RSS

Category Archives: Magic

These are all books that deal with magic: wands, spells, curses, potions, hexes, thoughts (mind-magic), art, symbols, rituals, magical languages, witchcraft, etc.

The Immortals 4 – Darkflame


  • Pengarang               :    Alyson Noel
  • Genre                      :    Drama, Fantasy
  • Tebal                       :    400 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Mizan
  • Harga                      :    54.000 IDR
  • Pertama terbit          :    22 Juni 2010
  • Cetakan                   :    Oktober 2011
  • Tanggal Beli             :    30 Desember 2011

Damen mengerutkan kening. Dia mendesah dan menggeleng. Tatapannya muram. Tak pernah kulihat dia seperti itu sebelumnya. “Kenapa kamu memercayai Jude, Ever? Kenapa kamu menceritakan kelemahan-kelemahan kita kepadanya?”

Ever rela melakukan apa pun demi menyelamatkan Damen, cinta sejatinya, dari kutukan akibat ramuan yang diminumnya. Mulai dari memanfaatkan sahabatnya sendiri, Haven, sampai mempelajari ilmu sihir. Namun, ketika Ever mempraktikannya, sihir itu justru berbalik menyerangnya. Karena panik dan putus asa, dia meminta bantuan pada Jude, pria yang selama ratusan tahun selalu mengejar dan berusaha mendapatkan cintanya.

Kerumitan bertambah saat Damen mengetahuinya. Dia merasa cemburu, marah, serta kecewa terhadap Ever. Sementara itu, Ever yang semakin larut dalam ilmu sihir tanpa sadar malah berisiko mencelakakan Damen.

Review :

Astagaaa. Baru baca sinopsisnya aja aku uda dibikin kesel kali ma karakter Ever. Taulah guys, baru novel seri Immortals ini yang bikin aku bisa membenci sang tokoh utama karena, well, umumnya kita bakal mencintai atau at least, menyukai tokoh utama. Tapi entah kenapa sejak aku pertama baca seri Immortals ini aku ngga suka kali ma karakter Ever. Suer. Nah, sekarang saat aku memulai baca novel keempatnya, Darkflame, aku pikir seolah aku bicara, “Nah Ever, apa lagi kali ini ulahmu, nak?” Hhahhahaha..

Oke, kalo gitu kita mulai aja yaa.. Sebagai pembukaan, kita akan bertemu dengan Haven, sahabat Ever yang sekarang juga seorang Immortal. Tapi sayang, Haven baruuu saja mengetahui perihal perubahannya. Dan yaa, perubahan Haven jadi Immortal ini juga berkat Ever. Itulah kenapa kali ini Ever merasa bertanggung jawab untuk memberitahu Haven kenyataannya. Tapi jauh dari yang Ever kira, ternyata Haven menyambut kondisinya sekarang dengan suka cita. Menurutnya, hal ini sangat keren. Hhaha.. Tapi tentu saja Ever mengajari Haven segala aturan menjadi seorang Immortal yang harus dipatuhi.

Terlepas dari masalah dengan Haven, Ever melakukan praktik sihir lagi di kamar mandinya, daaaan, sesuatu yang buruk telah terjadi. Sihir itu malah berbalik arah, tidak sesuai dengan keinginan ever. Kemudian, saat Ever ingin menyelesaikan masalahnya dengan Roman dan tiba di depan toko milik Roman, ternyata muncul Jude. Karena masih marah karena merasa dikhianati Jude, Ever pun menyerang Jude dan melukainya cukup parah.

Oke, kita kembali mundur. Kenapa Ever marah pada Jude?? Kembali ke buku sebelumnya ─Shadowland─ dimana Ever menemukan fakta bahwa Jude memiliki tato Ouroboros yang menjadi ciri khas sindikat Roman yang jahat. Karena itulah Ever mengira kalau Jude adalah salah satu anggota Roman. Tik tok. Menurut kalian iya ngga Jude jahat?? Hmm.. Sayangnya, ngga seperti dugaan Ever sebelumnya, bahwa ia akan menusuk Jude dan lukanya akan kembali sembuh seketika. Tidak, Ever salah besar. Ternyata Jude tetap berdarah-darah, dan itu akibat sikap sok tahunya. Well, okelah kalau itu merupakan sistem pertahanan Ever dari musuhnya, tapi ya kira-kira dong. Kan ada kemungkinan Jude memang manusia biasa. Hadeeh..

Lanjut lagi. Kemudian ada masalah komplikasi terhadap Haven. Bukan komplikasi dalam artian yang sebenarnya, tapi komplikasi perubahan sikap yang membuat Ever dan Damen ngeri. Haven bukan lagi cewek minoritas yang biasanya tidak menarik perhatian. Sekarang ia jadi sosok yang tergoda oleh popularitas dan ingin menonjolkan diri karena kini ia merasa sempurna. Bahkan ia mengatakan pada Ever bahwa Ever iri padanya. Belum lagi ia berkata ia tidak membutuhkan ramuan Damen karena ada seseorang yang akan dengan senang hati menyuplai kebutuhan Haven, yaitu Roman, bebuyutan Ever. Ckck.. Ever menciptakan monster -.-a

Saking bingungnya dengan situasi sulit yang ia timbulkan terhadap Damen, terhadap sosok Haven yang berbalik mengancam kehidupannya, ketidak-akuran antara dirinya dengan si kembar ─Romy dan Rayne, belum lagi dengan kenyataan adanya sejarah cinta antara Jude dan dirinya di kehidupan yang lampau, dan yang paling berat adalah adanya efek magis dari sihir yang malah berbalik menyerangnya, membuat dirinya terikat pada Roman, membuat dirinya tergila-gila setengah mati pada sosok yang sebelumnya notabene adalah musuk yang ia benci hingga ubun-ubun tersebut, membuat Ever kecanduan pergi ke Summerland untuk melupakan sejenak masalah-masalahnya.

Selain itu, terpaksa Ever juga curhat pada Jude dan Jude pun mencoba untuk menolongnya. Namun disaat hubungan Ever dan Damen sedang retak, Damen mendapati Ever sedang pergi ke Summerland dengan Jude. Tentu saja hal ini membuat Damen marah dan kecewa. Hadeh, kasiannya lah orang inii 😦

Tapi terlepas dari itu semua, Ever menemukan sebuah fakta bahwa ternyata Ava ─sosok wanita yang pernah berkhianat darinya─ adalah reinkarnasi dari bibi si kembar ─Romy dan Rayne. Well, ada kepentingan apa yaa nanti Ava kebelakangnya?? Hhe..

Secara keseluruhan (di banding ke-3 novel sebelumnya) , aku lebih suka Ever di buku ini, walaupun, yaah, hanya di bagian belakang-belakang cerita aja. Hha.. Disini sifat Ever mendingan lah. Sikapnya ngga semenyebalkan sebelumnya, tapi ya itu ─kalian tau lah─ cuma di bagian belakang-belakang cerita aja, soalnya dibagian awal kisah menurutku sikapnya masih bikin jengkel 😛 Terlepas dari Ever, secara garis besar ceritanya sebenarnya udah bisa kelar karena tokoh antagonis telah teratasi. Tapi kalo gitu ya selesai dong seri novelnya?? Ngga, masih ada lanjutannya kok, karena akhirnya terlahir sosok jahat yang baru, dan kali ini bakal makin menarik karena sang musuh adalah si mantan sahabat. Wew..

Ratingku buat novel ini : 7,2

 
Leave a comment

Posted by on October 8, 2012 in Magic

 

The Mortal Instrument 4 – City of Fallen Angels


  • Pengarang               :    Cassandra Clare
  • Genre                      :    Fantasy, Adventure
  • Tebal                       :    580 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Ufuk
  • Harga                      :    89.900 IDR
  • Pertama terbit          :    5 April 2011
  • Cetakan                   :    Agustus 2011
  • Tanggal Beli             :    29 September 2011

Perang Mortal telah berakhir. Clary Fray kembali ke New York, bersemangat menghadapi berbagai kemungkinan di hadapannya. Dia berlatih untuk menjadi Pemburu Bayangan dan menggunakan kemampuan uniknya. Ibu Clary, Jocelyn Fray, akan menikah dengan pria yang dicintainya. Penghuni Dunia Bawah dan para Pemburu Bayangan akhirnya berdamai. Dan—yang terpenting dari semuanya—Clary akhirnya bisa menyebut Jace pacarnya. Tetapi, semua ada harganya.

Seseorang membunuhi Pemburu Bayangan, menyulut ketegangan yang bisa berujung perang berdarah kedua. Sahabat Clary, Simon, tidak bisa membantunya. Ke mana pun Simon menoleh, seseorang menginginkannya di pihak mereka—beserta kekuatan kutukan yang mulai merusak hidupnya. Selain itu, dia mengencani dua gadis yang cantik dan berbahaya—yang saling tidak mengetahui tentang yang lain.

Ketika Jace mulai menjauhi Clary tanpa menjelaskan alasa­nya, Clary dipaksa untuk menggali ke dalam inti misteri yang pemecahannya menyingkapkan mimpi terburuknya. Dia telah menggerakkan rantai peristiwa mengerikan yang dapat mem­buatnya kehilangan semua yang dia cintai. Bahkan Jace.

Review :

Saat aku mulai membaca novel ini, aku menduga, “Wah, kayaknya cerita kali nii lebih banyak fokus ke Simon nih..” Kenapa? Well, bukan semata karena cerita dibuka oleh Simon, tapi karena seiring perjalanan cerita, Simon banyak muncul. Hhe..

Awal cerita kita memang disuguhi dialog Simon Lewis dan Isabelle Lightwood di sebuah restoran tempat Simon dan Clary dulu sering nongkrong. Saat itu pertengahan Oktober, menjelang Halloween. Mereka sedang asyik mengobrol ketika dua manusia abdi vampir mendatangi mereka. Mr. Walker dan Mr. Archer adalah abdi vampir paling berkuasa di New York City, pemimpin klan terbesar di Manhattan. Otomatis Simon dan Izzie langsung menyangka Raphael Santiago, “ayah” dari Simon. Tapi ternyata mereka salah. Kedua abdi ini membawa Simon kepada Camille Belcourt, atasan Raphael dulu sebelum Raphael melakukan pembelotan dan menusuk Camille dari belakang. Camille pun menghilang dan Raphael lah yang mengambil alih kepemimpinan klan.

Kini Camille menghilang dan memanggil Simon untuk meminta pertolongannya. Camille meminta Simon untuk bergabung dengan klannya dan melawan Raphael karena Camille tahu, Simon lah yang ditakuti Raphael. Berkat anugrahnya sebagai Pengembara Siang, yaitu satu-satunya vampir yang mampu bertahan di bawah sinar matahari tanpa terbakar. Camille juga menawarkan akan memberikan beberapa pelajaran kepada Simon mengenai bagaimana hidup diantara manusia sebagai vampir karena, sungguh, inilah yang sekarang sangat dibutuhkan Simon. Camille pun memberi waktu lima hari untuk Simon mempertimbangkan penawarannya tersebut.

