RSS

Category Archives: Fairies

Books of Faerie 2 – Ballad


  • Pengarang               :    Maggie Stiefvater
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    452 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Ufuk
  • Harga                      :    59.900 IDR
  • Pertama terbit          :    1 Oktober 2009
  • Cetakan                   :    Agustus 2011
  • Tanggal Beli             :    29 September 2011

James Morgan dianugerahi kemampuan bermain musik yang luar biasa. Itulah yang menarik perhatian Nuala, sesosok peri pencuri jiwa yang membangun lalu memakan energi kreatif manusia sampai mereka mati. James punya cukup banyak alasan untuk takut kepada peri. Namun, ketika dia dan Nuala berkolaborasi dalam sebuah komposisi musik yang sangat indah, James mulai menaruh hati pada Nuala. Ketika Halloween hampir tiba, James harus bertempur melawan Ratu Peri yang jahat untuk menyelamatkan hidup Nuala dan jiwanya sendiri.

Review :

James dan Dee kini menjadi murid di Thornking-Ash. Namun karena perbedaan jadwal dan lingkungan sekolah yang luas, mereka sangat jarang berjumpa. Cerita diawali oleh James yang menceritakan tentang masa orientasi di sekolah itu. Kini ia juga tinggal di asrama. Di sekolah baru ini, ada seorang guru yang disebut namanya, entah tar kebelakangnya ia punya andil dalam cerita ato ngga q kurang tahu 😛 Guru itu bernama Eve Linnet. Suatu ketika James tertarik oleh suara alunan musik dan ia mengikuti musik itu hingga ke sumbernya. Tentu saja peri yang memainkannya. Nah, disitulah ia bertemu dengan Linnet yang menurut dugaan James, beliau juga tertarik oleh alunan musik itu.

Lalu James mendapat tugas untuk menemui seorang guru musiknya di sebuah toko alat musik. Setelah selesai dan akan pulang, ia melihat seorang gadis yang duduk sangat dekat di mobilnya. Niatan James hanya menyuruhnya pergi sebelum tertabrak oleh mobil James, namun tampaknya gadis itu bukan gadis biasa. Lagi-lagi seorang peri dan ia nebeng James sampai ke sekolah. Kemudian diketahui nama gadis itu adalah Nuala. Di jalan, Nuala memberi penawaran pada James tentang mengajari dan membuat James, wow, di karir musiknya. Tapi segera James menolak dan itu membuat Nuala kesal.

Cerita beralih ke sudut pandang Nuala. Ternyata Nuala bukan hanya sekedar kesal, tapi juga marah karena untuk waktu yang lama Nuala tidak pernah ditolak oleh manusia. Sore itu, Nuala membuntuti James. Dia merasa tertantang untuk mendapatkan James setelah cowok itu menolak karir gemilang yang telah ditawarkan Nuala. Pasalnya dibalik penawaran itu pasti ada balasan yang diminta oleh Nuala, dalam kasus ini umur dari manusia lah yang dimintanya. Kemudian, Dee datang menemui  James. Dari sudut pandang Nuala inilah kita bisa tahu tentang bagaimana sikap dan perasaan Dee serta James terhadap satu sama lain. Well, kalau menurutku sangat menyedihkan kisah kedua sahabat ini. Entah kenapa mereka yang sebelumnya sangat akrab bisa menjadi canggung gini kalau berjumpa 😦 Saat senja mulai menjelang, Dee berpamitan, dan Nuala melihat James berlari kearah sebuah musik yang sedang mengalun, ke arah raja bertanduk yang lagunya mengalun lambat tentang kematian.

Kemudian, kita akhirnya tahu bahwa Nuala adalah leanan sidhe, peri penyendiri, terendah di antara yang paling rendah. Nyaris manusia. Ternyata, dia termasuk peri yang selalu direndahkan diantara peri-peri yang lain. Kasihan juga sih 😉 Sore itu, Nuala juga tanpa sengaja menghadiri semacam acara dansa yang didatangi para peri.  Disitu ia bertemu dengan manusia kekasih sang Ratu peri yang dikenal kelak menjadi Raja peri.  Sang kekasih Ratu mengajak Nuala berdansa dan tentu saja hal itu menjadi perbincangan para peri disekitar Nuala.

Lalu perjuangan Nuala mendekati James terus berlanjut dan entah kenapa James juga mulai terbiasa dengan kehadiran Nuala. Akhirnya, Nuala menawari James sebuah lagu tanpa harus James memberikan sesuatu pun sebagai imbalan, dan James menyetujuinya. Namun bukan berarti James akan menuruti segala keinginan Nuala. Di novel ini, beberapa kali digambarkan bagaimana Nuala cemburu terhadap Dee karena James masih saja menginginkan dan mencintai cewek itu. Hhe..

