RSS

Category Archives: Dark Fantasy

In a general sense, dark fantasy is occasionally used as a synonym for supernatural horror, to distinguish horror stories that contain elements of the supernatural from those that do not. For example, a story about a werewolf or vampire could be described as dark fantasy, while a story about a serial killer is simply horror.

Vampire Academy 3 ─ Shadow Kiss


  • Pengarang               :    Richelle Mead
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    508 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Matahati
  • Harga                      :    64.500 IDR
  • Pertama terbit          :    13 November 2008
  • Cetakan                   :    Februari 2011
  • Tanggal Beli             :    7 Februari 2012

Rose tahu dia tak bisa mencintai sesama pengawal. Sahabatnya, Lissa—putri Dragomir terakhir yang akan dikawalnya kelak—harus selalu diutamakan. Sayangnya, Rose tak bisa berkutik dalam perasaannya terhadap Dimitri Belikov, pengawal yang disiapkan menjadi partner Rose untuk menjaga Lissa. 

Tetapi sejak membunuh Strigoi untuk pertama kalinya, Rose kerap uring-uringan. Sesuatu yang gelap tumbuh dalam pikirannya, dan berulang kali dia didatangi hantu, yang memperingatkannya akan bahaya yang mengancam Akademi. 
Karena hubungannya dengan Dimitri, kini persahabatan Rose dan Lissa dipertaruhkan. Dalam pertarungan besar menghadapi kaum Strigoi, Rose harus memilih antara nyawa, cinta, dan dua orang paling penting dalam hidupnya. Tapi, apakah pilihannya berarti harus mengorbankan nyawa yang lain?

Review :

Buku kali ini butuh waktu yang panjang buat aku bacanya. Pertama, karena memang daftar buku yang harus aku baca cukup panjang, dan yang kedua karena aku belum punya waktu bener-bener bebas buat bikin reviewnya. Nah, kali ini akhirnya aku punya waktu itu dan kucoba buat paparkan sepotong review tentang Shadow Kiss.

Mengingat novel ini uda aku nantikan sejak lama, aku cukup antusias bacanya. Awal cerita cukup lucu menurutku. Seperti biasa, Rose terhisap ke pikiran Lissa, dan saat itu Lissa lagi ‘hmm’ ma Christian. Haha.. Jelas aja Rose jengkel dan menyelinap keluar dari asrama. Nah,nah.. dia malah ketemu Dimitri. Mereka mengobrol sebentar karena kemudian Rose harus bersembunyi. Ada yang datang. Ternyata Alberta, kapten pengawal Akademi. Rose mendengarkan pembicaraan Alberta dan Dimitri mengenai Victor Dashkov yang ternyata belum juga dijatuhi hukuman akibat ulahnya. Well, kalian ingat cerita buku sebelumnya kan, tentang kejahatan Dashkov? Nah, tentu saja berita ini juga mengejutkan teman-teman Rose saat berhari-hari kemudian ia menceritakannya pada mereka. Oke, yang ini kita skip dulu.

Kembali ke saat Rose akan kembali ke dalam asrama malam itu. Setelah ia berpisah jalan dengan Dimitri dan ia akan masuk gedung, ia melihat bayangan di antara semak pohon. Yups, saat itulah ia melihat hantu kali pertama. Ia melihat Mason yang hanya berdiri dan tampak pucat. Tapi jelas, Rose tidak percaya hantu, terlepas dari keberadaan vampir yang memang nyata. Akhirnya malam itu ia tidak bisa tidur. Hari berikutnya, saat pengumuman praktik lapangan yang seharusnya membuat dirinya bersemangat, malah membuat segalanya makin buruk. Ternyata ia dipasangkan pada Christian Ozera, bukannya dengan Lissa Dragomir yang kelak bakal jadi tanggung jawabnya. Yaaaa.. Selama enam minggu kedepan, Rose harus menjadi pengawal Christian, dan ini jelas bakal jadi enam minggu yang sangat panjang. Hmm, awalnya tentu saja terjadi kekacauan karena Rose memberontak akibat ia mendapat nama Christian, sedangkan Lissa di jaga oleh Eddie Castile, sahabat Mason. Dulu.

Yah, setelah mengalami pertentangan, akhirnya ia terpaksa menahan ego nya dan menerima fakta bahwa ia akan mengikuti Christian kemanapun cowo itu pergi. Harinya makin berat saat ia bertemu dengan Adrian Ivashkov yang terus menggodanya. Hhaha.. Ampun deh.

Naaah, akhirnya hari-hari Rose dan Christian dimulai nii. Awalnya jadwal Lissa dan Christian sama, jadi mereka berempat masi bisa ngumpul-ngumpul bareng. Tapi kemudian mereka berpisah. Terpaksa Lissa dan Eddie pergi ke kelas Lissa sementara Christian dan Rose pergi ke kelas ilmu kuliner pilihan Christian 😛 Rose mencak-mencak tahu pilihan pelajaran Christian. Hhaha.. Tapi saat inilah ujian pertama bagi anak-anak Dhampir dimulai. Di ujung selasar, Shane Reyes diserang oleh Strigoi palsu yang tak lain adalah salah seorang instruktur mereka. Namun saat keadaan makin pelik karena tidak hanya Shane yang diincar, Eddie turun tangan dan Rose harus menjaga Christian dan Lissa. Saat drama berakhir, mereka berdua mendapat pujian karena kesigapan mereka. Kemudian mereka pun berpisah, dan Rose dan Christian pergi ke kelas ilmu kuliner.

Di sini Christian dan Rose mulai membuka diri. Mereka mengobrol sementara Rose mengawasi sekeliling dan Christian memasak. Ternyata hasil masakan Christian tidak parah-parah kali. Hha.. Akhirnya kelas berakhir dan saat mereka akan pergi ke asrama Christian, mereka bertemu dengan Brandon Lazar yang berwajah memar. Rose menanyakan penyebabnya, tapi cowo itu ngga mau bahas. Saat itulah ujian pertama buat Rose dimulai. Wajah Stan muncul dari kegelapan saat ia menerjang mereka. Rose pun langsung bereaksi dan siap menghadapi Stan. Tapi sial, terjadi sesuatu yang membuat tubuhnya membeku. Ia melihat Mason. Lagi. Transparan, berkilau, dan sedih. Rose terpaku menatap Mason yang mengangkat satu tanggannya yang transparan dan menuding sisi lain kampus, yang tidak dimengerti Rose apa maksudnya. Kemudian ia rubuh karena hantaman Stan. Ia kaget setengah mati.

Akibat keteledorannya mengabaikan Moroi nya, Rose harus menghadapi sidang di depan komite yang menanganinya. Ia tidak mengungkapkan akar masalah sebenarnya yang menyebabkan ia hilang konsentrasi. Dan ia mendapat hukuman tentu saja. Kemudian ia juga harus menghadapi kemarahan Lissa dan berbagai desas-desus yang ada di sekelilingnya, walaupun Christian tidak terlalu mempermasalahkan dan malah cenderung menanggapinya dengan candaan. Saat mereka berkumpul inilah akhirnya Rose menceritakan tentang masalah Victor Dashkov yang tidak pernah dianggap bersalah. Tentu saja Lissa langsung ketakutan membayangkan Victor yang berkemungkinan bebas. Persidangan resmi Victor baru akan diadakan seminggu kedepan dan mereka memaksa ingin ikut bersaksi, tapi para petinggi kampus tidak setuju.

Weeeell, ada satu saat Adrian menarik Rose ke dalam mimpi rancangan Adrian, hmm, cukup romantis oey. Hhaha.. Habisnya Adrian keliatan tergila-gila beneran sama Rose siiih, walaupun si Rose selalu menanggapinya dengan enteng dan cenderung kesal karena Adrian terus mengikutinya. Tapi kurasa ini daya tarik tersendiri dari novel ini. Selain cinta Rose pada Dimitri, kini ada sosok Adrian yang membuat cinta segitiga ini lebih asyik 😀 Di mimpi ini, Adrian terus berusaha membuat Rose terkesan, bahkan berjanji akan membawa Rose dan kawan-kawan untuk bersaksi di persidangan Victor. Tentu saja Rose menyepelekannya 😛

Terlepas dari Adrian yang sering menggoda Rose, tenyata Christian cemburu melihat kedekatan Adrian dan Lissa yang selalu membicarakan masalah sihir. Rose yang kini jadi tempat curhat Christian. Hha.. Saat Christian akan minum darah donor, sialnya mereka berdua bertemu dengan Jesse dan Ralf yang menyebalkan. Kedua cowo ini mengajak Christian untuk bergabung dengan kelompok rahasia mereka. Ampun deh. Seolah Christian mau aja diajak begituan.

Weekend.  Rose harus melakukan pelayanan masyarakat sebagai hukuman keteledorannya tempo hari. Kemudian ia pun pergi ke Gereja. Di sanalah ia melakukan hukumannya. Dan ternyata Dimitri membantunya. Asiik 😀 Tapi hari berikutnya, jelas ia mulai mengawal Christian lagi. Tapi ada yang membuatnya senang. Tenyata Rose, Christian, Lissa, Eddie, dan Adrian pergi ke persidangan Victor. Dan ini berkat campur tangan Adrian, ntah bagaimana caranya. Tapi nanti terungkap kok penyebabnya. Hha..

Nah, kembali ke cerita. Dalam penerbangan, entah kenapa Rose pusing setengah mati. Membuat Alberta serta Dimitri cemas. Ia pun makan, minum obat, dan ia tertidur. Saat bangun, mereka sudah mendarat di Istana Kerajaan Moroi.

Mereka berpisah masuk ke kamar masing-masing, namun Lissa mendapat undangan dari sang ratu. Seorang diri. Terpaksa Rose hanya mengawasinya dari pikiran Lissa saja. Setelahnya, Rose dan kawan-kawan bertemu dengan Mia Rinaldi, cewek yang setahun lebih muda dari Rose, yang di cerita sebelumnya pernah menjadi mimpi buruk Lissa dan Rose, namun kini sejak ia juga menjadi korban Dashkov, ia berubah. Mereka mengobrol untuk sesaat, hingga kemudian Mia menyampaikan pesan kepada Rose dari salah seorang petugas keadilan. Dan ternyata isi pesan itu dari Victor Dashkov yang mengancam dengan halus akan membongkar perihal hubungan Rosa dan Dimitri di depan persidangan. Segera Rose mendatangi Dimitri, dan mereka pun mengunjungi Victor di tahanan. Kali ini Dimitri yang gantian mengancam Victor.

Hari berikutnya persidangan Victor. Seusai pembacaan dakwaan, ratu memanggil Lissa. Ia memberi Lissa penawaran akan rencana kuliah Lissa kelak. Setelah urusannya dengan Lissa kelar, ratu kemudian  memanggil Rosa. Mengejutkan memang. Dan yang lebih mengejutkan, ratu memerintahkan agar Rosa menghentikan ‘hubungannya yang menjijikkan’ dengan keponakan buyutnya yang tersayang, Adrian. Alamak -.-a Jelas-jelas ini membuat Rosa kaget. Apalagi mendengar rencana ratu yang ingin menjodohkan Adrian dan Lissa. Wow.. Tapii, mau ngga mau ia harus diam. Ia tidak ingin merunyamkan hubungan Lissa dan Christian yang akhir-akhir ini sedang panas karena Christian sedang dibakar cemburu akibat kedekatan Lissa dan Adrian. Biar bagaimanapun, kebahagiaan Lissa ada pada Christian, begitu pula sebaliknya.