Kemudian, Simon curhat pada sahabat baiknya, Clary, bukan tentang pertemuannya dengan Camille karena Simon sudah berjanji tidak akan membicarakan pertemuannya dengan Camille pada siapapun. Simon hanya perlu pendapat Clary tentang bagaimana caranya untuk memberitahu kedua wanita yang sedang ia kencani bahwa masing-masing ada pihak ketiga diantara mereka. Lagipula, yang bikin Simon bingung, ia sebenarnya belum bener-bener menetapkan siapa yang jadi kekasihnya. Tapi tampaknya kedua wanita itu menganggap Simon adalah kekasihnya. Ckck.. Isabelle Lightwood yang jelita adalah seorang Pemburu Bayangan sementara Maia adalah seorang Manusia Serigala.  Tentu saja keduanya bertentangan.

Lalu untuk sejenak cerita beralih ke Clary dan Jace yang sedang berkencan saat latihan. Hhe.. Mereka ngobrol tentang banyak hal, terutama juga tentang kabar Alec Lightwood yang sedang berlibur dengan kekasihnya, Magnus si Warlock. Saat Clary akan pulang dan Jace mengantar Clary hingga ke lift Institut, perpisahan mereka entah kenapa terasa aneh. Jace seolah menyembunyikan sesuatu.

Lalu cerita kembali pada Simon yang sekarang punya anggota band baru bernama Kyle. Saat Simon pulang dari mengantar Clary, dia dihadang orang yang ingin menusuknya. Saat itulah ia melihat fungsi dari Tanda berupa kutukan tertua yang ditorehkan Clary padanya saat tragedi Alicante. Orang yang akan menusuk Simon tiba-tiba berubah menjadi ribuan keping berkilau dan.. wuss, menghilang. Simon syok. Inilah kutukan yang ada pada dirinya. Siapapun yang akan membunuhnya pasti mati terlebih dahulu. Pembalasan tujuh kali lipat.

Belum cukup kejadian yang membuatnya depresi, sesampainya dirumah ternyata sang ibu telah menantinya. Well, akhirnya kehidupan rahasia Simon terbongkar. Sang Ibu menemukan berbotol-botol darah yang Simon sembunyikan dalam lemarinya. Terpaksa Simon pergi dari rumah dan rumah Kyle lah yang jadi tempat ia bernaung untuk sementara ini. Kehidupan pun berlanjut..

Clary masih sibuk membantu Ibunya, Jocelyn ─yang akan menikah dengan kekasihnya, Luke─ mempersiapkan tetek bengek pernikahan itu. Kemudian ada saat Jace menolong Simon saat cowok itu kembali dihadang dua orang tak dikenal yang ingin membunuhnya. Disaat yang sama, Clary dan Luke sedang pergi bersama Maryse Lightwood ke Kota Hening untuk menemui Saudara-Saudara Hening. Clary punya ide untuk membuat yang mati untuk berbicara. Nah lhoo.. Well, semakin bertambahnya Pemburu Bayangan yang mati karena dibunuh, maka Clary menawarkan alternatif itu untuk mengungkap pembunuhan ini. Mereka pun menemui Saudara Zachariah, dan beliau membawa Maryse dan yang laen ke Ossuarium, semacam ruang mayat menurutku 😉

Yang terakhir dari yang mati terbunuh sudah disiapkan untukmu. Apa kau siap?” Dan mau nggak mau Clary harus siap karena ini idenya. Clary menggambar rune kuno yang menghidupkan kembali ia yang mati. Tentu saja menakutkan bahwa yang mati tercabik kembali terbangun dan merintih kesakitan. Namun dengan interogasi Maryse yang tajam, mereka berhasil mendapatkan satu nama, yang kemungkinan besar bertanggung jawab atas kematian para Pemburu Bayangan, yaitu Camille.

Sangat manis saat Jace dan Simon bisa ngobrol berdua di apartemen tempat Simon tinggal. Lalu, saat Jace bertemu dengan Kyle, semuanya menjadi jelas, bahwa ternyata selama ini Simon tinggal dengan seorang manusia serigala. Hmm.. Ternyata Kyle adalah serigala dari sebuah aliansi bernama Praetor Lupus, semacam ‘Pengawal Serigala’, yaitu sebuah organisasi yang sangat menyembunyikan diri yang punya tujuan operasional sebagai ‘ibu’ yang mendidik dan mengarahkan Penghuni Dunia Bawah ─termasuk Serigala, Vampir, bahkan Warlock─ yang baru saja ‘lahir’ dan ‘yatim piatu’, mencoba membantu mereka untuk mengendalikan kekuatan-kekuatan mereka.

Yang lucu, awalnya Jace dan Kyle memang kayak orang musuhan. Tapi kemudian, karena mendadak mereka punya misi yang sama yaitu melindungi Simon maka, boom, mereka pun jadi teman. Hha.. Tapi manis kali lihat tiga orang ini bekerja sama untuk mengungkap, siapa dalang sebenarnya yang menginginkan kematian Simon, dan apakah semua ini berhubungan dengan kematian para Pemburu Bayangan 😉

Langkah pertama mereka, Simon menjadi semacam umpan. Ia manggung bersama bandnya di semacam kafe. Kyle sebagai vokalis sementara Jace mengamati dari balik panggung. Kemudian, di tengah penampilan, Simon merasa semakin tidak enak badan karena untuk waktu yang lama ia belum minum darah lagi. Ia kekurangan nutrisi. Ia pun akhirnya merasakan nikmatnya meminum darah manusia untuk kali pertama. Heuu.. Naluri ke-vampir-annya  menguasai dirinya 😉

Sementara itu, Maryse dan Luke mengadakan pertemuan dengan Raphael. Cerita yang disampaikan dari sudut pandang Raphael sama dengan cerita dari sudut pandang Cammile mengenai masing-masing. Waktu itu Camille menceritakan keburukan Raphael pada Simon, dan kini, Raphael menceritakan keburukan Camille yang sama persis, kepada Maryse dan Luke. Well, jadi belum tahu siapa sesungguhnya tokoh jahatnya disini, apa memang Raphael ataukah Camille?? 😉

Kalau dari cerita mengenai asmara Clary dan Jace sendiri, tampaknya hubungan mereka bener-bener mulai renggang. Aku masih belum ngerti alasan Jace kenapa ia ga bisa bicara, bersama, atau bahkan hanya menatap Clary? Haiss.. Selalu Jace yang menghindar dan nggantungin Clary. Payah.. Namun, saat mereka mulai merasakan api asmara mereka kembali membara, sayang sekali harus ada interupsi dari Izzie, dan lagi-lagi Jace seolah merasa bersalah terhadap Clary dan kabur ─lagi─ meninggalkan gadis itu dalam kebingungan.

Saat Simon masih menikmati darah Maureen, gadis cilik yang mengidolakan band Simon, beruntung Kyle datang dan menyelamatkan Maureen. Lalu masalah demi masalah terjadi. Saat Simon sedang bersama Izzie, muncul Maia yang mempergoki mereka. Kini keduanya tahu kalau mereka masing-masing diduakan. Lalu saat wanita-wanita muda ini siap ‘menyerang’nya, muncul Kyle dan Simon merasakan kelegaan yang sangat. Namun sayang, giliran Kyle yang diserang ─benar-benar diserang dengan membabi buta, oleh Maia. Ternyata Kyle adalah mantan Maia yang dulu merubah Maia menjadi manusia serigala dan meninggalkan Maia begitu saja tanpa penjelasan. Akhirnya ketahuan kalau Jordan lah nama depan Kyle.

Kini situasi Kyle dan Simon jadi aneh. Namun akhirnya Kyle ─atau Jordan─ membuka diri. Ia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya dulu dengan Maia. Nah, saat sedang curhat itulah ada seseorang yang membunyikan bel pintu Jordan. Seseorang meninggalkan ancaman untuk Simon bahwa pacarnya sedang disandera dan kalau Simon tidak datang ke alamat yang diperintahkan, maka si pacar akan dibunuh. Nah lhoo, pacar yang mana nii?? Pasalnya cewek-cewek yang ada di kehidupan Simon setelah dihubungi, baik-baik saja.

Hanya saja, di saat yang sama Clary malah diserang di bangunan yang mirip Gereja, dan alamatnya sesuai dengan alamat yang didapatkan Simon. Awalnya, Clary mendapatkan alamat ini setelah ia menulis sebuah rune di secarik kain yang berasal dari bayi iblis yang sebelumnya Clary dan Jocelyn lihat di kamar mayat rumah sakit. Setelah rune tertoreh, muncullah alamat ini, dan Clary seorang diri masuk ke bangunan tersebut. Tentu saja Clary menemukan sebuah petunjuk yang sangat penting, bahwa ternyata ada seseorang yang sedang ‘menciptakan’ banyak bayi seperti Jonathan dulu.

Wew.. Kayamana lah ni arah masalahnya? Cukup banyak tampaknya. Belum lagi ditambah dengan Camille, yang berkat Simon dan Jace, berhasil ditangkap dan sayangnya Camille hanya mau menjawab pertanyaan interogasi yang diajukan oleh Magnus Bane, sang mantan kekasih. Hmm, nambah lagi kan masalah. Tentu saja Alec jadi sering uring-uringan karena mengingat riwayat percintaan Magnus selama ratusan tahun ini :O Ngeri 😛 Tapi heii, ternyata di belakang Camille, masih ada seorang pengendali yang lebih hebat dan lebih kuat lagi. Dan tampaknya inilah ancaman terbesarnya karena ia jelas menginginkan kehancuran keseimbangan penghuni dunia ini. Ouch 😉

Ratingku buat novel ini : 8,8

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2012 in Magic

 

Skulduggery Pleasant 3 – The Faceless Ones


  • Pengarang               :    Derek Landy
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    296 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    45.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2 April 2009
      • Cetakan                   :    Juli 2011
  • Tanggal Beli             :    5 September 2011

Valkyrie menjerit, berderap ke arah Skulduggery. Skulduggery mendongak dan menggapai ke arah Valkyrie, namun sudah terlambat…

Gerbang berhasil dibuka dan para Sosok Tanpa Wajah kembali ke dunia. Dunia memang tidak langsung berakhir. Terlebih dulu para Sosok Tanpa Wajah akan menguasai tubuh manusia, menghancurkan kota dan desa, membakar daerah pinggiran, membunuh miliaran orang, memperbudak miliaran lainnya, mempekerjakan mereka sampai mati, lalu barulah dunia akan berakhir.
Seharusnya Skulduggery dan Valkyrie mengalahkan para Sosok Tanpa Wajah sebelum mereka menguasai dunia. Seharusnya mereka mengusir para Sosok Tanpa Wajah dan menutup gerbang selamanya. Beberapa orang akan terluka, tapi pada akhirnya dunia akan selamat. Seharusnya seperti itu. Tapi, yah, mungkin bukan itu yang terjadi kali ini.

