RSS

Category Archives: High Fantasy

High fantasy is defined as fantasy fiction set in an alternative, entirely fictional (“secondary”) world, rather than the real, or “primary” world. The secondary world is usually internally consistent but its rules differ in some way(s) from those of the primary world. By contrast, low fantasy is characterized by being set in the primary, or “real” world, or a rational and familiar fictional world, with the inclusion of magical elements.

Lumatere Chronicles 1 – Finnikin of the Rock


  • Pengarang               :    Melina Marchetta
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    580 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Ufuk
  • Harga                      :    79.900 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan                   :    Juli 2011
  • Tanggal Beli             :    5 September 2011

Finnikin dan pembimbingnya, Sir Topher, sudah sepuluh tahun tidak pulang ke Lumatere yang sekian lama diselimuti kutukan dan pembantaian. Sepupu Raja yang kejam telah menyatakan dirinya sendiri sebagai penguasa baru. Suatu hari, Finnikin mendapat perintah untuk bertemu dengan Evanjalin, seorang perempuan muda yang menyatakan kalau Pangeran Balthazar, sang pewaris takhta Lumatere, masih hidup. Evanjalin harus pulang ke Lumatere karena dialah satu-satunya orang yang bisa membawa mereka kepada sang pewaris takhta.

Dalam perjalanan mereka menuju Lumatere, Finnikin terpesona oleh semangat dan keangkuhan perempuan itu. Lalu, mampukah mereka membebaskan Pangeran Balthazar dan orang-orang yang terperangkap di dalam kerajaan itu? Dan, mampukah Finnikin melepaskan ayahnya yang telah dijebloskan ke penjara dan mengembalikan kedamaian di negerinya?

Review :

Jujur, hal pertama dari novel ini yang menarik perhatianku adalah covernya. Ku pikir, wah, cakep ni cowok. Hhaha.. Barulah aku baca sinopsisnya, dan aku cukup tertarik. Akhirnya masuk wistlistku deh. Baru beberapa minggu kemudian keturutan beli 😛

Konyol memang. Tapi waktu pertama buka buku ini buat aku baca, aku membalik halamannya dengan  perlahan. Tiap halaman aku cermati. Di lembar pertama, kita ketemu sama foto si cowok cakep lagi, mirip dengan cover depan 😛 Baru di lembar ketiga kita menemukan sebuah puisi ─atau lirik lagu?─ yang berjudul If This Is A Man karya Primo Levi. Saat kita balik halamannya lagi, kita menemukan sebuah peta SKULDENORE secara umum dan peta LUMATERE secara khusus. Nah, disini lagi-lagi aku berhenti buat mencermatinya. Hhe.. Aku paling suka sih kalo ada novel yang disertai gambar peta, seperti seri Inheritance-Eragon ataupun The Lord Of The Rings 😀

Untuk prolog buku ini merupakan sebuah cerita singkat tentang masa kecil dari Finnikin of the Rock beserta kedua sahabatnya, Pangeran Balthazar dan Lucian of the Monts. Tentang mimpi Finnikin yang tak terlupakan, bahwa dia akan mengorbankan nyawa demi menyelamatkan istana kerajaan Lumatere.

Hingga kemudian terjadilah lima hari nestapa yang tak terperikan, ketika keluarga kerajaan terbantai, ketika sepupu raja terdahulu masuk ke kerajaan dan membakar Penghuni Hutan di rumah mereka, ketika Kapten Pasukan Keamanan Trevanion, ayah Finnikin, ditangkap atas tuduhan berkhianat dan dijebloskan ke sebuah penjara di luar kerajaan, ketika Lady Beatriss, ibu tiri Finnikin, meninggal saat melahirkan bayinya di sel bawah tanah istana, dan ketika Seranonna, seorang pemuka Penghuni Hutan, meneriakkan kutukan berdarah saat dipanggang hidup-hidup di tiang hukuman.

Sepuluh tahun kemudian, Finnikin dan pembimbingnya, Sir Topher ─yang dulu adalah Tangan Kanan Raja─ dalam perjalanan kembali ke Lumatere setelah Finnikin terus bermimpi tentang Balthazar. Namun tidak secepat dan semudah itu. Mereka pergi ke biara Sendecane yang terpencil dimana mereka menemui seorang pendeta wanita Lagrami yang dipanggil Sir Topher dengan sebutan Kiria. Pendeta ini memperkenalkan mereka kepada seorang pendeta wanita muda bernama Evanjalin yang memiliki kemampuan istimewa, yaitu masuk ke mimpi orang lain dan dalam hal ini Evanjalin masuk ke dalam mimpi sang pewaris tahta yang hilang, Pangeran Balthazar.

Sang pendeta meminta Finnikin dan pembimbingnya untuk membawa Evanjalin ke Sorel ─yang terkenal sebagai tempat yang kejam hingga Finnikin sendiri berpikir lebih baik membawa gadis ini ke neraka daripada ke Sorel─ untuk mendapatkan jawaban tentang sang pewaris tahta yang hilang. Finnikin tentu saja jengkel karena ini bukan rencana mereka untuk kembali ke Lumatere. Apalagi ia sangat meragukan ‘kemampuan’ gadis ini. Tapi ia harus menggigit lidahnya agar tidak melontarkan pendapat sarkastisnya dan membuat gurunya marah.

Berhari-hari mereka dalam perjalanan, Evanjalin terus membisu. Ia memang sudah bersumpah tidak akan bicara lagi untuk menghukum diri karena ia telah melanggar sebuah sumpah sebelumnya. Kini mereka tiba di Sarnak dan menuju Charyn.

Di Sarnak, Evanjalin di rampok. Saat ia dan Finnikin hampir terhimpit, Evanjalin memperlihatkan aksinya, bertarung menggunakan pedang. Melihat pertarungan Evanjalin, Finnikin pun semakin yakin bahwa gadis ini bukan gadis biarawati biasa yang sedang menjalankan sumpah untuk membisu. Karena Evanjalin kehilangan sebuah cincin yang tampaknya sangat berharga, ia pun mencari-cari si pencuri dan berhasil menemukannya. Disini aku cukup geli dengan Finnikin karena ia sungguh-sungguh berusaha menahan amarah dan rasa jengkelnya terhadap Evanjalin. Selain itu, terkadang Finnikin dan Sir Topher juga melontarkan lelucon sarkastis yang bikin aku mendengus geli. Hhihi..

Karena sikap si pencuri yang menyebalkan dan kemungkinan besar akan menjual informasi tentang Finnikin pada siapapun yang membayarnya dengan mahal, maka Finnikin dan Sir Topher terpaksa membawa pemuda pembangkang itu bersama mereka hingga ke Sorel, dan tentu saja, akhirnya pemuda ini pun mulai terlihat ketakutan setelah tahu dirinya akan dibawa pergi ke Sorel.

Kemudian mereka tiba di Charyn. Mereka menyusuri salah satu sungai di Charyn dan empat hari kemudian mereka menemukan kemah-kemah pengungsi Lumatere. Mereka di sambut hangat oleh para pengungsi. Tampaknya kehidupan lima puluh pengungsi di kemah ini selama sepuluh tahun belakangan mulai berkembang. Kini mereka hidup berkecukupan. Di perkemahan ini, Finnikin pun menjadi seorang pencerita yang menceritakan kembali kisah cinta Kapten Trevanion dan Lady Beatriss yang terkenal. Banyak warga yang suka dengan kisah ini. Bagi mereka yang sudah tua, kisah ini merupakan campuran antara kenangan indah dan kesedihan karena ingat bahwa mereka telah kehilangan dunia yang dulu mereka miliki.

Perjalanan pun berlanjut. Namun Finnikin dan Evanjalin sempat memisahkan diri dari Sir Topher dan tahanan mereka. Finnikin dan Evanjalin harus mengunjungi seorang pejabat Lumatere yang sekarang bekerja pada Raja Belegonia, di Belegonia. Pejabat itu bernama Lord August. Yang membuat Finnikin marah, disini Evanjalin akhirnya membuka mulut dan berbicara dengan bahasa Lumatere dan Belegonia sama lancarnya dengan dirinya. Evanjalin berkata bahwa Raja gadungan yang sekarang memimpin Lumatere hanya batu loncatan bagi kerajaan Charyn yang licik untuk merebut Belegonia.

Setelah berkumpul lagi dengan Sir Topher, Finnikin menumpahkan kekesalannya. Namun sejak itu, entah kenapa ia merindukan suara Evanjalin, terutama saat ia berbicara dengan bahasa Lumatere yang ia rindukan.

Mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di Sorel yang suram.Di perkemahan, mereka di datangi oleh lima prajurit dan mereka menanyakan “mana penghianat yang mengaku-ngaku sebagai pangeran Lumatere yang telah mati?” dan yang paling membuat Finnikin bingung dan merasakan darahnya berhenti mengalir adalah saat biarawati itu mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya pada Finnikin. Ya ampun.. Penghianat..

Lalu cerita beralih ke sebuah penjara di bawah pertambangan Sorel. Seorang lelaki kekar dan bisa jadi buas saat ada yang memancing amarahnya, namun tidak pernah membuka mulut untuk berbicara, menjadi sorotan utama. Datang para sipir yang membawa seorang tahanan baru yang masih muda. Penjara ini memiliki tradisi pertarungan antar-tahanan untuk memperebutkan tahanan baru dimana pemenangnya bisa memperbudak pendatang baru ini.

Malam itu, si lelaki yang ternyata adalah Kapten Trevanion ini mendapat kunjungan dari Evanjalin. Evanjalin memberi instruksi-instruksi kepada Kapten untuk melarikan diri dari tambang, dan kemana lelaki itu harus pergi. Kemudian saat Evanjalin mengatakan bahwa tahanan baru itu adalah putra dari sang Kapten, Kapten pun langsung marah. Mau nggak mau ia harus ikut pertarungan itu untuk menyelamatkan putranya.

Hampir dua minggu Finnikin dan ayahnya mempersiapkan pelarian mereka, dan waktu yang sama bagi Evanjalin dan Sir Topher yang menunggu mereka di sebuah pondok, tempat mereka akan berkumpul. Wah, pelarian yang berbahaya. Tapi yang terpenting, aku suka dengan bagaimana hubungan ayah-anak ini digambarkan. Sang ayah yang terlalu berusaha melindungi anaknya dan anaknya yang kesal karena diperlakukan seperti anak kecil. Hhehe.. Manis 🙂

Akhirnya mereka berhasil bertemu lagi. Bahkan kini Evanjalin kembali mendapatkan cincinnya yang hilang dan si pencuri ─yang kemudian diketahui bernama Froi─ kembali setelah sebelumnya sempat menjual si pencuri pada pedagang budak. Kemudian, Evanjalin membawa mereka pada sebuah kelompok pengungsi yang kondisinya sangat mengenaskan. Melihat Sir Topher ─sang Tangan Kanan Raja─ dan Kapten Trevanion ─sang Kapten Pasukan Keamanan─ menimbulkan secercah harapan dalam mata para pengungsi. Heuu.. Kasian kondisi mereka 😦

Rombongan kecil ini juga menemui seorang Pendeta Kerajaan Lumatere yang masih hidup dan mengabdi dengan merawat para pengungsi yang sakit di satu tempat dan tempat lainnya. Disini, tiga petinggi kerajaan ini berkumpul dan melakukan diskusi. Sayangnya Trevanion masih saja tidak mempercayai Evanjalin, bahkan ingin mengingkari keberadaan gadis itu. Namun apa yang kemudian di lakukan Evanjalin membuat lelaki itu mengambil keputusan sebaliknya. Dan ini jelas membuat Evanjalin sangat bahagia, bahkan hampir ia memeluk Trevanion karena saking senangnya.

Empat hari kemudian mereka memulai perjalanan. Rombongan para pengungsi dan Pendeta pergi ke Belegonia di Barat sedangkan rombongan Finnikin pergi ke Selatan untuk mencari anak buah Trevanion yang kabarnya bermukim di Yutlind. Karena cuaca buruk, mereka berkemah di dalam sebuah gua. Disinilah Evanjalin mendapatkan mimpi-mimpi itu lagi dan kali ini ia menceritakan informasi terbarunya pada rombongan, bahwa ternyata gadis-gadis Lumatere yang terjebak di dalam benteng tidak mati karena suatu sebab, tapi mereka berpura-pura mati karena sebab yang lain. Dan Trevarion membenci hal ini karena ia tidak tahu apa yang menyebabkan para ayah dan ibu itu berpura-pura bahwa putri mereka telah mati. Selain itu, Evanjalin juga mengungkapkan bahwa ternyata Lady Beatriss masih hidup dan tampaknya telah melahirkan satu anak lagi.