Oia, ada tokoh baru yang disini sering muncul, yaitu Mr. Sullivan, guru bahasa James namun karena bakat James di bagpipe dinilai para gurunya sudah expert, maka ia akan menjadi guru piano James. Yups, James diminta untuk mempelajari alat musik laen selain yang terbuat dari pipa, dan James lebih memilih gitar namun Mr. Sullivan menyarankan piano. Nah, kayaknya nih, Mr. Sullivan ini juga bisa melihat peri gituu, soalnya beliau memakai cincin besi di jemarinya, sama dengan James yang memakai gelang besi di pergelangan tangannya, hanya untuk memastikan bahwa ia cukup aman dari kejaran peri karena peri terkenal tidak tahan terhadap besi 😛

Suatu pagi James dipanggil untuk menghadap presiden dari Thornking-Ash, Gregory Normandy. Ternyata Normandy ingin membicarakan tentang bakatnya dan bakat Dee. Tentu saja James langsung waspada karena sang presiden terus saja mengisyaratkan tentang keberadaan peri. Bertahan karena tidak berani mempercayai orang baru begitu saja maka James pura-pura tidak mengerti apa yang dibilang lelaki itu. Sang presiden terus memperingatkan James untuk berhati-hati terhadap mereka dan jangan sampai tergoda oleh mereka. Wew..

Kehidupan James di asrama terus berlanjut. Hanya saja kehidupan cintanya tidak juga membaik. Hatinya semakin tersiksa dengan cinta bertepuk-sebelah-tangannya dengan Dee, sedangkan Dee sedang tersiksa dengan perasaan rindunya terhadap Luke. Suatu kali, James dan Dee berciuman, hanya saja Dee dengan jujurnya mengatakan bahwa ia membayangkan dirinya sedang mencium Luke. Ampuuun -.-“ Tentu saja James sakit hati. Sejak saat itu hubungan James dan Dee semakin renggang dan aneh. Disinilah sosok Nuala mulai menguat, bahkan Nuala pun tampaknya mulai merasakan kasih terhadap James. Wew..

Kisah berlanjut. Sudah bisa ditebak kan kalau hubungan James dan Nuala tidak berhenti begitu saja. Kini ada benih cinta diantara mereka, padahal waktu hidup Nuala hanya tinggal beberapa hari saja. Saat Halloween tiba, Nuala akan terbakar dan terlahir kembali menjadi sosok pribadi yang baru, dengan sebuah memori baru, sehingga ia tidak akan ingat kehidupannya sebelumnya. Siklus ini terjadi setiap enam belas tahun sekali. Ckck..

Namun, suatu ketika Eleanor, sang Ratu peri, mendatangi James dan memberitahu bahwa ada cara agar Nuala tidak melupakan pribadinya sebelum terbakar. Selalu ada maksud terselubung dibalik informasi itu. Rupanya hal ini berkaitan dengan Dee yang kemudian diketahui menghilang.

Well, well, well.. Kalian sudah baca novel ini? Kalo menurutku pribadi novel kedua ini kurang bikin greget. Kurang semangat dan di beberapa bagian kadang bikin bosan. Mungkin pendapat kalian beda, tapi kalau aku lebih suka menantikan cerita dari sudut pandang Nuala. Saat kemunculan Dee yang hanya secuil-cuil malah ga aku nantikan. Disini sosok Dee serasa semakin hilang, padahal waktu baca novel pertama aku berharap karakter Dee bisa lebih kuat, tapi ternyata ngga 😉 Oke, memang kali ini sosok James yang ditonjolkan, itulah kenapa pihak kedua yang kusuka malah Nuala, bahkan dibandingkan James aku lebih suka karakter Nuala. Hhe ^.-v

Ratingku buat novel ini : 7,2

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2012 in Fairies

 

Books of Faerie 1 – Lament


  • Pengarang               :    Maggie Stiefvater
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    400 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Ufuk
  • Harga                      :    69.900 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan                   :    Agustus 2010
  • Tanggal Beli             :    22 Juli 2011

Tahukah kau, apa yang menimpa orang-orang yang bisa melihat peri 

tapi tidak sanggup mengendalikan kemampuan itu? 

Deirdre Monaghan adalah gadis enam belas tahun yang luar biasa pemalu sekaligus musisi yang sangat berbakat. Tapi ada sesuatu yang selama ini tidak diketahuinya—dia adalah cloverhand, orang yang bisa melihat peri.

Tak disangka-sangka Deirdre dibuat mabuk kepayang oleh cowok misterius bernama Luke, yang sepertinya masuk begitu saja ke dalam kehidupan sehari-harinya. Persoalannya, Luke yang tampan itu ternyata adalah peri pembunuh yang tak kenal kasihan. Lalu ada satu lagi peri yang tak kalah keren dan sama berbahaya, Aodhan, yang juga menguntit kehidupan Deirdre. Luke dan Aodhan sama-sama mendapat tugas maut dari Ratu Peri untuk membunuh Deirdre sebelum musiknya menggugah perhatian para peri dan mengancam kedaulatan sang Ratu. Tetapi Luke justru jatuh cinta kepada Deirdre.

