RSS

Category Archives: Paranormal

Dream Catcher 3 – Gone


  • Pengarang               :    Lisa McMann
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    216 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    37.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2010
  • Cetakan                   :    Oktober 2010
  • Tanggal Beli             :    22 November 2010

Janie mengira ia tahu masa depannya. Dan ia merasa bisa menerimanya meskipun muram.

Namun ia tidak ingin menyeret Cabel.
Janie tahu cowok itu akan setia mendampinginya meskipun tahu apa yang akan terjadi. Cabel memang menakjubkan. Karena itu Janie justru harus pergi.

Lalu seseorang hadir dalam hidup Janie─dan segalanya jadi kacau. Masa depan yang sudah diketahuinya sekarang berubah. Sendirian, ia harus memutuskan mana pilihan terbaik di antara yang buruk.

Dan sementara itu waktu terus berjalan….

Review :

Juni 2006, sidang dengar perkara kasus Durbin. Kini seluruh Fieldridge mengetahui bahwa Janie Hannagan adalah seorang agen rahasia. Ia terekspos. Juli 2006, sebuah cuplikan singkat pembicaraan Janie dengan seorang wanita. 1 Agustus 2006, Janie melakukan perjalanan selama 3 jam yang menyiksa, namun Cabel selalu menyertainya.

3 Agustus 2006, mereka berada di pondok sewaan Charlie ─kakak Cabel─ dan Megan di Fremont Lake. Janie senang dengan lingkungan baru ini karena tidak banyak orang bertanya-tanya tentang dirinya, tidak ada yang mengenal Janie. Tapi, malam hari tetap menjadi saat yang menyiksa bagi Janie. Terutama dengan adanya mimpi buruk Cabel yang terus mengiris hari Janie. Cabel tak pernah bisa mengungkapkan perasaannya, namun mimpi itu mengambarkan bagaimana Cabel menghadapi semua masalah ini. Mengenai fakta menyakitkan bahwa Janie akan kehilangan penglihatan dan kemampuan motoriknya kelak, suatu hari, akibat dari kemampuan dreamcatch nya ini. Aku bacanya, wew, menyedihkan 😦

Sore itu saat Janie dan Cabel sedang bersantai, Janie mendapat kabar dari Carrie ─sahabat dan tetangga Janie─ mengenai ibu Janie yang mabuk ─seperti biasa─ dan berteriak-teriak memanggil Janie di depan rumah. Kabar berikutnya, Carrie membawa ibu Janie ke IGD. Tentu saja Janie langsung panik. Segera, Cabe dan Janie berkendara 3 jam kembali ke Fieldridge.

Mereka langsung menuju rumah sakit dan mencari-cari keberadaan Carrie serta ibu Janie. Mereka menemukan Carrie duduk di depan ruang ICU. Janie ketakutan. Namun Carrie memberinya berita yang lebih membuat syok, ternyata yang berada di ICU adalah ayah kandung Janie, Henry Feingold, yang tidak pernah Janie tahu keberadaannya dan sekarang dalam kondisi koma. Setelah meminta sahabat dan kekasihnya pulang, Janie berdiam diri dan merenung untuk waktu yang lama. Ia menunggu ibunya di ruang tunggu.

Hari berikutnya, ditemani Cabel, Janie mengunjungi ayahnya. Namun aneh, mimpi pria itu hanya seperti TV yang terputus salurannya, statis, dengan suara yang memekakkan telinga Janie. Sesaat, setelah pelangi warna menghilang dari pandangan Janie, ia sekilas melihat sesosok wanita entah siapa. Janie tidak tahu harus berkata apa pada lelaki yang terbaring lemah itu. Ia pun mengajak Cabe pulang. Malamnya, dari sang ibu, Janie mendapat sepotong cerita mengenai pertemuan kedua orang tuanya dan bagaimana mereka berpisah dan tidak pernah berjumpa lagi.