Setelah perbincangan dengan sang ratu, Rosa tidak menceritakan yang sesungguhnya pada Lissa dan mereka pun pergi bersenang-senang, sebelum harus mengejar penerbangan kembali ke Akademi. Namun sayang, seperti keberangkatan sebelumnya, kali ini penerbangan kepulangan Rosa juga tidak berjalan mulus. Bahkan rasa pusing Rosa lebih parah hingga menyebabkan ia jatuh pingsan. Ia merasa sedang dikeroyok banyak hantu sebelum ia tidak sadarkan diri.

Terpaksa, saat ia tersadar, ia mau tidak mau mengaku bahwa ia melihat hantu. Well, bukan keputusan tepat rupanya. Karena Dr.Olendzki, Alberta, dan Dimitri yang mendengar pengakuan Rosa dan malah menganggap anak itu sedang mengalami stress berat. Rosa terpaksa ikut konseling atau pilihannya ia ditarik dari praktik lapangan nya. Hmm.. Sial.

Tapi terlepas dari masalah ini, ia mulai teringat kembali pada misteri tentang klub tarung bangsawan yang banyak menyebabkan para moroi di Akademi babak belur. Saat mengobrol dengan Adrian, akhirnya misteri ini sedikit tersingkap. Akhirnya, semakin waktu berlalu Rosa mengerti kenapa ia sering melihat Mason, bagaimana itu bisa terjadi, dan apa yang coba di peringatkan oleh Mason. Strigoi. Menyerbu Akademi dan meninggalkan duka yang amat mendalam bagi Akademi, terutama Rosa yang harus kehilangan orang yang sangat ia cintai. Aaarg.. Bahkan diakhir kisah pun Adrian yang clenge’an bisa tampak merana 😦

Huft. Pingin langsung lanjut baca Blood Promise. Tapi masi banyak antrian review yang lain nii.. Harus bersabar ikutin alur deh. Hhehe.. Buat kalian, selamat membaca yaa. Pokoknya jauh lebih asyik deh baca novelnya ^.^d

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
4 Comments

Posted by on October 29, 2012 in Dark Fantasy

 

Sookie Stackhouse 6 – All Together Dead


  • Pengarang        :    Charlaine Harris
  • Genre               :    Fantasy, Drama
  • Tebal                :    468 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Esensi
  • Harga               :    75.000 IDR
  • Pertama terbit   :    1 Mei 2006
  • Cetakan            :    2010
  • Tanggal Beli      :    7 Oktober 2010

Dikhianati oleh cinta lamanya yang seorang vampir, Sookie Stackhouse sekarang mempunyai laki-laki yang baru dalam hidupnya—si makhluk pengubah wujud yang tampan bernama Quinn. Tapi kegembiraannya tak berlangsung lama, karena Sookie terpaksa menghadiri konferensi vampir menemani sang ratu vampir Louisiana. Dengan basis kekuatan yang telah dilemahkan oleh kerusakan akibat badai Katrina di New Orleans, sang ratu amat rentan mengalami kudeta. Sookie harus memutuskan dia berada di pihak yang mana. Dan pilihannya bisa berarti perbedaan antara hidup dan bencana yang tak dapat dibayangkan….

Review :

Minggu ketiga di bulan November, malam hari, Sookie Stackhouse datang ke bar Fangtasia. Ia menghadiri sebuah pertemuan dimana ada Eric Northman ─seorang Sheriff Area Lima, Pam ─tangan kanan Eric, Clancy ─sang manager bar, Felicia ─bartender baru, Indira dan Maxwell Lee, dan seorang yang sekarang keberadaannya diingkari Sookie, Bill Compton, sang mantan kekasih. Malam itu ternyata turut hadir dua tamu yang salah satunya berpangkat lebih tinggi dari Eric. Adalah Andre, pengawal pribadi Sophie-Anne Leclerq. Ratu Lousiana. Sejak badai Katrina melanda New Orleans, Sang Ratu mengungsi di Area Empat Baton Rouge. Kemudian tamu kedua adalah Jake Purifoy, seorang mantan Were. Jake terlahir sebagai Were, namun suatu ketika ia diserang vampir dan berdarah hingga nyaris tewas. Namun sepupu Sookie, yang bernama Hadley ─seorang vampir─ merasa kasihan pada Jake dan merubahnya menjadi vampir. Sebelumnya tidak ada Were yang berubah menjadi vampir. Belum lagi kenyataan bahwa masing-masing tidak mempercayai kaum yang lain. Makanya posisi Jake sangat sulit dan akhirnya Sang Ratu pun memberinya posisi sebagai pelayannya.

Ternyata tujuan diadakannya pertemuan ini adalah karena Sookie diminta untuk mendampingi Sang Ratu di sebuah konferensi vampir. Disini Sookie harus terus memantau pikiran orang-orang disekitarnya dan menemukan suatu keganjilan karena sejak peristiwa kematian Peter Threadgill, Raja Arkansas, Sang Ratu lah yang dituduh sebagai pembunuhnya dan mendapatkan tuntutan hukum.

Kemudian, Sookie harus menghadiri acara wedding shower untuk pernikahan ganda keluarga Bellefleur, Halleigh dan Andy, Portia dan akuntannya. Sebenarnya Sookie tidak terlalu akrab dengan keluarga itu, terutama dengan kakak adik Bellefleur, Andy dan Portia. Namun karena keramahan Halleigh, maka Sookie hadir. Lalu saat pulang, Sookie mendapat kejutan. Sang kekasih, Quinn, si weretiger, ada di rumahnya.

Hari berikutnya lebih mengejukan lagi karena kakaknya, Jason, menelepon dan mengatakan bahwa ia akan menikah malam ini juga. Alamak.. Ia sudah tergila-gila pada Crystal dan ya, Crystal adalah seorang werepanther, sama seperti Jason yang sekarang juga seorang werepanther. Hanya bedanya kalau Crystal masih keturunan langsung sementara Jason adalah were ‘ciptaan’. Di dalam komunitas Hotshot yang korban pernikahan sedarah antar warganya, maka tidak mengejutkan apabila terjadi kelainan genetik pada warganya. Itulah kenapa kehadiran darah baru di komunitas ini sangat membawa angin segar. Di pernikahan ini ada tradisi dimana keluarga terdekat dari masing-masing penganting harus menjamin pengantin, dalam artian, di penjamin ini harus bersedia menanggung hukuman atas perbuatan yang dilakukan si pengantin kelak apabila timbul masalah. Maka Sookie lah yang menjadi penjamin Jason dan Calvin ─sang pimpinan Hotshot sekaligus paman Crystal─ yang menjamin Crystal.

Lalu di hari-hari berikutnya, ada beberapa masalah sepele yang harus Sookie hadapi. Sookie juga mendapat kunjungan dari sang ibu peri, Claudine. Peri itu dengan sedih meminta Sookie agar merubah keputusan mengenai keikutsertaannya di konferensi. Namun Sookie tidak bisa mengabulkannya karena Sookie membutuhkan uang yang dibayarkan Sang Ratu. Kemudian ada Pam yang datang ke Merlotte’s. Di saat yang sama, Amelia Broadway, teman serumah Sookie, juga mengunjungi bar. Lalu ada teman Sookie yang bernama Arlene, dan entah kenapa ia bertingkah aneh dengan terus menyalahkan Sookie karena sudah berdekatan dengan kehidupan vampir. Hal ini tentu mengesalkan bagi Sookie.

Hari-hari berganti dan keberangkatan untuk konferensi pun tiba. Teman seperjalanan Sookie adalah Tn. Cataliades, Diantha, dan Johan Glassport ─spesialis di hukum vampir yang nantinya akan menjadi pengacara Ratu. Selama perjalanan dengan pesawat Anubis ini Johan terus mewawancari Sookie terkait kejadian yang menimpa Ratu.

Mereka tiba di Rhodes menjelang sore dan segera menuju Pyramid of Gizeh, tempat mereka akan menginap dan diadakan konferensi. Sookie juga telah melakukan kontak batin dengan Barry Bellboy, seorang telepatis kenalan Sookie. Kemudian Sookie menemui Ratu untuk mendapatkan instruksi apa yang harus Sookie lakukan, yaitu terus mendampingi Ratu baik itu selama proses pengadilan ataupun pertemuan-pertemuan yang akan Ratu hadiri. Saat Sookie masih berada di ruangan Ratu, datang Si Raja Texas, Stan Davis. Nah, kepada Stan lah Barry bekerja. Ia berfungsi seperti Sookie, sebagai ‘telinga’ dari atasan mereka 😛

Saat Sookie dan Barry sedang jalan berdua, datang Quinn. Sookie senang bertemu dengan sang kekasih. Lalu, kalian juga akan mendapat satu lagi karakter baru, yaitu Britlingen, seorang pengawal super yang berasal dari dimensi lain. Karena Britlingen dianggap sebagai pengawal terbaik, maka dibutuhkan biaya yang besar untuk menyewa seorang penyihir yang akan membawa Britlingen ini ke dimensi kita dan saat pekerjaan selesai, penyihir harus mengirimnya kembali karena hukum dunia Britlingen sangat berbeda dengan disini. Nah disini, Britlingen itu bernama Batanya yang bekerja untuk Raja Kentucky. Hal ini mengejutkan karena untuk apa Raja Kentucky begitu ketakutannya hingga ia menyewa Britlingen?? -.-a

Sekembalinya pada Sang Ratu, Sookie bercerita mengenai Britlingen yang ditemuinya. Sookie juga bertemu dengan Jennifer Cater, vampir Arkansas yang menuntut Ratu atas kematian Rajanya, Peter Threadgill. Namun kemudian Jennifer beserta beberapa anggota Arkansas yang lain ditemukan mati di kamar hotelnya. Entah apa yang terjadi.

Lalu, dalam perjalanan menuju konvensi, Sookie mengungkapkan sebuah ide mengenai pengangkatan Andre sebagai Raja dari Lousianna dan Ratu sangat menyetujui ide itu. Momen ini sangat manis menurutku 😀 Kemudian ada berita lain yang mengejutkan, bahwa Raja Mississippi ─Russell Edgington─ dan Raja Indiana ─Bartlett Crowe─ akan menikah dan Eric yang bertindak sebagai si Pendeta. Pernikahan pun di langsungkan malam itu juga.

Ada satu hal mengenai Quinn yang meresahkan Sookie. Beberapa kali ia bertemu dengan seseorang yang mengenal reputasi Quinn, orang itu akan mengatakan sesuatu yang membuat Sookie tidak mengerti. Lalu Sookie bertemu dengan Jake Purifoy dan meminta Jake menjelaskan mengenai latar belakang Quinn yang belum Sookie tahu. Dan ternyata cukup banyak hal yang Sookie tidak tahu mengenai Quinn. Ia menyesal tidak menunggu Quinn bercerita sendiri. Namun satu hal dari Quinn membuat Sookie merasa tidak nyaman, bahwa Quinn terlibat di dunia bawah tanah.

Saat Sookie pergi untuk mengambil sebuah koper milik salah satu rombongan Lousianna yang tertinggal, Andre menghampirinya. Yang mengejutkan dan membuat Sookie kesal adalah karena tiba-tiba Andre memaksa Sookie untuk meminum darahnya. Ini dilakukan karena Ratu dan Andre menganggap Sookie terlalu berharga dan ingin Sookie memiliki ikatan yang lebih erat baik kepada Ratu maupun Andre. Namun Sookie menolak mentah-mentah karena tidak ingin hidupnya diatur oleh kedua vampir berkuasa tersebut. Beruntung kemudian Eric muncul dan berhasil menyelamatkan Sookie dari paksaan Andre. Sayang, disaat semuanya dalam posisi kurang nyaman, Quinn muncul dan menyaksikan drama tersebut. Sookie dibuat pusing oleh ketiga lelaki ini dan berusaha ‘melarikan diri’.

