, atau Jesse, si hantu yang Suze cintai semenjak pertama kali bertemu?

Pendapatku :

Well, kali ini ceritanya lebih dominan tentang hubungan cinta segitiga Jesse, Suze, dan Paul. Bagus kok!

Ternyata Paul pindah ke sekolah Suze dan ngejar-ngejar Suze, dalam artian dia ngajak Suze kencan terus tapi Suze selalu menolak dan berusaha mengabaikan. Paul yang entah kenapa terkesan cinta mati sama Suze nggak mau nyerah gitu aja. Dia selalu membujuk Suze dengan iming-iming Paul bakal memberitahu apa sebenarnya Suze itu ―dan menurut Paul, Suze bukanlah seorang Mediator seperti yang selama ini Suze yakini, tapi ia adalah seorang Pengelana. Suze yang sangat penasaran akhirnya terbujuk untuk datang kerumah Paul. Walaupun Paul sudah berjanji tidak akan menyentuh Suze, tetap saja terjadi sesuatu.

Dilain pihak, kenapa Suze selalu menolak Paul itu karena ia jatuh cinta pada Jesse dan tidak menginginkan lelaki lain. Sayangnya, Jesse terus berusaha menghindari Suze sejak mereka berdua berciuman. Terang saja Suze patah hati. Belum lagi ternyata Jesse memutuskan untuk “pindah rumah”.

Tapi nanti di novel ini kalian bakalan nemuin banyaknya adegan romantis Suze dan Jesse, maksudnya bukan romantis ke arah “sana” lho ya.. Hhaha.. Lagian nanti sebenarnya kalian bisa nebak kok sejak awal kalau sebenarnya Jesse mencintai Suze, buktinya banyak saat dimana Jesse cemburu sama Paul tapi Suze udah kadung yakin kalau Jesse tidak memiliki perasaan apapun padanya. Belum lagi Suze merahasiakan kepindahan Paul ke sekolah Suze, dan, Jesse baru tahu keberadaan Paul saat Suze sakit dan mendapat kiriman buket besar mawar merah sebagai tanda permintaan maaf.

Okelah, itulah kenapa kubilang novel ini sebagian besar berkisar tentang cerita cinta Suze, walaupun memang ada nanti urusan mediator Suze yang menyertai, si hantu Craig yang meyakini bahwa harusnya adiknya, Neil lah yang meninggal dan bukan dia.

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
2 Comments

Posted by on April 12, 2011 in Horror/Mystery