Review :

Valkyrie dan Skulduggery sedang berada di TKP pembunuhan seorang Ahli Teleportasi bernama Cameron Light. Hingga saat ini telah terjadi 4 pembunuhan yang semua korbannya adalah Ahli Teleportasi. Tentu saja hal ini membuat keduanya penasaran apa sebenarnya motif pembunuhan ini hingga akhirnya mereka memiliki beberapa teori. Kemudian, muncul Remus Crux, seorang detektif utama Tempat Suci yang sangat -sangat- menyebalkan.

Skulduggery dan Valkyrie menggunjungi Tempat Suci untuk bertemu dengan si Ahli Sihir Utama yang juga sangat -sangat- menyebalkan, Thurid Guild. Skulduggery dan Valkyrie masih beranggapan bahwa Guild adalah pengkhianat, mata-mata Baron Vengeous di Tempat Suci. Makanya saat pertemuan itu muncul perdebatan sengit antara Skulduggery dan Guild. Kacau.

Saat keluar dari gedung Tempat Suci, seorang Ahli Teleportasi bernama Emmett Peregrine menemui Skulduggery dan Valkyrie. Dari Peregrine, mereka mendapat informasi mengenai pembunuhan seorang Ahli Terleportasi 50 tahun yang lalu, Trope Kessel. Selain itu ada seorang Ahli Teleportasi baru dari Inggris bernama Fletcher Renn. Renn adalah seorang anak laki-laki yang tidak terlatih, tak memiliki disiplin, dan menurut Peregrine adalah seorang anak yang menyebalkan. Hmm 😉

Nah, nah.. Seperti kebiasaan Derek Landy terhadap novel-novel Skulduggery Pleasant sebelumnya, buku kali ini pun tidak pernah ketinggalan leluconnya. Selalu saja ada bagian dari cerita yang bikin aku ketawa saat membacanya. Misal saat Valkyrie sedang kelaparan dan ingin makan sereal tapi kehabisan susu dan malah terlibat percakapan dengan ayahnya yang meminta saran Valkyrie tentang hadiah pernikahan untuk sang ibu. Hhaha..

  “Dad?”
                 “Ya, Sayang?”
                 “Dad tahu kan betapa aku menyayangimu?”
                 “Ya.”
                 “Apakah Dad mau keluar untuk membelikanku susu?”
                 “Tidak.”
                 “Tapi aku sayang padamu.”
                 “Dan aku sayang padamu. Tapi tidak sesayang itu untuk membelikanmu susu. Makan roti panggang saja.”
 

Serius, aku ngakak waktu baca bagian itu. Hhahaha.. Konyol kali. Aku bener-bener suka dengan cara Landy membuat lelucon yang sarkastis gini. Hhe..

Hari berikutnya Skulduggery dan Valkyrie pergi ke Danau Upper untuk menemui seorang yang mungkin adalah saksi atas pembunuhan Ahli Teleportasi 50 tahun yang lalu. Nenek Lautan sebutannya. Dengan cara pemanggilan yang cukup lucu, kemudian muncullah seorang nenek dari dalam danau. Menurut Valkyrie, nenek itu seperti ikan duyung yang sangat tua, dan benar-benar jelek. Hhaha.. Lalu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Skuduggery, si Nenek Lautan memanggil Trope Kessel, atau setidaknya sisa tubuh Trope Kessel. Well, lucu juga sih. Tapi tar Kessel memberi Skulduggery banyak informasi. Bahwa dugaan motif pembunuhan dulu dan sekarang adalah sama melihat cara korban-korban ini mati −ditusuk di punggung− semakin kuat. Ternyata Kessel dulu dibunuh oleh lelaki bernama Batu karena Kessel tahu bagaimana cara membuka Gerbang yang akan membuka dan menggembalikan Sosok Tanpa Wajah ke sini. Batu membunuh Kessel untuk menghapus jejak orang yang tahu cara membuka Gerbang.

Hanya saja, untuk mengembalikan Sosok Tanpa Wajah, ada dua hal yang dibutuhkah, yaitu Jangkar Isthmus, benda yang diikat benang tak kasatmata yang menghubungkan dunia ini ke dunia lain. Namun fungsi Jangkar ini sia-sia saja tanpa ada seseorang yang membukakan gerbang, dan hanya seorang Ahli Teleportasi yang mampu melakukannya. Kalau gitu, sebenarnya Ahli Teleportasi dibutuhkan dong? Tapi kenapa dibunuhi satu persatu? Nah, kini hipotesis Skulduggery dan Valkyrie adalah bahwa si pembunuh ini bukan orang yang benar-benar jahat. Ia hanya orang baik yang pemikirannya keliru 😉

Tujuan Akuldeuggery dan Valkyrie berikutnya adalah perpustakaan China Sorrows. Bersama China mereka berdiskusi dan menemukan titik cerah kemungkinan dimana Fletcher Renn berada. Segera Skulduggery dan Valkyrie menghampiri tempat itu. Tentu saja mereka menemukan Renn, hanya saja pemuda ini juga sedang menjadi incaran Sanguine. Beruntung akhirnya lepas dari Sanguine, mereka membawa Renn ketempat yang aman, laboratorium tersembunyi milik Profesor Kenspeckle Grouse.  Disini guys, sosok Renn ini digambarkan sebagai pemuda pemberontak yang gaya dan menyebalkan. Pokoknya soksok-an tapi ujung-ujungnya nurut aja sama Skulduggery 😛

Tanith Low mendapat tugas untuk mengawasi Emmett Peregrine sementara sang Ahli Teleportasi beristirahat. Tapi karena lengah, Peregrine berhasil dibunuh, dengan cara yang sama seperti para Ahli Teleportasi lain mati. Sayangnya Tanith harus lari karena ia menghadapi tiga orang, dengan dirinya yang terluka dan tanpa senjata.

Skulduggery dan Valkyrie mengunjungi Finbar Wrong. Seorang Sensitif. Skul membutuhkan Finbar untuk berada dalam keadaan trans dan mencari lokasi pintu gerbang untuk para Sosok Tanpa Wajah. Setelah berhasil mendapatkan perkiraan tempatnya, Skulduggery dan Valkyrie lanjut menemui Solomon Wreath, seorang Ahli Nekromansi. Perjalanan pun berlanjut dan kemudian ia menyadari apa yang sesungguhnya ia cari dan yang jadi incaran musuh-musuhnya juga, yatu sisa tubuh Grotesquery. Ia tahu siapa yang menyimpannya, maka ia dan Valkyrie segera menuju TKP, yaitu Tempat Suci.

Setelah melakukan beberapa siasat, Skulduggery dan Valkyrie berhasil mencapai ruangan dimana sisa tubuh Grotesquery disimpan, walaupun, wew, pertahanannya cukup ketat. Sisa tubuh itu dikerangkeng dan tergantung di atas tanah dengan selusin rantai, bahkan di kerangkengnya terdapat banyak simbol yang cukup bahaya kalau tersentuh. Bisakah Skulduggery dan Valkyrie membawa pergi kerangkeng itu?? Sayang, saat baru mencari cara untuk membawa pergi Grotesquery, rombongan Gruesome Krav muncul. Mereka juga akan mencuri sisa tubuh Grotesquery. Ckck.. Skulduggery dan Valkyrie kurang cepet..

Tentu saja Skul dan Valkyrie harus menghadapi Krav, Diablerie dan Sanguin terlebih dahulu. Perkelahian pun tak terhindarkan. Tapi sayangnya Skulduggery dan Valkyrie harus kalah dan malah jadi buronan Tempat Suci. Wew..

Skulduggery membawa Valkyrie ketempat Profesor Kenspeckle Grouse untuk mendapat pengobatan terhadap giginya yang patah akibat hantaman Sanguine. Tak butuh waktu lama bagi Kenspeckle mengganti gigi Valkyrie, namun lelaki tua itu semakin geram pada Skulduggery yang dinilainya tidak bertanggungjawab karena membahayakan nyawa seorang anak-anak. Saat Skulduggery dan Valkyrie akan melanjutkan perjalanannya, ada kabar bahagia. Ghastly Bespoke kembali menjadi sosok manusia setelah dua tahun membatu! 😀 Well, tentu saja Valkyrie girang setengah mati setelah tahu lelaki mirip petinju itu telah pulih.

Ghastly, Skulduggery, Valkyrie, Tanith dan Fletcher berkumpul di Toko Jahit Bespoke. Mereka mengobrol dan bahkan Fletcher melontarkan rayuan pada Tanith hingga membuat Valkyrie memutar bola matanya. Hhaha.. Ghastly membuatkan Valkyrie sepatu boot baru. Hingga kemudian tiba-tiba Skulduggery mengumumkan bahwa mereka harus segera pergi ke Pertanian Aranmore milik Paddy Hanratty karena si pemilik melaporkan ada orang-orang aneh yang mendatangi pertaniannya. Rupanya pertanian itu adalah tempat dimana Gerbang untuk membebaskan para Sosok Tanpa Wajah berada, maka tidak heran kalau Diablerie dan kawan-kawan mendatangi tempat ini. Hanya Fletcher lah yang bisa menemukan lokasi pastinya. Maka berangkatlah rombongan ini ke Aranmore.

Setelah menemukan lokasi pasti Gerbang itu, rombongan Skulduggery kembali ke Dublin. Skulduggery dan Valkyrie melanjutkan petualangan dengan mencari Kristal Hitam untuk Tongkat Tetua yang merupakan satu-satunya senjata yang cukup kuat untuk membunuh para Sosok Tanpa Wajah. Skul dan Valkyrie mencoba mempertimbangkan kemungkinan terburuk kalau makhluk-makhluk itu berhasil bebas. Demi mendapatkan informasi mengenai Kristal Hitam, Skulduggery dan Valkyrie pergi kerumah Gordon Edgley, paman Valkyrie yang telah meninggal dua tahun yang lalu. Di rumah ini mereka mendapat petunjuk bahwa Kristal yang mereka cari ada di dalam gua bawah tanah rumah Gordon dan hanya Valkyrie yang dapat mendekatinya.

Perjalanan mereka mendapatkan Kristal ini cukup lancar hingga saat mereka akan kembali ke permukaan, Valkyrie tertahan dan ditawan oleh Anathem Mire, si penjaga Kristal yang ‘merindukan’ makhluk hidup. Terpaksa, Valkyrie kejar-kejaran dengan si hantu dulu. Begitu berhasil terbebas dari si hantu, Valkyrie dan Skulduggery langsung kabur dan kembali ke permukaan. Selanjutnya tujuan mereka adalah Perpustakaan milik China dimana mereka akan mendapatkan Tongkat Tetua.

Sementara itu, terjadi pengepungan di Bioskop tempat Laboratorium Profesor Kenspeckle Grouse berada. Tentu saja pengepungan itu untuk mencari Fletcher, namun untungnya pemuda itu sudah kabur duluan.