Sekembalinya Sookie dari mengambil koper yang tertinggal, ia malah menemukan sebuah bom. Ia tidak mau bergerak sebelum tim penjinak bom yang mengambil bom  tersebut. Keadaan kembali tenang hingga kemudian persidangan Ratu diadakan dan terjadi kekacauan karena matinya seorang saksi di depan para hadirin dan Quinn yang terkena panah karena berusaha melindungi Sookie. Kehebohan pun terjadi. Well, selalu saja terjadi hal-hal yang membahayakan nyawa dimana Sookie berada. Seru! 😛

Di seri ini kehadiran Eric makin sering dan kebanyakan terkait dengan Sookie. Eric makin ngejar Sookie, dan lucunya, seolah Eric sedang jatuh cinta tapi tidak mengerti bahwa perasaan yang dia alami itu karena ia menyukai seseorang. Hmm, semacam ‘polos’ mungkin yaa ^.-a Tapi yang jelas, karakter favoritku hingga seri ini masih Eric 😀

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
Leave a comment

Posted by on October 3, 2012 in Dark Fantasy

 

Vampire Academy 2 – Frostbite


  • Pengarang               :    Richelle Mead
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    380 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Matahati
  • Harga                      :    64.500 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan                   :    Juli 2010
  • Tanggal Beli             :    21 Agustus 2011

Rose Hathaway berada pada tahun terakhirnya di St. Vladimir. Enam bulan lagi dia akan menjadi pengawal penuh dan bertugas melindungi sahabatnyam Lissa, seorang bangsawan Moroi.

Kemudian, serangan besar-besaran Strigoi terhadap sebuah keluarga Moroi menyebabkan Akademi St. Vladimir bersiaga. Para pengawal dikerahkan untuk melindungi sekolah ─termasuk ibu Rose yang berwatak keras, Janine Hathaway. Tetapi pihak sekolah tidak mau mengambil risiko. Mereka memutuskan membawa para murid pergi liburan ski.

Namun, tempat liburan musim dingin yang megah di Idaho itu ternyata tidak sepenuhnya aman. Ketika tiga temannya melarikan diri untuk melawan Strigoi yang mematikan, Rose terpaksa bekerja sama dengan Christian untuk menyelamatkan mereka. Hanya kali ini Rose berada dalam bahaya yang lebih besar daripada yang pernah dibayangkan…

Review :

Cerita buku kedua kali ini dibuka oleh prolog yang merangkum segala informasi dan kejadian yang dipaparkan buku pertamanya, Vampire Academy. Karena cukup lengkap informasi yang disuguhkan, sampai-sampai aku merasa tidak perlu membaca buku pertamanya pun kalian pasti akan mengerti dan tidak bingung saat membaca buku kedua. Tapi bukan berarti aku setuju lho yaa.. Aku tetap menyarankan kalian untuk membaca Vampir Academy karena buku ini memang BAGUS!

Rose Hathaway memang berada pada tahun terakhirnya di St. Vladimir, dan ia harus menjalani sebuah tes yang seharusnya sudah ia jalani sejak setahun yang lalu, namun karena saat itu Rose kabur dari sekolah, terpaksa baru sekarang ia ujian. Pengujinya adalah seorang legenda di dunia pengawal, Arthur Schoenberg. Dia pembantai Strigoi terhebat sepanjang sejarah pengawal dan pernah menjabat sebagai ketua Dewan Pengawal. Dia sudah pensiun dan kini kembali bertugas melindungi salah satu keluarga bangsawan, keluarga Badica.

Butuh perjalanan lima jam untuk mencapai kediaman Badica. Namun sayangnya, setiba mereka disana mereka malah menemukan keluarga, para pengawal, dan para tamu keluarga Badica mati terbantai. Seluruh rumah berisi banyak mayat. Sebuah pukulan yang hebat bagi sejarah vampir. Pasalnya, rumah itu telah dilapisi sihir pertahanan yang hebat, belum lagi dengan pengawal-pengawal yang tangguh, termasuk Arthur. Rose syok melihat mayat sang panutan tergeletak tak bernyawa di depan matanya. Ditambah dengan pesan berisi peringatan bagi para Moroi yang Strigoi tinggalkan di atas permukaan sebuah cermin. Jelas menimbulkan kegemparan diantara kaum Moroi dan dhampir.

Ternyata di kelas teori pengawal Rose kedatangan tamu kehormatan, tiga orang pengawal hebat  yang akan menceritakan pengalaman mereka selama masa tugas, dan salah satunya adalah ibu Rose, Janine Hathaway. Well, disini sangat digambarkan bagaimana tegangnya hubungan ibu-anak ini. Keduanya sama-sama keras kepala dan tangguh, hingga timbul perdebatan sengit diantara keduanya. Ditambah dengan lebam besar di mata kiri Rose akibat pukulan sang ibu. Rose benar-benar membenci ibunya.

Untuk liburan Natal, Rose berlibur dengan Lissa, Christian, bibi Christian yang bernama Tasha Ozera, dan Mason, sahabat dan cowok yang tergila-gila pada Rose. Setelah peristiwa ciuman panas antara Rose dan Dimitri hingga cowok itu semakin menahan diri dan menjaga jarak dengan Rose, akhirnya Rose memutuskan untuk membuka hati pada cowok lain. Dan Mason lah cowok itu.

Lalu ada kabar yang seolah menonjok perutnya dan merengut jantungnya. Bahwa Dimitri diminta untuk menjadi pengawal Tasha. Dan karena Tasha tertarik pada Dimitri dan ingin punya anak-anak dhampir, ada kemungkinan ia bisa jadian dengan Dimitri, dan punya anak darinya. Umm, tidak heran kalau melihat keakraban Tasha dan Dimitri beberapa hari ini karena mereka ─memang─ teman lama. Weeeeell, weeell, kasihan Rose. Semakin terpuruk aja perasaannya.

Tapi paling nggak liburan Rose tidak membuatnya begitu sengsara karena terlalu mewah dan luasnya resort ski itu memberikan kemungkinan kecil padanya untuk bertemu dengan Dimitri dan Tasha. Bahkan bisa dibilang Rose dan Lissa melakukan kencan ganda, Lissa bersama Christian sementara Rose dengan Mason. Saking gila pada tantangan, Rose dan Mason bertanding ski di medan yang cukup berbahaya. Rose berhasil melewatinya, tentu saja. Tapi Mason harus gagal di saat-saat akhir dan membuat kakinya jadi terkilir. Alamak..

Sekembalinya Rose dari gudang setelah meletakkan alat-alat ski mereka, ia berjumpa dengan seorang cowok Moroi yang menggodanya. Adrian Ivashkov, salah satu lelaki dari keluarga bangsawan yang paling kaya dan berkuasa. Mereka terkenal dengan sifat mereka yang arogan, tidak terkecuali sikap yang ditunjukkan Adrian ini. Terang-terangan Adrian menggoda Rose dan, sungguh, menurutku cara cowok ini menggoda Rose sangat… keren 😀 Biar sikapnya menjengkelkan Rose, cewek itu tetap merasa penasaran dengan sosok Adrian. Umm, kurasa kebelakangnya karakter Adrian ini bakal cukup berperan nih 😉

Lalu kabar serangan Strigoi kembali terdengar. Walaupun serangan yang menewaskan satu keluarga  bangsawan Drozdov beserta para karyawan dan pengawal mereka ini terjadi di negara bagian lain, nyatanya cukup membuat kegemparan di resort. Mereka mengadakan rapat besar-besaran. Tapi tetap saja hasilnya tidak membawa pencerahan karena nyatanya, para Moroi tetap saja berpendapat lebih baik ‘bersembunyi’ di belakang para dhampir yang bertarung.

Kemudian Rose mendapat kabar tentang sarang Strigoi di Spokane. Sialnya, Mason, Eddie Castile dan Mia Rinaldi kabur dari Resort dengan tujuan ingin membantai Strigoi di Spokane. Bodoh memang. Dan Rose jadi panik. Pasalnya, kalau bukan karena ia yang bercerita tentang penemuan para pengawal tentang Spokane, teman-temannya tidak akan berambisi untuk membunuh Strigoi saat ini juga. Apalagi Mia yang paling besar ambisinya karena ibunya merupakan salah satu korban Strigoi bersama keluarga majikannya, keluarga Drozdov.

Segera dia menemui Christian dan meminta bantuannya. Ia tidak melaporkan hal ini karena menganggap kawan-kawannya itu pasti akan mendapat masalah di sekolah kalau sampai ketahuan. Bertekad akan menemukan ketiga temannya sebelum mereka bertemu dengan Strigoi, Rose dan Christian kabur dari Resort.

Mereka memang menemukan Mason, Eddie dan Mia dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi suasana berubah mencekamkan saat kelima anak ini dalam perjalanan kembali ke terminal bus. Mereka diculik. Oleh manusia. Bawahan Strigor. Dan dikurung di ruang bawah tanah sebuah rumah yang jauh dari keramaian. Si pemimpin Strigor tidak membunuh mereka, tapi berusaha membuat Mia dan Christian yang kaum Moroi membunuh rekan-rekannya yang hanya dhampir. Para Strigor membuat Mia dan Christian sangat kelaparan dan kehausan yang jelas-jelas dapat menghilangkan akal sehat mereka. Kali ini Rose benar-benar tersudut. Bahkan ia harus menyaksikan kematian temannya di depan hidungnya sendiri. Rose menganggap ini semua salahnya.

Oh well, aku suka novel kedua Vampire Academy ini. BAGUS! Nuansa percintaannya jauh lebih banyak, alias lebih mendominasi. Kehadian Adrian pun memberikan warna tersendiri. Apalagi ternyata cowok berusia dua puluh satu tahun ini memiliki kemampuan yang istimewa. Sama seperti Lissa, Adrian juga seorang pengendali Roh. Ia bisa masuk dan berbicara dengan Rose lewat mimpinya. Dan yang jelas, ia cukup tertarik pada Rose 😉 Aah, mau baca buku ketiganyaaa..! Kapan aku bisa beli SHADOW KISS ya?? Hhe..

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
2 Comments

Posted by on September 19, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags:

Sookie Stackhouse 5 – Definitely Dead


  • Pengarang        :    Charlaine Harris
  • Genre               :    Fantasy, Drama
  • Tebal                :    462 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Esensi
  • Harga               :    75.000 IDR
  • Pertama terbit   :    28 April 2006
  • Cetakan            :    2010
  • Tanggal Beli      :    7 Oktober 2010

Kali ini Sookie Stackhouse, sang telepatis, harus pergi ke New Orleans untuk membereskan barang-barang Hadley, sepupunya yang seorang vampir dan baru mati terbunuh. Sookie adalah ahli waris Hadley satu-satunya, padahal siapa yang tahu hal mengerikan apa yang diwariskan oleh Hadley? Sookie juga diundang untuk hadir di pesta dansa mencurigakan oleh Ratu Vampir Lousiana, untuk merayakan pernikahannya dengan Raja Arkansas. Untunglah ada Quinn, teman kencan baru Sookie, seorang manusia harimau yang tampan dan berkharisma. Tapi apakah Quinn dapat melindungi Sookie dari serangan para makhluk supernatural… yang menginginkan berbagai hal dari Sookie, termasuk nyawanya?