6 Agustus 2006. Cabe membawa Janie ke sebuah alamat di luar kota. Rumah yang mereka temukan sangat terpencil. Ternyata rumah Henry Feingold. Tidak ada seorangpun di rumah itu dan Cabe menyarankan untuk mendobrak masuk. Namun karena takut tertangkap, Janie memaksa Cabe untuk pergi saja. Kemudian karena adanya kemungkinan bahwa Henry juga seorang dreamcatcher, maka Cabe bersikeras dan membawa Janie kembali ke rumah Henry. Tentu saja disana mereka tidak menemukan bukti bahwa Henry memang seorang dreamcatcher.

Malam harinya, Janie tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk pergi kerumah sakit dan mencari tahu. Lagi-lagi disana Janie masuk ke mimpi Henry yang statis. Namun kali ini mimpinya cukup berarti, bahkan ia berjumpa lagi dengan Mrs. Stubin yang telah meninggal. Dari mimpi, Henry meminta bantuan Janie dengan berteriak-teriak, tapi Janie tidak tahu apa yang dimaksud Henry dan tidak tahu harus berbuat apa. Mimpi ini sangat menyerap kekuatan Janie.

7 Agustus 2006. Janie memutuskan untuk lebih mengenal Henry dengan mendatangi rumah Henry sendirian. Ia mempelajari seluk beluk tentang Henry dan bisnis online yang dijalani ayahnya itu. Tengah hari, Henry mendapat tamu, seorang supir truk pengiriman paket. Cathy ─wanita itu─ si sopir mengaku telah lama mengenal Henry dan ia turut prihatin mengetahui keadaan Henry. Dari Cathy lah Janie mendapat sedikit lagi gambaran mengenai sang ayah. Malamnya, ia bermimpi dan Henry hadir di dalamnya. Mereka mengobrol.

8 Agustus 2006. Henry Feingold meninggal. Tanggal 9 Agustus dilakukan upacara pemakanan yang diatur oleh Janie. Biar bagaimanapun Henry adalah ayahnya, dan ia mengerti kenapa lelaki itu harus meninggalkan ibu Janie dulu. Belum lagi ternyata ayahnya tidak tahu menahu kalau ia punya seorang putri. Ckck..

Keputusan Janie sudah bulat, ia akan meninggalkan kehidupan lamanya. Ia mulai membuat agenda apa saja yang akan ia lakukan dan yang pasti ia akan menempati rumah ayahnya. Kehidupan barunya. Menyendiri. Seperti sang ayah. Namun, benarkah ini yang terbaik? Morton’s Fork 🙂

Buku terakhir dari trilogy dreamcatcher ini menurutku tidak banyak memberikan kesan. Cerita selalu disampai dengan konstan dari buku pertama hingga yang ketiga, tidak ada sesuatu yang spesial. Hanya mungkin aku sedikit suka dengan ide penyampaian cerita dengan menggunakan waktu sebagai indikator. Jadi semacam membaca journal seseorang. Bukan berarti aku suka membaca journal seseorang ya 😛 Tapi, secara keseluruhan, hmm, boleh lah buat ngisi waktu luang. Tapi kalo ada novel lain sebagai second choice kamu, bagus ambil yang itu. Kalau pendapat aku pribadi, novel ini buka tipe novel yang suatu ketika bakal ku baca ulang. Cukup sekali ni aja 😉

Ratingku buat novel ini : 7,8

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on February 16, 2012 in Paranormal

 

Dream Catcher 2 – Fade


  • Pengarang               :    Lisa McMann
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    264 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    37.000 IDR
  • Pertama terbit          :    28 Januari 2009
  • Cetakan                   :    April 2010
  • Tanggal Beli             :    22 November 2010

Bagi Janie dan Cabel, kehidupan nyata lebih sulit daripada mimpi.

Sementara itu, hal-hal meresahkan terjadi di Fieldridge High, namun tidak ada yang mau membicarakannya. Ketika Janie masuk ke mimpi penuh kekerasan teman sekelasnya, masalah pun mulai terungkap. Tetapi semua di luar dugaan.

Lebih buruk, Janie lantas mengetahui kenyataan tentang diri dan kemampuannya. Kenyataan yang sangat muram. Bukan hanya takdirnya sebagai penangkap mimpi tak bisa diubah, apa yang akan terjadi ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang ditakutkannya.