Esok harinya saat Valkyrie kembali kerumah untuk mengantar keberangkatan orangtuanya ke Paris, Remus Crux, si detektif Tempat Suci, mengunjungi rumah Valkyrie dan memberitahukan perihal penahan Valkyrie. Tentu saja Valkyrie menolak dan kabur. Tapi sayang, kali ini Valkyrie kalah cepet karena Crux membawa bantuan para Panjagal. Valkyrie pun tertangkap dan dikirim ke sel tahanan. Heuu. Kali ini si tokoh menyebalkan menurutku ya si Crux ini. Sumpa, bikin gondok dia nii. Gaya bener orangnya. Soksok-an. Brr..

Walaupun suasana serasa mulai membahayakan, beberapa kali Derek Landy tetap menyisipkan guyonan segar dan selalu mengundang tawa dalam ceritanya. Tidak jarang aku terbahak karenanya. Tetap, gaya bahasa yang santai dan menyenangkan menjadi salah satu hal yang aku sukai dari seri Skulduggery Pleasant ini. Ga mengecewakan lah 😀

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
2 Comments

Posted by on February 2, 2012 in Magic

 

Skulduggery Pleasant 2 – Playing With Fire


  • Pengarang               :    Derek Landy
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    264 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    40.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan                   :    2011
  • Tanggal Beli             :    10 Agustus 2011

Dunia kembali terselamatkan setelah kematian Serpine. Setidaknya itu menurut Valkyrie dan Skulduggery, sampai mereka mengetahui Baron Vengeous yang tersohor melarikan diri dari penjara. Bersamaan dengan itu vampir dan para Yang Tertular bermunculan di seluruh Irlandia.

Valkyrie dan Skulduggery tahu Vengeous mengincar baju besi Lord Vile. Baju besi itu akan memberikan kekuatan bagi sang baron untuk membangkitkan Grotesquery dan memanggil kembali para Sosok Tanpa Wajah. 

Namun masih ada satu bahan yang kurang: darah Tetua yang dimiliki Valkyrie. Vengeous dan kawanannya pun memburu Valkyrie. Tentu saja Skulduggery tidak membiarkan sahabatnya menjadi bulan-bulanan sang baron. Hanya saja mereka tidak menyangka ancaman yang mereka hadapi kali ini jauh lebih berbahaya.

Review :

Cerita dimulai oleh Valkyrie Cain dan Skulduggery Pleasant yang menghadapi Vaurien Scapegrace, seorang pembunuh ─yang belum benar-benar membunuh korbannya (tapi lagaknya udah kayak pembunuh profesional aja)─ di berbagai negara. Hha..

Valkyrie dan Skulduggery membawa tahanan mereka kepada Ahli Sihir Utama yang baru, Thurid Guild. Guild mengambil alih posisi ketua Dewan Penyihir Sesepuh sementara ia juga masih harus  menyeleksi dua penyihir yang akan memerintah bersamanya, dan salah satunya adalah Mr. Bliss. Saat Skulduggery menyerahkan sang tawanan, Guild membawa mereka ke ruang bermeja panjang dimana terdapat Mr. Bliss. Mereka mendapat kabar mengenai Baron Vengeous yang kabur dari sebuah  penjara dengan penjagaan super ketat di Rusia. Baron Vengeous adalah salah satu dari tiga Jenderal Mevolent yang keji, sangat fanatik, amat cerdas, dan teramat kuat. Skuduggery lah yang menangkap Vengeous delapan puluh tahun yang lalu. Dan Vengeous termasuk orang yang susah ditangkap.

Kini Skulduggery dan Valkyrie bertugas melacak dan menangkap Vengeous lagi. Pertama, ia mengunjungi China Sorrows. Bersama wanita itu, mereka merundingkan kemungkinan apa yang akan dilakukan Vengeous, yaitu membangkitkan para Sosok Tanpa Wajah lagi, yang nanti kebelakang dengan cara menciptakan makhluk hibrida yang disebut Grotesquery, sehingga Grotesquery ini dapat membuka portal untuk memanggil Sosok Tanpa Wajah. Dulu sebelum tertangkap oleh Skulduggery, Vengeous sedang menyiapkan pembangkitan. Hanya saja ada dua bahan yang dibutuhkannya namun saat itu belum ditemukan. Baju besi Lord Vile yang mengandung kekuatan nekromansi dan satu lagi tidak diketahui dengan pasti apa benda itu, namun berfungsi untuk mempertahankan para Sosok Tanpa Wajah agar tetap hidup. Kabarnya, kini rekan-rekan Vengeous telah menemukan bahan kedua ini.

Disisi lain, Kita akhirnya tahu kalau anak buah Vengeous yang bernama Sanguine lah yang membebaskannya dari penjara. Kemudian Vengeous memerintahkan Mr. Dusk untuk menangkap Valkyrie hidup-hidup. Hampir saja Valkyrie tertangkap oleh si vampir ini. Untung Skulduggery menolongnya. Tapi lagi-lagi Valkyrie hampir tertangkap dan kali ini oleh Mr. Billy-Ray Sanguine sendiri, yang bisa masuk dan keluar dari tanah sesuka hati. Saat itu Valkyrie sedang mengunjungi China sementara Skulduggery pergi untuk mengurus urusannya. China kedatangan tamu, si buronan, Baron Vengeous. Sementara China melawan Baron, Valkyrie dikejar-kejar Sanguine. Tapi kali ini Tanith lah penolongnya. Terjadi battle antara Tanith dan Mr. Sanguine. Hhe.. Ini yang aku suka dari buku ini. Walaupun terjadi pertarungan, situasi yang diciptakan tidak benar-benar situasi yang menegangkan, melainkan malah kekonyolan. Serius. Ceritanya jatuhnya malah lucu. Hha..

Selesai berhadapan dengan Sanguine dan Baron, Tanith dan Valkyrie pergi ke kediaman Gordon yang sekarang menjadi milik Valkyrie. Mereka berniat untuk mencari tahu tentang Grotesquery di salah satu buku milik Gordon. Saat Valkyrie menyusuri buku-buku di rak ruang kerja Gordon, ternyata ia menarik sebuah buku yang merupakan kunci rahasia untuk sebuah kamar rahasia. Lemari di depan Valkyrie berputar dan menampakkan ruangan lain. Valkyrie kagum dengan keberadaan ruang yang tampaknya menyimpan berbagai macam koleksi benda sihir, termasuk Batu Gema yang memunculkan memori dari Gordon. Awalnya Valkyrie jelas kaget dengan keberadaan pamannya yang tiba-tiba berdiri di depan matanya. Begitu juga Gema-Gordon, kaget saat melihat keponakannya di ruangan itu. Barulah si Gema-Gordon tahu kalau ternyata Gordon asli telah meninggal. Dari Gema-Gordon ini Valkyrie mendapat informasi mengenai Sang Torment yang kemungkinan tahu mengenai keberadaan Grotesquery.

Saat keluar dari rumah Gordon, Skulduggery baru saja tiba. Kepada kedua kawannya, Valkyrie hanya mengatakan bahwa ia mendapat informasi mengenai Sang Torment dari sebuah buku. Gema-Gordon masih membutuhkan waktu untuk mencerna kenyataan bahwa ia kini adalah satu-satunya versi Gordon yang ada di muka bumi ini. Jadi ia melarang Valkyrie untuk mengungkapkan keberadaannya dulu. Hhaha..

Segera Valkyrie, Skulduggery, dan Tanith mendatangi Vaurien Scapegrace, orang yang tahu dimana Sang Torment berada. Setelah menjalani tekanan ─yang cukup lucuu─ dari Skulduggery dan Tanith, Scapegrace akhirnya mengaku kalau ia tahu dimana Sang Torment berada. Yaitu di Roarhaven, kota para penyihir yang tidak pernah ramah pada orang asing. Mendapatkan informasi dari Torment pun tidak lebih mudah. Skuduggery harus melakukan kesepakatan dulu, Torment akan memberi informasi tentang Grotesquery asalkan Skulduggery membunuh Valkyrie. Alamak. Beneran deh.. Mau nggak mau Skulduggery membunuh si Valkyrie demi informasi itu. Tapi untungnya ia punya siasat dan Valkyrie bisa tetep hidup. Ahhahai..

Di Bancrook, Vengeous berhasil mendapatkan Grotesquery dan Skulduggery harus menghadapi kelompok ini seorang diri karena ia meminta Valkyrie untuk bersembunyi. Vengeous menginginkan Valkyrie namun Skulduggery belum tahu alasannya, itulah kenapa ia tidak mau mengambil resiko Valkyrie diincar Vengeous lagi. Tapi tetep aja akhirnya Valkyrie dikejar-kejar. Bahkan ketangkap oleh Sanguine dan dibawa olehnya kepada si bos, Vengeous. Ternyata darah Tetua yang mengalir di pembuluh darah Valkyrie lah yang dibutuhkan oleh Vengeous untuk membangkitkan Grotesquery. Itulah bahan yang selama delapan puluh tahun ini tidak didapatkannya.

Saat Valkyrie hampir saja membangkitkan si Grotesquery, Skulduggery datang dan melakukan tawar menawar. Valkyrie pun diserahkan kembali ke Skulduggery. Skulduggery punya rencana dan Valkyrie harus mengikuti rencana itu, yaitu Valkyrie harus menyetir dan membawa kabur van yang nanti akan diisi tubuh Grotesquery. Berhasil memang, tapi Valkyrie jadi babak belur. Saat di tempat Kenspeckle Grouse untuk mendapat pengobatan inilah ada adegan yang bikin ngakak 😀 Lucuu kali.. Hha.. Sarkasme di novel ini memang jadi penghiburan tersendiri. Konyol abis..

Tapi sayangnya Grotesquery berhasil bangkit. Yang lebih parah, makhluk hibrida itu punya banyak kemampuan yang sangat menyulitkan Valkyrie, Skulduggery, dan Tanith. Bahkan Tanith terkena racun Helaquin yang sudah limapuluh tahun tidak terpakai, jadi sekarang hidup Tanith paling nggak hanya duapuluh menit lagi kalau mereka tidak segera mencapai Tempat Suci dimana terdapat penawarnya. Aduduh.. Sepertinya semua semakin runyam, apalagi sekarang Valkyrie juga jadi incaran si vampir Dusk karena rupanya Valkyrie berhasil membuat vampir itu dendam setengah mati dan mengejar Valkyrie untuk membunuhnya.

Di akhir-akhir cerita terjadi pertarungan yang seru dan mantap. Dan yang jelas, masih menyisakan misteri tentang sebuah kelompok rahasia bernama Diablerie yang menjadi atasan Sanguine karena ternyata si Sanguine ini memiliki bos selain Vengeous alias menghianati Vengeous. Aku yakin, jati diri Diablerie akan menjadi topik utama di buku ketiga, The Faceless Ones.