Seperti yang sudah kita duga, rombongan ini akan menemukan pasukan Trevarion walaupun butuh pengorbanan dan hampir saja nyawa Finnikin melayang. Nah, kalo yang ini nggak mungkin. Masa Finnikin mati?? Langsung tamat ditempat lah kalo gituu.. hhaha..

Yah, pokoknya, nanti satu persatu rahasia mulai terungkap. Hubungan Finnikin dan Evanjalin semakin meningkat. Finnikin menemukan sahabatnya tercinta. Dan yang terpenting, warga Lumatere akhirnya kembali ke tanah mereka, walaupun dengan sebuah peperangan perebutan wilayah yang digambarkan oleh Melina Marchetta dengan cukup simple namun jelas.

Well, Finnikin of the Rock, sebuah cerita yang bagus dan layak untuk diikuti. Walaupun kalau kita tidak fokus, kita kadang akan kebingungan dengan pola ceritanya, namun terlepas dari itu semua, kita disuguhi dengan sebuah cerita yang kompleks dan mantap. Beberapa typo memang terjadi, namun tidak sampai menganggu kok. Seru.. Dan aku menantikan buku keduanya, Froi of the Exiles.

Ratingku buat novel ini : 7,8

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 26, 2011 in High Fantasy

 

His Dark Materials 2 – The Subtle Knife


  • Pengarang               :    Philip Pullman
  • Genre                      :    Fantasy, Science, Adventure
  • Tebal                       :    408 hlm ; 23 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    50.000 IDR
  • Pertama terbit          :    1997
  • Cetakan                   :    Januari 2007
  • Tanggal Beli             :    22 Januari 2008

Will baru berumur dua belas tahun tapi telah membunuh orang. Sekarang ia sendirian, dalam pelarian, bertekad menemukan fakta yang sebenarnya tentang ayahnya yang hilang. 

Lalu Will memasuki jendela yang menuju ke dunia lain, dan mendapat teman baru ─gadis kecil liar dan aneh bernama Lyra. Seperti Will, gadis itu punya misi yang akan dilaksanakannya dengan risiko apa pun. 

Tapi dunia Cittagazze ajaib dan meresahkan. Spectre yang mengisap jiwa dan mematikan gentayangan di mana-mana, sementara jauh di atas, samar-samar terdengar kepakan sayap para malaikat. 

Dan di Torre degli Angeli yang misterius bersembunyi rahasia paling penting Cittagazze ─benda yang membuat orang-orang dari banyak dunia rela melenyapkan nyawa orang lain untuk mendapatkannya…

Review :

Buku kedua seri His Dark Materials – The Subtle Knife ini adalah buku yang diberi oleh ketiga sohib SMAku sebagai hadiah ultah. Anyway, thanks ya Mely, Resti ma Dany 😀 Kangen kalian deh. Hhe.. Aku ingat cerita mereka waktu cari buku ini. Rupanya mereka kebingungan karena di cover buku ini nggak ada kata ‘The Golden Compass’, padahal mereka cuma bermodalkan judul itu, sedangkan di buku kedua ini kan judulnya beda ma buku satu. Hhi.. Pokoknya, thanks ya kawan. Buku ini termasuk buku-buku awal yang mulai aku baca ni, dan aku suka ini 😀 Thx guys!

Well, buku kedua ini dibuka oleh Will, bocah laki-laki dua belas tahun, yang menitipkan ibunya ─yang punya gangguan kejiwaan─ pada salah satu kenalannya. Will berjanji akan segera menjemput ibunya. Dengan berat hati Will meninggalkan ibunya karena ia merasa yakin ibunya akan jauh lebih aman tinggal bersama Mrs Cooper ini. Will kemudian kembali ke rumahnya dan mulai menggeledah isi rumah untuk mencari tas surat usang dari kulit berwarna hijau milik ibunya. Ia terburu oleh waktu. Berjam-jam kemudian saat Will tahu dimana tas itu berada, ia tahu di dapur rumahnya ada orang-orang yang mengincar tas itu juga. Setelah mendapatkan tas itu dan hampir ketahuan, ia lebih dulu menerjang lelaki itu hingga jatuh dari tangga dan mati karena patah leher. Segera Will melarikan diri dan bersembunyi.

Kemudian, kita mendapat informasi tentang siapa Will. Bahwa ia harus merawat ibunya yang labil dan tidak mengenal ayahnya, John Parry, karena lelaki itu menghilang sebelum Will mampu mengingat.

Kini Will dalam pelarian dan menuju Oxford. Ia sangat kelelahan, berbaring di sisi jalan Oxford yang terbentang di depannya. Saat itulah pertama kalinya ia melihat gerbang antar dunia dan ia menyeberanginya. Ia masuk ke sisi lain pintu dan menemukan bahwa ia kembali berdiri di jalanan Oxford namun berbeda versi. Sebuah kota asing yang ─anehnya─ sangat sepi. Inilah awal mula petualangan Will. Ia menjelajahi kota itu diantara cahaya malam hari.

Will bahkan menemukan pantai dan iapun menyempatkan diri berenang. Setelah itu ia menyusuri jalanan dan masuk ke sebuah rumah makan kecil. Disinilah ia bertemu dengan Lyra Silvertongue pertama kalinya dalam keadaan saling mewaspadai. Kemudian setelah keadaan lebih tenang, Will dan Lyra pergi ke dapur karena sama-sama lapar. Aku suka dengan cara Will menjelaskan tentang berbagai macam makanan yang tidak ada di dunia Lyra. Saat inilah pertama kalinya juga perbedaan dunia Will dan dunia Lyra digambarkan. Wah, keren lah. Imajinasi yang bener-bener tingkat tinggi. Salut aku sama Mr. Philip Pullman 😀

Bab berikutnya, kita mendapat cerita dari sisi Serafina Pekkala, si penyihir, dan dæmon angsanya, Kaisa,  sedang dalam misi mencari Lyra yang menghilang setelah perang di Bolvangar dan terbang bersamanya ke Svalbard sebelum tragedi menimpa mereka. Di perjalanan, Serafina berjumpa dengan seekor dæmon yang tersesat. Serafina membantu mencari penyihirnya dengan masuk ke kapal para penjahat. Tentu saja ada Mrs. Coulter yang jahat didalamnya. Kini Serafina jadi tau apa yang ingin diketahui Mrs. Coulter dan teman-temannya, yaitu ramalan yang terkait dengan Lyra, anaknya.

Karena dirasa situasi yang semakin gawat, Serafina memutuskan pulang ke klannya dan mengadakan pertemuan dengan para penyihir. Di pertemuan ini, hadir Lee Scoresby, si aëronaut Texas yang ikut berperang di Bolvangar. Selain itu juga hadir ratu para penyihir Latvia yang bernama Ruta Skadi. Well, Ruta Skadi ini pernah jadi kekasih Lord Asriel oey. Hhe.. Nah, disini Ruta Skadi menyatakan pendapatnya bahwa para penyihir harus bersatu dan berperang melawan Magisterium, karena pihak inilah yang selalu berusaha menekan dan mengendalikan setiap dorongan alam, dan ini seperti menentang hukum alam. Sementara itu Lee mengatakan bahwa ia akan mencari keberadaan Dr. Stanislaus Grumman. Menurut kabar, Dr.Grumman tahu tentang keberadaan semacam benda yang melindungi siapapun yang memegangnya. Lee berniat mencari benda ini dan memberikannya pada Lyra. Ooh, manisnya.. Lee memang menganggap Lyra sebagai anaknya sendiri 🙂 Dengan dukungan dari penyihir, Lee pun berangkat ke Nova Zembla.

Disisi lain, hari telah berganti. Lyra ingin menemui Cendikiawan dan menanyakan perihal Debu. Will pun menunjukkan jendela yang nembus ke dunia Will kepada Lyra dan mengatakan padanya bahwa ia bisa menemukan Ilmuwan di dunia Will. Awalnya Will akan melepas Lyra di dunia Will sementara Will akan tetap singgah di dunia dimana ia berada sekarang. Tapi rupanya agak sulit membiarkan Lyra berkeliaran sendiri. Buktinya, baru saja ia masuk ke dunia Will, ia sudah membuat kacau lalu lintas. Well, itu mungkin karena di dunia Lyra tidak banyak yang namanya mobil, seperti halnya di dunia Will. Yah, mau nggak mau Will jadi nemenin Lyra menjelajah Oxford Will. Oh teman, kalian ngerti kan apa yang ku maksud? Sungguh, aku bingung gimana menggambarkan segala macam dunia ini walaupun aku sangat-sangat menikmati petualangan kedua bocah di dunia paralel ini. Seru! 😀 Penggambaran kedua dunia Will dan Lyra yang serupa tapi tak sama ini seolah dibedakan dari segi dimensi waktu, dunia Lyra bersetting waktu lampau sementara dunia Will berada di masa kini, masa modern.

Akhirnya, sementara Lyra menyelesaikan urusannya, Will juga berusaha mencari tahu perihal menghilangnya sang ayah yang seorang penjelajah. Ia mengunjungi beberapa tempat dan mendapat beberapa informasi penting. Begitu pula dengan Lyra. Bahkan gadis itu menemui seorang ilmuwan  bernama Dr. Mary Malone ─atas rekomendasi alethiometernya─ yang sedang meneliti Debu juga, hanya saja dengan istilah yang berbeda, Bayangan. Tapi sayangnya proyek Dr. Malone ini mandek karna nggak dapat pendanaan lagi. Tapi nanti guys, kebelakangnya, sosok Dr. Malone ini punya peranan lho.. Apalagi mereka punya suatu kemiripan bahwa Lyra punya Alethiometer sementara Dr.Malone punya sebuah program komputer bernama Cave yang kemungkinan besar sama-sama dikendalikan oleh Debu. Dr. Malone terpesona akan apa yang telah Lyra perbuat dengan Cave, iapun berjanji akan memperbaiki dan meminta Lyra untuk kembali kemari hari berikutnya. Dan Lyra menyetujuinya.

Kemudian, Will dan Lyra menghabiskan sisa hari itu dengan nonton di bioskop, makan hotdog dan burger, dan kali ini Lyra yang sangat kagum dan bahagia. Di Oxford-nya tidak ada hal begini. Saat malam lah mereka baru kembali ke Dunia lain itu melalui jendela tak kasat mata. Baru saja mereka masuk, sudah mendengar suara teriakan. Naaah, disini nii adegan dari cover buku yang melibatkan Will, Lyra,  macan tutul, kucing, dan sebuah menara digambarkan. Hhe.. Malam itulah akhirnya Will membaca surat dari  ayah untuk ibunya yang disembunyikannya. Ternyata surat-surat itu berisi informasi-informasi penting, pantas saja kalau surat-surat ini diburu.

Disisi lain, kita juga disuguhi cerita dari perjalanan sang aëronaut Lee Scoresby dalam pencarian Dr. Stan Grumman dan perjalanan sang penyihir Serafina Pekkala dengan rombongannya untuk mencari Lyra. Dalam perjalanan, rombongan Serafina Pekkala berjumpa dengan sebuah kelompok kecil yang sedang diserang Spectre. Well, ya, ini dunia yang sama yang sedang disinggahi Lyra dan Will. Itulah kenapa dunia ini sangat sepi, karna orang-orang bersembunyi dari Spectre yang menghisap jiwa orang dewasa. Hanya anak-anak yang terbebas dari Spectre.

Hari berikutnya, Lyra kembali ke tempat Dr.Malone. Tapi sayang, ternyata ada dua orang yang menantikan kedatangannya. Kejar-kejaran pun terjadi. Untung Lyra berhasil kabur. Ia lalu bertemu dengan lelaki yang menyapanya di museum kemarin. Laki-laki tua ini memberi tumpangan Lyra. Tapi ternyata lelaki ini punya maksud terselubung. Ia mencuri alethiometer Lyra. Terpaksa Will menemani Lyra ke rumah orang yang bernama Sir Charles Latrom ini. Tapi untuk mendapatkan alethio kembali, Will dan Lyra harus mendapatkan sebilah  pisau yang tersembunyi di dalam Torre degli Angeli, menara yang semalam dikerubungi anak-anak, dan ya, menara yang ada di dunia tempat Lyra singgah sementara. Rupanya Sir Charles tahu mengenai dunia lain, dan portalnya. Wew..