Review :

Buku kelima Sookie Stackhouse Series, Definitely Dead dimulai oleh Sookie dan Claude ─si peri kembaran Claudine─ yang sedang menjalani sesi pemotretan bersama Al Cumberland si fotografer, dan Maria-Star Cooper si asisten yang sekarang jadi kekasih Alcide Herveaux. Buat informasi, dulu Alcide dan Sookie sempat terlibat asmara yang sayangnya, hanya sesaat.

Malam berikutnya, muncul Quinn si weretiger saat Merlotte’s hampir tutup. Well, Quinn ini mulai ngajakin kencan Sookie dan Sookie menerimanya dengan senang hati. Kemudian kita tahu kalo Quinn kerja di Extreme(ly Elegant) Events, yah, semacam event organizer gitu lah, tapi nggak cuma buat acara manusia, tapi juga  acara-acara supranatural. Dan event-event yang ditanganinya biasanya termasuk event berskala besar, seperti ritual kenaikan untuk seorang dukun atau penyihir. Kemudian ada pemilihan packmaster ─seperti yang digambarkan di buku sebelumnya, atau juga pernikahan hierarki vampir yang nanti bakal dihadiri Sookie. Unik kan? Hhe.. Nah, kalo di Bon Temps sendiri, E(E)E bakal meng-handle acara pernikahan ganda Bellefleur bersaudara, Andy si detektif dan Portia si pengacara, besok April.

Suatu siang Jason datang ke rumah Sookie dan bercerita tentang Crystal ─tunangan Jason yang seorang shapeshifter juga─ yang keguguran namun keadaannya tidak kunjung membaik. Crystal melarang Jason untuk memberitahukan keadaannya pada seorang pun. Karena terlalu cemas, Jason pun meminta bantuan Sookie. Sookie membantu dengan menghubungi dr.Ludwig yang sebelumnya pernah menyembuhkan Sookie karena sebuah insiden yang melibatkan racun Naiad.

Sore harinya ia berangkat ke Merlotte’s. Setibanya disana ia sudah ditunggu oleh keluarga Pelt yang masih saja mencari Debbie yang menghilang, walaupun sebenarnya Debbie sudah mati. Sookie sangat jengkel jadinya. Kemudian ada kabar buruk, Cody anak Holly ─salah satu pegawai Merlotte’s─ yang masih berumur enam tahun menghilang dari sekolah. Sookie turun tangan. Ia pergi kesekolah Cody, dan dengan kemampuan ‘telepati’nya ia mencari jejak penculikan Cody. Beruntung anak itu dapat diselamatkan.

Hari Jumat adalah hari libur dan hari kencan Sookie dengan Quinn. Saat Quinn menjemput Sookie dirumahnya, muncul Eric yang marah dan cemburu. Ahhahai 😀 Tapi sayangnya Sookie dan Quinn mendapat serangan dari dua remaja Were baru seusai mereka nonton theater. Hari berikutnya, ada berita tentang pembunuhan dua remaja ini di dalam penjara mereka. Siapa yang melakukannya masih jadi tanda tanya. Kemudian malam harinya, Sookie mendapat sebuah kunjungan dari Felicia, vampir bawahan Eric yang baru saja pindah dari Arkansas. Buat informasi, Raja Arkansas, Peter Threadgill, dan Ratu Louisiana, Sophie-Anne Leclerg, baru saja menikah dan nanti Sookie mendapat undangan ke pesta gabungan mereka yang pertama.

Beberapa minggu yang lalu, sepupunya yang bernama Hadley terbunuh di New Orleans dan Sookie harus kesana buat mengurus warisannya. Bersama dengan pengacara Sang Ratu, Tn. Cataliades, Sookie pergi ke New Orleans. Untuk sementara, Sookie menginap di apartemen Hadley. Ia bertemu dengan si pemilik bangunan bernama Amelia Broadway yang seumuran dengannya dan ia adalah seorang penyihir muda yang periang dan percaya diri. Saat memilah-milah barang Hadley inilah Sookie menemukan seorang mayat Were bernama Jake Purifoy yang disembunyikan di bawah lemari pakaian. Oke, ternyata Jake tidak benar-benar mati. Ternyata ia diubah menjadi vampir! Hmm, usut punya usut, ternyata mantra pelindung statis untuk apartemen yang dibuat Amelia semenjak Hadley meninggal membuat tubuh Jake tidak mengalami perubahan alias tidur terus, daaan, dengan kehadiran Sookie, mantra pelindung itu terputus dan Jake kembali ‘aktif’. Wah, ini kejadian langka seorang Were berubah jadi vampir oey. Nah, karena Sookie dan Amelia ada dilokasi saat si vampir baru yang kelaparan ini  terbangun, maka mereka pun dapat serangan yang cukup parah. Untung bantuan segera datang.

Saat dirumah sakit, Sookie mendapat kunjungan dari Eric dan Bill. Akhirnya Sookie tahu tentang fakta yang sangat menyakitkan hatinya, bahwa ternyata kedatangan Bill ke Bon Temps dulu ada alasannya, yaitu atas perintah dari Sang Ratu bahwa Bill harus menggoda Sookie dan menjadikannya kekasih. Karena Ratu sangat tertarik dengan bakat Sookie, tentu saja. Wahwah..

Disisi lain, ia sungguh berharap tak pernah lagi berjumpa dengan Bill dan disisi lain ia juga tidak ingin terpuruk karenanya. Bersama Amelia, Sookie punya rencana buat mencari tahu apa yang terjadi pada Hadley dan Jake di apartemen itu. Mereka kemudian melakukan prosedur ektoplasmik, semacam reka ulang kejadian gitu, tapi nanti tampak kaya memutar ulang rekaman yang menampilkan adegan  sebelum Jake ‘terbunuh’. Wew.. Dan ternyata Ratu ingin menyaksikan rekonstruksi itu karena, well, ia ingin tahu apa yang terjadi dengan Hadley, kekasihnya. Uum, ya, si Ratu ini biseks, tapi ia menikah dengan Raja Arkansas jelas bukan karena cinta atau nafsu lhoo. Pernikahan mereka hanya bersifat politis semata. Ya ampun, ternyata pernikahan mereka benar-benar digambarkan sangat, yah.. buruk. Saat pesta, peperangan pun terpecah antara kedua belah pihak. Ya ampun 😉

Satu hal yang aku suka dari seri kali ini adalah bagaimana Quinn digambarkan sangat keren, manis, gentle, sopan, dan tergila-gila pada Sookie walaupun ia sangat berusaha untuk tidak melampaui batas di awal  kencan mereka. Dan aku suka bagaimana Quinn digambarkan dalam wujud macan benggala nya. Wah, rasanya keren banget, dengan panjang tubuh dua meter dan tinggi satu meter serta berat badan dua ratus kilo, gimana nggak ngabayangin kalau sosok Quinn macan pasti gagah?? Hhe..

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
Leave a comment

Posted by on September 12, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags: , ,

Sookie Stackhouse 4 – Dead As A Doornail


  • Pengarang        :    Charlaine Harris
  • Genre               :    Fantasy, Drama
  • Tebal                :    444 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Esensi
  • Harga               :    77.000 IDR
  • Pertama terbit   :    3 Mei 2005
  • Cetakan            :    2010
  • Tanggal Beli      :    3 Oktober 2010

Sookie Stackhouse telah banyak bersinggungan dengan hal-hal supernatural. Tetapi sekarang semua itu mulai memengaruhi kehidupan pribadinya. Dengan cemas Sookie harus menerima kenyataan bahwa Jason, kakaknya, akan menjadi werepanther, manusia panter. Tetapi kekhawatiran Sookie berubah menjadi ketakutan saat seseorang mulai menembaki populasi shapeshifter, para pengubah wujud, di kotanya. Saudarasaudara panter Jason yang baru malah mencurigainya sebagai penembak misterius tersebut. Sookie hanya memiliki waktu sampai bulan purnama berikutnya untuk mengetahui dalang dari penembakan-penembakan ini. Kecuali bila pembunuh tersebut memutuskan untuk menembaknya terlebih dahulu….

Review :

Bulan purnama pertama setelah Tahun Baru, Sookie mengantar kakaknya, Jason, ke Hotshot untuk mendapatkan bimbingan di perubahan pertamanya. Malamnya, Sookie tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan sang kakak. Esok harinya, Calvin Norris mengantarkan Jason kembali ke rumah Sookie. Ia bisa sedikit tenang karena tampaknya sang kakak tidak menyesali keadaan dirinya sekarang.

Malam harinya, Jason kembali ke Hotshot, dan Sookie pergi ke Merlotte’s Bar tempat ia bekerja. Untuk malam ini tugas Sam Merlotte, bosnya, digantikan oleh seorang veteran perang bernama Terry Bellefleur karena Sam juga harus menghilang. Yups. Sam juga seorang shapeshifter dan sayangnya keberadaan para pengubah wujud ini belum diketahui khalayak umum alias manusia. Tidak seperti vampir yang sudah membuka diri pada dunia luas mengenai eksistensi mereka. Sayangnya, malam itu terjadi sedikit kekacauan di Merlotte’s karena adanya perkelahian seorang penduduk lokal dan mahasiswa Lousiana Tech. Tapi untungnya cukup mudah dilerai. Selain itu kehadiran seorang vampir bernama Mickey memberikan ketegangan tersendiri. Sookie hanya penasaran, apa hubungan Tara Thornton, teman Sookie, dengan Mickey ini mengingat Tara sekarang sedang menjadi kekasih seorang vampir tua yang kaya raya, Franklin. Yah, terlepas dari mereka, ada seorang pengunjung yang juga menarik perhatian Sookie. Karena mencium bakal adanya masalah, Sookie membaca pikiran si wanita berdandanan lusuh itu. Benar saja, wanita ini membawa tiga botol darah vampir yang ingin ia jual. Bisa jadi wanita ini seorang drainer ─orang yang mengambil darah vampir─ atau bisa juga hanya seorang penyalur. Tentu saja Terry dan Sookie berhasil menggagalkan usaha jual beli wanita ini di Merlotte’s.

Malam hari berikutnya, Merlotte’s cukup ramai. Ada Andy Bellefleur dan kekasihnya, Halleigh Robinson. Dan Claudine muncul menjelang Merlotte’s tutup. Seperti biasa, Claudine selalu menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Claudine adalah seorang peri yang cantik dan.. entahlah, rupawan pokoknya. Hhaha.. Nah, kedatangan Claudine kesini dengan membawa kabar buruk bahwa tadi pagi ada insiden penembakan dan seorang werephanter terkena. Tentu saja pikiran Sookie langsung ke Jason, tapi ternyata yang kena adalah Calvin Norris. Tertebak di dada, masih hidup tapi cedera parah. Padahal seminggu sebelumnya juga ada peristiwa penembakan dan Heather Kinman meninggal karenanya. Heather juga seorang shapeshifter ─ia seorang werefox. Setelah Merlotte’s tutup, Sam dan Sookie keluar dari pintu belakang. Saat Sam mengunci pintu itulah ia mendengar suara tembakan dan darah tercecer dari kaki Sam. Tentu saja Sookie langsung menjerit. Yah, sudah pasti kan, ada pemburu shapeshifter gila di luar sana. Tapi siapakah ia??