Bahaya pun mengintai Deirdre, juga orang-orang di dekatnya. Termasuk James, sahabatnya yang suka mengkritik tapi sangat setia. Memang, pada mulanya Deirdre berharap musim panasnya tidak membosankan. Tapi berhadapan dengan Ratu Peri yang berumur ratusan tahun tidak termasuk dalam rencananya.

Review :

Huum, entah kenapa aku selalu suka dengan tampilan halaman-halaman awal buku-buku terbitan Ufuk, tidak terkecuali Lament ini. Menurutku pribadi sangat menarik (atau mungkin terkait dengan jenis kertas yang Ufuk pakai ya??). Yah, intinya aku jadi selalu semangat buat mengawali buku-buku ini lah. Walaupun sayangnya halaman cover novel ini tidak masuk favoritku sih 😉

Awal mula cerita, kita di sajikan dengan sebuah prolog yang menyinggung tentang seorang pemuda yang tampaknya berada di dalam sumur dan seorang wanita yang sedang menyiksa sebuah merpati di tempat yang berbeda. Di saat si pemuda hampir meninggal karena tenggelam, muncul sosok ketiga yang menyelamatkannya. Waktu aku selesai membaca dua lembar prolog ini entah kenapa aku nggak mengerti dan kalian pasti juga belum ngeh apa maksud dari adegan-adegan ini sama halnya denganku. Tapi tenang aja, nanti melewati tengah cerita kita bakal dapat penjelasannya kok.

Sebagai informasi awal, buku ini terdiri dari enam bagian yang mana masing-masing bagian mengangkat topik yang berbeda. Oke, kita mulai dari bab I dimana kita masih dikenalkan dengan tokoh utama kita, Deirdre Monaghan. Sang pengarang, Maggie Stiefvater, memakai sudut pandang Deirdre dalam bercerita. Saat itu Deirdre yang seorang pemain harpa sedang mengikuti sebuah kompetisi musik 26th Annual Eastern Virginia Arts Festival yang diselenggarakan di SMA-nya. Deirdre yang mengidap katagelofobia (takut merasa malu di depan umum), segera merasa mual dan ingin muntah begitu mobil yang dikendarai Ibunya masuk ke lapangan parkir. Deirdre masuk kedalam gedung, melakukan daftar ulang, dan segera melesat ke kamar mandi. Untung saat itu kamar mandi sepi. Namun ternyata muncul cowok yang sebelumnya ia mimpikan ─yang benar-benar hanya ada di mimpinya, Luke Dillon, cowok yang sudah membuatnya tergila-gila karena ketampanannya. Luke membantu menenangkannya dan kemudian berlatih musik bersamanya. Luke adalah seorang pemain flute kayu. Bersama, akhirnya mereka memutuskan untuk duet, dan mereka berhasil memukau para penonton serta juri dengan permainan musik dan lagu mereka. Aku aja bisa tersenyum membayangkan keberhasilan mereka 🙂

Sejak saat itu hubungan Deirdre dan Luke berkembang. Mereka berjumpa lagi sore harinya saat resepsi pasca kompetisi. Dan esok harinya Luke mendatangi rumah Deirdre dan mengajaknya untuk makan es krim bersama. Deirdre nggak tahu dari mana Luke tahu alamatnya, bahkan Luke juga tahu dimana Deirdre kerja parttime. Namun rupanya mereka punya perjanjian tersirat bahwa mereka tidak akan menanyakan perihal kehidupan mereka sebelum mereka bertemu. Namun Luke kadang bersikap aneh. Selain itu, akhir-akhir ini Deirdre juga sering mencium aroma herbal. Awalnya aroma ini muncul bersamaan dengan kemunculan seorang cowok yang tiba-tiba menghampiri, mengajak ngobrol, dan terus menerus mengamati Deirdre, saat ia sedang di resepsi. Namun sejak itu berulang kali ia jadi sering mencium aroma herbal ini. Disamping masalah aroma herbal ini, Deirdre juga jadi sering menemukan daun semanggi berkelopak empat yang tergolong langka. Ia jadi penasaran apa makna penemuan daun semanggi ini. Well, di penghujung acara makan es mereka, Luke memberi Deirdre sebuah kunci kecil, tebal, bergaya kuno dan setitik karat di salah satu isinya. Deirdre menerimanya walaupun ia tidak tahu itu kunci apa.

Setibanya ia dirumah, suasana sudah cukup ramai. Kemarin ultah Deirdre dan hari inilah perayaannya. Ternyata neneknya juga datang. Tapi lagi-lagi ada hal yang aneh namun Deirdre tidak menyadarinya. Nenek Deirdre bertemu dengan Luke dan anehnya wajah Luke terlihat sedih dan terintimidasi sementara neneknya terlihat marah dan tidak suka pada Luke. Kalau spekulasiku sih nenek Deirdre ini tahu siapa Luke sebenarnya dan beliau punya kekuatan melihat peri, seperti yang kemudian juga dimiliki oleh Deirdre. Nenek Deirdre menyuruh Luke pergi dan Luke dengan patuh dan sedih pergi dari rumah Deirdre. Deirdre sedih dan marah pada neneknya atas kepergian Luke. Namun kemudian neneknya ini memberinya sebuah hadiah ultah berupa cincin yang sudah turun temurun dipakai. Saat itu juga aku langsung menebak, kurasa itu cincin penangkal peri jahat 😛 hhaha.. Seenak hati main tebak..