Dari sini masalah mulai pelik. Konflik cerita mulai rumit. Dan petualangan Will serta Lyra mulai asik. Dan menegangkan tentu saja. Apalagi setelah mereka memiliki pisau yang dapat membuka portal antar dunia ini. Seru banget dah, berpindah dari satu dunia ke dunia lainnya dengan mudahnya 😀 Ditambah, Will harus  mengorbankan dua jari tangan karenanyaaa.. Huaa, kasian Will.. Pokoknya, buku ini lebih seru dari buku sebelumnya. Pertama, karena ada karakter Will yang manis dan keren, dan kedua juga karena lebih sedikit bagian bab yang membahas penjelasan-penjelasan rumit, seperti halnya di buku pertama, The Golden Compass, yang sayangnya cukup banyak terbahas. Yah, mungkin karena sebagai buku pertama harus memberikan informasi sebanyak mungkin untuk kita agar cerita dimengerti ya.. Hhe.. Tapi lagi-lagi aku bilang, buku ini memang buku anak-anak, tapi kurasa terlalu berat untuk ukuran anak-anak. Petualangannya sih oke, tapi untuk penjelasan ilmiahnya cukup, well, memaksa kita berkonsentrasi dulu untuk bisa mengerti 😀

COVER BARU (NC)

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
6 Comments

Posted by on September 9, 2011 in High Fantasy

 

His Dark Materials 1 – The Golden Compass


  • Pengarang               :    Philip Pullman
  • Genre                      :    Fantasy, Science, Adventure
  • Tebal                       :    488 hlm ; 23 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    57.500 IDR
  • Pertama terbit          :    21 Januari 1995
  • Cetakan                   :    November 2006
  • Tanggal Beli             :    8 Januari 2008

Ketika temannya, Roger, lenyap, Lyra dan daemonnya, Pantalaimon, bertekad menemukannya. Pencarian itu membawa mereka ke alam Utara yang dahsyat, muram tapi menakjubkan, tempat beruang-beruang berbaju besi menguasai dunia es tersebut dan ratu-ratu penyihir beterbangan di langit yang membeku –dan tempat sekelompok ilmuwan melakukan eksperimen mengerikan.

Lyra berhasil melalui berbagai kengerian ini, tapi sesuatu yang lebih berbahaya menunggunya –yang tak pernah terbayangkan olehnya…

Review :

Well, The Golden Compass. Aku senang harus membuat review ini. Aku jadi bisa membaca ulang buku yang merupakan salah satu novel favoritku. Kenapa? Karena menurutku novel ini keren! Asyik banget aku dulu ngikutin buku ini, yah, walaupun kuakui novel ini sedikit berat buat bacaan fantasi anak. Ada unsur science-fiction, fantasy, dan terutama adventure didalamnya. Dan karena aku lebih suka sampul buku versi lama, dulu sampai kubela-belain cari novel ini dengan sampul yang bukan versi filmnya. Menurutku sampul versi lama lebih cantik dan orisinil daripada versi baru. Hha..

Untuk informasi awal, buku ini terdiri dari tiga bagian berbeda dimana masing-masing bagian mewakili setting tempat yang berbeda: Oxford, Bolvangar, dan Svalbard. Di awal halaman buku, kita mendapat sebuah informasi yang cukup penting, “THE GOLDEN COMPASS (KOMPAS EMAS) adalah bagian pertama kisah yang dimuat dalam tiga buku. Bagian pertama ini berlokasi di dunia seperti dunia kita, namun berbeda dalam banyak hal. Bagian kedua, THE SUBTLE KNIFE, berpindah-pindah di antara tiga dunia: dunia THE GOLDEN COMPASS (KOMPAS EMAS); dunia yang kita kenal; dan dunia ketiga, yang berbeda dari dunia kita dalam banyak hal lagi. Bagian terakhir trilogi ini, THE AMBER SPYGLASS, berpindah-pindah di antara beberapa dunia.” Gimana? Kalian yang belum membaca novel ini cukup berminat untuk membacanya?? Aku sarankan, ya. Coba kalian baca.. Tulisannya nggak padat kok, 32 baris tiap halaman, dan ini termasuk wajar. Belum lagi dengan spasi yang lebar dan kertas yang lebih mendukung lagi (tapi aku nggak tahu dengan kertas yang digunakan sama versi cover film lho yaa..), jadi nggak bosan dan mudah capek saat membaca.

Awal cerita dimulai oleh Lyra dan dæmonnya, Pantalaimon, yang sedang mengendap-endap memasuki Ruang Rehat yang selama ini dilarang dimasuki oleh siapapun kecuali para Cendekiawan, para tamu, dan Kepala Pelayan saja. Diceritakan bahwa hampir seumur hidupnya Lyra tinggal di Akademi Jordan ini. Kita juga mulai mendapatkan informasi, apa itu dæmon dan bagaimana karakteristiknya. Dæmon adalah makhluk yang pasti dimiliki oleh setiap manusia dan mereka masih bisa berubah-ubah bentuk selama pemiliknya masih kanak-kanak. Namun saat si anak menginjak semakin dewasa, maka dæmon mereka pun akan kehilangan kemampuan berubah wujud dan akan tetap pada satu bentuk hewan favorit mereka selama ini, dan kadang bentuk dæmon ini dapat menunjukkan kepribadian dari pemiliknya.

Nah, saat Lyra dan Pan sedang melihat-lihat ruangan, terdengar suara langkah kaki di luar. Mereka pun segera bersembunyi di bawah meja. Ternyata Master dan seorang pelayan yang masuk. Mereka  membicarakan tentang kedatangan seorang tamu, Lord Asriel. Pelayan itu kemudian meninggalkan sang Master seorang diri. Lyra semakin penasaran. Lord Asriel adalah pamannya yang luar biasa ia kagumi dan takuti. Ia jarang bertemu dengan Lord Asriel, namun sepanjang yang ia dengar dari orang-orang, pamannya itu adalah seorang yang terlibat dengan politik tingkat tinggi, penjelajahan rahasia, dan peperangan di tempat jauh. Selain itu pamannya ini adalah orang yang keras, jadi kalau Lyra berbuat salah, ia pasti akan dihukum berat, dan bersembunyi di dalam ruangan ini memiliki resiko serupa. Namun apa yang ia saksikan kemudian membuatnya bingung. Ia melihat Master menuang bubuk putih kedalam botol anggur dan mengaduknya lalu menutup kembali botol sebelum kemudian beliau pergi meninggalkan ruangan. Saat Lyra dan Pan akan pergi, ternyata mereka sudah terjebak. Mereka terpaksa kembali bersembunyi di dalam sebuah lemari dan menunggu pertemuan para Cendekiawan itu selesai. Dan yang pasti, ia tidak mungkin membiarkan Master meracuni pamannya, Lord Asriel. Saat Lyra sedang duduk dibalik pintu lemarinya, Lord Asriel masuk ke ruangan dan Kepala Pelayan pergi untuk memanggil Master. Lyra terus mengamati paman dan dæmon pamannya yang berbentuk macan tutul salju. Oia, disini ceritanya dæmon bisa bicara, jadi sekarang Lord Asriel sedang mengobrol dengan Stelmaria, sang dæmon. Saat Pamannya menuang anggur itu, barulah Lyra berteriak memperingatkannya, bahkan menyambar gelas hingga jatuh dan pecah. Otomatis Lord Asriel langsung memelintir tangan Lyra dan memarahinya. Namun kemudian Lyra menjelaskan dan Lord Asriel terlihat lebih marah lagi. Akhirnya Pamannya memerintahkan Lyra untuk kembali ke lemari, bersembunyi, dan mengamati tindak tanduk Master untuk kemudian dilaporkan pada Lord Asriel kemudian.

Tidak lama kemudian para Cendekiawan masuk dan Lord Asriel memulai presentasinya tentang hasil perjalanannya jauh ke Utara. Bahkan Lyra menyadari kalau Lord Asriel menempatkan Master agar duduk dekat lemari Lyra, dan benar saja, Lyra mendengar bisikan Master dan seorang Pustakawan mengenai anggur itu. Tapi diluar itu semua, Lyra lebih senang lagi karena ia bisa menyaksikan apa yang dipresentasikan pamannya. Ia memang tidak mengerti, namun pamannya menunjukkan beberapa gambar fotogram dengan dua bahan yang berbeda, satu dengan emulsi perak nitrat standar sedangkan yang satunya adalah emulsi baru yang memang disiapkan oleh Lord Asriel untuk membuktikan satu teori. Bersama gambar-gambar itu, ia membahas sesuatu yang bernama ‘Debu’ dan tampaknya, melihat dari reaksi para peserta, mereka mengerti apa yang dimaksud Debu oleh Lord Asriel, kecuali Lyra. Selain itu Lord Asriel juga menunjukkan sebuah fotogram Aurora yang disebut sebagai Cahaya Utara. Dari fotogram pertama, terlihat Aurora biasa, namun saat Lord Asriel mengganti slide dari bahan emulsi baru, terlihat jelas bahwa di dalam Aurora itu terdapat sebuah kota lengkap dengan bangunan-bangunan yang dimata Lyra seperti tergantung di udara! Tentu saja para Cendikiawan semakin tertarik, kecuali Master dan Pustakawan. Selain presentasi itu, Lord Asriel juga melaporkan tentang hasil pencariannya terhadap Dr. Grumman yang melakukan ekspedisi dan menghilang delapan belas bulan yang lalu. Lord Asriel melaporkan bahwa Dr. Grumman sudah meninggal dan membawa bukti berupa kepala Dr. Stanislaus Grumman yang ia temukan di luar Svalbard. Ternyata kepala itu ditemukan dalam kondisi sudah dikuliti dan terdapat lubang di puncak kepala, biasanya merupakan ulah bangsa Tartar. Tentu saja Lord Asriel tidak mengizinkan Lyra untuk melihatnya saat pertemuan itu selesai. Ia bahkan memerintahkan Lyra untuk segera kembali ke kamar dan tidur setelah Lyra melaporkan apa yang didengarnya.

Di bab ketiga kita akan membaca cerita tentang kehidupan sehari-hari Lyra di Akademi Jordan. Bagaimana ia sangat bandel seperti berandal kecil dan senang berpetualang. Ia hobi naik ke genteng Akademi dan menjelajahi genteng-genteng bersama Roger, sahabatnya yang seorang pelayan dapur. Di bab ini juga disinggung cerita tentang seorang wanita cantik berdæmon seekor monyet berbulu emas yang sedang menculik anak-anak gelandangan dan kemudian mengirim mereka ke Utara. Masalahnya, anak-anak ini tidak sadar kalau sedang diculik. Mereka terlampau terpesona pada wanita itu hingga mau menuruti apapun yang diminta si nyonya cantik. Tidak terkecuali Billy, anak seorang Gipsi bernama Ma Costa, yang masih tergolong bangsawan di kalangan Gipsi. Padahal orang Gipsi terkenal sangat melindungi anak-anak mereka karena anak-anak dianggap berharga dan selalu dilimpahi kasih sayang. Kini, teror para penculik yang mereka panggil Pelahap itu semakin mencekam. Semakin banyak anak-anak yang menghilang. Saat Lyra sedang mencari bersama kawan-kawannya, ia baru ingat Roger dan ia belum melihatnya sejak pagi tadi. Karena cemas, Lyra langsung berlari kembali ke Akademi Jordan, mencari Roger. Namun di dapur tempat ia biasa bekerja juga tidak ada. Lyra pun ketakutan dan berniat akan mencari Roger. Namun sayangnya rencana itu harus ditunda sebentar.

Lyra terpaksa menghadiri perjamuan Master untuk tamu-tamunnya dari akademi lain dan salah satunya, tanpa sepengetahuan Lyra, adalah si ‘Pelahap’, Mrs. Coulter. Wanita muda nan cantik berambut hitam mengilat yang membingkai pipi-pipinya, dan dæmonnya yang berbentuk monyet emas. Seperti anak pada umumnya, Lyra juga merasakan keterpesonaan pada kesan glamor wanita muda itu. Disini Mrs. Coulter mengenalkan dirinya sebagai anggota Akademi Dame Hannah, salah satu Cendikiawan wanita yang ada disitu juga. Namun Lyra mengabaikan yang lainnya karena ia terlalu asyik mengobrol dengan Mrs. Coulter. Saat para tamu pergi, barulah Master mengajaknya ngobrol. Ia mengatakan bahwa sudah saatnya Lyra perlu mendapatkan pendamping wanita dan sekolah. Namun Lyra menolak dengan keras karena menurutnya Akademi Jordan lah rumahnya. Namun saat Master menawari Lyra untuk berada dalam pengasuhan Mrs. Coulter, segera Lyra bersuka cita dan bersemangat. Ia sangat mengagumi wanita itu dan ingin menjelajahi Utara seperti yang dilakukan Mrs. Coulter.  Oia, sekedar informasi dari Master, tidak ada Mr. Coulter karena suaminya itu meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Jadi intinya, Mrs. Coulter janda. Dan setelah disepakati, segera Lyra akan pergi bersama Mrs. Coulter, yaitu dini hari besok.

Ketika langit masih gelap, seseorang mengguncang dan membangunkannya dari tidur. Ternyata Mrs. Lonsdale yang menyampaikan pesan Master dengan berbisik bahwa Lyra harus menemui Master sekarang sebelum Lyra harus pergi sarapan dengan Mrs. Coulter. Lyra pun segera berlari menemui Master. Ya ampun. Sebenarnya aku merasa Master ini orang yang baik dan sangat menyayangi Lyra, terlepas dari rencana jahatnya membunuh Lord Asriel. Master kemudian memberi Lyra sesuatu dan  memaksa gadis itu untuk berjanji merahasiakannya, bahkan pada Mrs. Coulter ataupun pada siapapun. Kemudian, untuk pertama kalinya Lyra melihat alethiometer, sebuah benda berupa piringan kuningan dan kristal tebal seperti kompas, dan kegunaan benda itu sendiri untuk mengetahui kebenaran. Namun Master tidak bisa sempat mengajarinya dan segera menyuruh Lyra kembali ke kamarnya.

Segera Lyra berangkat ke London, tinggal di apartemen Mrs. Coulter yang menakjubkan, pergi menghadiri perjamuan, dan berbelanja. Sebuah kehidupan yang sebelumnya belum pernah Lyra kenal. Malam harinya, setelah Mrs. Coulter mengucapkan selamat malam dan Lyra hampir tertidur, Pan mengingatkan Lyra tentang Alethiometer. Langsung saja Lyra bangkit, mengambil benda itu dan mengamatinya bersama Pan. Benda itu memang mirip kompas, namun bukan angka yang berada di atas permukaan kaca, namun tiga puluh enam gambar kecil yang masing-masing dilukiskan dengan ketepatan yang luar biasa. Di samping kompas ada tiga pemutar kecil bergerigi, dan masing-masing memutar salah satu dari tiga jarum pendek yang bisa diatur menunjuk gambar mana saja. Lalu ada jarum keempat yang lebih panjang dan ramping. Namun berbeda dari ketiga jarum yang lain, jarum yang ini tidak bisa dikendalikan oleh Lyra dan terus berbutar seperti layaknya jarum kompas dan tidak pernah berhenti di satu gambar manapun. Walaupun Lyra tidak mengerti tentang benda ini, namun ia sangat menikmati benda ini, sampai tiba-tiba ia mendengar suara Mrs. Coulter di depan pintu kamarnya dan Lyra segera menyembunyikan alethio di bawah bantal.

Hari berikutnya, dalam perbincangan tanpa sengaja Lyra mengungkapkan pengetahuannya tentang Debu dan ini membuat suasana ruangan tegang bukan main. Ia pun berkata acuh tanpa mengungkapkan bahwa Lord Asriel lah sumber pengetahuannya. Akhirnya musim berganti dan enam bulan pun berlalu. Mrs. Coulter memutuskan untuk mengadakan pesta koktail entah untuk merayakan apa. Namun Pan mulai semakin gelisah dan yakin bahwa Mrs. Coulter tidak akan pernah mengajak mereka ke Utara. Wanita itu akan terus menahan mereka di rumah ini. Namun Lyra tetap percaya bahwa suatu saat ia pasti akan pergi ke Utara bersama Mrs. Coulter. Namun sebelum pesta koktail dimulai, Lyra harus mengakui pendapat Pan benar bahwa ia seperti hewan peliharaan bagi Mrs. Coulter. Saat itu timbul perdebatan bahwa Mrs. Coulter ingin Lyra melepas tas sandangnya sementara Lyra ingin tetap memakainya karena ia sudah terbiasa memakainya. Masalahnya di dalam tas itu terdapat Alethiometer. Namun tiba-tiba monyet emas Mrs. Coulter secepat kilat menyerang Pan dan mencengkeramnya dengan kuat. Lyra merasakan perasaan takut dan nyeri dan ia menangis memohon agar Mrs. Coulter melepaskannya. Setelah janji bahwa ia akan patuh, monyet itu melepaskan Pan. Sejak saat itu Lyra jadi merasa ngeri dan marah pada Mrs. Coulter. Di pesta, Lyra diam-diam mendengarkan banyak percakapan yang menarik, terutama yang menyinggung Debu, Lord Asriel, dan Pelahap. Informasi yang ia dapatkan menyebutkan bahwa Lord Asriel di tawan di Svalbard oleh panserborne, beruang berbaju besi. Dan satu lagi fakta yang meresap di pikirannya, Mrs. Coulter tampaknya terlibat dalam kegiatan Pelahap. Tanpa pikir panjang lagi, ia dan Pantalaimon pun segera kabur. Namun dijalan ia malah di tangkap oleh para pedagang Turki dan untungnya ada seseorang yang menyelamatkannya dan ternyata orang itu adalah Tony Costa, kakak dari Billy Costa yang hilang, dan anak dari Ma Costa, Gipsi Oxford yang ia kenal. Lyra senang setengah mati bertemu dengan mereka. Maka Ma Costa pun membawa Lyra untuk menemui John Faa, raja kaum Gipsi, dan Farder Coram. Kepada mereka akhirnya ia bercerita tentang segala sesuatunya. Dan bahkan dari mereka akhirnya ia tahu bahwa orang tuanya masih hidup dan ternyata Lord Asriel dan Mrs. Coulter lah orangtua kandungnya. Alamak..

Akhirnya, kaum Gipsi mengumpulkan orang-orangnya dan mereka akan pergi ke Utara untuk menyelamatkan anak-anak. Tentu saja Lyra bertekad untuk ikut, namun John Faa melarang wanita untuk ikut, apalagi Lyra yang masih kecil. Bukan sifat Lyra untuk menurut. Suatu ketika saat ia sedang belajar membaca Alethiometer, Lyra ternyata berhasil. Ia mendapatkan jawaban atas pertanyaanya yang kemudian terbukti seperti sebuah ramalan dan ini disaksikan oleh Farder Coram. Itulah kenapa John Faa akhirnya memutuskan untuk membawa Lyra yang sudah pasti senang bukan main. Ia ingin menyelamatkan Roger dan ayahnya yang ditawan oleh panserborne, walaupun tidak tahu bagaimana caranya.

Mereka memulai perjalanan. John Faa dan para pemimpin lain memutuskan berlayar ke Trollesund, pelabuhan utama Lapland. Mereka memutuskan untuk meminta bantuan para penyihir untuk menyelamatkan anak-anak. Di awal perjalanan, Lyra memang sering mabuk laut. Namun setelah ia menyibukkan diri, menjelajah kapal, dan berkenalan dengan awak kapal, ia mulai melupakan mabuk lautnya. Di Trollensund, mereka menemui Konsul Penyihir dan seekor beruang tanpa baju besi bernama Iorek Byrnison, yang bekerja di kota itu dan mendapat upah berupa bir, makanan, dan tempat tinggal. Farder Coram dan Lyra datang menemui Iorek untuk menawari pekerjaan. Beruang terkenal menepati janji apabila sudah berjanji dan ia adalah prajurit yang tangguh. Itulah kenapa Farder Coram ingin merekrutnya. Ternyata Iorek tertahan di kota ini karena dulu warga kota membuatnya mabuk dan mencuri baju perang Iorek. Bagi panserborne, beruang tanpa baju perang sama dengan manusia tanpa dæmon, dan manusia tanpa dæmon sama halnya seperti manusia tanpa kepala. Jadi di seri ini, digambarkan kalau ada seseorang yang tidak terlihat dæmonnya di sekitarnya, mereka yang menyaksikan akan menghadapi kengerian. Dæmon seperti jiwa bagi manusia.

Setelah menawari Iorek pekerjaan dan Iorek menolaknya, Farder Coram dan Lyra pergi. Namun Lyra gigih. Ia mencari tahu dimana warga menyembunyikan baju perang Iorek dengan Alethiometer dan kemudian Lyra memberitahu Iorek. Iorek pun berhutang budi pada Lyra dan berjanji akan mengabdi pada gadis itu. Selain Iorek, mereka juga bertemu Lee Scoresby, seorang aëronaut dan bisa menerbangkan balon udara. Akhirnya perjalanan mereka berlanjut dengan tambahan dua personil ini. Setelah beberapa jam melaju, Lyra menggunakan Alethiometer nya dan menemukan suatu petunjuk yang harus ia lakukan. Alethiometer memintanya untuk pergi ke sebuah desa di dekat danau dimana ada seseorang atau hantu salah satu anak yang hilang. Dengan izin dari Lord Faa, Iorek pun membawa pergi Lyra. Ternyata yang ditemukan Lyra adalah seorang anak kecil yang telah terpenggal. Inilah maksud dari pemenggalan itu. Para Pelahap memenggal anak-anak dan dæmonnya. Di sebuah gudang ikan, Lyra menemukan Tony Makarios, bocah yang terpenggal dari dæmonnya. Kondisinya sangat mengenaskan. Iorek dan Lyra pun membawa Tony kembali ke para Gipsi.

Perjalanan kembali berlanjut dan kini mereka semakin dekat dengan Bolvangar. Selama perjalanan ini, Lyra banyak mendapatkan cerita dan pelajaran dari sana sini, termasuk Iorek dan Scoresby. Tapi sayangnya, mereka mendapat serangan mendadak dari orang Samoyed dan Lyra diculik untuk kemudian dijual kepada sebuah laboratorium percobaan. Inilah lab yang selama ini mereka cari,  lab Bolvangar, dimana anak-anak yang diculik ditawan. Beberapa hari Lyra berada di dalam fasilitas itu untuk diteliti dan diukur, dan selama itu juga ia, Roger dan Billy membuat rencana untuk kabur. Saat situasi sudah tepat, Lyra membunyikan tanda yang sudah disepakati dan anak-anak lain berhamburan keluar gedung. Sudah pasti, terjadi hiruk pikuk dan peperangan pun tak terhindarkan. Para Gipsi dan penyihir telah tiba dan mereka melawan bangsa Tartar yang menjaga fasilitas itu. Wew.. Cukup ramai..

Tentu saja peperangan dimenangkan pihak Gipsi dan kini Lyra harus melanjutkan perjalanan lagi. Menuju Svalbard. Bersama Roger, Iorek Byrnison, Lee Scoresby, dan Serafina Pekkala menggunakan balon udara Scoresby. Mereka akan menemui Lord Asriel. Tapi sayangnya, lagi-lagi mereka mendapat halangan hingga membuat Lyra jatuh dari balon udara dan menjadi tawanan Iofur Raknison, raja kaum beruang yang haus kekuasaan dan sangat ingin memiliki dæmon. Di dalam penjara, Lyra berjumpa dengan seorang Profesor bernama Jotham Santelia dan dari ia lagi-lagi Lyra mendapat tambahan pengetahuan. Karena bingung saat menghadapi Iofur, Lyra terpaksa mengadu domba Iofur dan Iorek. Lyra ingat bahwa Iofur sangat menginginkan dæmon. Itulah kenapa Ia mengatakan pada Iofur bahwa dirinya adalah dæmon milik Iorek. Iofur yang sudah membenci Iorek hingga sumsum tulang, kini semakin membencinya dan menantang Iorek untuk bertarung. Tentu saja Iorek menang dan kembali menduduki jabatannya sebagai raja para beruang. Karena tahu Mrs. Coulter masih mengejarnya, Lyra dengan ditemani Roger dan Iorek harus melanjutkan perjalanan ke tempat Lord Asriel. Ternyata saat Lyra jatuh sebelumnya, Iorek dan Roger ikut jatuh kemudian, Serafina Pekkala harus bertarung melawan klan penyihir lainnya dan Lee Scoresby untungnya bisa mengendalikan balon dan kembali mengudara tapi sayangnya ia  terbawa angin jauh meninggalkan mereka dibelakang. Jadi mereka berlima terpisah dan hanya Iorek, Lyra, dan Roger yang melanjutkan perjalanan. Namun sayangnya, pertemuan Lyra dengan ayahnya tidak seindah bayangannya. Ternyata selama ini ia tidak mengerti secara pasti apa maksud dari Alethiometer saat kompas itu mengatakan bahwa Lord Asriel membutuh sesuatu yang dibawaLyra. Selama ini Lyra menganggap bahwa Alethiometer lah yang dibutuhkan Lord Asriel, tapi ternyata ia salah. Sayang, Lyra harus menanggung akibat, kehilangan sahabatnya tercinta di tangan sang ayah.