Hari berikutnya Sookie mengunjungi Eric di Fangtasia untuk membicarakan ‘bisnis’. Ia meminjam seorang bartender dari Eric atas nama Sam untuk Merlotte’s. Eric pun memerintahkan Charles Twining ─ seorang bartender baru di Fangtasia yang menggantikan Chow, bartender sebelumnya yang mati. Jabatan bartender di Fangtasia juga nggak awet. Sebelumnya, Chow menggantikan Long Shadow, yang terbukti mencuri dari Fangtasia dan hampir membunuh Sookie hingga memaksa Eric membunuh Long Shadow. Sebenarnya, vampir dilarang keras saling membunuh, itulah kenapa Eric harus membayar denda yang sangat besar atas tindakannya. Nah, setelah mendapatkan Charles ia pun membawa pulang bartender bermata satu itu. Kalau dari pembicaraan yang dilakukan Charles dan Sookie, Charles ini tipe cowok yang menarik dan bersahabat walaupun digambarkan sedikit ‘ngeri’ karena satu penutup mata bajak lautnya.

Hari berikutnya, saat Sookie sedang bertugas di Merlotte’s ada suami istri yang makan disitu dan ternyata mereka adalah sepasang detektif ─Jack dan Lily Leeds─ yang disewa oleh keluarga Debbie Pelt untuk menyelidiki perihal menghilangnya Debbie. Hingga saat ini keluarga Pelt percaya kalau Debbie sudah meninggal dan beranggapan bahwa Sookie tahu sesuatu. Oke, Sookie memang tahu karena ia yang membunuh Debbie. Untuk pertahanan diri tentu saja. Namun Sookie terus mengelak dan berusaha tenang saat menghadapi detektif ini. Walaupun sesungguhnya dadanya berdebar keras karena menyembunyikan faktanya. Umm, buat kalian yang belum kenal Debbie, kalian bisa baca dua buku sebelumnya, Sookie Stackhouse 2 – Club Dead dan Sookie Stackhouse 3 – Dead To The World.

Setelah jam kerjanya, Sookie dan Jason pergi mengunjungi Calvin Norris di rumah sakit. Tentu saja penjagaannya lumayan ketat, bahkan ada pengawal Were ─singkatan untuk werewolf─ juga. Ia hanya mengobrol singkat dengan Calvin. Lelaki itu masih mengungkit perihal kemungkinan Sookie menjadi istrinya dan obrolan mengenai pelaku penembakan. Ia mengatakan bahwa banyak shapeshifter yang mencurigai Jason. Tentu saja Sookie mengelak dan melindungi Jason dan Calvin percaya pada Sookie.

Malam harinya Alcide Herveaux datang ke rumah Sookie. Sookie dan Alcide pernah memiliki sejarah singkat dan Debbie adalah mantan tunangan Alcide, yang selalu dibakar cemburu oleh keberadaan Sookie. Alcide mengabari Sookie bahwa Kolonel Flood ─seorang packmaster─ meninggal kemarin dan akan dimakamkan esok hari. Alcide mengajak Sookie untuk menghadiri pemakaman itu bersama. Tentu saja Sookie mau karena ia mengenal sosok Kolonel Flood yang baik.

Pukul sepuluh hari berikutnya, sepasang detektif tadi datang kerumah Sookie dan mengajukan banyak pertanyaan mengenai hubungan Sookie dan Debbie. Ouch.. Untung wawancara berhasil dilewati dengan baik walaupun sikap Lily Leeds sangat dingin bak patung pualam. Tak lama setelah pasangan ini pergi, datang Alcide yang menjemput Sookie. Mereka langsung berangkat ke upacara pemakaman yang resmi dan khidmat ini. Disini, Sookie diperkenalkan pada Jackson Herveaux ─ayah Alcide─ dan Christine Larrabee ─janda dari packmaster sebelum Kolonel Flood. Dari Christine inilah ia tahu mengenai perebutan kursi packmaster yang sekarang kosong. Dua kandidatnya tentu saja Jackson Herveaux dan satu lagi adalah Patrick Furnan. Ternyata Alcide meminta Sookie untuk membaca pikiran Patrick karena lelaki itu akan menyabotase ayahnya. Tentu saja Sookie marah karena Alcide tidak mengatakan sebelumnya. Tapi Alcide mengatakan bahwa ia tahu kalau Sookie sudah membunuh Debbie. Lah, semacam ngancam ni kayaknya.. Hhe.. Tapi Sookie terlanjur marah dan benci pada perasaan diperdaya yang Alcide lakukan terhadap Sookie. Begitu mobil Alcide berhenti di pelataran rumah Sookie seusai pemakaman, Sookie langsung keluar dari mobil dan Alcide langsung menyusulnya. Dengan jelas Sookie mengatakan bahwa ia tidak ingin bertemu dengan Alcide untuk jangka waktu yang lama. Tentu saja pernyataannya ini membuat Alcide merasa terpukul karena ia cukup mencintai Sookie walaupun perasaannya terus ngambang. Bingung akan berbagai banyak hal.

Saat bekerja, Sam meminta bantuannya untuk menampung Charles dirumahnya karena rupanya vampir itu tidak betah harus tinggal di dalam gudang. Seperti sebelumnya, ia menolak dengan keras karena ia merasa rumahnya bukan penginapan untuk para vampir. Namun dengan alasan logis dari Sam, akhirnya Sookie mengalah dan mempersilakan Charles untuk masuk kerumahnya. Pukul tiga malam, saat Sookie sedang nyenyak tidur sementara Charles ‘jalan-jalan malam’ di hutan dekat rumah Sookie, Charles membangunkannya kemudian. Ia mengatakan bahwa ada seseorang yang mengendap-endap di sekeliling rumahnya dan saat Charles keluar, ia sudah membekuk seorang vampir. Bill Compton, mantan kekasih Sookie. Yaelah..

Setelah urusan dengan Bill selesai, Sookie kembali tidur, tapi lagi-lagi ia terbangun dari tidur pulasnya oleh suara mendesak yang membangunkannya. Kali ini gantian Claudine, si peri. Ternyata terjadi kebakaran di rumah Sookie dan setelah mereka keluar Sookie dapat melihat kalau Charles sudah membekuk dan membunuh si pembakar rumah. Lelaki dengan identitas bernama Jeff Marriot itu ternyata seorang anggota fellowship of the sun, yaitu Persekutuan Matahari dimana mereka terkenal sebagai antivampir. Memang hanya bagian belakang rumah, terutama dapur, yang terbakar habis, dan juga mobil Sookie yang ternyata juga ikut terbakar. Namun hal ini membuat rumah itu tidak layak huni untuk sementara waktu. Malam pertama, ia dan Charles terpaksa menginap di rumah Bill. Hari berikutnya ia segera mengurus asuransi dan proses perbaikan rumah. Saat bekerja, datang seorang wanita tua dan anaknya yang ternyata adalah ibu dan saudara kembar Jeff Marriot. Mereka ingin tahu bagaimana Jeff meninggal dan Jay, si saudara kembar, yakin kalau ada sesuatu yang janggal. Tapi akhirnya mereka meninggalkan Merlotte’s dalam duka yang lebih mendalam lagi. Saat dalam kesendirian inilah Sam menghibur Sookie dan mereka terlibat dalam situasi yang melibatkan gairah asmara. Ouch.. Sayangnya Bill masuk dan mengganggu adegan ini. Tentu saja Bill dan Sam langsung terlibat perkelahian. Padahal kaki Sam yang masih di gips sudah cukup membuatnya kesakitan. Hhuhu..

Untuk malam ini, Sookie memutuskan untuk tinggal di rumah abangnya. Dan rupanya ini cukup membuat Bill kecewa. Ohoh, Bill masih cinta sama Sookie 🙂

Hari berikutnya ia berbenah rumah dengan Terry. Ia menyingkirkan segala macam benda yang tidak akan ia pakai lagi dan menyisihnya beberapa yang masih bisa ia gunakan nanti di dapur barunya. Alcide muncul dan diikuti oleh Randall dan Delia Shurtliff, kontraktor Sookie, yang akan menangani pembangunan dapur. Saat Randall dan Alcide ngobrol, Delia memberi suatu informasi pada Sookie mengenai panangkapan Connie Babcock, sekretaris Jackson Herveaux. Connie ketahuan mencuri berkas-berkas Jackson atas suruhan seorang pria yang memiliki dealer sepeda motor. Bagi Delia berita ini memang aneh, tapi bagi Sookie hal ini sejelas matahari siang bahwa ini salah satu muslihat Patrik Furnan untuk mengalahkan Jackson dalam pemilihan packmaster.

Seusai Randall dan Delia pergi, Alcide kembali meyakinkan Sookie untuk menjadi kekasihnya karena ia sangat mencintai Sookie. Alamak. Jadi Sookie bingung juga ya.. Empat cowok oey yang mengejarnya. Eric, Bill, Sam, dan Alcide. Wkakaka.. Eh, satu lagi ding, ada Calvin Norris juga 😛 Tapi kali ini tampaknya Eric nggak banyak keluar nih.. Sayang, padahal aku suka kepribadian Eric yang keras kepala dan lucu. Hha..

Malam itu giliran Bill yang ‘memanasi’ Sookie setelah mempergoki Sookie ciuman dengan Sam. Bill membawa teman kencannya ke Merlotte’s. Selah Pumphrey, seorang agen real estate sukses. Sookie harus menjaga sikapnya dan berlagak ‘cool’  di depan Bill. Tapi suasana hati Sookie semakin panas saat Eric muncul di depan pintu Merlotte’s dan langsung mendatangi Charles dan memarahi vampir itu karena dianggap lalai oleh Eric. Eric memang memerintah Charles untuk mengikuti perintah Sookie dan kurasa itu maksudnya juga melindungi Sookie. Aduuh.. Kasihan Charles, serba salah..

Ya ampun, ternyata selama ini Eric terus penasaran tentang hubungannya dengan Sookie dulu saat ia amnesia dan ia sangat ingin tahu, juga selalu mencari tahu dengan memaksakan diri untuk mengingat. Hhihi.. Eric, Eric.. Untung saat Sookie mulai tersudut dengan pertanyaan-pertanyaan Eric, Sam muncul hingga membuat Eric pergi dan Sookie kembali ke kerjaannya. Kembali kepada Bill dan Selah. Hhoho..

Hari berganti dan Sookie menuju rumah yang disewakan Sam ─dengan harga jauh dibawah standar penyewaan─ padanya. Untuk sementara Sookie akan tinggal disini saat rumahnya sedang direnovasi. Umm, solusi yang tepat memang, mengingat ia tidak bisa merepotkan orang lain dengan menumpang tidur selama berbulan-bulan.

Setelah membawa barangnya ke rumah kontarakan, Sookie pergi mengunjungi Calvin. Sepulang dari tempat Calvin ia mampir sebentar ke Perpustakaan Daerah. Di halaman parkir ini sesuatu yang mengejutkan terjadi. Ia mendapat tembakan di pundaknya. Portia Bellefleur yang saat itu juga ada di pelataran parkir, berteriak. Saat berikutnya Sookie tersadar, ia sudah berada di rumah sakit. Bill yang menemaninya semalaman. Esok harinya ia sudah diijinkan pulang. Ia beruntung, hanya bahunya yang terkena, untung ia sempat menunduk saat mendengar percikan suara di kepalanya. Orang itu pasti mengincar jantung Sookie.

Saudara kembar Claudine yang ternyata menjemput Sookie. Claude digambarkan sebagai cowok yang, wow, keren dan cakep abis. Seperti saudaranya, Claude ini juga sangat menarik perhatian. Namun sifatnya yang cuek dan cukup dingin membuat Sookie tidak banyak bicara didepan Claude. Tapi sayangnya, hhuhu, cowok ini gay. Sookie ingat dari cerita Claudine kalau Claude baru saja putus dengan kekasih prianya. Euw.. Tapi toh nggak banyak yang tahu kehidupan pribadi Claude. Yang mengejutkan buat Sookie, Claude meminta bantuannya untuk menjadi partner foto portfolio untuk kontes model  yang sedang ia ikuti. Sookie pun mengiyakan.