Seperti buku sebelumnya, jilid kedua ini juga nggak kalah seru. Dan lucu, yang pasti. Hhaha.. Yang pasti, aku nggak nyesel baca buku ini 🙂 Tidak ada suatu basa-basi yang nggak perlu di novel ini karena menurutku, setiap adegannya selalu memberi informasi atau terdapat sebuah pertarungan yang asyik dan konyol 😀

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
3 Comments

Posted by on August 31, 2011 in Magic

 

Skulduggery Pleasant 1


  • Pengarang               :    Derek Landy
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    280 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    38.500 IDR
  • Pertama terbit          :    19 Maret 2007
  • Cetakan                   :    2010
  • Tanggal Beli             :    30 Juli 2011

Gordon, paman Stephanie, adalah penulis novel horor fiksi. Setidaknya itu yang Stephanie pikir, sampai Gordon meninggal dan mewariskan rumahnya pada Stephanie. Kemudian Stephanie menemukan bahwa buku-buku Gordon mungkin memang horor, tapi tidak benar-benar… yah, fiksi.

Terlempar masuk ke dunia vampir, penjahat, dan para Manusia Hampa yang mengerikan, Stephanie mendapatkan bantuan dari seseorang yang tidak lazim: Skulduggery Pleasant, kerangka penyihir mati yang suka melontarkan komentar-komentar sarkastis. Saat kekacauan terjadi, Stephanie beruntung karena ia bukan gadis dua belas tahun biasa ─dan Skulduggery beruntung karena ia sebenarnya sudah mati.

Apakah kejahatan akan menang? Apakah Stephanie dan Skulduggery akan berhenti cekcok cukup lama untuk menyelamatkan dunia? Satu hal yang pasti: orang-orang jahat itu tidak tahu apa yang akan menimpa mereka. Karena Skulduggery dan Stephanie suka mencari masalah, terutama dengan orang-orang jahat.

Review :

Waktu pertama aku buka halaman buku ini, astaga, kataku.. Kenapa? Habisnya buku ini termasuk padat oey.. 34 baris perhalaman. Belum lagi tulisannya yang rasaku kecil, jadi terkesan tiap halamannya tu padet banget. Hhe..

Awal cerita kita bertemu dengan Stephanie Edgley. Ia sedang menghadiri pemakaman pamannya, Gordon, yang meninggal tiba-tiba. Di pemakaman inilah Stephanie melihat seseorang yang berdiri jauh dari kerumunan, lelaki bermantel coklat muda, terkancing rapat meski siang itu cuaca panas, dengan syal menutupi separuh bagian bawah wajahnya, dan memakai topi lebar dan kacamata hitam raksasa. Stephanie penasaran. Namun kemudian lelaki itu pergi dan menghilang di balik deretan batu nisan.

Hari berikutnya ia dan kedua orangtuanya mendatangi rumah Mr. Fedgewick, pengacara Gordon, untuk mendengarkan pembacaan surat wasiat. Setibanya disana, sudah ada paman dan bibinya yang menyebalkan, Fergus dan Beryl. Dari awal cerita ini, kita jadi tahu bahwa ayah Stephanie tiga bersaudara, Gordon, Desmond, dan Fergus. Gordon tidak pernah menikah tapi punya harta kekayaan yang melimpah. Desmond, ayah Stephanie, menikah dengan ibu Stephanie yang ternyata pernah berkencan dengan Gordon, namun beliau malah jatuh cintanya sama Desmond, menikah, dan punya anak tunggal, ya Stephanie ini. Lalu yang terakhir adalah Fergus. Fergus adalah saudara yang tamak, tidak berbeda dengan istrinya, Beryl, yang juga mata duitan, bahkan kedua anak kembar mereka pun juga menyebalkan, Crystal dan Carol.

Nah, saat pembacaan surat ini, ternyata tidak hanya dihadiri keluarga yang bersangkutan, tapi juga seorang lelaki bernama Mr. Skulduggery Pleasant, dan ternyata eh ternyata, lelaki ini adalah lelaki yang dilihat Stephanie di pemakaman. Saat pembacaan surat wasiat muncul kehebohan dari  Fergus dan Deryl yang sangat mengharapkan harta benda Gordon. Tapi ternyata mereka hanya mendapat sebuah kapal, mobil, dan hadiah berupa bros. Bagi mereka ini sangat ─sangat─ mengecewakan karena ternyata vila indah Gordon di Prancis diwariskannya pada Desmond dan istrinya. Itu baru kehebohan pertama. Keadaan sedikit tenang saat diumumkan wasiat kepada sahabat Gordon, Skulduggery Pleasant, yang hanya berupa sebuah nasihat, yang menurutku sih tersirat pesan di dalamnya. Saat diumumkan bahwa seluruh harta benda, aset dan royalti buku-buku Gordon diwariskan kepada Stephanie, muncullah kehebohan kedua. Wow.. Anak umur dua belas tahun tiba-tiba punya seluruh harta, rumah mewah, dan royalti yang tentu saja tidak sedikit karena selama ini buku Gordon selalu menjadi bestseller dan mendapat berbagai macam penghargaan. Ckck..

Siang itu Stephanie dan ibunya berkendara dari Haggard menuju properti Gordon. Saat memasuki rumah itu, Stephanie merasakan sesuatu yang lain saat tahu bahwa semua ini sekarang adalah miliknya. Selama ini ia memang menyukai pamannya yang unik ini. Yah, kalau dari surat wasiat dan cerita-cerita singkat sebelumnya sih bisa dibilang kalau Stephanie kayak anak kesayangan Gordon gitu. Nah, sepanjang sore itu Stephanie dan ibunya berkeliling rumah. Baru saat akan pulang tiba-tiba mobil ibunya tidak bisa menyala dan butuh diderek. Dengan berat hati ibunya meninggalkan Stephanie untuk pergi ke bengkel sedangkan Stephanie malah senang karena akhirnya ia punya waktu buat menyendiri karena sifatnya yang suka kesendirian. Saat itu hujan sangat lebat dan jalan juga terblokir jadi ibunya tidak bisa kembali menjemput Stephanie. Malam itulah malam pertama Stephanie tinggal di rumah sendiri. Rumah yang besar pula. Namun waktu Stephanie tanpa terasa berlalu dengan cepat karena ia sangat terhanyut membaca naskah novel Gordon yang belum sempat dikirim ke pihak penerbit. Menjelang tengah malam, ia mengambil makan malam dan pergi ke depan televisi. Tiba-tiba telepon rumah Gordon berbunyi. Stephanie memberanikan diri untuk mengangkatnya. Seorang lelaki yang bicara dan terus menanyakan siapa Stephanie. Terjadi perdebatan karena Stephanie tidak mau memberitahukan namanya dan dengan nekat menutup telepon. Tidak lama kemudian pintu rumah digedor. Stephanie tidak mau membuka, maka lelaki itu masuk rumah dengan memecah kaca jendela. Lelaki itu langsung bersikap kasar pada Stephanie hingga gadis itu tak mampu menahan tangis lagi. Barulah kemudian muncul seseorang yang menolongnya, Skulduggery Pleasant. Terjadi pergumulan antara lelaki itu dengan Skulduggery. Akhirnya lelaki itu kabur setelah Skulduggery melemparkan bola api yang keluar dari tangannya dan menembakkan revorver kunonya pada si lelaki jahat. Saat usai masalah itulah Stephanie terpana melihat bahwa ternyata di balik topi, rambut wig, kaca mata hitam, dan syal, terdapat kepala berupa tengkorak putih, tanpa daging, kulit, mata, dan wajah.

Barulah setelah itu Stephanie menyadari siapa ─atau apa─ itu Skulduggery Pleasant. Dan yang lucu, masa waktu Skulduggery melihat Stephanie akan pingsan, ia bertanya, “Apakah kau ingin aku menahanmu kalau kau terjatuh, atau…?” “Kalau kau tidak keberatan melakukannya, boleh” “Tidak masalah.” “Terima kasih.” Gubraaak.. Stephanie pun pingsan. Ampuuun.. Apa pula maksudnya.. Wkakaka.. Mau pingsan aja sempet-sempetnya..

Yah, setelah sadar kembali, akhirnya mereka ngobrol. Pembicaraan yang kebanyakan seputar si Skulduggery. Yang paling lucu saat pembicaan mereka tentang kepala Skulduggery. Skulduggery bilang kalau kepala yang terpasang di tubuhnya bahkan bukan kepala dia. Wkakaka.. Jadi waktu Skulduggery tidur, ada goblin yang mencuri kepalanya dan dia nggak sadar. Capee dee.. Tapi aku suka gaya cerita Derek Landy. Asyik dan lugas 😀

Saat waktunya Skulduggery akan pergi untuk menyelidiki siapa lelaki yang menyerang tadi dan siapa yang memerintahkannya, Stephanie mau ikut tapi Skulduggery melarang. Akhirnya manusia kerangka itu mengizinkan karena Stephanie menyandra topi Skulduggery. Astaga.. Sudah pasti inilah awal mula petualangan Stephanie. Selama perjalanan, Skulduggery banyak bercerita. Bahwa ada dua jenis mage atau penyihir ─Adept  mempraktikan satu cabang sihir seperti berubah wujud, membaca pikiran, dan lain-lain, sedangkan Elemental mempraktikkan yang lain yang lebih bersifat elemen seperti tanah, air, api dan udara. Dan Skulduggery termasuk tipe Elemental. Mereka pergi ke sebuah apartemen tua yang hampir roboh dan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik dan dengan pesonanya, hampir saja mengikat Stephanie dalam keterpesonaan berkelanjutan. Jadi rupanya lantai tiga bangunan itu berupa perpustakaan yang besar dan terlihat sangat bagus dibandingkan dengan kondisi gedung yang sesungguhnya. China Sorrows, nama wanita itu, adalah kenalan Skulduggery.

Setelah mendapat informasi yang dibutuhkan, mereka pergi. Saat perjalanan kembali, mobil Bentley Skulduggery di tabrak oleh lelaki yang sebelumnya menyerang Stephanie di rumah Gordon. Stephanie keluar dari mobil yang penyok di sana sini ini, dan lari. Si lelaki terus mengejar Stephanie hingga gadis itu terpaksa terjun ke sungai. Namun ternyata hal ini jadi keuntungan tersendiri. Karena suatu sebab, lelaki itu kesakitan dan hancur larut dalam air. Fajar merekah saat Skulduggery mengantar Stephanie kembali ke rumah Gordon dengan tubuh yang babak belur tentu saja, dan setengah jam kemudian ibunya datang menjemput Stephanie.