Tahun 2007, sebuah film dengan judul The Golden Compass direlease. Film yang berdurasi 113 menit ini diproduksi oleh  New Line Cinema, Ingenious Film Partners, Scholastic Productions dan Depth of Field. Sudah pasti film ini diadaptasi dari novel His Dark Materials 1 – The Golden Compass karangan Philip Pullman. Namun sudah pasti juga, versi buku jauh lebih menarik daripada versi filmnya.

Film yang diperankan oleh aktor-aktor kawakan Hollywood ini memang berhasil meraup keuntungan besar, dan kurasa karena selain penontonnya adalah para pecinta novel The Golden Compass yang penasaran dengan versi filmnya, pemerannya yang bintang-bintang top juga menjadi alasan tersendiri. Sebut saja Nicole Kidman dan Daniel Craig yang masing-masing berperan sebagai Marisa Coulter dan Lord Asriel. Untuk pemeran utamanya, Lyra Belacqua, diperankan oleh seorang gadis Inggris bernama Dakota Blue Richards. Dan Freddie Highmore serta Ian McKellen pun juga tak mau kalah ambil bagian. Highmore sebagai pengisi suara dari Pantalaimon, hewan kesayangan Lyra, sedangkan McKellen mengisi suara Iorek Byrnison, beruang yang kemudian menjadi sahabat Lyra.

Untuk para pemeran pendukung, kita akan menemukan Ben Walker yang memerankan Roger. Lalu ada Eva Green, Jim Carter, Tom Courtenay, Sam Elliott, Kristin Scott Thomas, dan Ian McShane yang berperan sebagai Serafina Pekkala, John Faa, Farder Coram, Lee Scoresby, Stelmaria, dan Ragnar Sturlusson.

Nicole Kidman, wanita kelahiran Hawaii ini telah membintangi 58 judul film, diantaranya adalah The Interpreter (2005), Bewitched (2005), Happy Feet (2006), The Invasion (2007) dimana ia juga bertemu dengan Daniel Craig sebagai lawan mainnya, Margot at the Wedding (2007), Australia (2008), dan Just Go with It (2011) bersama Adam Sandler dan Jennifer Aniston.

Daniel Craig sendiri adalah… well, siapa yang nggak tau Daniel Craig sih?? Yups, dialah si 007, James Bond. Beda-beda tipis dengan Kidman, Craig telah membintangi 59 judul film yang dua diantaranya adalah film James Bond yang legendaris, Casino Royale(2006) dan Quantum of Solace (2008). Sedangkan untuk film-film yang lain adalah Layer Cake (2004), The Jacket (2005), Munich (2005), Infamous (2006), The Invasion (2007), Flashbacks of a Fool (2008), Defiance (2008), dan Cowboys & Aliens (2011). Untuk filmnya yang siap luncur adalah Dream House (2011) dan film yang sudah memasuki akhir produksi ada The Adventures of Tintin (2011) dan The Girl with the Dragon Tattoo (2011) yang diangkat dari sebuah novel dengan judul sama karangan Stieg Larsson. Satu film yang siap diproduksi lagi adalah film James Bond yang rencana akan diluncurkan tahun 2012. Hha..

Nah, kini giliran Dakota Blue Richards, sang tokoh utama. Cewek kelahiran Brighton, Inggris, 11 April 1994 ini masih tergolong baru dalam dunia perfilman. Bahkan The Golden Compass ini adalah film pertamanya. Hingga kini, ia hanya memerankan 6 judul film, diantaranya adalah  The Secret of Moonacre (2008) dan sebuah serial TV berjudul Skins.

Oke, siapa yang nggak kenal Freddie Highmore? Cowok bernama lengkap Alfred Thomas Highmore ini kelahiran London, 14 Februari 1992, memulai debut di dunia akting sejak berusia 7 tahun di sebuah TV show berjudul Walking on the Moon (1999). Sejak itu hingga kini ada 27 judul yang ia perankan, sebagian diantaranya adalah Finding Neverland (2004) dan Charlie and the Chocolate Factory (2005) dengan lawan main si nyentrik Johnny Depp. Aduuduh. Mauu.. Hha. Nah, kalau film lainnya yang juga mengusung namanya adalah Arthur and the Invisibles (2006), August Rush (2007), The Spiderwick Chronicles (2008), Astro Boy (2009), Arthur and the Revenge of Maltazard (2009), Master Harold… and the Boys (2010), Arthur 3: The War of the Two Worlds (2010), Toast (2010), dan sebuah film yang memiliki Emma Roberts sebagai lawan mainnya, The Art of Getting By (2011).

Bintang besar kita yang terakhir adalah Ian McKellen. Pria berusia 72 tahun ini memiliki andil dalam film-film keren, seperti X-Men (2000), X2 (2003), X-Men: The Last Stand (2006) sebagai Eric Lensherr alias Magneto. Selain itu, beliau juga berperan sebagai Gandalf dalam The Lord of the Ring Trilogy, The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2011), The Lord of the Rings: The Two Towers (2002), dan The Lord of the Rings: The Return of the King (2003). Kalau kalian perhatikan, beliau juga bermain di The Da Vinci Code (2006) sebagai Sir Leigh Teabing.

Untuk perbandingan isi cerita dari versi buku dan versi film sendiri cukup banyak. Wajar memang, cerita dari buku setebal 486 halaman harus dimampatkan dalam film berdurasi 113 menit. Segalanya jadi serba simpel. Secara garis besar memang inti cerita tidak banyak berubah, namun banyak detail yang berubah di sana-sini. Misal, saat Lord Asriel memberikan presentasi, slide fotogram yang digunakan di film hanya satu karena sudah merangkum beberapa slide yang digunakan di versi buku. Lalu, kalau di buku, Lyra adalah satu-satunya wanita dalam perjalanan kaum Gipsi, sedangkan kalau di film perjalanan itu diikuti oleh beberapa wanita lain. Dan ada yang lain, bocah yang Lyra temukan di tepi danau adalah Tony Makasios, namun kalau di film bocah itu adalah Billy Costa. Belum lagi kalau di buku digambarkan gudang itu berada di sebuah desa, tapi kalau di film, bangunan itu adalah sebuah pondok yang berdiri sendiri tanpa rumah lain di sekitarnya. Tapi yang cukup memberikan perbedaan yang mencolok adalah plot nya. Kalau di buku, terjadi perang Bolvangar dahulu baru Lyra menghadapi bangsa beruang. Tapi kalau di film, Lyra berada di bangsa beruang dulu baru menghadapi perang di Bolvangar. Well, kalau mau disebutkan satu persatu setiap perbedaan detail, pasti akan menimbulkan sebuah daftar yang lumayan panjang. Jadi kurasa cukup segini aja deh. Hhe.. Kan cuma untuk gambaran aja bagaimana letak perbedaannya. Tapi terlepas dari perbedaan-perbedaan itu, aku cukup menikmati filmnya kok. Walau tetap, aku lebih menyukai bukunya 🙂

Nah, kurasa sekian dulu buat ulasanku kali ini karena, wew, ternyata sudah cukup banyak juga ya..  Nggak nyadar 😀 Kalau gitu, sampai jumpa di review selanjutnya <^.->/

COVER BARU (NC)

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
7 Comments

Posted by on August 12, 2011 in High Fantasy

 

Tunnels 4 – Closer


  • Pengarang               :    Roderick Gordon & Brian Williams
  • Genre                      :    Adventure
  • Tebal                       :    628 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Mizan
  • Harga                      :    79.500 IDR
  • Pertama terbit          :    2010
  • Cetakan                   :    November 2010
  • Tanggal Beli             :    12 Januari 2011

Will dan ayahnya bertualang semakin dalam ke pusat bumi. Melewati garis gravitasi nol yang hampir merenggut nyawa mereka. 

Mereka masuk ke sebuah dunia luar biasa, di mana pasukan Nazi hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk dari zaman dinosaurus. Mungkinkah ini Taman Matahari Kedua yang menjadi legenda di Koloni? Apakah mereka akhirnya akan bebas dari kejaran Limiter dan Dua Rebecca, sekaligus berhasil menyelamatkan Bumi dari ancaman virus Dominion? 

Sementara itu, di permukaan bumi Drake bertemu dengan sekutu yang tak disangka, seorang Styx. Akankah persekutuan itu membawa hasil, atau malah sebuah jebakan?

Review :

Pembuka cerita kali ini adalah si kembar Rebecca. Ternyata dari ledakan yang dibuat oleh Elliot ―cerita buku ketiga, mereka berdua selamat dengan menyelam ke dalam kolam dan menemukan sebuah lorong dari dalam kolam. Namun Rebecca Satu menderita luka tembak di pinggangnya sehingga Rebecca Dua harus merawatnya.

Akhirnya Chester berhasil mencapai Dunia Atas Topsoil bersama Martha. Namun semakin lama Chester semakin tidak nyaman dengan keberadaan Martha yang menurut Chester tingkahnya aneh, terlalu protektif terhadap Chester dan ia tidak suka itu. Digambarkan seolah Chester itu anak Martha, jadi Martha sangat menyayanginya dan memanggil Chester dengan panggilan ‘sayang’. Di satu sisi Chester sangat risih namun di sisi lain ia takut pada Martha, takut kalau-kalau wanita tua itu meledak-ledak marah.

Saat Rebecca tiba di suatu tempat terbuka, ia menyadari bahwa sedari tadi ia berjalan di dalam sebuah gunung. Dari tempatnya berdiri sekarang ia dapat melihat sebuah kota yang tergolong besar di kejauhan. Di situ ia juga melihat sebuah kembang api yang meluncur ke langit dan ternyata itu adalah sinyal dari Styx untuk berkomunikasi dengan prajurit Limiter yang lain. Sebuah Prosedur Operasi Standar Limiter. Rebecca senang bukan main dan ia yakin bahwa tanda itu ditujukan kepada dirinya dan kembarannya. Ia kemudian mencari cara untuk menunjukkan lokasinya kepada pasukannya. Setelah itu Rebecca Dua membawa saudari nya yang terluka menuju ke kota itu. Disitu ia dihadang oleh sepasukan prajurit pertahanan yang ternyata berbicara dengan Bahasa Jerman. Tepat saat itulah pasukan Limiter juga tiba, jadi memaksa dua kompi pasukan ini saling menodong. Rebecca bertindak sebagai penengah. Dengan wibawa nya, ia memerintahkan tim medis untuk merawat Rebecca Satu yang terluka terlebih dahulu sedangkan ia sendiri menanyakan keberadaan peradaban ini yang kemudian di jawab oleh sang perwira Jerman ―Kapten Franz― bahwa peradaban ini bernama New Germania dan pendahulu mereka yang tertua tiba di sini pada tahun 1944 yaitu sebelum masa perang berakhir. Rebecca Dua menduga bahwa penduduk New Germania ini adalah keturunan dari para Ilmuwan yang dulu melakukan Ekspedisi Third Reich ke Kutub-Kutub Bumi untuk menyelidiki teori Bumi Berongga namun ia tidak tahu bahwa Ekspedisi itu berhasil. Mengingat bahwa Styx cabang Inggris dan Jerman melakukan kerjasama, Rebecca Dua kemudian mengeluarkan perintah kepada si Perwira Jerman untuk pergi berkonsultasi dengan atasan-atasannya tentang Suplemen enam puluh enam Unternehmen Seelӧwe ―Operasi Singa Laut, sebuah cetak biru Nazi akan serangan terhadap Inggris yang disusun antara tahun 1938-1940, dengan referensi kepada “Mephistopheles” ― Mephistopheles adalah nama sandi bagi orang-orang Styx. “Haiyah, apa ituu??” komentarku waktu aku baca bagian ini.. Tapi sampai akhir cerita aku masih nggak ngerti sama bagian ini. Hha..