Saat ia dirumah, Andy Bellefleur datang untuk menanyakan mengenai penembakan itu. Ia juga memberi Sookie berita ─secara tidak langsung─ kalau peluru yang mengenai Sam berbeda dengan peluru yang lain. Yang jelas, satu fakta bahwa penembaknya adalah manusia bisa dibuktikan karena Sookie bisa mendengar pikiran sang penembak dengan jelas, karena ia tidak bisa mendengar benak vampir dan benak seorang shapeshifter hanya berupa suara statis dan lebih sulit di cerna daripada benak manusia. Setelah kunjungan Andy, muncul Tara. Tara akhirnya bercerita tentang bagaimana ia bisa terjebak dengan Mickey. Untuk membantu temannya ini, Sookie meminta bantuan Eric dan Eric segera mendatangi rumah Sookie. Eric bersedia membantu Sookie untuk menyingkirkan Mickey dengan satu syarat, bahwa Sookie harus menceritakan segalanya tentang hubungan mereka selama ia amnesia 😀 Mau nggak mau Sookie bercerita dan Eric kemudian menghubungi Salome, atasan Mickey, meminta wanita itu menarik Mickey dari wilayah teritorinya. Ternyata Salome bertindak cepat. Mickey yang tahu mengenai penarikan dirinya langsung mendatangi rumah Sookie dan membuat masalah. Bahkan Eric sempat tumbang karena Mickey ini. Untung Sookie punya inisiatif yang menarik untuk mengalahkan Mickey. Wkakaka.. Pintar Sook.. 😉

Hari selanjutnya menjadi hari pengungkapan. Akhirnya beberapa fakta mengejutkan dari Charles terungkap. Belum lagi Andy kini mengetahui kalau ada dunia lain selain dunia vampir. Dan sekali lagi, Sookie mendapat ancaman penembakan, tapi kini ia tahu pelakunya dan apa motifnya. Semuanya terjadi dengan cepat. Bahkan bagaimana Alcide datang berkunjung dan ia memberikan undangan untuk  menghadiri kontes pemilihan packmaster juga berlangsung singkat. Tapi wah, kontes itu termasuk brutal dan ngeri oey.. Apalagi ada ritual yang menurutku cukup menjijikkan. Euu.. Tapi yang jelas, ada satu lagi tokoh lelaki yang muncul di kehidupan Sookie. Seorang weretiger bernama Quinn. Kita lihat bagaimana kelanjutan hubungan mereka di buku kelimanya ya, Sookie Stackhouse 5 – Definitely Dead.

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
Leave a comment

Posted by on August 27, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags: , ,

The Wolves of Mercy Falls 1 – Shiver


  • Pengarang               :    Maggie Stiefvater
  • Genre                      :    Fantasy, Romance
  • Tebal                       :    432 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    55.000 IDR
  • Pertama terbit          :    1 Januari 2009
  • Cetakan                   :    September 2010
  • Tanggal Beli             :    30 Juli 2011

Aku bukanlah bagian dari dunianya…

tapi ketika Grace menyebut namaku, menungguku mengikutinya, aku tahu aku akan melakukan apa pun untuk tetap bersamanya.

Sam menjalani dua kehidupan. Pada musim dingin, dia hidup sebagai serigala, dan hanya bisa menatap Grace dalam kebisuannya dari hutan di halaman belakang rumah Grace. Namun dalam kesempatan singkat pada musim panas ketika dia menjadi manusia, Sam tak pernah berani melintasi jarak antara dirinya dan Grace… hingga sekarang.

Review :

Pendapat awalku saat mulai baca buku ini, ouch, so sweet 🙂 Bergantian kita disuguhi cerita dari sudut pandang Grace dan Sam, mulai dari Grace yang masih kecil dan Sam dalam wujud serigala, hingga Grace remaja dan Sam sedang dalam wujud manusianya. Uum, kurasa cerita novel kali ini lebih banyak romantisnya nih.. hhehe.. Setting tempat novel ini di Minnesota. Diawali saat musim dingin, Grace kecil mendapat serangan oleh sekelompok serigala kelaparan, hanya saja, Sam serigala yang saat itu jatuh hati pada pandangan pertama, menolongnya. Sejak saat itu, setiap musim dingin, Sam serigala selalu mengamati Grace dari bayang-bayang pepohonan belakang rumah Grace dan Grace tahu itu. Grace sangat hafal dengan serigala bermata kuning ─bahkan sekarang menyebutnya dengan ‘serigala bermata kuningku’─ dan yakin bahwa serigala itu tidak akan menyakitinya, dan tanpa terasa enam tahun pun berlalu.

Suatu hari, Sam manusia yang bekerja di sebuah toko buku melihat Grace datang bersama teman-temannya. Hatinya sangat berbunga-bunga. Inilah kali pertama Sam dan Grace berdekatan dalam wujud manusia. Hanya saja, perhatian Grace terlalu terpusat pada buku hingga tidak memperhatikan Sam yang berada di belakang meja kasir. Harapan Sam hanya satu, agar Grace melihat dirinya dan mengenalinya dari mata kuningnya, namun ternyata pupus sudah. Grace keluar dari toko buku tanpa melihat Sam.  Aduh Sam.. Kenapa kau nggak punya keberanian buat menyapanya sih?? Jadi gemess..

Grace, cewek tujuh belas tahun, anak tunggal dengan ibu yang lebih banyak mengurung diri di studio untuk melukis dan ayah yang jarang dirumah karena bekerja, memiliki kepribadian yang tenang, tertutup, mandiri dan penyayang. Ia memiliki sahabat baik bernama Rachel dan Olivia, dan hanya mereka lah yang mengerti bagaimana kedekatan Grace dengan serigala. Hanya saja persahabatan ini semakin merenggang semenjak Rachel memiliki pacar dan Olivia marah karena Grace selalu mementingkan serigalanya.

Saat itu, diceritakan terjadi serangan serigala terhadap seseorang, dan itu adalah Jack Culpeper, anak populer di sekolahnya. Jack diberitakan meninggal akibat serangan brutal itu. Grace dan teman-temannya mulai sebal dengan berita yang terus diulang-ulang selama seminggu ini. Tapi Grace tahu bahwa serigala yang menyerang bukan jenis yang sama dengan yang ia kenal, yang menyerang ia dahulu. Suatu hari, saat ia sedang merindukan serigalanya, ia keluar ke beranda belakang dan mendengar suara itu. Suara teriakan Jack. Memang ada isu bahwa mayat Jack menghilang dari ruang jenazah. Tapi masa iya, Jack hidup lagi? Well, dugaan sementaraku sih Jack ini sekarang jadi werewolf juga. Hhe..

Karena kematian Jack, orangtua Jack yang kaya dan cukup berpengaruh di kota kecil ini akhirnya memutuskan untuk memburu serigala-serigala. Benar saja, saat Grace pulang sekolah ia menemukan banyak pemburu yang berkumpul dan melakukan penyisiran hutan dengan senapan di masing-masing tangan. Grace panik dan langsung menyerbu masuk ke hutan saat mendengar letusan-letusan tembakan. Namun ada seorang opsir muda bernama William Koenig yang mencegatnya masuk lebih jauh dan mengantarnya kembali ke rumah. Sepeninggalan Ospir Koenig, Grace menemukan seseorang terbaring meringkuk dan telanjang di depan pintu belakangnya. Entah bagaimana, Grace langsung mengenali bahwa lelaki itu adalah serigalanya. Sam terkena luka tembak di leher dan Grace segera membawanya ke rumah sakit.

Tengah malam, saat Grace berhasil meyakinkan seorang perawat bahwa ia akan menunggui Sam hingga sadar dan perawat itu mengatakan bahwa Sam dibius dan baru akan sadar esok harinya, Grace tidak keberatan. Setelah berlalunya si perawat, Sam membuka mata. Tentu saja Grace kaget. Namun untuk sesaat mereka ngobrol dan setelah itu Sam meminta tolong Grace untuk mencarikannya pakaian karena ia akan pergi dari rumah sakit itu oleh sebab ia tidak bisa lama-lama tinggal disana. Ternyata penyebabnya adalah luka-luka Sam yang sudah sembuh dan hal ini pasti akan menimbulkan kecurigaan bagi pihak rumah sakit. Grace pun membawa Sam pulang kerumahnya.

Sudah bisa di duga kan kalo kemudian mereka jadi sangat dekat. Mereka saling membuka diri, terutama Sam. Kini kita tahu bahwa Samuel K. Roth adalah nama lengkapnya. Ia digigit serigala sejak berusia tujuh tahun dan selama berminggu-minggu ia sakit dan berubah-ubah tidak menentu. Kedua orangtuanya menganggap Sam kerasukan sehingga mereka berusaha melakukan sesuatu untuk menyembuhkannya namun gagal dan akhirnya mereka berusaha membunuh Sam dengan menyayat kedua pergelangan tangan Sam dan menenggelamkannya di bathtub. Beruntung Sam selamat. Kini orangtuanya di penjara seumur hidup dan Sam tinggal bersama Beck, salah satu teman di kawanannya.

Cerita dalam novel ini menggunakan alur maju dan mundur. Banyak flashback yang terjadi dan hampir semuanya dari sudut pandang Sam. Dari ingatan-ingatan Sam, kita mendapat banyak informasi bahwa sejak ia berhasil selamat dari orangtuanya, ia tinggal bersama Beck, pemimpin kawanan manusia. Beck dulunya adalah seorang pengacara sukses. Beck berubah jadi serigala saat berumur duapuluh delapan tahun. Untuk kepentingan kawanan, ia membeli sebuah pondok kecil tengah hutan sebagai tempat singgah kawanan kalau mereka sedang berwujud manusia. Semacam markas lah. Beck lah yang merawat Sam, dan Sam menganggap Beck ayahnya sendiri. Selain Beck, ada Paul ─sang pemimpin kawanan serigala, Ulrik ─seorang kelahiran Jerman dan sering membacakan puisi Jerman untuk Sam, Shelby ─cewek yang lebih suka menjadi serigala serta terobsesi dan ingin menjadi pasangan Sam, Derek ─si lelaki yang gila dan bermasalah baik saat jadi manusia maupun serigala. Diantara mereka, Sam adalah favorit dari Beck dan Paul, sehingga sangat memungkinkan kalau Sam kelak menjadi pemimpin kawanan. Karena inilah Shelby terus nempel pada Sam. Bahkan hingga sekarang saat Sam berwujud manusia, Shelby terus menghantui hidupnya.

Karena seharian membolos, saat hari berikutnya Grace dengan enggan masuk sekolah, Rachel mengabarinya bahwa kemarin seekor serigala muncul di lapangan parkir SMA mereka. SMA Mercy Falls. Grace langsung tahu kalau serigala itu pasti Jack. Malamnya, kita disajikan sebuah flashback oleh Sam saat ia kecil, mengenai seseorang yang mengingkari kenyataan bahwa ia adalah seorang serigala dan Beck terpaksa membunuhnya karena wanita itu membahayakan keamanan kawanan. Kini Sam takut, jangan-jangan Jack juga seperti Christa, seorang yang marah dan tidak akan menjadi serigala yang baik mengingat kepribadian buruk Jack selama ia menjadi manusia.