Nah, setelah neneknya masuk ke rumah, gantian James ─sahabat baik dan satu-satunya teman yang ia punya─ datang. Akhirnya Deirdre bercerita tentang Luke dan neneknya dan pemberian mereka masing-masing, kunci dan cincin. James berkomentar bahwa ini aneh, kedua benda itu terbuat dari besi sedangkan besi dianggap sebagai penangkal makhluk supranatural yang jahat. Kemudian James teringat pada cerita Deirdre  tentang percobaan Deirdre menggerakkan daun, keduanya pun mencoba melakukan percobaan kecil itu yang lantas membuat James berkesimpulan bahwa Deirdre memiliki kekuatan telekinetis.

Saat memasuki bagian kedua dari buku, Deirdre mulai menyadari apa dirinya sebenarnya. Dengan bantuan Luke, ia mulai mengetahui sedikit banyak tentang peri dan ia jadi tahu bahwa ada bahaya yang mengancamnya. Ada yang ingin menculiknya, dan membunuhnya. Namun sayang suatu pagi Deirdre menemukan kenyataan pahit. Ia mendengar seseorang bicara dengan Luke dan ternyata orang yang diperintahkan untuk membunuh dirinya adalah Luke sendiri. Cowok yang semakin hari semakin mengisi hatinya.

Hari itu Deirdre menjalani harinya tanpa semangat. Ia harus mengisi acara musik di sebuah pesta pernikahan yang untungnya berjalan lancar walaupun sebelumnya ia harus menjalani ritual muntah sebelum manggung dan ia kehilangan cincin pemberian neneknya karena jatuh di saluran wastafel. Saat menunggu jemputan dari sang nenek, ia mendapat serangan dari seekor kucing raksasa supranatural dan mendapat beberapa luka cakar dan memar. Untung Luke menyelamatkannya. Secara tidak langsung ini memang salah Deirdre karena tidak memakai sebuah besi pun di tubuhnya. Sebelum turun dari mobil ibunya tadi, ia terpaksa melepas kalung berbandul kunci besi pemberian Luke karena ibunya tidak suka Deirdre memakai kalung itu. Akibatnya karena tanpa pertahanan sama sekali, ia pun diserang.

Di rumah neneknya ia membersihkan luka dan saat sedang bosan menunggu neneknya yang sibuk di sanggarnya untuk membuat sebuah ramuan, James datang menyelamatkannya dari kebosanan. James mengajaknya makan malam dan saat James menceritakan tentang ciri-ciri cewek yang disukainya, saat itulah Deirdre sadar bahwa ia bisa ‘melihat’ pikiran James. Dan sayangnya ciri-ciri cewek yang di deskripsikan James berbeda dengan yang di pikirkan James. Dalam pikiran James, Deirdre melihat gambaran dirinya sendiri. Aiih.. Sudah pasti cinta segitiga niih.. Diam-diam James suka Deirdre sementara Deirdre lagi cinta mati sama Luke. Ckck.. Tapi yang pasti, Ibu dan Nenek Deirdre tidak suka dengan hubungan Deirdre dan Luke. Ternyata, nenek Deirdre mengenali Luke karena dua puluh tahun yang lalu ia pernah melihat Luke dan Luke sedang mengganggu Delia, bibi Deirdre yang menyebalkan. Dan kata nenek Deirdre, wajah Luke nggak berubah sama sekali! Wow.. Kayaknya mimpi Deirdre memang benar, bahwa Luke sudah berumur seribu tiga ratus empat puluh delapan tahun! Hheheh.. Suka-suka pengarang lah mau kasi umur Luke berapa.. Tapi ini mantap kali, lewat dari seribu tahun oey.. Nggak sanggup aku ngebayanginya, udah ngapain ajaaa ya dengan waktu hidup selama itu 😉

Well, dini hari, sekitar pukul dua Deirdre terbangun dari tidurnya dan mendapati Luke di luar jendelanya. Mereka pun pergi keluar rumah dan sekali lagi Deirdre bertanya tentang siapa Luke sebenarnya, dan lagi-lagi juga Luke menjawab bahwa dia tidak bisa memberitahu, tidak pada dia, tidak pada siapapun. Tapi Deirdre punya ide, kalau Luke tidak bisa memberi tahunya, biar Deirdre yang mencari tahu lewat pikiran Luke. Ya. Deirdre melihat pikiran-pikiran Luke dan Luke mengizinkan. Kemudian Deirdre menemukan fakta yang membuatnya marah, sedih, dan kecewa. Bukannya seks liar, atau obat-obatan terlarang, atau koleksi mammoth dalam poster Britney Spears yang ditemukan dalam kepala Luke, melainkan gambaran-gambaran kematian. Bukan hanya kematian, tapi juga pembunuhan. Ternyata Luke bukan peri baik, melainkan pembunuh. Dari pikiran Luke, Deirdre banyak melihat korban-korban Luke yang manusia. Deirdre marah pada Luke dan keheningan mengiringi perjalanan kembali mereka ke rumah Deirdre. Sayangnya, beberapa meter dari rumah, mereka di hadang oleh Eleanor, wanita rupawan yang sebelum juga pernah bertemu dengan Deirdre dan Luke di resepsi tempo hari dan Luke  menunjukkan sikap takut namun juga menantang pada Eleanor. Seperti hal nya kali ini. Dan sekarang Luke bertindak sebagai pelindung Deirdre karena Eleanor sempat ingin menyentuh Deirdre namun untungnya cewek itu mengenakan kalung kuncinya. Dan saat inilah momen yang menurutku cukup romantis.