Nah, kini bagian Drake yang muncul. Karena stress akibat kehilangan tangan kanannya ―Letherman―  dan ibu Will ―Mrs.Burrows― dalam melaksanakan misinya yang ternyata gagal, Drake jadi suka mabuk. Beberapa kali ia harus diawasi oleh seorang lelaki yang ternyata adalah mantan Limiter. Yups.. Disini kita dikenalkan oleh karakter baru yang bernama Edward James Green atau yang Drake panggil dengan Eddie si Styx. Yang lucu disini adalah seharusnya seorang Styx yang merupakan serdadu mengerikan, harus dipanggil dengan panggilan nama Topsoiler umum. Kata Drake, terasa absurb, dan menurutku iya juga sih.. Tapi aku suka bagian cerita ini. Saat Drake dan Eddie berdiskusi mengenai rencana mereka untuk melawan Styx. Dan ternyataaa, Eddie si Styx ini adalah ayah kandung Elliot lhoo 🙂

Di buku Closer, karakter Will baru muncul setelah kita masuk ke bab 6. Will, Elliot, dan Dr.Burrows masih berada di sekitar piramida karena Dr. Burrows belum menyelesaikan risetnya. Selain itu Elliot tidak ingin mereka berpindah tempat ke lokasi yang belum ia jelajahi namun mereka tetap memikirkan kemungkinan itu, apalagi sejak Dr. Burrows melihat sebuah pesawat Stuka ―sebuah pesawat pengebom Jerman dari Masa Perang Dunia Kedua. Mereka berspekulasi bahwa sebenarnya ada manusia lain yang mendiami permukaan Bumi bagian dalam ini. Ya memang ada. Tapi kan mereka belum pernah bertemu dengan seorang diantara manusia ini karena mereka terus berada di dalam hutan. Suatu hari Elliot mengajak Will untuk berkeliling dan menunjukkan pada Will beberapa gua yang telah ia temukan dimana ia menyimpan persediaan makanan untuk jaga-jaga siapa tahu mereka harus bersembunyi dengan segera. Saat inilah mereka berdua menemukan sebuah tanda penunjuk arah bagi kaum Limiter. Elliot dan Will jadi bersiaga full karena dengan adanya  penemuan ini menunjukkan bahwa ada banyak Limiter di tempat ini dari pada yang mereka duga sebelumnya.

Cerita beralih pada Drake yang sekarang sedang disibukkan dalam penelitiannya sendiri mengenai teknologi Styx. Kini ia tinggal dengan Eddie yang ternyata di bawah apartemen mewahnya terdapat ruang rahasia luas yang ia bangun untuk menyimpan segala macam senjata, baik senjata Topsoiler atau Styx dan banyak teknologi Styx yang sangat menarik perhatian Drake. Mereka kini bekerja sama demi tujuan yang berbeda karena Eddie ingin menyelamatkan Putrinya, Elliot, dan ia menolong Drake karena ia berhutang budi pada Drake yang sudah merawat dan melindungi Elliot saat berada di Deeps. Eddie sendiri sejak menyamarkan kematiannya sebagai Styx kemudian hidup sebagai seorang Topsoiler. Ia tidak mau terlibat lagi dengan rencana-rencana Styx. Belum lagi sebenarnya ia sudah melanggar hukum sakral kaum Styx, yaitu memiliki keturunan dengan wanita diluar kaumnya, dalam hal ini ia memiliki anak dengan seorang wanita Colony yang sangat ia cintai. Itulah kenapa Elliot sebenarnya spesial karena ia memiliki darah Styx di dalam nadinya dan ia termasuk ‘spesies’ yang sangat langka yang biasa disebut sebagai kaum Soiler. Walaupun tidak bisa secara langsung, namun sebenarnya Eddie sangat ingin melindungi Elliot. Ooh, so sweet..

Dilain pihak nii, bukannya bisa bertemu dengan Ayah dan Ibunya, Chester sekarang malah menjadi tawanan Martha yang semakin menggila. Chester dipukul hingga pingsan saat Martha memergoki Chester yang sedang berusaha menelepon keluarganya. Sejak saat itu, dan sudah berminggu-minggu, Chester dikurung di ruangan kecil bawah tangga dan diikat kaki serta tangannya. Ya Ampun.. Aku ketawa waktu baca komentar dia, “Harry Potter, aku tahu apa yang telah kau alami.” katanya.

Oia, masih ingat dengan Mrs. Celia Burrows kan? Well, di buku sebelumnya dia kan sebenarnya nggak mati ―tapi Drake nggak tahu kalau sebenarnya Celia nggak mati dan malah diculik Styx― dan di bab 8, Celia kembali diceritakan. Pasca interogasi ganas yang telah dilakukan Styx padanya, kondisi mental Celia sangat buruk. Bahkan ia mengandalkan seseorang untuk melakukan kegiatan sehari-hari karena dia seperti seorang yang menderita koma dan tidak berespon terhadap sekitarnya. Kini Celia dalam perawatan si Opsir Dua ―masih ingat dia juga kan? Yang dulu di buku satu, Tunnels, kepalanya dipukul oleh Will pake sekop waktu mau membawa kabur Chester dari penjara. Hhe.. ― yang entah kenapa dia merawat Celia sepenuh hati. Aku aja sampe nebak, mungkinkah kelak Celia dan Dr. Burrows cerai lalu Celia sama si Opsir Dua ini??? Soalnya kan Celia sama Dr. Burrows udah menunjukkan dengan jelas bahwa mereka udah nggak sejalan lagi waktu di buku ketiga, FreeFall. Tapi itu cuma satu dari banyak spekulasiku siihh 😉 Tapi, tapi tunggu dulu.. Ternyata Celia hanya berakting! Pada dasarnya dia sudah sadar sepenuhnya namun dia pura-pura tidak menunjukkan respon apapun. Bahkan karena kerusakan otaknya yang parah, kini dia memiliki beberapa kelebihan disamping kenyataan bahwa sekarang matanya  hampir buta sama sekali. Alamak.. Apa rencananya kali ini ya?

Di Closer ini, entah kenapa aku lebih menantikan cerita Chester dan Drake daripada Will yang tokoh utama. Menurutku kali ini perjalanan Will agak membosankan karena diceritakan dia terus saja disibukkan oleh Dr. Burrows yang memang sepertinya selalu berusaha membuat Will sibuk dan menjauhkannya dari Elliot. Sementara itu Will juga sedang dibingungkan dengan perasaannya antara menuruti terus ayahnya atau menemani Elliot berkeliling. Dan ada perasaan baru niih, rupanya Will diam-diam mulai menyukai Elliot 🙂  Sedangkan Chester dan Drake lebih ada petualangannya. Ceritanya menurutku lebih seru, apalagi setelah Drake bisa menemukan Chester karena bocah itu mengaktifkan pelacak yang dulu diberikan oleh Will sehingga Drake yang ditemani sahabat barunya, Eddie si Styx, dapat menemukan Chester dengan sistem pemancarnya. Aduuh, untung deh Chester.. Aku kasihan banget waktu dia terus menerus di ‘manja’ oleh Martha yang, amit-amit, ternyata seorang kanibal! Chester selama ini diberi makan daging ―yakss― manusia! Hiiiiih… Kasihannya Chester.. Tapi kemudian dia dirawat baik oleh Drake dan Eddie. Bahkan setelah menyerah dengan paksaan Chester, kedua orang ini membawa Chester kembali ke orang tuanya untuk menemui mereka namun tetap dalam pengawasan Drake dan Eddie. Ya Ampun, lagi-lagi kasian Chester. Rupanya orangtua Chester udah terpengaruh oleh Cahaya Gelap ―alat yang digunakan untuk mengintrogasi seseorang, sama halnya yang digunakan pada Mrs.Burrows. Tapi karena Mrs.Burrows punya suatu sistem pertahanan, para Styx membutuhkan hingga 6 atau 7 perangkat Cahaya Gelap untuk mengintrogasinya― yang dilakukan para Styx. Chester sedih bukan main karena orangtua nya yang selama ini sangat ia rindukan ternyata sudah tidak mengenalinya lagi, bahkan mengusirnya dari rumah.

Disisi lain, dengan bantuan pasukan Jerman, si kembar Rebecca dan pasukan Limiternya hampir berhasil menangkap Will dan Mr. Burrows. Hampir. Kalau saja tidak tiba-tiba Will dan Dr.Burrows yang sudah tersudut, jatuh ke dalam perut piramida yang sedang Dr.Burrows teliti. Ternyata itu semacam pintu rahasia. Kedua orang ini menemukan suatu hal yang menakjubkan di dalam sini, selain dinding-dindingnya yang penuh gambar. Yaitu mereka menemukan suatu spesies purba yang aneh. Aku sih menggambarkannya semacam manusia pohon, tapi Dr.Burrows menyebut mereka sebagai kaum bushman. Hadoo.. Ada-ada aja.. Tapi bolehlah, soalnya ceritanya menjadi lebih seru dari sini. Apalagi setelah Will dan Dr.Burrows tertangkap dan Elliot berusaha menolongnya. Sayangnya nanti Dr.Burrows mati di tangan Rebecca 😦 Untung Elliot berhasil menyelamatkan Will yang setengah depresi dan kini malah membenci Elliot karena cewek itu menyerahkan Dominion kepada Rebecca sebagai kompensasi pembebasan Will.

Di permukaan bumi yang lain, Drake dan Eddie sudah siap untuk kembali ke Eternal City dan meledakkan populasi siput yang menjadi media pembiakan virus Dominion. Itulah kenapa mereka berharap dengan musnahnya siput-siput itu para Styx tidak akan dapat mengembangkan Dominion lagi. Namun ternyata kejadiannya tidak sesuai rencana. Chester ikut terlibat dan terjadi penghianatan Drake kepada Eddie dan Eddie kepada Drake.Ya  Ampunn.. Kacau. Tapi untungnya Celia Burrows berhasil diselamatkan oleh Chester, Drake dan si Opsir Kedua yang ternyata memang jatuh cinta sama Celia! Aiihh.. 🙂

Akhir cerita ditutup dengan sebuah adegan yang memberitahu kita mengenai inti cerita di novel selanjutnya. Yaitu perang antara Topsoiler dan Kaum Styx di permukaan bumi. Yang jelas aku penasaran sama cerita selanjutnya. Sisa dua buku lagi sebelum petualangan Will dan kawan-kawan berakhir, dan buku selanjutnya, Spiral, masih entah kapan sampai di Indonesia. Sabar-sabar..

Mengenai Closer sendiri, menurutku pribadi ceritanya dikemas dengan apik. Seringnya pergantian plot dalam satu waktu mengurangi rasa bosan dan menambah rasa penasaran. Jadi kita dibuat tidak terlalu lama meninggalkan satu tokoh dan tidak terlalu lama juga membahas tokoh yang lain. Belum lagi disini kita mulai disuguhkan dengan adegan percintaan. Maksudku, gimana ya… yah, semacam feeling of love lah. Chester, Elliot dan Will terlibat dalam cinta segitiga gitu.. Menarik.. Jadi bumbu cerita tersendiri. Oia, hampir akhir-akhir cerita kita juga dikenalkan dengan tokoh, yang menurutku, lucu.. Dia adalah ayahanda dari Drake 😉

Ratingku buat novel ini : 8

 
2 Comments

Posted by on June 29, 2011 in High Fantasy

 

Tunnels 3 – Freefall


  • Pengarang               :    Roderick Gordon & Brian Williams
  • Genre                      :    Adventure
  • Tebal                       :    724 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Mizan
  • Harga                      :    79.500 IDR
  • Pertama terbit          :    2010
  • Cetakan ke-2            :    Februari 2010
  • Tanggal Beli             :    12 Januari 2011

Will terjatuh semakin salam ke dunia bawah tanah. Sepertinya, itulah akhir riwayatnya. Namun, ternyata itu semua hanyalah awal dari petualangan yang lebih mendebarkan!

Di tengah keputusasaan mendengar kabar kematian ayahnya, Will harus berhadapan dengan laba-laba karnivora raksasa. Belum lagi, ada ancaman virus Dominion, yang akan digunakan Styx untuk memusnahkan penduduk di atas permukaan bumi dan menguasai dunia.

Mampukah Will menggagalkan rencana Styx? Benarkah ayahnya sudah tiada? Nasib dunia ada di tangan Will!

Review :

Melanjutkan cerita sebelumnya, kali ini cerita dibuka oleh Chester Rawls. Chester merasakan himpitan yang aneh dan rasa menggelitik di tubuhnya hingga akhirnya ia ingat kejadian terakhir yang menimpa dirinya, Will, Cal dan Elliot, yaitu terjatuh bebas ke dalam Pore yang tak berujung. Namun anehnya ia merasa yakin bahwa ia belum mati. Di tambah lagi ada Bartleby ―kucing Cal yang ikut dalam petualangan mereka― disampingnya, namun ia tidak merasakan keberadaan kawan-kawannya di sekitarnya.  Kini ia sedang berjuang untuk membebaskan diri dari materi semipadat yang terasa membelenggunya.

Berkilo-kilo meter di atas Chester, para Styx sedang disibukkan dengan penyelidikan dan pencarian mereka tentang keberadaan si kembar yang ikut terjatuh ke dalam Pore. Styx tua memerintahkan para Styx untuk mencari keberadaan setidaknya satu dari dua tabung virus Dominion yang dibawa cucu kembarnya itu.

Setelah berhasil terlepas dari belenggu materi seperti spons itu, Chester mengikuti jejak tali yang mengikat tubuhnya dengan teman-temannya. Ia menemukan sahabatnya, Will. Mereka menyadari bahwa sesuatu yang menahan mereka dari kehancuran saat terjatuh adalah karena mereka jatuh ke atas semacam jamur raksasa dan ditambah lagi karena gaya gravitasi yang melambatkan proses jatuh mereka. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa mereka terjatuh sangat dalam ke inti bumi. Bersama dengan Will, mereka menemukan Elliot dan jasad Cal. Will sangat bersedih melihat kondisi adik yang belum lama ia kenal itu.

Sementara itu, Drake yang selamat dan mengamati dari atas bukit seluruh kejadian terjunnya Elliot, Will dan Chester dan kemudian disusul oleh aksi heroik Sarah Jerome membawa serta si kembar Rebecca untuk terjun menyusul anaknya, Will  a.k.a Seth, ke dalam Pore, menyadari bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa dan menyakini bahwa mereka pasti mati. Selain kesedihan, ia juga menyadari dengan jatuhnya si kembar berarti keberadaan virus itu juga lenyap. Namun sayangnya ia teringat dengan keberadaan bunker tempat para Styx melakukan percobaan virusnya. Dia sekarang perpacu dengan waktu agar tiba ke bungker itu lebih dahulu ketimbang para Styx untuk menghancurkannya sebelum Styx berusaha menemukan virus yang masih hidup di dalam tubuh para korban percobaanya untuk kemudian mereka biakkan ulang. Kalau begitu caranya, sia-sialah pengorbanan Sarah yang membawa serta si kembar untuk terjun ke kegelapan Pore.

Kini ibu tiri Will, Celia Burrows mulai ‘terbangun’ dari kegiatan candu nonton TV nya dan memutuskan untuk menyelidiki tentang keberadaan ibu biologis Will, suaminya, serta anak-anaknya. Ia mulai merangkai petunjuk satu persatu. Dimulai dari kunjungannya ke rumah Jean, kakaknya, dimana dia mengetahui bahwa anaknya Rebecca meninggalkan kediaman Jean begitu saja. Lalu juga berita mengenai kunjungan Will ke rumah Jean bersama Cal yang diakuinya sebagai sepupu. Namun Celia yakin, Cal pasti anak dari wanita yang mendatanginya dan mengaku sebagai ibu biologis Will, dan itu berarti Cal  adik dari Will.

Di kedalaman Pore, si kembar Rebecca mendapat pengawalan dari dua Limiter yang sebelumnya oleh Styx tua diperintahkan untuk terjun bunuh diri ke dalam Pore karena telah dianggap teledor dalam bertugas. Eeeh, tidak disangka si Limiter ternyata malah ketemu sama si kembar Rebecca.

Dalam perjalanan tak tentu arah, Will dan Chester serta Elliot yang masih tak sadarkan diri sehingga harus digendong Will sepanjang perjalanan, dan Bartleby yang terus mengikuti, bertemu dengan laba-laba-monyet, laba-laba raksasa. Saat keadaan mereka sudah terhimpit mereka diselamatkan oleh seorang wanita berusia empat puluh tahunan bernama Martha. Ternyata Martha adalah seorang Colony yang diusir lalu tinggal lama di Deeps sebelum akhirnya didorong oleh suaminya ke dalam Pore. Ia dan anaknya, Nathaniel, sudah cukup lama bertahan hidup di dunia bawah tanah Pore sampai kemudian Nathaniel meninggal karena demam di usia sembilan belas tahun. Sejak saat itu ia hidup seorang diri. Nanti Will, Chester, dan Elliot di bawa ke ‘gubug’ Martha dimana ada kebun dan suasananya digambarkan mirip rumah beneran. Haduh.. Khayalannya semakin tinggi yaa.. hhe.. Belum lagi tar ada kapal kayu dan kapal besi! Ckck.. Harus orang yang berdaya imajinasi tinggi nii yang baca. Kalo nggak, wahh, bisa-bisa skeptis terus sampe akhir cerita.. Aku aja mencoba mengikuti imajinasi si penulis, dan ya ampun, lumayan berat oey =p

Bab baru mengenai Dr. Burrows, ayah Will, muncul. Sayangnya Dr.Burrows malah bertemu dengan si kembar Rebecca dan pengikutnya. Aduhh.. Tapi waktu baca tentang perjalanan Dr.Burrows, kasiannya ni bapak-bapak, kupikir. Keadaannya cukup mengenaskan. Kaca matanya rusak, baju compang camping, belum lagi dia kelaparan hebat. Huft..

Sedangkan nanti Mrs. Celia Burrows benar-benar mengadakan penyelidikannya sendiri. Ia memeriksa barang-barang Will dan suaminya yang semakin mengarahkannya ke kehidupan bawah tanah. Ia bahkan mencari fakta-fakta yang berhubungan dengan kejadian ini dari arsip-arsip daerah. Dia bahkan bertemu dengan manusia berjubah aneh yang di deskripsikan suaminya dalam jurnalnya, beberapa kali. Celia bahkan mencari keterangan-keterangan mengenai Will dari temannya yang dulu sempat melihatnya. Sementara itu ternyata Drake sudah berada di Topsoil dan mengikuti Celia kemanapun wanita itu bergerak.

Di Pore, kesehatan Elliot semakin memburuk. Akhirnya Will dan Chester memutuskan untuk mencari ‘kapal besi’ yang diceritakan Martha untuk mencari obat-obatan bagi Elliot. Karena salah satu kembar Rebecca berhasil mengelabuhi mereka, mereka pun terpaksa pergi dengan disertai Rebecca. Yups, disini kembar Rebecca berpisah, yang satu tetap bersama Dr.Burrows sedangkan yang satu bersama Will dan kawan-kawan.

Saat kelompok Will akan pergi dari kapal besi ―yang ternyata adalah kapal selam! Ckck, kok bisa coba kapal selam ada di dalam perut bumi?? Hha..― itu, kedua kelompok ini bertemu dalam suasana tegang hingga Elliot, yang sudah kembali putih paska pengobatan yang ia dapatkan, membuat sebuah ledakan yang sayangnya mengakibatkan Will dan Dr. Burrows terpisah dari Chester, Elliot, dan Martha. Kini Will melakukan perjalanan bersama dengan ayahnya dan berharap akan bertemu kembali dengan teman-temannya, begitu juga dengan Chester dan kawan-kawan yang melanjutkan perjalanan, berdoa semoga bisa menemukan Will di dalam salah satu goa persembunyian mereka. Yang mencengangkan, Will dan ayahnya malah menemukan pelabuhan bawah tanah! Wow..

Melalui pelabuhan itu dan menunggang sebuah perahu mesin, mereka pun mengarungi sungai menuju ke hulu. Perlu berhari-hari sampai mereka tiba di sebuah pelabuhan kecil lainnya dan menemukan pintu yang menghubungkan dengan Topsoil. Okelah.. Ternyata tidak mustahil kan kembali ke permukaan, apalagi dari Pore.. Di London, Will dan ayahnya bertemu dengan Drake lagi namun Dr. Burrows tidak sepenuhnya mempercayainya. Tapi apa yang salah dengan Drake?? Drake bahkan membantu Will serta ayahnya untuk bertemu dengan Mrs. Burrows lagi. Disini emosi ibu dan anak ini terlihat jelas. Akhirnya mereka menyadari akan kasih sayang mereka masing-masing. Telat yaa..

Menurut rencana, mereka ―Will dan Dr.Burrows― akan kembali masuk ke Dunia Bawah dan mencari Chester dkk. Bisakah mereka menemukannya?? Oh ya, mereka menemukannya! Tapi berkat Dr.Burrows, kini Will harus berpisah lagi dengan Chester. Dr.Burrows, Will dan Elliot terjatuh semakin dalam ke perut bumi sedangkan Chester dan Martha kembali ke Topsoil dengan bantuan jejak yang Will tinggalkan. Dan tahukah kalian teman-teman, Will dan rombongan menemukan ‘matahari kedua’! Ckck.. Rupanya imajinasi sang pengarang sangat hebat! Di dalam dunia imajinasi buatannya, bumi kita ini punya dua permukaan! Di dalam buku, dunia ini diibaratkan sebagai sebuah kelapa, dimana di kedua sisinya ―permukaan luar dan dalam― itu ada kehidupan. Bahkan inti bumi kita ini adalah sang matahari kedua! Wow..

Terlepas dari imajinasi tingkat tingginya, aku sangat suka buku ketiga seri Tunnels ini. Ceritanya lebih lancar dan beralur cepat, nggak seperti dua buku sebelumnya, terutama buku kedua yang paling kerasa bosennya.. Selain itu cerita di buku ini diambil dari banyak sisi, terutama Will dan teman-temannya, si kembar Rebecca dan Dr.Burrows, Drake yang berjuang menghentikan virus Dominion dan menjelajah Topsoil, Mrs. Celia Burrows yang mencari penyebab hilangnya keluarganya, dan sesekali tentang gerak-gerik para Styx dalam melancarkan aksinya. Pokoknya lebih asik lah.

Dan hei ingat, ceritanya belum berakhir disini. Masih ada buku ke empatnya nii.. Iyalah.. Apalagi kalo ngebaca akhir cerita Freefall ini. Ngaantungg.. Dr.Burrows melihat sebuah pesawat terbang! Di perut bumi pula! Oh oh.. Bagaimana bisaaa?? Yuk kita cari tahu di buku ke empatnyaa..

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
Leave a comment

Posted by on June 24, 2011 in High Fantasy

 

Tunnels 2 – Deeper


  • Pengarang               :    Roderick Gordon & Brian Williams
  • Genre                      :    Adventure
  • Tebal                       :    816 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Mizan
  • Harga                      :    79.500 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan ke-3            :    Februari 2009
  • Tanggal Beli             :    31 Desember 2010

Will semakin jauh memasuki dunia bawah tanah. Bersama Cal dan Chester, mereka berhadapan dengan kondisi yang sangat berbahaya: dikejar-kejar Limiter ―divisi pasukan khusus Styx yang terkenal kejam― beserta anjing pelacak mereka yang sama kejamnya, para pemberontak, dan makhluk-makhluk aneh yang mengancam keselamatan mereka.

Ternyata, Styx sudah mulai mewujudkan rencana mereka, mengirim wabah ke dunia atas, berusaha memusnahkan Topsioler dan merebut kembali tanah yang mereka janjikan.

Will tidak pernah menduga, perjalanannya di Deeper akan membawanya bertemu dengan hal-hal tak terduga. Dan perjalanannya belum berakhir, karena dia belum bertemu Dr. Burrows.

Review :

Buku kedua seri Tunnels, Deeper ini menurutku ceritanya semakin seru. Lebih seru daripada buku pertama. Tapi aku juga stuck di satu kondisi yang membuatku bosan setengah mati. Hadoo.. Sungguh, jarang-jarang aku sampai melompati  beberapa paragraf setiap kali baca karena ku bosan sama cerita yang disampaikan buku itu. Oke, ceritanya memang bagus, mendetail. Tapi karena terlalu detailnya inilah yang menurutku penyebab rasa bosan. Belum lagi ada saat dimana ceritanya muter-muter. Pokoknya aku paling suka kalo ada adegan action sama akhir ceritanya aja lah.