Stephanie tertidur hingga lewat tengah hari. Kemudian ia jalan kaki berkeliling kompleks saat Skulduggery menghampirinya dan mengajaknya pergi berpetualangan. Yah, tidak sesimpel itu juga sih 🙂 Maksudnya, setelah Stephanie mengkonfirmasi bahwa dugaan pamannya dibunuh itu benar, ia kemudian memaksa ikut untuk menyelidiki sehingga Skulduggery dan Stephanie kemudian pergi untuk menemui Ghastly Bespoke si tukang jahit buruk rupa. Ghastly ini sahabat Skulduggery. Jadi Skulduggery datang kesini untuk bantuan Ghastly. Ia bercerita tentang dugaan pembunuhan Gordon Edgley yang kemungkinan dilakukan oleh Nefarian Serpine, si penguasa di dunia sihir dan dulu adalah tangan kanan Mevolent, seorang penyihir jahat yang berkuasa saat masa Perang Rahasia. Namun sayang, pertemuan itu malah menyisakan kemarahan di hati Stephanie.

Hari berikutnya, Skulduggery menjemput Stephanie dan mereka pergi ke sebuah museum lilin yang ternyata terdapat kehidupan di bawah tanahnya. Yups, mereka menemui Penyihir Sesepuh. Tapi kali ini giliran para Sesepuh yang membuat Skulduggery jengkel. Hha.. Yah, setidaknya Skulduggery sudah memperingatkan mereka tentang Serpine yang sedang mencari Tongkat Tetua yang keberadaannya selama ini dianggap hanya dongeng, dan setidaknya Skulduggery juga sudah memperingatkan akan adanya ancaman terhadap Gencatan Senjata. Saat keluar dari museum, muncullah Mr. Bliss. Dia semacam polisi ─atau detektif─ yang bekerja pada Penyihir Sesepuh.

Setelah berpisah dengan Mr. Bliss, Stephanie dan Skulduggery kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya, kembali ke Galeri Seni Kota Dublin dimana tersimpan lukisan, karya sastra, buku-buku koleksi tentang segala hal yang dapat memberi petunjuk tentang keberadaan Tongkat Tetua. Namun sangat beresiko tinggi untuk kesana karena Galeri dijaga oleh dua vampir yang bisa jadi sangat brutal. Masalahnya, apa yang dicari Skulduggery dan Stephanie terletak di bawah Galeri, yaitu di dalam ruang besi dengan perlindungan yang lebih ketat lagi. Namun tetap saja hal ini tidak mengurungkan niat Skulduggery dan Stephanie untuk mencari tahu. Dengan segala peralatan yang telah mereka siapkan, mereka pun menyusup ke dalam Galeri. Namun ternyata, tidak sesulit yang dibayangkan dengan adanya kemampuan Skulduggery dalam memanipulasi elemen. Hhe..

Dengan sifat detektif Skulduggery, mereka berhasil menemukan sumber informasi yang cukup unik. Yaitu semacam memori seseorang, tapi bisa ngobrol sama kita. Dari sumber yang bernama Oisin ini, Skulduggery dan Stephanie diyakinkan bahwa Tongkat Tetua itu memang ada. Sekarang giliran Skulduggery dan Stephanie yang harus mencarinya, agar Tongkat itu tidak jatuh ke tangan yang salah, terutama Serpine. Berkat Oisin, Skulduggery mendapat bayangan dimana Gordon menyimpan Tongkat itu. Yups, menurut dugaan mereka selama ini Gordon memang sempat menemukan Tongkat Tetua sebelum meninggal dan untungnya Gordon berhasil menyembunyikannya karena tahu Tongkat itu berbahaya. Dan Gordon menyembunyikannya di dalam rangkaian gua bawah tanah di bawah rumah Gordon.

Sekembalinya mereka ke rumah Gordon, mereka diserang oleh Manusia Hampa dan Skulduggery ditangkap oleh mereka. Manusia Hampa ini adalah anak buah Serpine. Kemudian, dengan bantuan Ghastly, dua Penjagal milik para Penyihir Tetua, dan Tanith Low ─kiriman bantuan dari Mr. Bliss, mereka menjalani misi penyelamatan Skulduggery. Berlima mereka pergi ke kediaman Serpine yang sudah pasti memiliki penjagaan banyak. Bisakah kelima orang ini mengatasinya? Tentu saja bisa. Bahkan saat menemukan Skulduggery, kerangka itu sedang bernyanyi karena ia akhirnya tahu dimana letak kunci yang selama ini mereka cari. Dengan segala aksi yang mereka lakukan, akhirnya mereka berhasil lolos dari kediaman Serpine. Namun sayangnya, Serpine menangkap salah satu Penjagal dan melakukan eksperimen terhadapnya. Disisi lain, Skulduggery dan Stephanie ─yang sekarang memakai  nama Valkyrie Cain untuk melindungi nama lahir dan nama sejatinya─ berdiskusi tentang cara mendapatkan kunci itu. Rupanya, kunci yang dimaksud berada di tangan paman dan bibi Stephanie, Fergus dan Deryl. Saat pembacaan wasiat, paman dan bibinya mendapatkan sebuah bros, dan rupanya bros itulah kunci yang selama ini mereka cari. Jadi, dengan paksaan dari Skulduggery, Stephanie harus mengunjungi keluarga pamannya yang ia benci ini.

Ternyata tidak butuh waktu lama bagi Stephanie untuk mendapatkan apa yang ia mau, walaupun tentu saja dengan kedongkolan hati karena bertemu dengan sepupunya yang menyebalkan. Sekembalinya dari rumah bibinya ia melakukan perbincangan ringan dengan ayahnya. Dari cerita ayahnya akhirnya ia tahu bahwa keluarganya merupakan keturunan penyihir yang disebut Tetua Terakhir. Hanya saja, dari keluarga Edgley, hanya Gordon yang mempercayainya. Dan kini Stephanie. Dengan segenap keyakinan dan kemampuan sihir yang mulai diasah Stephanie, dan juga dengan didampingi oleh  seorang sahabat kerangka, Skulduggery Pleasant, yang baik, setia, namun santai, Valkyrie Cain melanjutkan petualangannya.

Well  guys,  walaupun tulisan di buku ini termasuk padat, ternyata aku cukup enak kok bacanya. Entahlah, apa karena aku saking menikmatinya, jadi nggak kerasa ato gimana, aku juga nggak ngerti. Yang jelas, entah kenapa aku malah suka dengan kerapatan tulisannya. Hhe.. Aneh. Selain itu, dialog yang dilakukan cukup banyak, jadi kita nggak dibuat bosen dengan penjelasan yang biasanya disajikan  dalam bentuk paragraf yang dibeberapa buku, panjangnya minta ampun. Untuk ceritanya sendiri, alurnya sangat cepat dan yang pasti, sangat ringan. So, menurutku buku ini bisa jadi bacaan anak yang mengasyikan nii 🙂

Ratingku buat novel ini : 8

 
4 Comments

Posted by on August 15, 2011 in Magic

 

The Guardian Legacy 1 – Awakened


  • Pengarang               :    Ednah Walters
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    552 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Arah Publishing
  • Harga                      :    89.900 IDR
  • Pertama terbit          :    2010
  • Cetakan                   :    Mei 2011
  • Tanggal Beli             :    5 Juli 2011

Lil Falcon, gadis 16 tahun, harus tinggal bersama kakeknya sejak kecil karena kedua orangtuanya telah tiada. Lil tak sadar kalau ia adalah seorang Guardian, makhluk dengan kekuatan super yang ditugaskan untuk membunuh iblis dan melindungi umat manusia. Kekuatan terpendamnya mulai terungkap saat ia bertemu Bran, seorang pemuda tampan dengan kemampuan luar biasa. Saat hubungan mereka semakin dekat, ada suatu rahasia besar Bran yang belum diketahui Lil. Apakah rahasia itu akan menghancurkan hubungan mereka? Apa yang selanjutnya akan terjadi setelah Lil tahu kalau ternyata ayahnya sebenarnya masih hidup? 

Review :

Uum, satu hal yang menarik perhatianku dari buku ini selain covernya adalah sinopsisnya. Sekalinya aku baca, entah kenapa pikiranku langsung melayang ke The Mortal Instruments Series. Kata-kata “…makhluk dengan kekuatan super yang ditugaskan untuk membunuh iblis dan melindungi umat manusia.” mengingatkanku pada tokoh Nephilim di seri The Mortal Instruments. Begitu aku baca halaman-halaman awal, wah iya nih, tema tokoh-tokohnya kurang lebih sama, tentang Nephilim walaupun kalau di The Mortal Instruments, mereka disebut kaum Pemburu Bayangan, sedangkan di buku ini disebut sebagai Guardian. Hem, gimana tema ceritanya ya?? Yah, harusnya sih beda, tapi kita lihat aja nanti deh.

Yang jelas, bab I buku ini masih berupa perkenalan dengan si tokoh utama, Lil Falcon, gadis berusia 16 tahun namun memiliki tinggi 180 cm dan rambut merah menyala. Selama ini ia menyangka ia hanya seorang anak keturunan kaum gipsi biasa. Namun semenjak ia menginjak usia 16 tahun, ia semakin sering mendengar suara-suara di kepalanya, dan suara kali ini menyuruhnya untuk menemui seseorang. Yah, dengan keberanian yang dipaksakan, Lil menemui sang pemilik suara. Rupanya ia adalah seorang  pemuda berusia 19 tahun yang tampan dan terkesan arogan bernama Bran Llyr. Cowok itu berusaha meyakinkan Lil bahwa mereka berasal dari kaum yang sama dan merupakan keturunan Guardian dan kakek Lil adalah seorang Kardinal Guardian Psi dan selama ini kakeknya hanya menyamarkan identitas dan hidup sebagai seorang Gipsi Sirkus untuk menutupi tugas-tugasnya sebagai Guardian, yaitu mengejar para iblis alias demon. Lil menolak mentah-mentah kabar itu dan tetap berdiri pada keyakinannya bahwa ia hanyalah seorang gipsi biasa. Namun Bran tetap memaksa Lil untuk menyampaikan sebuah rangkaian pesan kepada kakek Lil. Pesan-pesan itu terdengar aneh di telinga Lil, namun Bran bilang bahwa kakeknya pasti akan mengerti.

Dengan perasaan bingung, Lil pulang. Namun rupanya ia telah menimbulkan sebuah badai listrik akibat dari suasana hatinya yang gundah, marah, bingung, dan takut. Ia yang tinggal di RV Park tanpa sadar  membuat daerah itu porak poranda. Untung kakeknya segera datang dan menenangkannya. Akhirnya rahasia jati diri pun terkuak. Ia akhirnya tahu bahwa semua yang dikatakan Bran memang benar. Ia memang keturunan dari Guardian dan memiliki kemampuan dasar berupa telepati dan teleportasi. Disini disebutkan bahwa ia adalah kasus yang spesial karena ia dilahirkan di ‘bumi’ dan, syukurlah, setidaknya Lil memang memiliki darah gipsi dari neneknya. Kini setelah Lil tahu, kakeknya bisa menggunakan kekuatannya di depan Lil, terutama saat membereskan isi trailer mereka yang berantakan akibat badai buatan Lil. Sang kakek menggunakan kemampuan Telekinetisnya. Lil bahkan tidak tahu harus bereaksi gimana lagi selain marah karena merasa telah ditipu selama bertahun-tahun.