                “…Katakan kepadanya…Katakan aku tidak sanggup melakukannya dan aku memohon maaf kepadanya.

                Eleanor tampak kebingungan, “Kau tidak bisa membunuh gadis ini? Mengapa?

                “Aku mencintainya.

Ooh, tentu saja lutut Deirdre langsung lemas. Luke secara tidak langsung menyatakan perasaannya padanya sih. Eleanor yang mendengar pengakuan itu dengan senang hati pergi dan akan menyampaikan pesan Luke pada ‘bos’ nya, sang Ratu. Namun ternyata ia sempat mengambil energi Deirdre hingga cewek itu tiba-tiba merasa sangat lelah dan mengantuk. Sesampainya di rumah pun ia langsung tertidur pulas.

Hari berikutnya James ternyata terus meneleponnya. Entah kenapa ia punya firasat nenek Deirdre sedang dalam masalah. Benar saja, saat ia turun dan bertemu dengan ibunya dan Delia, mereka sedang akan kerumah sakit karena neneknya jatuh atau semacamnya. Tapi Deirdre tidak percaya. Saat akan berangkat kerja, Luke menelepon Deirdre dan bercerita, rupanya selama ini ia tidak bisa mengatakan apapun kepada Deirdre perihal kehidupannya karena saat akan melakukannya Luke pasti akan merasa kesakitan dan lehernya seperti di cakar sedangkan ia sendiri tidak tahu cara untuk menghentikannya. Makanya lebih baik ia mengindarinya selama ini. Ia hanya meminta Deirdre untuk memperhatikan isi pikiran Luke dengan seksama dan menemukan sesuatu yang dapat membantah segala tindakan yang telah Luke lakukan selama ini. Yah, semacam pembelaan lah 🙂

Di Dave’s Ice, tempat kerja Deirdre, ia didatangi oleh Aodhan, cowok beraroma herbal yang juga ditemukan Deirdre di dalam ingatan Luke. Untung ada James yang datang dengan memanggul sekop (kurasa karena sekop ini satu-satunya barang berbahan besi yang ditemukan James. Hha..). Aodhan pergi. James membawa Deirdre ke rumah sakit menjenguk neneknya. Ternyata nenek Deirdre memang diserang Mereka (dibuku ini peri-peri jahat di sebut dengan ‘Mereka’), dan kini beliau koma. Karena Deirdre setelah itu ada jadwal mengisi acara pernikahan sementara James ada acara dan tidak bisa mengantarnya, akhirnya Luke yang menjemput Deirdre di rumah sakit. Saat di rumah untuk mengambil harpa, Luke mendapat serangan batin. Dadanya merasa kesakitan dan dengan kekuatannya, Deirdre dapat melihat seseorang membakar sayap burung merpati di dada Luke. Nah, kurasa inilah saatnya menghubungkan dengan cerita di bagian prolog 😀

Setelah kondisi Luke membaik, mereka pun berangkat ke acara nikahan itu, tapi setibanya di sana ternyata masih sepi sekali. Deirdre dan Luke pun berlatih dengan harpa dan flute mereka. Mereka berkolaborasi. Lalu muncullah Brendan dan Una, dua peri berwarna hijau yang memegang biola dan gendang kecil. Mereka mengenal Luke, begitu juga sebaliknya. Namun Luke tidak mau menurunkan tamengnya, ia tetap berusaha melindungi Deirdre sekalipun pada peri yang ia kenal baik ini. Tapi dari kedua peri baik ini Deirdre jadi tahu tentang Luke dan bagaimana hubungan Luke dengan Sang Ratu. Dan teman-teman, saat ini lah muncul adegan yang cukup membuat sedih dan pilu. Kasihan Luke. Well, saat Deirdre dan Luke sedang berciuman, muncullah si pemilik rumah. Ia kaget melihat Deirdre di sini karena ternyata pesta baru akan diadakan minggu depan. Ya ampuun..

Saat Deirdre makan malam bersama Luke, Ibunya menghubungi dan menyuruh Deirdre segera pulang. Tenyata nenek Deirdre meninggal. Tanpa Deirdre tau ternyata James juga sedang mengalami bencana. Ia kecelakaan dan mobilnya hancur sementara tubuhnya belum ditemukan. Padahal malam itu tiga jam sebelum ia pulang kerumah James mengiriminya SMS yang sangat singkat, ‘d. I love u.Well, gimana nggak bikin hati bersedir cobaa?? Tapi entah kenapa Deirdre digambarkan seperti mati rasa. Entah itu saat mendengar kabar neneknya, atapun kabar James keesokan harinya. Ia seperti tidak punya emosi sedih, takut, cemas, atau apa. Yang jelas, ia yakin kalau James masih hidup. Dengan bantuan Sara, teman kerjanya, ia pergi ke lokasi kecelakaan James. Ia bertekad untuk mencari James, kemanapun. Sayangnya, apa yang ditemuan disana tidak hanya bukti akan menghilangnya James, tapi juga Luke. Ia menemukan barang-barang Luke diantara cipratan-dipratan darah, bahkan juga ponsel yang masih saja Deirdre coba hubungi namun tidak pernah diangkat, ponsel Luke. Dengan petunjuk dari Una, Deirdre mencari jalan untuk menyelamatkan sahabat dan kekasihnya.

Ada beberapa hal yang aku kurang suka dengan buku ini, kadang aku dibikin bingung dengan perubahan setting dan alur. Pernah suatu ketika saat Deirdre sedang berdiam diri dan sebuah flashback terjadi tapi aku nggak menyadari kalau ternyata adegan itu flashback, karena itu aku harus membalik lagi untuk membaca ulang. Hhe.. Kurasa aku harus lebih ekstra konsentrasi mengingat ada saat dimana buku ini  memakai sistem teka-teki karena ketidak mampuan Luke bercerita tentang sesuatu menyangkut dirinya dan upaya Deirdre untuk menebaknya. Aku jadi ngerasa lemot disini. Hhaha..

Well, selain beberapa salah ketik di sana-sini, kurasa overall novel ini patut di pertimbangkan kok. Kalau aku bilang sih ceritanya lumayan bagus, romansa antara Deirdre dan Luke juga cukup menarik. Hanya saja aku merasa belum mengenal karakter Deirdre Monaghan dengan baik. Semoga novel berikutnya bisa memberi lebih banyak warna buat karakter Deirdre. Dan satu lagi, menurut pendapat pribadiku sih cover novel ini kurang menarik 😉 Mengingat bahwa cover adalah daya tarik tersendiri buat sebuah buku, kurasa buku satu ini harus benar-benar mengandalkan sinopsisnya agar seseorang tertarik untuk  membacanya. Atau mungkin juga dengan beberapa endorsement alias pendapat dari nama-nama orang ternama seperti Richelle Mead, penulis Vampire Academy yang kebetulan di cantumkan di halaman cover. Tapi sayangnya pihak Ufuk salah mengetik namanya, yang seharusnya Richelle Mead tertulis Rachelle Mead. Hhe..

COVER BARU (NC)

Ratingku buat novel ini : 7,4


 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2011 in Fairies

 

Artemis Fowl 4 – The Opal Deception


  • Pengarang               :    Eoin Colfer
  • Genre                      :    Fantasy, Adventure
  • Tebal                       :    352 hlm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    45.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2005
  • Cetakan                   :    Februari 2011
  • Tanggal Beli             :    17 Februari 2011

Kaum Peri menghapus semua pengetahuan tentang dunia mereka dari ingatan satu-satunya manusia yang mereka takuti: kriminal genius Artemis Fowl. Tapi sekarang mereka membutuhkan anak itu.

Pixie jahat Opal Koboi ingin menghancurkan dunia. Menghentikannya berarti membersihkan nama Kapten Holly Short yang dituduh membunuh, membebaskan si kurcaci kleptomaniak dari penjara, dan meyakinkan centaur supercerdas bahwa ia tidaklah tahu segalanya.
Kalau saja Artemis bisa mengingat mengapa makhluk-makhluk aneh ini sangat bergantung padanya…

Review :

Ya ampuuun.. Setelah hampir 4 tahun nggak ada kabar, akhirnyaa muncul jugaa.. Sampe lupa aku sama ceritanya. Kemarin mau baca buku ke empat ini aku sampe harus buka akhir-akhir cerita buku ke tiga nya dulu. Buat mengingat kembali. Ckck..

Kali ini ceritanya tentang Artemis sedang terobsesi pada lukisan karya Pascal Hervé, seorang Impresionis Prancis, berjudul Peri Pencuri, sebuah lukisan yang dipercaya telah berpindah tangan sebanyak 15 kali karena dicuri. Yang membuat beda pencuri ini dengan jutaan pencuri lainnya adalah pencuri pertama memutuskan untuk menyimpan lukisan ini untuk dirinya sendiri. Begitu pula dengan pencuri-pencuri berikutnya. Demi mendapatkan lukisan ini, Butler dan Artemis harus berperan sebagai Ayah-Anak yang sedang mengunjungi sebuah Bank di Munich, Jerman, untuk mengambil isi kotak deposit mereka, dimana lukisan itu di duga ada di salah satu kotak deposit itu. Yang lucu disini adalah saat Artemis harus memerankan seorang anak ‘normal’ dan orang yang tidak tahu siapa Artemis sesungguhnya memperlakukannya layaknya seorang anak kecil. Artemis harus menahan kejengkelannya karena ini.