Awal cerita kali ini dibuka oleh Sarah Jerome yang menerima kabar tentang kematian adiknya, Tam. Sejak saat itu setiap kali cerita Sarah muncul kebanyakan mengenai misinya untuk menemukan Will dan mencari tahu tentang kebenaran bahwa Will lah penyebab kematian Tam. Namun sayangnya hatinya hancur karena setiap kali info yang ia dapatkan semakin memberatkan Will dan ia menyimpulkan bahwa sekarang Will menawan Cal dan memaksa anak itu untuk mengikutinya. Sudah ketebak lah kalau ini siasat Styx untuk mengadu domba Sarah dan Will. Tapi yang bikin jengkel, kenapa juga Sarah yang udah tahu gimana watak Styx malah mempercayai info itu sampai akhirnya ia bertekat untuk menemukan Will dan membalas dendam karena kematian Tam. YA AMPUN! Bisa-bisanya seorang ibu mau membunuh anaknya sendiri karena info yang belum tentu benarnya?! Huh..

Disisi lain, tar Will, Chester, dan Cal berpetualangan semakin jauh ke perut bumi. Tak disangka mereka bertemu dengan kaum Coprolite, sebuah koloni yang bekerja di semacam penambangan dan merupakan kaum yang tidak pernah bersosialisasi. Dalam perjalanan ini, Cal mati! Dengan sedih Will dan Chester meninggalkan jasad Cal. Setelah melalang buana selama dua hari, mereka menghadapi rintangan. Untungnya ada Drake dan Elliot yang menyelamatkan mereka. Mereka berdua adalah pemberontak dan ternyata Drake adalah seorang Topsoil yang sudah lama tinggal di Deeps. Saat Drake menanyakan tentang Cal yang terus menerus disebut-sebut kedua bocah itu, baru diketahui bahwa sesungguhnya Cal tidak meninggal ―atau setidaknya belum meninggal. Ternyata Cal digunakan sebagai semacam ‘sumber energi’ oleh suatu tanaman yang disebut sebagai jebakan gula, itulah kenapa saat Will dan Chester meninggalkannya, Cal tidak bernafas lagi. Dengan perjalanan cepat Drake dkk., Cal akhirnya dapat diselamatkan. Untuk pemulihannya ia memerlukan pelatihan karena anggota geraknya sangat lemah.

Selama perjalanan itu, kelima orang ini menemukan sebuah fasilitas penelitian bawah tanah dan banyak spesimen juga manusia korban percobaan. Ternyata fasilitas inilah yang digunakan Styx untuk mengembangkan sebuah virus yang kemudian akan mereka sebarkan di antara Topsoiler untuk memusnahkan mereka. Virus Dominion, begitulah sebutannya.

Saat mendekati lubang Pore, Will, Cal dan kawan-kawannya bertemu dengan Sarah. Aku suka pertemuan kedua bocah ini dengan ibu mereka. Dan akhirnya Sarah mengakui kan kalau ia selama ini ia telah salah menilai Will. Tapi sayangnya kebersamaan ibu-anak ini tidak lama karena Sarah sekarat akibat luka  tembak. Kasihan.. Baru bertemu udah berpisah lagi T.T Tapi kok aku juga sebel ya sama karakter Sarah. Heu..

Akhir buku ini yang membuatku ternganga. Gimana nggak, Cal yang ‘mati’ lalu hidup kembali hanya untuk kemudian mati lagi! Astaga…! Cal mati coba?! Buh.. Yang jelas, ketegangan yang digambarkan pada saat-saat akhir ini semakin keren. Belum lagi tar saat akhirnya Will, Chester, dan Elliot terjun ke dalam Pore disusul oleh Sarah yang tiba-tiba muncul dan menarik si kembar Rebecca juga ke dalam Pore. Oh ya, si kembar Rebecca. Ternyata cewek Styx itu kembar! Dan selama ini mereka bergantian memainkan peran sebagai adik Will di Topsoil. Oh oh.. Dan cerita berlanjut ke seri tiga, Free fall, deh..

Ratingku buat novel ini : 7,6

 
5 Comments

Posted by on June 22, 2011 in High Fantasy

 

Tunnels 1 – Tunnels


  • Pengarang               :    Roderick Gordon & Brian Williams
  • Genre                      :    Adventure
  • Tebal                       :    660 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Mizan
  • Harga                      :    78.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2007
  • Cetakan ke-6            :    Oktober 2009
  • Tanggal Beli             :    29 Desember 2010

“Penyusup!” seru si pria misterius. Refleks, Will meraih sekop, tetapi pria itu merebutnya. 

“Kami telah menantikan kedatanganmu. Kata ayahmu, kau akan menyusulnya,” tambahnya. 

“Ayahku? Di mana ayahku? Apa yang kalian lakukan padanya?” Will meronta, menendangi pria itu. 

“Tak ada gunanya melawan. Tempat ini akan menjadi penjara buatmu!” Pria itu mengendus Will. “Topsoilers. Menjijikkan!” 

Will berusaha menemukan ayahnya, Dr. Burrows, yang menghilang tanpa jejak. Menjelajahi lorong-lorong purba bawah tanah, sebuah rahasia maut pun terungkap dan mengancam jiwa Will: koloni bawah tanah yang terlupakan oleh dunia atas. 

Dipimpin oleh Styx, koloni itu merencanakan sebuah revolusi untuk menyerbu manusia dunia atas. Seperti apakah dunia koloni bawah tanah itu? Berhasilkah Will menemukan ayahnya, sekaligus menggagalkan upaya makar Styx dan koloni bawah tanah?

Review :

Aku tertarik beli novel ini karena ada kata-kata ‘The Next Harry Potter’ nya. Penasaran tahu, gimana sih ceritanya kok bisa dibilang ‘The Next Harry Potter’.. Dan saat aku mulai baca, ehm, beda topik sih sama Harry Potter. Kalo di HarPot kan ada unsur sihirnya, kalo disini sama sekali nggak ada. Di novel ini lebih ke permainan ‘nalarisasi’ :p Yang menarik dari seri Tunnels ini ada ilustrasi yang sesekali muncul untuk menggambarkan suatu situasi. Bagus lho.. Aku suka..

Cerita Tunnels ini karena masih buku pertama dari seri Tunnels yang ada empat buku, jadinya kebanyakan masih menceritakan tentang bagaimana Will menemukan sebuah koloni di bawah tanah. Will dan ayahnya yang seorang kurator museum di Highfield, London, Dr. Roger Burrows, memiliki hobi aneh yaitu menggali tanah untuk menemukan benda-benda bersejarah. Bagi anak seusia Will ―empat belas tahun― kebiasaan ini tentu saja aneh. Belum lagi ternyata Will memang dikucilkan diantara  teman-teman sekolahnya karena ia adalah seorang albino. Kegiatan penggalian ayah dan anak ini sebenarnya cukup menarik. Gimana nggak, mereka bahkan menemukan sebuah stasiun bawah tanah tua yang telah lama terbengkalai! Stasiun itu sudah tidak terpakai sejak tahun 1895. Ckck.. Tapi hobi itulah yang menyebabkan mereka terjerumus dalam situasi yang lebih pelik.

Suatu hari Dr. Burrows menghilang. Tanpa meninggalkan pesan apapun. Hal terakhir yang terjadi sebelum Dr. Burrows menghilang adalah ia bertengkar hebat dengan istrinya. Sejak menghilangnya Dr.Burrows, keluarga Will semakin berantakan. Diceritakan bahwa Ibu Will memiliki ketergantungan terhadap TV. Wanita tua itu hampir selalu di depan TV dan hampir selalu mengabaikan anak-anaknya. Sedangkan Rebecca, adik perempuan Will, selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak jarang ia dan Will bertengkar. Sejak ayahnya menghilang, ibunya terpaksa masuk ke dalam rehabilitasi sedangkan Rebecca dikirim ke rumah bibinya, Bibi Jean. Karena bisa dibilang hanya Dr.Burrows lah satu-satunya keluarga yang dekat dengannya, itulah yang membuat tekatnya semakin bulat dan mantap yaitu untuk mencari tahu kenapa ayahnya menghilang.

Dengan bantuan dari sahabatnya, Chester Rawls, Ia menyelidiki kesana kemari dan mengarahkan mereka  pada sebuah lubang yang ayahnya buat diam-diam di ruang bawah tanah dalam rumahnya. Will dan Chester memutuskan untuk melakukan perjalanan ke dalam tanah itu. Mereka terkejut saat menemukan sebuah koloni di bawah tanah itu. Sekelompok orang itu disebut dengan Colony. Penduduk Colony berkulit pucat dan berambut putih. Yang lebih mantap lagi, di bawah tanah itu terdapat rumah-rumah layaknya pemukinan manusia di permukaan bumi. Ternyata mereka memiliki sistem saluran udara yang banyak disamarkan dengan bangunan-bangunan di permukaan bumi. Well, ternyataa lagi, para Colony sangat membenci manusia permukaan bumi yang mereka sebut Topsoiler karena Colony menganggap Topsoiler semakin mencemari udara dan merusah banyak sistem ventilasi kaum Colony sehingga kehidupan Colony yang tadinya tenang dan damai mulai terancam.

Karena tertangkap, mereka akhirnya memenjarakan Will dan Chester. Sayangnya nasib Chester kurang beruntung.  Tidak lama kemudian Will dibebaskan oleh sebuah keluarga yang mengaku sebagai keluarga kandung Will. Tentu saja akhirnya Will dapat menjawab dari mana keturunan albino ini ia dapatkan. Will bertemu dengan ayah biologis dan adik laki-laki yang tidak ia sangka ia miliki. Adik nya bernama Caleb ―Cal― Jerome. Ia ternyata juga memiliki seorang Paman, Paman Tam, yang sangat ia suka kepribadiannya. Selain itu Ia juga memiliki seorang nenek yang penyayang. Dan akhirnya, ia mengetahui fakta kehidupannya ―bahwa nama lahirnya adalah Seth Jerome― dan bagaimana ia sampai bisa diasuh oleh keluarga Topsiol. Namun semua ini tidak merubah apapun. Ia tetap bertekat untuk membebaskan Chester dan mencari ayahnya. Dengan bantuan peta dari Paman Tam, Will pergi meninggalkan keluarga ini dan melakukan perjalanan untuk mencari penjara tempat Chester berada. Setelah berhasil mengeluarkan Chester mereka pun segera saja menjadi target pengejaran. Satu hal yang diluar rencana, Cal muncul dan ingin ikut dengan Will. Ckck.. Dasar anak kecil. Mana alasannya simpel pula, ia ingin pergi ke permukaan, seperti halnya Will dan ibu mereka. Ya ampunn.. Dalam keadaan terdesak apa boleh buat kan.. Namun satu lagi kejutan yang Will dapatkan. Ternyata pemimpin para Styx yang mengepung mereka adalah Rebecca, adik yang selama ini ia kenal! Yah, setidaknya Will pikir Will mengenalnya. Tapi ternyata Rebecca juga seorang Styx, semacam pasukan penjaga perdamaian di Colony, namun memiliki misi memusnahkan Topsoiler. Wow.. Aku aja juga kaget waktu membacanya.. Sayangnya, lagi-lagi Will harus melepaskan tangan Chester. Sahabatnya itu sekali lagi berada di tangan para Styx dan Will terpaksa mencari cara lain untuk menyelamatkannya, lagi.

Bersama Cal, Will melakukan perjalanan ke Eternal City. Mereka harus memalui tanah yang memiliki wabah mamatikan sementara mereka hanya memiliki satu masker untuk berdua. Tentu saja, melalui kota mati ini, akhirnya Will bisa membawa Cal kembali ke permukaan tanah. Mereka muncul di sebuah gorong-gorong di dekat sungai Thames. Akhirnya Cal dapat melihat langit untuk pertama kalinya. Walau begitu, Will masih saja merasa bersalah karena meninggalkan Chester di Dunia Bawah. Tentu saja Will masih bertekat untuk menyelamatkan Chester, namun sayangnya mereka berdua harus menyusun strategi. Belum lagi ternyata Will sakit, kemungkinan karena efek wabah Eternal City. Mau nggak mau Will meminta Cal untuk membawa mereka ke rumah bibi Jean dengan arahan dari Will yang semakin sekarat. Di rumah Bibi Jean, ia dirawat oleh Cal sedangkan bibi Jean sendiri sangat suka pada kucing piaraan Cal yang terus mengikutinya kemana ia pergi, Bartleby. Setelah sembuh, Will dan Cal kembali melanjutkan rencana awal mereka, yaitu kembali ke Dunia Bawah dan menyelamatkan sahabatnya. Perjalanan ke bawah tanah lagi pun dimulai..

Secara keseluruhan aku suka novel ini, walaupun mungkin cerita awal-awal sedikit membosankan. Tapi kemudian perjalanan cerita semakin cepat dan seru.

Ratingku buat novel ini : 7,6

 
Leave a comment

Posted by on June 19, 2011 in High Fantasy