Tapi hanya Grampa Ares Falcon inilah satu-satunya keluarga yang ia punya, dan ia tidak mampu marah terlalu lama padanya. Akhirnya Ares bercerita bahwa ia adalah seorang Kardinal Guardian Psi dimana dia bisa mengendalikan pikiran dan ingatan orang. Ia juga seorang Empath, yaitu seorang yang memiliki kemampuan merasakan emosi orang lain. Kalau dari sepemahamanku ya, para Guardian ini bekerja dalam satu tim dan setiap tim terdiri dari enam Guardian yang menguasai masing-masing elemen, yaitu Psi, Energi, Tanah, Udara, Air, dan Waktu. Guardian yang sudah tua alias master disebut sebagai Kardinal Guardian, sedangkan yang masih muda disebut para trainee Guardian. Lalu ada juga yang namanya Guardian Sipil, alias mereka yang tidak duduk dalam jabatan penting, atau semacam orang sipil karena kekuatan mereka yang rendah.

Sebentar kemudian, Lil  pun mengenal anggota tim kakeknya dan ternyata kakeknya tu semacam pemimpin dalam tim. Ada seorang Kardinal Guardian Waktu bernama Hsia. Hsia ini bisa mengendalikan, menghentikan, atau mengembalikan waktu. Lalu ada Janelle, sang Kardinal Guardian Tanah, Elvira sang Kardinal Guardian Api,  dan Seth sang Kardinal Guardian Udara, sedangkan Tariel sang Kardinal Guardian Air menghilang lima puluh tahun yang lalu. Dan untuk Guardian yang lainnya nanti bakalan muncul seiring perkembangan cerita. Nanti juga ada para Guardian Trainee atau Guardian yang masih dalam masa-masa pelatihan, yang akan menjadi teman-teman Lil di sekolah barunya. Selama ini, mereka ─para Guardian─ memang menyembunyikan identitas mereka dengan hidup berbaur ditengah kaum manusia.

Benar saja, belum juga dia masuk ke kelas barunya, sudah bertemu dengan Remy dan Sykes, dua cowok trainee  Guardian yang menyamar sebagai atlet. Kurasa kedua cowok ini bakal asyik 😉 Lagian kedua cowok ini memperingatkan anak-anak tim futbolnya agar menjauhi Lil. Mereka bilang, Lil terlarang buat mereka. Hhaha.. Lil yang hampir-hampir nggak punya teman dari setiap sekolah yang pernah ia masuki sebelumnya, kini di sekolah barunya ia malah mendapat perhatian dan perlindungan dari dua cowok keren 😀 Tapi lagi-lagi Bran muncul. Dan kali ini ia memaksa Lil agar melihat sebuah tanda yang tertato di dada Bran, sebuah bentuk 2 segitiga terjalin yang membentuk sebuah bintang dengan segi enam di bagian tengahnya. Bran menginstruksikan agar Lil menyampaikan gambar itu kepada Grampa-nya karena keluarga Bran sedang dalam masalah dan membutuhkan bantuan Kardinal. Bran tahu bahwa pesan sebelumnya pasti sulit untuk dipercayai oleh para Kardinal, itulah kenapa ia mendatangi Lil dan memaksa gadis itu agar melihat tanda di dadanya, sehingga kakek Lil dapat melihat gambarannya dari dalam pikiran Lil.

Setelah bertemu dengan Remy dan Sykes, akhirnya Lil juga bertemu dengan dua trainee Guardian yang lain, yaitu Isadora dan Pilar, atau yang lebih suka di panggil Izzie dan Kim. Rupanya keempat orang ini termasuk dalam anak-anak populer di sekolah, sehingga sedikit banyak membuat Lil jengah karena ini diluar kebiasaannya untuk menarik perhatian banyak orang padanya di sekolah, karena mau nggak mau sekarang Lil terikat dengan mereka. Remy ternyata trainee Guardian Tanah, Sykes trainee Guardian Energi, Izzie trainee Guardian Waktu, dan Kim yang sedikit keras kepala dan menyebalkan adalah trainee Guardian Udara. Mereka mengobrol sejenak untuk membicarakan tentang latihan bersama yang harus ia jalani bersama keempat pemuda ini dan ia juga mendapat beberapa informasi mengenai kehidupan Guardian. Ia juga tahu bahwa ternyata setiap Guardian akan mendapatkan amulet pelindung ─seperti liontin kalung berbentuk bintang sudut enam Lil yang ia dapatkan dari neneknya─ saat seorang anak mulai mendapatkan kekuatannya. Namun Lil tidak mengungkapkannya bahwa ia mendapatkan kalung itu sejak ia kecil.

Sepulang sekolah, Lil yang sudah mendapatkan beberapa teman baru seperti Kylie, Amelia, Nikki, Zack, dan Cade, diajak untuk berenang bersama oleh mereka. Akhirnya ia pun bisa merasakan kehidupan yang lebih ‘normal’. Karena ia sering pindah sekolah, ia nggak punya teman. Ia pun mengiyakan ajakan ini. Namun di kolam renang itu ia mendapatkan kunjungan dari Bran yang ingin berpamitan. Aiai, bibit-bibit saling suka mulai muncul disini oey.. Disini Bran mengakui bahwa ia adalah seorang Hermonite, kaum Nephilim jahat yang dipimpin oleh demon wanita Coronis dan memilih kehidupan kekal serta kekuasaan atas umat manusia. Demon-demon ini mengumpulkan jiwa-jiwa manusia. Namun Lil yakin, Bran tidaklah jahat. Akhirnya Bran sedikit membuka diri. Ia bercerita bahwa ia membutuhkan bantuan Kardinal untuk menolong adik serta ibunya yang tertawan di pulau Coronis, Xenith. Ternyata ia juga punya seorang kakak bernama Gavyn, yang kemudian muncul dan aku langsung tahu kalau Gavyn ini tokoh antagonisnya. Huft.. Bran bercerita bahwa dulu kakek neneknya yang Guardian diculik oleh Coronis dan anak lelaki mereka satu-satunya dipaksa menikahi seorang wanita demon Lazarus, yaitu ibu Bran. Alhasil, Bran dan kakak serta adik perempuannya setengah demon. Nanti ya teman-teman, kalau kalian baca novel ini, banyak istilah-istilah yang diperkenalkan pada kalian. Tapi jangan kuatir, kita diberi glosarium dan penjelasan kok di awal dan akhir buku ini 😉

Pokoknya intinya, Gavyn ini sangat menyeramkan. Ia sangat menyukai takdirnya terlahir sebagai seorang demon dan dia melarang adiknya, Bran, berganti haluan menjadi Kaum Buangan, yaitu para demon dan anak-anak Hermonite yang tidak suka menyakiti manusia dan bahkan beberapa juga malah menolong manusia. Gavyn sangat marah saat tahu Bran berniat meninggalkan kehidupan lamanya. Lalu ia tahu, bahwa salah satu penyebabnya adalah Lil, maka Gavyn menggunakan Lil sebagai ancaman buat Bran. Seperti yang sudah kita duga, hubungan Lil dan Bran berkembang. Mereka sering berkomunikasi melalui telepati dan ini menenangkan Lil walaupun kakeknya menentang dan meminta Lil agar menjauhi pemuda itu sebelum identitas aslinya terbukti, benarkah Bran cucu dari Kardinal Guardian Tariel yang lima puluh tahun yang lalu diculik. Dan guys, rupanya para Guardian ini berumur panjaaang.. Kakek Lil bahkan akan berulang tahun yang ke dua ratus delapan puluh. Whahaha.. Ngerii..

Nah, kembali lagi ke Lil yang sekarang menjadi anggota Dojo C12, tempat dimana ia dan ke empat trainee Guardian berlatih. Di sekolah rupanya mereka juga di sebut sebagai kaum Elite karena merupakan anggota dari Dojo. Udah populer, elit pula.. Ckck.. Pantas teman-teman manusianya jadi bingung bagaimana kalo berhadapan sama Lil. Untung Lil tidak lupa pada mereka, teman-teman pertamanya, dan tetap menjadi teman mereka. Di Dojo, Lil berlatih di bawah pengawasan Azure yang kebetulan adalah seorang Guardian Sipil dan bekerja sebagai guru di sekolahnya dan bernama Ms. Deveraux. Kemudian perlahan kekuatan-kekuatan Lil muncul. Selain Telepati dan Empath, dia juga bisa Telekinetis, menggerakkan benda-benda dengan pikirannya. Suatu kali, selesai latihan, dia mendengar perbincangan teman-teman trainee Guardiannya bahwa kemampuan-kemampuan Lil ini tidak wajar kerena tidak ada dalam sejarah Xenithian, bahwa ia bisa menciptakan badai listrik, dan bahkan menghentikan omni seperti yang ia lakukan saat ia berhadapan dengan Gavyn. Belum lagi keempat temannya ini membicarakan tentang pernikahan grampa dengan grandma dulu. Apa yang salah? Kini batinnya semakin dibingungkan dengan sejarah keluarganya secara keseluruhan. Bahkan ternyata ada ramalan tentang gadis berambut merah yang akan menguasai keenam elemen alam dan akan membantu kaum Hermonite menguasai dunia. Mungkinkah gadis itu Lil? Lil pun marah dan terlibat adu mulut dengan Kim yang paling keras kepala.

Nah, terlepas dari itu semua, suasana hati Lil yang sedang marah berubah jadi senang saat akhirnya Bran mendatanginya segera ─maksudku dengan segera yaitu memang dengan segera, menggunakan teleportasi, ckck.. asik yaa..─ setelah ia merasakan suasana hati Lil. Ooh, manisnyaa, kupikir. Dan ehm, aku suka dengan karakter Bran. Rasanya bener-bener tipikal cowok idaman. Hhaha.. Di imanjinasiku ya, Bran ini cowok yang gentle, keren, manis, baik bangeet dan romantis.. Aku suka. Aku suka kalau dia muncul 😀 Rasanya cocok banget sama Lil. Kini mereka bahkan sedang berkencan. Ahhahaii.. Untung Grampa sudah nggak mempermasalahkan hubungan mereka. Apalagi akhirnya Bran menunjukkan bukti yang lebih kuat lagi bahwa ia memang cucu dari Tariel, yaitu sayapnya dan, wow, aku bener-bener ikut terpesona oleh gambaran Ednah Walters mengenai keindahan sayap ini. Wew..