Dilain pihak, terjadi kegemparan di Dunia Bawah. Komandan Julius Root meninggal dan Kapten Holly Short tersangka utamanya. Holly kabur dan mencari Artemis untuk meminta pertolongan. Sayangnya Artemis tidak memiliki sisa ingatan mengenai bangsa peri sama sekali. Namun kemudian muncullah Mulch Diggums yang membawa pesan dari Artemis untuk Artemis sendiri, yaitu sebuah disc yang berisi rekaman kebenaran. Setelah mendapatkan ingatannya kembali, Artemis pun menolong Holly untuk menangkap Opal Koboi, peri di balik semua masalah ini dan yang terpenting, membuktikan bahwa Holly tidak bersalah atas kematian Komandan Root. Bersama-sama Artemis, Butler, Holly dan Mulch Diggums mengalami petualangan yang seru.

Dari segi cerita secara keseluruhan aku suka karena seperti biasa, penuh dengan aksi dan petualangan. Hanya satu yang menurutku kurang, bahasanya sedikit agak berat karena ada saat-saat dimana aku harus mengulangi paragraf yang baru saja kubaca. Tidak seperti cerita sebelumnya yang terus mengalir saat membacanya. Tapi selebihnya, bagus kok.

Ratingku buat novel ini : 8

 
4 Comments

Posted by on May 2, 2011 in Fairies

 

Artemis Fowl 3 – The Eternity Code


  • Pengarang               :    Eoin Colfer
  • Genre                      :    Fantasy, Adventure
  • Tebal                       :    424 hlm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    46.000 IDR
  • Pertama terbit          :    6 Mei 2003
  • Cetakan                   :    September 2006
  • Tanggal Beli             :    17 September 2007

Artemis Fowl menciptakan komputer supercanggih dengan teknologi yang “dipinjamnya” dari Kaum Peri. Di tangan yang salah, komputer C Cube itu bisa menimbulkan kekacauan fatal, baik bagi dunia manusia maupun peradaban peri. 

Segalanya jadi kacau ketika Artemis memamerkannya pada pengusaha Amerika yang licik. Apalagi ketika Butler, pengawal profesionalnya yang terkenal tidak terkalahkan, tertembak. 
C Cube dirampas si pengusaha dan disimpan di ruangan dengan pengamanan maksimum. Satu-satunya cara adalah meminta bantuan peri. Mereka setuju tapi dengan satu syarat: segala ingatan Artemis tentang Kaum Peri harus dihapus. 

Review :

Buku ketiga Artemis Fowl ini memiliki tema utama yang sama dengan dua buku sebelumnya, yaitu ambisi Artemis untuk menghasilkan uang lebih banyak lagi. Dengan mengandalkan segala cara. Kali ini Artemis menciptakan sebuah perangkat komputer supercanggih yang dinamai C Cube. C Cube di design dengan kombinasi teknologi peri dan manusia. Artemis berusaha membuat kesepakan dengan Jon Spiro namun orang itu malah mencuri dan menyimpannya di ruang dengan keamanan ketat. Artemis tahu seberapa bahayanya alat itu kalau jatuh di tangan orang yang salah ―apalagi dengan masyarakat Dunia Bawah. Menurut mereka, alat itu di tangan Artemis saja sudah cukup mengancam keamaan bangsa peri.

Itulah kenapa saat Artemis meminta bantuan bangsa peri, mereka membuat kesepatan. Mereka mau membantu untuk mendapatkan kembali asalkan Artemis dan Butler dihapus ingatannya.

Jadilah sekali lagi agen Holly Short dan Artemis Fowl bekerja sama dengan beberapa bantuan dari  Foaly (seorang centaur ahli komputer dari dunia peri) lagi untuk menyelamatkan dunia peri bersama dengan Mulch Diggums ―seorang dwarf narapidana yang melarikan diri dari dunia bawah― dan Juliet Butler (Adik Butler, seorang body guard yang sedang dalam masa training) dan tentu saja Butler sendiri. Sayangnya nanti Butler tertembak dan membuat dirinya terpaksa menanggung akibat mengerikan dan menyedihkan.

Disini Artemis mendapatkan pelajaran yang sangat berharga mengenai keserakahan dan makna keluarga. Ia harus mengalami perjuangan yang hampir membuatnya putus asa untuk mendapatkan Butler kembali ke kehidupan.

Ratingku buat novel ini : 8

 
Leave a comment

Posted by on May 1, 2011 in Fairies

 

Artemis Fowl 2 – The Arctic Incident


  • Pengarang               :    Eoin Colfer
  • Genre                      :    Fantasy, Adventure
  • Tebal                       :    360 hlm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    40.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2002
  • Cetakan                   :    September 2006
  • Tanggal Beli             :    16 Oktober 2007

Artemis fowl, otak kriminal yang paling pintar dan berbahaya di dunia, meski baru berusia tiga belas tahun, kembali berpetualang. Ia mendapatkan e-mail video yang isinya permintaan tebusan. Korban penculikannya: ayahnya yang hilang dan sudah dinyatakan meninggal dunia di Arktik, Kutub Utara.