Kehidupan berlanjut. Sam kini mencari tahu kenapa ia kembali berubah menjadi manusia setelah tertembak padahal sekarang masih jauh dari musim semi atau bahkan panas. Sam juga bingung dengan keberadaan Jack, siapa yang akan mendidiknya sebagai serigala kalau Beck sedang menjadi serigala. Apakah dia yang harus menangani Jack yang labil? Nah, aku rasa kita sudah menemukan beberapa konflik masalah dari novel ini, yaitu keberadaan Jack. Kemungkinan ia akan menjadi tokoh antagonisnya. Lalu ada Isabel, adik Jack, yang tahu kalau kakaknya belum meninggal dan sesuatu telah terjadi padanya dan Isabel berniat untuk mencari tahu. Lalu ada sikap Olivia yang aneh saat melihat Sam, seolah ia bisa mengenali dan tahu siapa Sam sebenarnya ─dan ini membuat Sam tidak nyaman berada dekat dengan Olivia. Belum lagi dengan keberadaan Shelby yang terus mengancam ingin menyakiti Grace karena ia merasa Grace telah merebut Sam darinya. Oia, selain itu bagaimana dengan kenyataan Grace tidak pernah berubah jadi serigala padahal pasti saat diserang serigala enam tahun silam, cewek itu digigit. Dan yang menjadi konflik batin tersendiri adalah kenyataan bahwa ini adalah tahun terakhir bagi Sam untuk dapat berwujud manusia. Hmm.. gini. Kalau aku nangkapnya dari cerita ini, werewolf di sini punya masa hidup, semacam kadaluarsa, yaitu ─umumnya─ sekitar lima belas tahun, hingga kemudian mereka tidak akan pernah bisa berubah jadi manusia lagi dan akan menetap dalam wujud serigala untuk selamanya. Kan setiap musim semi saat cuaca mulai menghangat, seharusnya mereka bisa jadi manusia lagi. Namun semakin lama, mereka semakin membutuhkan suhu yang lebih tinggi untuk merubah mereka jadi manusia lagi hingga lama-kelamaan musim panas yang mereka lalui semakin singkat hingga akhirnya tidak ada musim panas sama sekali.  Karena novel ini cukup enak buat diikuti, kalian bisa mencari tahu bagaimana kelanjutan kisah Sam dan Grace. Bagaimana mereka menghadapi berbagai macam intrik kehidupan mereka yang singkat ini.

Yang jelas guys, saat aku membaca novel ini, aku tidak merasakan suatu gejolak seperti halnya saat aku baca novel fantasy action yang lain. Kurasa memang karena beda genre dari yang aku bayangkan sih 🙂 Novel ini sangat tenaang, walaupun ada beberapa kali cerita menggunakan elemen yang termasuk aksi. Perkelahian serigala-anjing, manusia-serigala, dan sebagainya. Bahkan saat Sam harus berjuang kembali ke rumah dan menghangatkan diri hingga membuat Grace memaksa Sam untuk menghadapi traumanya terhadap bathtub karena benda itulah satu-satunya yang bisa membantu Sam mendapatkan kehangatan,  aku hanya sedikit merasakan ketegangan. Yang banyak aku rasakan saat baca novel ini adalah rasa simpati terhadap Sam serta hubungan Grace dan orangtuanya, dan perasaan senang dan kagum saat Sam menceritakan kehidupan keluarganya bersama Beck, Ulrik, dan Paul. Sangat manis 🙂

Terlepas dari itu semua, akhir cerita yang hampir menyedihkan cukup memberikan kesan tersendiri. Dan tentu, menyisakan beberapa pertanyaan yang kurasa akan terbahas di buku kedua, Linger.

Ratingku buat novel ini : 8

 
4 Comments

Posted by on August 26, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags:

Vampire Academy 1


  • Pengarang               :    Richelle Mead
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    416 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Matahati
  • Harga                      :    64.500 IDR
  • Pertama terbit          :    2007
  • Cetakan ke-2            :    Agustus 2010
  • Tanggal Beli             :    30 Juli 2011

SELAMAT DATANG DI AKADEMI ST. VLADIMIR

Di balik gerbang kokoh Akademi St. Vladimir terdapat rahasia besar. Akademi tersebut bukan sekolah berasrama biasa. Di tempat itu para vampir Moroi dididik dengan ilmu sihir, sementara para dhampir ─makhluk setengah vampir setengah manusia─ dilatih untuk melindungi mereka.

Rose Hathaway adalah dhampir yang bertugas melindungi sahabat karibnya, Lissa, seorang putri vampir dari kaum Moroi. Selama dua tahun mereka melarikan diri. Namun akhirnya mereka  tertangkap lalu diseret kembali ke Akademi Vampir tersebut ─yang sebenarnya merupakan tempat paling berbahaya…

Review :

Cerita dibuka dengan Lissa yang mendapat mimpi buruk dan Rose pun mengalaminya. Jadi seolah mimpi itu merasuki pikiran Rose juga. Tenyata mereka memiliki ikatan batin. Rose dapat merasakan apa yang Lissa rasakan dan sesekali ia dapat masuk ke dalam kepala Lissa, seolah ia melebur menjadi satu dengannya. Karena saat itu Lissa terlihat pucat, maka Rose memaksa Lissa untuk ‘makan’ dengan menggigit dan meminum darah Rose. Akibatnya, gantian Rose yang sekarang pusing dan kelelahan karena kehilangan darah tiba-tiba. Wew..

Saat Lissa keluar kamar untuk mencarikan Rose cemilan, Rose melihat seseorang ─atau dua orang─ dalam bayang-bayang pepohonan, tidak jauh dari jendela kamar Rose dan Lissa, dan jelas, mereka bisa melihat apa yang baru saja Rose dan Lissa lakukan. Saat itu jam tiga pagi. Dengan sisa tenaga, Rose segera mempersiapkan diri dan menyambar jaket Lissa, menyerahkannya pada Lissa yang berada di dapur. Mereka harus pergi sekarang. Lissa tahu maksud Rose. Dengan kemampuan kompulsi ─mempengaruhi seseorang dengan sugesti─ Lissa meminta kunci mobil seorang pelajar yang satu rumah dengan mereka. Mereka pun segera berlari ke mobil Jeremy yang berjarak empat blok dari rumah. Dengan kelemahan Rose yang cukup menghambat, akhirnya mereka pun terkepung dan terpaksa menghentikan pelarian mereka yang sudah berlangsung selama dua tahun ini.

Yups. Selama dua tahun ini Rose dan Lissa kabur dari tempat mereka dibesarkan. Delapan bulan terakhir, mereka menetap di Portland sementara mereka tetap berusaha menyelesaikan sekolah menengah mereka. Ternyata keberadaan mereka kali ini berhasil terlacak. Namun sayangnya mereka tidak mampu menghilangkan jejak lagi, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Richelle Mead mengangkat cerita ini dari sudut pandang Rosemarie Hathaway, seorang dhampir berusia tujuh belas tahun dan sahabat karib dari Vasilisa Dragomir sejak mereka duduk di bangku taman kanak-kanak. Mereka tidak pernah terpisahkan. Rose adalah anak dari ibu yang seorang dhampir berasal dari Skotlandia dan ayah seorang Moroi dari Turki. Sebagai dhampir, Rose memang bertugas untuk melindungi pasangannya, dalam hal ini adalah Lissa yang seorang putri di antara kaumnya, Kaum Moroi. Karena tertangkap, terpaksa mereka pun ikut kembali ke Akademi St. Vladimir.

Dimitri Belikov, si pengawal terlatih yang bertugas membawa mereka kembali membuat Rose dan Lissa terpisah selama perjalanan dengan Jet Akademi. Dimitri tidak mau kedua sahabat ini mengobrol ─curiga mereka sedang merencanakan pelarian lagi─ dan akibatnya Rose semakin benci padanya. Setibanya mereka di Akademi St. Vladimir ─astaga, Akademi ini digambarkan sangat besaar dan mantap, kayak sebuah Universitas─ mereka berdua digiring untuk menemui kepala sekolah Kirova, wanita yang menurut Rose seperti nenek sihir. Hhaha.. Sejauh ini aku suka dengan penjabaran ceritanya. Sangat santai dan enak buat diikuti. Apalagi dengan penggambaran Rose tentang kehidupan SMA nya dan bagaimana teman-temannya, yah, layaknya SMA pada umumnya lah, ada yang berlagak jadi ratu sekolah gitu.. heem.. Nggak terlalu kaku juga kan ceritanya? Tapi tunggu, ini masi awal cerita. Kita lihat gimana kelanjutannya.

Setelah melewati parade di depan warga Akademi yang sedang sarapan, mereka tiba di ruang kepala sekolah Kirova. Saat Kirova hampir menyemburkan amarahnya, muncul sosok Victor Dashkov ─Pangeran Victor Dashkov─ dari sebuah kursi sudut di ruangan itu. Victor adalah paman Lissa ─bukan secara genetis. Kaum Moroi menggunakan istilah keluarga dengan sangat bebas, terutama untuk kalangan bangsawan (dalam cerita digambarkan ada dua belas keluarga bangsawan yang memegang sistem pemerintahan). Victor ini adalah teman dekat keluarga Lissa. Beliau lah yang mengasuh Lissa sejak kematian orangtuanya, dua tahun yang lalu. Dan sosok Victor ini digambarkan sangat baik hati namun sayangnya beliau sedang sakit parah. Yang membuat Lissa dan Rose semakin sedih melihat kerapuhan paman Lissa ini.

Sayangnya, kemudian mereka harus kembali mendengar ceramah dan kemarahan dari Kirova yang membosankan. Namun, karena Rose tipe cewek yang nggak bisa menahan amarah, kemarahannya meledak hingga membuat Kirova mengambil keputusan untuk mengeluarkan Rose dari Akademi. Rose dianggap telah melalaikan kewajiban melindungi sang putri yang bahkan Rose sendiri belum menjadi pengawal. Ia masih seorang Novis. Namun karena pernyataan Dimitri yang mengejutkan, tentang hubungan batin yang dimiliki Lissa dan Rose, membuat Kirova dan Victor terkejut. Kirova tidak percaya dan Victor kagum, karena ternyata hubungan batin antara pengawal dan vampir Moroi yang dilindunginya adalah hal yang langka. Bahkan hal seperti ini tidak pernah terjadi dalam beberapa abad terakhir. Namun Dimitri bisa langsung menduganya saat pertama kali melihat mereka berdua. Dan satu lagi, ternyata Garda Belikov ini adalah pengawal sang putri sekarang. Hal yang semakin membuat Rose jengkel setengah mati. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, malah Dimitri yang membantunya tetap bertahan di Akademi ini. Dia terus beradu argumen dengan Kirova hingga ujung-ujungnya Dimitri mau mengorbankan sebagian waktunya untuk mengajar ketertinggalan Rose. Asiik.. Kayaknya bakal ada tanda-tanda ─ehem─ nih.. wkakaka.. Akhirnya keputusan diambil. Kirova menyatakan bahwa Rose adalah murid percobaan, itu artinya ia dilarang melakukan satupun pelanggaran. Hal yang susah mengingat Rose adalah gadis yang aktif dan ternyata sering menimbulkan kekacauan sebelumnya. Bandel lah istilahnya 😛

Hampir saat itu juga, Rose dan Lissa langsung mengikuti pelajaran mereka. Rose dibawa ke kelas Novis sementara Lissa ke kelas Moroi. Setelah mendapatkan jadwal, Rose memulai harinya yang padat. Setidaknya di pelajaran pertama ia kembali berjumpa dengan teman-teman lamanya yang hampir semua laki-laki ─karena dhampir perempuan memang mulai jarang. Ya ampun. Kehidupan sekolah Rose ternyata cukup seru lhoo.. Oia, aku udah menyinggung tentang jam sekolah Akademi St. Vladimir lum? Gini, dengan jadwal noktunal Akademi, pagi dan sore merupakan istilah yang relatif. Itu artinya jadwal pelajaran pagi dimulai saat matahari terbenam. Jadi mereka mengatakan malam saat ternyata di dunia yang sesungguhnya adalah siang hari. Menarik kan??