Review :

Cerita dimulai pada tanggal 1 Januari 2006. Lagi-lagi Janie Hanagan terhisap kedalam mimpi ibunya yang tertidur di sofa, dalam keadaan teler alkohol tentu saja.

Kini Janie dan Cabel pacaran. Hanya saja selama kasus narkoba yang menyangkut ayah Shay Wilder belum ditutup, mereka tidak boleh terlihat bersama. Apalagi sekarang Janie juga ikut-ikutan jadi ‘agen rahasia’. Janie dan Cabel bekerja sebagai agen samaran untuk kasus-kasus yang melibatkan Fieldridge High School. Tugas mereka kali ini berkaitan dengan penjahat seksual yang diam-diam beraksi di Fieldridge High. Dari dua laporan anonim yang tidak begitu jelas, polisi memulai operasi ini, yaitu melalui Cabel yang harus ‘membaur’ dan Janie ‘menyelami’ mimpi-mimpi yang terkait dengan murid/guru untuk mendapat informasi lebih.

Jelas aja Cabel nggak menyukai rencana Kapten Fran Komisky. Alasan, karena Kapten meminta kesediaan Janie buat jadi umpan untuk menarik perhatian si penjahat seksual dan Janie menyetujuinya sementara Cabel tak bisa mencegah ceweknya itu. Dia cuma bisa cemberut karenanya. Disisi lain, Kapten meminjami Janie setumpuk arsip tentang Martha Stubin, wanita tua kenalan Janie yang ternyata juga penangkap mimpi dan baru Janie ketahui setelah wanita itu meninggal. Kapten meminta Janie untuk merahasiakan perihal arsip ini. Sekarang Janie hanya sesekali mendapat kunjungan dari Ms Stubin dalam mimpi untuk memberinya arahan dan pengajaran. Setidaknya Janie lebih tenang karena bukan hanya dia orang aneh yang mendapat ‘berkah’ ini. Nantinya, Janie bakal mendapat banyak sekali informasi tentang dunia penangkap, bahkan satu fakta bahwa kemampuan ini menurun.

Tugas Janie dan Cabel terus berlanjut. Bahkan Janie mulai mendapat petunjuk. Ada seorang guru muda yang mulai mendekati Janie. Mr. Durbin. Tentu saja ia telah melaporkannya pada Kapten dan Kapten meminta Janie untuk terus melanjutkan penyelidikan dan meminta gadis itu untuk berhati-hati. Sayangnya, Cabel semakin tidak suka dengan perkembangan kasus ini. Well, ntah kenapa menurutku sikap protektif Cabel terhadap Janie sangat manis. Apalagi saat mereka saling berkiriman email di hari ultah Janie, hhe 🙂

Demi melanjutkan penyelidikan, Janie ikut pameran kimia yang butuh perjalan lumayan lama karena lokasinya di Michigan Tech, Houghton, dan pakai acara menginap. Terlalu ambil resiko memang, mengingat bagaimana Janie pernah terjebak dalam mimpi teman-temanya yang tertidur di bus dalam rangka study tour yang lalu. Well, memang sih, pameran kali ini hanya diikuti oleh Janie dan ke enam teman serta satu guru wanita pendamping selain Mr. Durbin selaku pembimbing.

Selain itu, Janie juga membantu Mr. Durbin membuat undangan bagi anak-anak kelas Kimia 2 untuk sebuah acara pesta yang ternyata rutin diadakan olehnya. Sebuah kejutan, ada guru yang terlalu baik dan gaul hingga mengajak anak didiknya untuk berpesta, setiap Maret dan November. Walaupun diisyaratkan bahwa pesta ini hanya malam bersenang-senang tanpa alkohol, tetap saja pesta ini berubah jadi pesta liar yang hampir diluar kendali. Wew..