Tapi tiba-tiba sebuah kabar datang menghampiri dan memaksa Bran untuk pulang ke LA. Sang kakak, Gavyn, sedang dalam masalah karena dituduh telah membunuh sepasang demon kembar yang menjadi bawahannya. Mau nggak mau Bran yang sangat menyayangi keluarganya ini harus pergi ke LA untuk membantu kakaknya. Dia memberitahu perihal kepergiannya ini kepada para dewan dan ia bahkan berjanji akan kembali dalam 2 hari. Namun ternyata ia tidak kembali. Lil sangat cemas, begitu juga dengan para Kardinal. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk mencari jejak Bran dan menghubungi semua kontak yang Bran tinggalkan kepada Hsia, Kardinal yang selama ini menampungnya. Namun hari berganti hari dan Lil serta trainee Guardian lainnya malah juga kehilangan kontak dengan para Kardinal yang pergi, termasuk Grampa-nya. Sisa Kardinal yang ada mulai ikut mencari. Akhirnya Lil, Sykes, Remy, Kim dan Izzie semakin dilanda kecemasan, hingga akhirnya mereka pun beraksi 😀

Hadoo, dari semua kemampuan para Guardian, aku paling suka dengan Teleportasi. Ini semacam kemampuan dasar buat mereka. Jadi kalau mau kemana, mereka tinggal, cling, menghilang, lalu tiba-tiba udah ada di tempat baru. Huh.. Asyik banget. Loncat-loncat antar benua pun bisa. Ckck..

Tapi untungnya novel ini nggak membuatku bosan dari segi kepadatan buku. Walaupun buku ini tebal, tapi cukup enak buat dibaca karena halamannya cukup leluasa, hanya 28 baris perhalaman dan menggunakan spasi yang cukup lebar. Yang pasti, mata ini nggak gampang capek waktu baca dan dengan kerengangan halamannya membuatku cukup cepat membalik setiap halamannya. Taulah, aku paling suka saat-saat membalik halaman sebuah novel, rasanya membuatku senang aja. Semakin banyak kubalik halamannya dengan cepat, biasanya malah membuatku tidak merasakan karena tahu-tahu aku udah sampai ke bagian akhir buku. Hhe.. Tapi jangan salah, baca buku ini memang bikin aku pingin cepet-cepet membalik halamanku, asyik tau mengikuti alur ceritanya, apalagi semakin mendekati akhir saat  dimana peperangan sedang berlangsung. Aku hampir tidak pernah menutup bukuku pada bagian ini 😀

Tapi ada satu kekurangan dari buku ini, astaga, lumayan banyak kata-kata yang salah ketik, entah itu kurang huruf, atau kelebihan huruf atau memakai sebuah kata dua kali atau bahkan ada kata yang hilang, pokoknya cukup banyak kesalahan. Jadi kesimpulannya, bagian editing ─atau bagian manapun yang bertanggung jawab dalam pengetikan─ dari penerbit ini kurang bekerja secara maksimal. Kurasa mereka harus bisa lebih teliti lagi. Yah, walaupun nggak fatal-fatal amat sih, tapi kan bikin risih kalo baca kok ada kata yang kurang hurufnya. Dan frekuensinya bisa terbilang cukup sering lho kalau dibanding dengan novel lain yang selama ini kubaca. Bahkan di halaman terakhir dari cerita pun juga ada kesalahan. Nama  yang harusnya ‘Bran’ jadi ‘Gran’. Pew.. Sejujurnya, kalau menurutku pribadi, penerjemahan atas novel ini juga kurang bagus. Aku merasa ada beberapa saat dimana aku bingung akan maksud suatu kalimat atau paragraf. Sayang sekali ya.. Padahal ceritanya bagus 🙂

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
9 Comments

Posted by on July 21, 2011 in Magic

 

Tags:

The Mortal Instrument 2 – City Of Ashes


  • Pengarang               :    Cassandra Clare
  • Genre                      :    Fantasy, Adventure
  • Tebal                       :    616 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Ufuk
  • Harga                      :    99.900 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan                   :    Juli 2010
  • Tanggal Beli             :    7 September 2010

Clary hanya ingin hidup normal kembali, tapi ia telanjur terlibat dengan para Pemburu Bayangan yang bertugas membantai iblis. Masalah semakin menjadi-jadi karena ibunya tidak bisa dibangunkan dan Clary tidak bisa berhenti mencintai Jace. Tentu saja ini menyakiti hati Simon, yang mendadak pergi ke sarang vampir seorang diri. Valentine pun datang lagi, kali ini untuk mengambil Pedang Mortal. Lagi-lagi dia menawari Jace untuk ikut dengannya. Ketika Jace diketahui telah pergi untuk menemui Valentine, akankah Clary tetap memercayainya?

Review :

Cerita dibuka oleh Valentine yang memanggil iblis bernama Agramon. Tapi tujuan pemanggilan ini tidak dijelaskan dengan pasti. Kemudian cerita beralih pada Jace, Alec, dan Isabelle yang baru saja pulang dari memburu Iblis Dragonidae di terowongan bawah tanah. Namun rupanya Jace dan Alec harus berhadapan dengan lumpur sementara Isabelle tetap dapat mempertahankan dirinya dalam kondisi bersih dan ini menyulut rasa kesal sang kakak, Alec. Hhe..

Di seri ini, City Of Ashes, kita dikenalkan dengan pasangan Lightwood, Maryse dan Robert ―orang tua dari Alec dan Isabelle, dan Max, adik mereka. Namun yang lebih dominan perannya adalah Mrs.Lightwood. Kini sejak kemunculan Valentine kembali, Maryse Lightwood tidak sepenuhnya percaya pada Jace lagi. Bahkan ia meminta Jace untuk pindah dari Institut. Maryse takut kalau ternyata Jace adalah mata-mata Valentine dan dia menuduh Jace telah bersekongkol dengan Valentine dalam pencurian Piala Mortal. Ya Ampuun.. Bisa-bisanyaa.. Padahal Maryse udah membesarkan Jace sejak kapan coba?? Tega bener..

Awalnya Jace memang keluar dari institut dan menjadi tanggung jawab Magnus alias dia tinggal dengan Magnus dan ada dalam pengawasan Magnus atas izin dari sang Inkuisitor Imogen Herondale. Ya Ampuun.. Setiap kali karakter Magnus keluar, aku selalu tertawa. Karakter ini kan selalu digambarkan nyentrik dan… gemerlap, karena serbuk kilau. Jadi ngebayanginya juga dia ini sosok yang , wew.. Belum lagi kalau ada adegan yang melibatkan Magnus dan Alec bersama. Selalu ada kelucuan. Hhaha..

Selama selang waktu Jace tinggal dengan Magnus inilah, ia berbuat nekat. Ia menemui ayahnya, Valentine, di markasnya, sebuah kapal di tengah-tengah sungai East. Nah, ternyata saat Magnus membawa Jace pergi ke rumah Luke, mereka ―Jace, Alec, Isabelle, Clary, Luke, Maia― diserang oleh segerombol iblis yang menyebabkan Maia dan Luke dalam pengobatan Magnus, sang Warlock Tinggi Brooklin. Lalu muncullah Maryse, Robert dan sang Inkuisitor. Sayangnya ternyata selama ini Imogen tetap mengawasi Jace dan ia tahu mengenai kepergian Jace menemui Valentine. Semua orang yang ada di situ sangat terkejut dan kenyataan Jace menemui Valentine sangat menggoyahkan kepercayaan keluarga angkatnya, terutama Alec.

Kini Jace harus merasakan siksaan dari sang Inkuisitor yang mengorek sebanyak mungkin informasi dari Jace mengenai rencana Valentine karena mereka percaya Jace juga terlibat dalam rencana Valentine dalam pencurian Pedang Malaikat. Inkuisitor Herondale adalah wanita yang terus mengawasi gerak-gerik Jace alias Jonathan Morgenstern selama ini dan kenyataannya Ia sangat membenci segala hal yang berhubungan dengan Valentine. Hal ini di karenakan oleh kematian anaknya dahulu, Stephen Herondale, yang saat mudanya ikut terlibat dalam jaringan organisasi Valentine, yaitu Lingkaran, bersama dengan Maryse dan Robert Lightwood. Bahkan Jace dikurung disebuah penjara di Idris yang tidak bisa dibobol. Namun beruntung Alec memiliki ide untuk membebaskan Jace. Ia merasa bersalah telah meragukan Jace.

Dan oh wow, sekarang Simon adalah Makhluk Malam juga lhoo.. Ia adalah seorang vampir baru. Nanti Simon diburu sama Valentine karena orang itu punya niat buat membangkitkan Iblis-iblis ke muka bumi ini. Untuk itulah ia membutuhkan darah vampir baru, werewolf, fae, dan warlock. Untuk darah fae dan warlock diceritakan Valentine udah punya. Untuk vampir baru ia kemudian menculik Simon, dan untuk darah werewolf, ia menculik Maia, ‘teman’ Luke yang masih berusia 15 tahun. Untuk menyelamatkan teman-temannya inilah mereka harus melakukan pertempuran di akhir-akhir cerita. Pertempuran di atas kapal. Seru lhoo.. Yang mengejutkan nii, sang inkuisitor terbunuh hanya untuk menyelamatkan Jace. Ow ow.. Ada apakah ini??

Di akhir cerita, Kita dikejutkan dengan kenyataan hidup Simon. Oke, Ia memang seorang vampir baru. Tapi vampir yang istimewa, karena ia tidak bisa terbakar sinar matahari! Wow.. Padahal kalau vampir-vampir yang lain kan harus bersembunyi di siang hari, tapi Simon nggak. Kenapa bisa gitu coba? Rahasianya ada di Jace. Walaupun hubungan Jace dan Simon tidak baik, namun sebenarnya mereka saling menghormati dan sesungguhnya aku malah suka dengan hubungan unik mereka. Candaan mereka sama-sama sarkastis kalau sedang bertemu. Jatuhnya malah lucu.. Hhe.. Nah, kembali ke masalah ke-vampir-an Simon yang unik. Rupanya ini disebabkan oleh darah Jace yang diminum Simon. Kan waktu ditemukan pasca di siksa oleh Valentine dan dikuras darahnya, Simon sekarat. Itulah kenapa Jace yang menemukannya mau nggak mau harus merelakan darahnya untuk dihisap Simon, Fana yang dibencinya. Hhe… Itulah rahasia vampir ini kenapa ia kemudian bisa berlenggang di bawah sinar matahari.

Pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan komentarku untuk buku sebelumnya. Aku masih menyukai novel ini, bahkan mencintainya.. Ceritanya sungguh lugas dan lucu namun juga miris dan kasihan kalau sudah beralih membicarakan kisah cinta Clary dengan sang kakak, Jace. Simon yang mencintai Clary pun tidak bisa mendapatkan cinta dari gadis itu. Ditambah lagi dengan Alec yang masih dibingungkan oleh perasaannya sendiri terhadap Magnus namun dilain pihak diam-diam ia mencintai Jace. Yah, yah.. sedikit rumit kan.. Tapi setidaknya kisah cinta mereka sedikit banyak menjadi bumbu cerita seri The Mortal Instrument inilah..

Ratingku buat novel ini : 8,8

 
4 Comments

Posted by on June 23, 2011 in Magic

 

Tags: , , ,