Ketika bergegas menyelamatkan sang ayah, Artemis lagi-lagi harus berurusan dengan Kapten Short dan Kaum Peri. Ia dituduh menjadi dalang di balik perdagangan senjata ilegal kelas A di Dunia Bawah. Artemis menyangkal dan dengan cerdik membuat kesepakatan: ia akan membantu Kaum Peri menangkap biang kerok sesungguhnya bila mereka mau membantunya membebaskan ayahnya.

Review :

Ceritanya satu tahun telah berlalu sejak kejadian penculikan kapten Holly Short dan Holly masih menyimpan dendam pada Artemis. Kini Artemis di hadapkan dengan konflik mengenai kabar ayahnya ―yang menghilang dan sudah dinyatakan meninggal― sedang ditawan oleh Mafia Rusia. Tentu saja Artemis menyusun rencana untuk membebaskan ayahnya. Sayangnya, ia malah menjadi tersangka utama dalam perdagangan senjata ilegal di Dunia Bawah. Artemis menyangkal tuduhan itu dan ia malah mengadakan perjanjian kerja sama dengan LEPRecon  ―Lower Elements Police Recon. Artemis berjanji menemukan siapa dalang dibalik perdagangan senjata ilegal yang sesungguhnya dan LEP berjanji membantu menemukan ayah Artemis. Tentu saja dalam prosesnya banyak kejadian seru dan cukup banyak aksi yang menghibur. Teknologi yang mereka digunakan juga menakjubkan. Belum lagi tar banyak konflik antara Artemis dan Holly, tapi kali ini sisi lembut Artemis lebih menonjol dari pada sebelumnya. Selain itu tar ada saat dimana sisi kekanakan Artemis keluar dan menurutku itu lucu banget mengingat dia adalah otak kriminal genius terlepas dari usianya yang masih tiga belas tahun.. Jadi terasa imut gimana gitu.. Hhaha..

Pada dasarnya buku ini bisa dikategorikan sebagai buku anak-anak sampai dewasa muda karena plot ceritanya yang ringan, tidak membingungkan, karakternya lucu dan tentu saja berbau fantasi dengan adanya peri-peri, goblin, centaur, dll. Tapi bagi yang nggak keberatan dan emang suka buku fantasi, buku ini wajib baca! =D

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2011 in Fairies

 

Artemis Fowl


  • Pengarang               :    Eoin Colfer
  • Genre                      :    Fantasy, Adventure
  • Tebal                       :    336 hlm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    40.000 IDR
  • Pertama terbit          :    3 Mei 2001
  • Cetakan                   :    Agustus 2004
  • Tanggal Beli             :    9 Maret 2011 (yang kedua)

Artemis Fowl miliuner jenius yang baru berusia dua belas tahun. Karena ingin mendapatkan emas ia berhasil masuk ke dunia peri. Tapi ternyata peri-peri yang dihadapinya bukanlah seperti yang ada dalam dongeng. Mereka bersenjata dan berbahaya, dan mereka mau melakukan apa saja untuk membebaskan teman mereka yang ditawan Artemis.

Review :

Aku tahu novel ini atas rekomendasi temanku dan novel ini termasuk novel-novel awal aku mulai suka baca. Thanks buat Dita, dimanapun kau berada sekarang. Hhe..

Artemis Fowl novel yang ringan dan asyik untuk di ikuti. Buku ini penuh dengan fantasy, dari makhluk fantastis hingga kecanggihan tekhnologi yang tidak pernah kita bayangkan. Sekalinya kau membaca novel ini, kau merasa ingin terus membalik halamannya.

Colfer sendiri sangat pandai dalam menggambarkan karakter Artemis, si bocah jenius. Karakter Artemis sangat kuat dan walaupun kehidupan yang dijalaninya rumit, pembawaannya yang santai mampu membuatku tersepona. Hhaha.. Gimana nggak, bocah ini digambarkan sebagai bocah yang super jenius dan banyak akal, ambisius, juga licik, tapi kemampuan mengendalikan suasananya mantap. Jadi, suatu ketika kau akan merasa Artemis brilian banget dan di saat yang sama kau tidak akan percaya bahwa dia jahat banget.

Lain lagi dengan tokoh Kapten Holly Short, seorang peri yang juga anggota LEPRecon  ―Lower Elements Police Recon― wanita pertama. Seperti yang sudah di tebak, nanti terjadi perseteruan antara kegigihan Kapten Holly Short melawan kelicikan Artemin Fowl.

Yang jelas, cerita yang cukup menghibur, begitu juga dengan novel-novel selanjutnya..

Oia satu lagi, tulisannya gede-gede, jadi nggak bikin capek mata! :-b

Ratingku buat novel ini : 7,6

 
Leave a comment

Posted by on April 21, 2011 in Fairies