Dengan gaya penulisan cerita yang menggunakan penunjuk waktu, seperti sebuah jurnal, menurutku memberi kesan tersendiri. Novel ini jadi terasa lebih to the point ─singkat dan tanpa basa-basi. Enak ngikutinya 🙂

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
Leave a comment

Posted by on September 16, 2011 in Paranormal

 

Dream Catcher 1 – Wake


  • Pengarang               :    Lisa McMann
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    216 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    35.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan                   :    Januari 2010
  • Tanggal Beli             :    18 November 2010

Janie, gadis berusia tujuh belas tahun, sudah biasa tersedot ke mimpi orang lain. Terutama mimpi tentang jatuh, telanjang, dan seks.

Ia tidak bisa memberitahu siapa-siapa tentang “kelebihannya” ini ─takkan ada yang percaya. Mereka bisa-bisa malah mengira ia gila.

Lalu ia terjatuh ke dalam mimpi buruk mengerikan, mimpi yang membuatnya ketakutan sampai ke tulang sumsum. Untuk pertama kalinya, Janie bukan lagi sekadar saksi. Kali ini ia terlibat….

Review :

Awal mula buku ini kita mendapat sebuah gambaran tentang kemampuan Janie Hannagan, masuk ke dalam mimpi orang lain. Ini bukanlah kemauannya, entah bagaimana, ini terjadi begitu saja. Ia terhisap dan menjadi bagian dari mimpi seseorang.

Konsep buku ini semacam journal dari Janie. Ada tanggal bulan tahun serta jam yang menjadi indikator waktu. Di buku pertama ─WAKE─ ini kita memulai hari Janie di tanggal 9 Desember 2005 pukul 12.55, saat ia berada di perpustakaan sekolah dan terhisap kedalam mimpi Luke Drake, salah satu temannya.

Lalu cerita beralih ke bab baru dimana berisi flashback dari Janie mengenai awal mula ia memiliki kemampuan ini. Tanggal 23 Desember 1996, malam hari, di dalam kereta menuju Chicago, saat Janie berusia delapan tahun, ia masuk ke mimpi seseorang yang rupanya akan melakukan presentasi di kantornya. Lalu tanggal 6 September 1999 pukul 15.05 sepulang sekolah hari pertamanya di kelas enam, ia masuk ke mimpi ibunya yang sedang mabuk. Tanggal 1 Januari 2001, ia mendapat tetangga dan teman baru, Carrie Brandt.

Tanggal 2 Maret 2001, umur Janie tiga belas tahun. Ia dan Melinda Jeffers ─salah satu anak kaya di sekolahnya─ sedang menginap di rumah Carrie. Carrie memang cantik, jadi walaupun ia tinggal di kompleks kumuh, ia tetap bisa jadi anak populer di sekolahnya. Sesorean mereka bertiga bersenang-senang walaupun beberapa kali Melinda mengejek Janie. Saat malam hari lah masalahnya. Pertama, Janie masuk ke mimpi Melinda. Saat pelajaran Kewarganegaraan, Melinda berdiri dari bangkunya dan mendatangi salah satu teman sekelasnya dan mereka berciuman. Lalu mimpi beralih ke Carrie karena Melinda saat itu mendesah dan berbaring telungkup di kantong tidurnya. Carrie memimpikan seorang anak bernama Carson yang tenggelam di sungai sementara Janie tidak mampu menyelamatkan Carson. Carrie terbangun dengan teriakan, begitu juga dengan Janie. Saat kembali tertidur, Janie kembali masuk ke mimpi Melinda. Mimpi yang cukup vulgar, bahwa ternyata Melinda sedang making out sama Carrie! Yaks.. Sejak saat itu Janie memutuskan bahwa acara menginap tidak akan pernah cocok untuknya.

Tanggal 7 Juni 2004, Janie berusia enam belas tahun. Sejak dua tahun yang lalu ia kerja paruh waktu seusai sekolah dan bekerja penuh selama musim panas di Heather Nursing House ─panti jompo. Ia harus membiayai hidupnya sendiri karena uang tunjangan untuk pengangguran hanya cukup untuk membayar uang sewa dan minuman keras ibunya, tidak lebih. Heu.. Kasihannya anak ini. Ibunya nggak bertanggung jawab banget sih 😦

Yang aku suka dari novel ini adalah cerita yang digambar oleh Lisa McMann dengan sangat tenang dan damai. Memang karakter dari Janie sendiri cukup menarik. Ia pekerja keras, bertekat kuat, tenang, dan rendah hati. Ia memang bertekat menabung karena ia ingin kuliah suatu hari nanti. Wah. Salut..

Carrie dan Janie masih bersahabat hingga sekarang. Mereka sering berbagi cerita dan masing-masing menjadi tempat curhat kawannya. Carrie dan Melinda pun masih bersahabat, walaupun sikap Melinda terhadap Janie tidak pernah berubah. Sejak 30 Agustus 2004 ini, ‘mimpi’ Janie semakin cepat. Pagi itu adalah hari pertama Janie dan Carrie di kelas sebelas. Saat menunggu bus, datang Cabel Strumheller ─si murid berandal yang pernah tidak naik kelas, jadi sekarang satu angkatan dengan Janie. Cowok itu terlihat sama dekil dan miskinnya dengan Janie, dilihat dari pakaiannya, dan terlihat selalu teler dan berjalan membungkuk padahal dia tinggi.

Kini Carrie sedang kencan dengan Stu, cowok dua puluh dua tahun yang kerja di sebuah bengkel. Tentu saja hubungan ini ditentang mati-matian oleh ayah Carrie. Namun Carrie tidak mempermasalahkannya. 16 Oktober 2004, Carrie dan Stu mengajak Janie ke acara pesta dansa sekolah. Sepulang dari pesta itulah kali pertama Janie bicara ─ngobrol─ dengan Cabel. Cowok itu mengantar Janie pulang dengan skateboard-nya. Hhi.. Tapi sayangnya sejak Cabel mengantar Janie, mereka tidak pernah mengungkit atau saling tegur sapa lagi untuk waktu yang sangat lama.

Janie memang menyukai pekerjaannya di panti jompo, walaupun tetap saja ada resiko, lebih sering ia terhisap di dalam mimpi para orang tua yang sering kali diulang-ulang. Namun sisi baiknya, banyak juga orang tua yang kesulitan tidur, jadi kemungkinan ia terhisap juga semakin sedikit kalau ia berada di sekitar orang-orang itu.

Suatu hari,  Janie terhisap di mimpi Mr. Reed tua yang sedang sekarat. Janie tidak bisa mengontrol dirinya dan ternyata hal ini menyebabkan ia kejang-kejang. Para perawat yang lain cemas melihat Janie. Oleh pimpinan rumah sakit, ia diberi cuti seminggu. Sekembalinya ia bekerja, ia dan ketiga pasiennya sedang menonton kembang api untuk peringatan kemerdekaan Amerika. Salah satunya adalah Miss Stubin yang buta.

Kini Janie punya mobil butut untuk mobilitasnya. Tanggal 2 Agustus 2005, sepulang ia kerja, pukul 23.11 saat ia melintasi Waverly Road, ia terhisap kedalam mimpi seseorang dan kehilangan kendali atas mobilnya. Mimpi itu sangat kuat. Orang itu bermimpi mengenai seorang pemuda monster yang memiliki jari-jari pisau, lalu membunuh seorang lelaki tua hingga kepalanya putus, dan astaga, menurutku buku ini dapat triller suspense nya juga oey.. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk tidak lewat jalan itu lagi saat berkendara.

6 September 2005 adalah kali kedua ia bicara dengan Cabel. Kini cowok itu digambarkan lebih dewasa, mengenakan kacamata model baru tak bertangkai, dan rambutnya sudah nggak biru-hitam berminyak lagi, melainkan coklat muda keemasan. Saat itu Janie sedang berkendara ke sekolah dan ia memberi tumpangan pada Cabel. Hari ini adalah hari pertama tahun akhirnya di Fieldridge High School. Ternyata jadwal Janie dan Cabel tidak banyak berbeda. Well, yang lucu, hampir separuh cewek disekolahnya  mengira kalau Cabel adalah murid baru karena penampilannya yang beda banget dari tahun lalu. Termasuk Carrie. Hha..

Malamnya, Janie bekerja dan setelah ia membacakan cerita pada Miss Stubin yang mulai tertidur, Janie langsung tersedot ke dalam mimpi wanita tua ini. Tapi sebelum Janie masuk lebih dalam dan melihat adegan yang terlalu intim, ia berhasil menarik diri dan tidak terhisap lagi. Sebuah kemajuan buat Janie. Lalu, suatu hari, Janie terhisap lagi ke mimpi tentang monster bertangan pisau itu. Tapi kini ia terhisap saat sedang di sekolah, dan  monster itu berubah menjadi Cabel Strumheller. Ya, ternyata mimpi itu milik Cabel.

14 Oktober 2005 Janie dan teman-temannya melakukan perjalanan karya wisata ke Stratford, Canada. Ternyata keputusan untuk ikut karya wisata ini sungguh konyol karena ia terus diserang mimpi secara bertubi-tubi saat sedang di dalam bus. Untung ada Cabel yang membantunya, setidaknya membantu agar orang lain tidak melihat Janie yang terus kejang, walaupun saat itu Cabel juga bingung apa yng terjadi pada Janie. Cabel bertindak sangat manis, ia memeluk Janie dan membiarkan Janie tertidur di dadanya, sampai Cabel sendiri tertidur dan Janie masuk ke mimpinya. Segalanya menjadi semakin jelas. Janie semakin tahu masa lalu Cabel dan ia ngeri. Ia terbangun dan panik. Belum lagi penglihatannya memerlukan waktu lebih lama untuk kembali dan tangannya semakin lama juga semakin kebas. Cabel marah karena tidak mendapat penjelasan dari Janie. Namun tentu saja tidak bertahan lama. Hari berikutnya mereka sudah berbaikan dan sejak itu hubungan keduanya benar-benar berkembang. Mereka mulai saling membuka diri.

Tanggal 15 mereka sudah dirumah lagi. Cabel bertanya, bisakah ia berkunjung besok malam. Janie mengiyakan. Hari berikutnya, Janie menunggu dan Cabel tidak datang. Tentu saja Janie kecewa dan marah karena membiarkan dirinya berharap akan suatu hubungan. Ia tidak mengijinkan Cabel menjelaskan. Hingga Janie membolos sekolah dan ijin kerja karena suasana hatinya sangat kacau. Tanggal 18, ia mendapat kunjungan dari Carrie dan akhirnya tahu kalau Cabel terlibat dalam urusan narkoba akhir minggu kemarin. Janie semakin kacau. Tanggal 19, Miss Stubin meninggal di depan mata Janie. Ia menangis dan cukup kehilangan. Menurutnya, Miss Stubin ini cukup istimewa dibanding pasien lainnya yang ia rawat. Tanggal 22 adalah saat yang mengejutkan bagi Janie. Ia mendapat sebuah surat dari Miss Stubin yang isinya sebuah cek senilai lima ribu dolar, dan sebuah surat yang berkata, “…Terimakasih atas mimpi-mimpiku. Dari seorang penangkap mimpi pada penangkap lain.” Nah lhoo.. Ternyata Janie tidak sesendiri yang ia kira. Walau sayang kenyataan ini sangat terlambat untuk ia ketahui.

Kini satu lagi hal yang menjadi ganjalan di hatinya, mengenai para penangkap mimpi. Apakah memang hanya dia dan Miss Stubin orang yang punya kemampuan ini? Seiring dengan perjalanan waktu, Janie mencari tahu.

Saat disisi lain ia bingung dengan kenyataan tentang Miss Stubin, disisi lain ia juga bingung dengan perasaannya. Ia jatuh hati pada Cabel. Namun sejak cowok itu dicampakan oleh Janie, ia berpaling pada cewek-cewek kaya di sekolahnya. Dan Shay Wilder adalah kekasihnya sekarang. Janie tahu pasti kalau Shay memang tergila-gila pada Cabel, lewat mimpi Shay saat karya wisata tentu saja. Kini Cabel berdandan semakin keren dan memakai barang-barang mahal. Menurut Carrie, semua ini pasti hasil penjualan ganja atau kokain. Kini Cabel seorang bandar. Ooh, benarkah begitu? Padahal Cabel pernah bilang ke Janie kalau ia tidak suka alkohol dan tidak memakai narkoba. Janie pun mulai tidak mempercayai Cabel.

23 Oktober 2005, pukul 01.34, Janie pergi kerumah Cabel dan bersembunyi di dekat jendela Cabel. Cabel bermimpi dan Janie terhisap. Mimpi tentang hal yang sama, lelaki tua yang membakar tubuhnya, lalu ada pemuda monster yang memenggal kepala, dan mimpi baru, ia bercinta dengan Shay. Pagi itu Janie tertatih kembali ke rumahnya karena tubuhnya sangat kelelahan dan kebas. Ia tertidur di ruang tamu, semakin kelelahan karena begitu sampai rumah, ia terhisap ke mimpi Carrie yang menginap di rumah Janie. Ia terkapar. Sesekali ia membuka mata, ia melihat Cabel duduk di sampingnya. Cabel pun membawa Janie ke kasurnya. Saat Janie terjaga sepenuhnya, ia menanyakan tentang hubungan Cabel dan Shay, lalu mengungkit tentang mimpi Cabel tentang Shay. Cabel marah. Lagi-lagi mereka tidak saling bicara untuk waktu yang lama.

26 November 2005, Janie memutuskan untuk memperlajari mimpi dan berusaha untuk merubah mimpi menjadi sesuatu yang tidak menakutkan. Walaupun susah payah, Janie berhasil. Ia berhasil mengendalikan mimpinya, mengendalikan lajunya, bahwa kali ini ia tidak tenggelam ke dalam danau, melainkan bernafas di dalamnya. Saat ia keluar dari danau, Cabel menantinya dan cowok itu mengungkapkan perasaan dan keinginannya agar Janie mau bicara lagi dengannya. Wow. Hingga akhirnya tanggal 5 Desember 2005, Cabel membuat Janie terkejut dengan ‘berbicara’ ─lagi─ pada Janie lewat mimpinya. Alamak. Ternyata itu memang perbuatan Cabel, membuat mimpi untuk Janie, maksudku. Janie penasaran, bagaimana bisa? Lalu Cabel memberitahunya. Mereka pun kembali menjalin kasih. Apalagi setelah Cabel membawa Janie kepada bosnya yang ternyata, wew, cukup mengejutkan. Kini malah Janie yang terlibat dalam dunia Cabel 😉

Ada satu dialog antara Janie dan Ibunya yang menurutku cukup lucu hingga membuatku tertawa. Janie sedang di panti jompo dan ibunya menelepon, menanyakan kapan Janie pulang karena ada seorang pemuda hippie yang menunggunya di pintu depan. Ini kejadiannya waktu Janie dan Cabel marahan. Lalu ibunya bertanya, “Apa aku harus khawatir soal orang diteras ini, atau aku bisa pergi tidur?” dan Janie menjawab, “Kau boleh tidur. Dia… ng… bukan pemerkosa.” Wkakaka.. lucu juga gimana Janie menanggapi Ibunya yang pemabuk ini. Astaga. Kini aku semakin ingin tahu bagaimana hubungan Janie dan ibunya. Cukup manis gimana cara Janie mengasuh ibunya yang ironis memang, karena harusnya ibunyalah yang mengasuh Janie.

Umm, yang aku sukai dari novel ini, selain penokohannya, adalah bagaimana cerita di sajikan. Tanpa basa-basi dan cukup menarik karena terdapat banyak kisah yang beragam dari mimpi-mimpi ini. Penuturan cerita dilakukan oleh orang ketiga dan mengandung unsur-unsur umum dalam keseharian, seperti cerita remaja pada umumnya, alkohol, drug, seks, persahabatan, percintaan, juga keluarga. Walaupun unsur triller suspense juga hadir kedalamnya, tidak menjadikan cerita menjadi sesuatu yang sangat kelam. Memberikan warna tersendiri dalam cerita.

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
Leave a comment

Posted by on August 29, 2011 in Paranormal