Saat dikelas Teori Pengawalan dan Perlindungan Pribadi, Rose diperintahkan oleh sang guru, Garda Alto ─yang sedikit lebih tua dari Dimitri, lewat usia dua puluh empat─ untuk maju ke depan kelas dan menceritakan tentang Teknik Perlindungan yang dia gunakan selama pelarian mereka. Well, Garda satu ini terlihat sangat menyebalkan 😦 Apalagi saat itu ada Dimitri berdiri di belakang kelas. Di luar Akademi, para pengawal memusatkan diri dengan melindungi satu orang saja. Tapi di sini, di dalam Akademi, para pengawal memiliki lebih banyak orang untuk dilindungi sementara  mereka juga harus melatih para novis. Jadi, daripada mengikuti seseorang kemana-mana, mereka bekerja bergantian untuk melindungi sekolah secara keseluruhan dan mengawasi kelas-kelas. Alhasil, saat Rose merasa dipermalukan di depan kelas, Dimitri ada disana menyaksikannya.

Musuh terbesar kaum Moroi adalah kaum Strigoi. Jadi selama ini mereka dilatih untuk mempertahankan diri dan melawan Strigoi yang dengan senang hati membunuh Moroi, apalagi Moroi bangsawan. Dalam kasus Rose, ia selalu dianggap beruntung karena tidak bertemu dengan Strigoi selama pelarian. Belum lagi karena ketertinggalan pelajaran yang dialami Rose, ia jadi mendapat kecaman dari Garda yang lain, terutama Garda Alto. Karena itu, Ia harus mengikuti sesi tambahan dengan Dimitri alias Garda Belikov, yang jelas membuat hari-harinya sangat padat dan melelahkan.

Hari-hari terus berlalu. Semakin banyak detail yang diungkapkan oleh Richelle Mead mengenai dunia imajinasi ini. Dia menggambarkannya dengan sangat jelas dan terperinci hingga mampu membuat kita menganggap bahwa dunia ini memang ada. Tentang bagaimana kaum Moroi dan dhampir saling memerlukan, juga tentang kekuatan elemental yang dimiliki kaum Moroi namun tidak oleh kaum dhampir ataupun Strigoi. Kita juga akan mendapat banyak informasi mengenai perbedaan kaum Moroi dan Strigoi, bahwa Moroi adalah vampir hidup, sementara Strigoi adalah vampir mati yang memburu darah Moroi untuk mendapatkan kekuatan dan kehidupan abadi. Walaupun Moroi dan dhampir hidup berdampingan, namun ada silsilah ‘perkembang biakan’ yang cukup rumit namun simpel diantara mereka, bahwa dhampir hanya bisa memiliki anak dengan Moroi, sementara hubungan Moroi-dhampir tidak pernah berlangsung lama karena Moroi cenderung ingin memiliki dan merawat anak Moroi sendiri, jadi pada akhirnya ia akan kawin dengan Moroi untuk mendapatkan keturunan Moroi. Anak Moroi-dhampir adalah seorang dhampir. Sementara hubungan dhampir-dhampir atau dhampir-manusia tidak bisa memiliki keturunan. Namun yang mengkhawatirkan, kebanyakan kaum Moroi wanita tidak suka berhubungan dengan dhampir laki-laki, sedangkan Moroi laki-laki sukanya ‘main-main’ dengan dhampir wanita. Itulah kenapa banyak dhampir laki-laki yang tidak memiliki keturunan sehingga meyakini bahwa menjadi pengawal adalah kewajibannya satu-satunya. Dan disisi lain, banyak dhampir wanita yang kemudian harus menjadi orangtua tunggal karena hubungan Moroi-dhmapir, seperti halnya ibu Rose.  Walaupun begitu, kita akan diberi tahu bahwa ternyata seorang Moroi yang meminum darah dhampir dianggap sebagai aib. Terutama bagi dhampir, tentu saja. Jadi Rose dan Lissa berusaha untuk menyembunyikan hal ini dari warga sekolahnya karena mereka tidak mau diasingkan dari kehidupan sosial. Ada sebuah komunitas yang disebut pelacur darah, yaitu dhampir-dhampir yang menyediakan darah bagi kaum Moroi dan hal ini biasanya identik dengan semacam… prostitusi ─kali ya?─ kalau di dunia manusia. Alamak.. Detail kan? Yang jelas, kalian baca novel ini, seperti dikenalkan dunia lain yang ternyata cukup menarik untuk dikenal dan ditelusuri lebih jauh. Aku nggak menyangkal kalau aku menikmati karya Richelle Mead ini. Apalagi dengan konflik-konflik yang disajikan. Terasa cukup rumit namun bikin kita penasaran dengan cerita selanjutnya. Alhasil, aku jadi terus menerus membalik setiap halamannya karena keayikan. Dan satu lagi, karakter-karakter ciptaan Mead menurutku cukup kuat. Terutama Rose si tokoh utama. Perangainya yang santai, tegas, simpel, ramah, tapi kadang sinis, berani, humoris, pantang menyerah, dan easy going membuat dia jadi sosok yang, well, asyik menurutku..

Oke. Cerita berlanjut. Benih-benih hubungan mulai terlihat. Maksudku, aku main tebak kalau nanti pasti Rose jadian sama Dimitri dan Lissa dengan Christian Ozera. Christian ini seperti Moroi yang terbuang di sekolahnya. Hampir sepanjang waktu orang-orang tidak memperhatikan keberadaannya. Kenapa? Karena sejarah keluarganya. Orang tua Christian ternyata dulunya adalah Strigoi, walaupun, well, keluarga Ozera adalah satu dari dua belas bangsawan. Karena reputasi dan perangainya yang tertutup inilah tidak ada yang mau berteman dengan Christian. Rose pun memperingatkan Lissa untuk menjauhi Christian karena ia merasa Christian berbahaya. Namun kekuatan cinta tidak bisa dilawan, rupanya.. hha..

Nah, dengan berlalunya waktu, kehidupan Lissa dan Rose ternyata semakin sulit. Banyak cobaan yang menghadang dan menguji persahabatan mereka. Teman-teman Rose semakin menyudutkannya, apalagi dengan ─akhirnya─ tersebarnya kabar tentang ‘pelacur darah’ itu. Rose semakin terdesak. Giliran Lissa yang merasakan kemarahan yang membuncah. Selama ini Rose lah yang melindunginya. Tapi kini gantian ia yang bertekad akan melindungi Rose. Namun Rose dapat merasakan kebencian kelam di hati Lissa dan Rose jadi semakin takut karenanya. Ia takut Lissa malah terjerumus dalam kegelapan. Rose harus mengembalikan Lissa pada keceriaannya dulu. Tapi bagaimana?

Benar  saja apa yang dicemaskan Rose. Lissa menggunakan kemampuan kompulsi nya untuk memperngaruhi orang-orang agar meyakini bahwa Rose bukan pelacur darah. Kini popularitas Lissa pun semakin menanjak karena banyak teman-temannya yang memujanya. Dia jadi senang berpesta dan semakin menjadi-jadi dalam pengunaan kompulsi. Rose tahu ia harus segera bertindak.

Belum lagi Rose juga semakin dihadapkan oleh kecemasan akan ‘kemampuan’ sahabatnya. Akhirnya kita tahu apa yang menyebabkan kedua sahabat ini memutuskan untuk kabur dulu. Lissa menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tidak memiliki spesialisasi terhadap elemen tertentu. Padahal seorang vampir yang tidak mengalami spesialisasi elemen sama halnya dengan seseorang yang tidak mengalami puber. Dan ini sangat jarang terjadi. Dilain sisi, Lissa malah memiliki kemampuan menyembuhkan dan menghidupkan makhluk mati. Lissa lah yang menghidupkan Rose saat Rose seharusnya mati dalam kecelakaan yang merenggut nyawa keluarga Lissa yang lain. Namun kemampuan ini hanya Rose, Lissa dan seorang mentor bernama Ms.Karp yang tahu. Tapi sayangnya, Ms. Karp dibawa pergi dan tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Dari Ms. Karp lah Rose mendapat peringatan untuk melindungi Lissa dan menyuruh gadis itu membawa pergi Lissa dari Akademi atau kalau nggak mereka akan menangkapnya juga. Kini Rose mulai menyelidiki tentang kemampuan Lissa yang ternyata sepanjang pengetahuan dan hasil penyelidikannya, hanya dimiliki Ms. Karp dan St. Vladimir ─si pemilik nama sekolah ini─ sendiri. Tentu saja kalau kemampuan St. Vladimir banyak orang yang tahu karena kisahnya tertuang di banyak catatan sejarah. Tapi Ms. Karp dan Lissa? Hanya mereka yang tahu karena Rose pernah disembuhkan oleh Ms. Karp diam-diam. Belum lagi dengan kemampuan super-kompulsi yang sama-sama mereka miliki. Rose menyebut hal ini dengan ‘teori Lissa-Karp-Vladimir’, dan bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan Lissa. Christian lah orang yang pertama ia mintai tolong. Cukup ironis mengingat sikap Rose sebelumnya pada Christian. Tapi kini mereka sudah berbaikan dan saling melempar ejekan sarkastis seperti seorang teman lama. Selain Christian, ada Dimitri juga, yang sekarang diam-diam menyimpan perasaan pada Rose, begitu pula sebaliknya. Cihui.. 🙂

Oia, ternyata masalah tidak sebatas ini saja lho. Ternyata selama ini ada seseorang yang tahu dan ingin memanfaatkan kekuatan Lissa hingga membuat orang itu melakukan pengkhianatan besar-besaran dan menculik Lissa. Belum lagi ambisi ngeri yang dimiliki orang ini. Umm, kurasa pasti orang ini bakal lebih berperan aktif di buku keduanya 🙂

Oke. Sejauh ini aku menyukai Vampire Academy.. Walaupun alur cerita yang diambil maju mundur, namun tidak membuat kita kebingungan kapan flashback terjadi karena pemaparannya cukup jelas. Hanya saja ada satu hal yang membuatku kecewa saat membaca buku ini. Aku menemukan kerusakan pada beberapa halaman buku yang aku miliki. Entah ini hanya terjadi di bukuku atau semua cetakan Vampire Academy edisi ini juga bermasalah. Saat aku mencapai halaman 146, dua halaman dihadapanku terlihat kacau karena blur, seolah terjadi dua kali penge-print-an di halaman yang sama namun kertas yang dimasukkan dalam posisi tergeser, jadi tulisan yang terbentuk jadi tumpang tindih. Selain halaman 146-147, kejadian serupa juga terjadi di halaman 150-151, 154-155, dan 158-159. Huh. Menyebalkan memang.. Tapi sayang saat aku ingin menukarkannya, ternyata notaku udah hilang entah kemana. Yasuda deh.. Apa bole buat kan 😉

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
7 Comments

Posted by on August 21, 2011 in Dark Fantasy

 

Tags: