RSS

Category Archives: Drama/Romance

Brokeback Mountain


  • Pengarang               :    Annie Proulx
  • Genre                      :    Drama, Romance
  • Tebal                       :    80 hlm ; 18 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    10.000 IDR
  • Pertama terbit          :    1997
  • Cetakan                   :    Februari 2006
  • Tanggal Beli             :    14 Maret 2011

      “Kita bisa punya hidup yang menyenangkan bersama-sama, hidup yang benar-benar menyenangkan. Kau tidak mau, Ennis, jadi yang kita punya sekarang Cuma Gunung Brokeback. Segalanya dibangun di atas itu. Hanya itu yang kita punya… Hitung berapa kali kita bisa ketemu selama dua puluh tahun ini.

      “Kau sama sekali tidak tahu seburuk apa keadaanku… Kau terlalu hebat buatku, Ennis… Kalau saja aku tahu bagaimana caranya meninggalkanmu.”

Ennis merasa seakan isi perutnya ditarik keluar perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Dia berhenti di tepi jalan, dan dalam sebuan salju yang baru turun dia berusaha muntah, tapi tidak ada yang keluar. Belum pernah dia merasa seburuk ini, dan butuh waktu lama hingga perasaan itu hilang.

Review :

Ya ampun, kisah cinta yang menyedihkan. Walaupun buku ini sudah cukup tua, hampir dua puluh tahun sejak ia pertama terbit, buku ini masih memberikan efek yang, wew. Padahal aku sendiri sudah nonton filmnya. Aku awalnya nggak sadar kalau ada bukunya, sampai suatu hari ada obral buku di sebuah toko buku, aku lihat novel ini. Alhasil, aku mendapatkan novel ini hanya dengan merogoh kocek sebesar 10rb rupiah. Hhe..

Novel karya Proulx ini mengangkat kisah percintaan sesama jenis antara Ennis Del Mar dan Jack Twist. Keduanya pertama kali bertemu pada tahun 1963 ketika sama-sama melamar pekerjaan di Kantor Tenaga Kerja Pertanian dan Peternakan. Mereka bahkan belum genap dua puluh tahun saat itu. Mereka bekerja sebagai penggebala domba dan penjaga kemah di utara Signal. Pekerjaan musim panas ini berlangsung di tanah Dinas Kehutanan di Gunung Brokeback dibawah pengawasan Joe Aguirrek, sang mandor.

Selama mengawasi gembala mereka, mereka hanya berdua, dengan ribuan domba, kuda-kuda, anjing-anjing, coyote yang harus dihalau, berkaleng-kelang bir, api unggun dan sebuah tenda. Mereka bekerja bergantian mengawasi domba. Pertemanan mereka berjalan lancar, hingga akhirnya rasa kesepian membuat hubungan kedua pria muda itu jadi lebih dekat dan suatu malam di musim panas yang beku, terjadilah untuk pertama kalinya hubungan ‘intim’ dalam kemah gembala itu. Terjadi begitu saja, tanpa dimulai dengan rayuan atau peristiwa-peristiwa romantis sebagai pendahuluan. Itulah yang terjadi. Mereka tidak pernah bicara seks, membiarkannya terjadi begitu saja, mulanya hanya di kemah pada malam hari, lalu pada siang hari bolong di bawah sinar matahari terik, dan pada malam hari di dekat api unggun. Mereka tidak sadar bahwa ternyata Joe mengawasi mereka.

Ketika musim penggembalaan selesai dan mereka berpisah, Ennis menikah dengan tunangannya, Alma Beers dan memiliki dua orang putri sedangkan Jack pergi ke Texas dan menikah dengan Laureen. Jack bermain rodeo, seperti cita-cita awalnya. Butuh empat tahun bagi mereka untuk berjumpa lagi. Suatu hari di bulan Juni Ennis mendapat surat pos dan Jack untuk pertama kalinya sejak mereka berpisah. Jack mengatakan bahwa ia akan berkunjung. Tentu saja Ennis sangat bersemangat dan menantikan kedatangan Jack dengan mondar mandir. Begitu mereka bertemu, luapan perasaan cinta dan kerinduan selama ini tidak bisa mereka bendung lagi. Sayangnya Alma melihat adegan mesra suaminya dengan sang teman. Hew.. Kasihan Alma..

Sedangkan Jack sejak awal mengajak Ennis untuk hidup bersama, menjalankan sebuah peternakan kecil-kecilan, tapi Ennis menolak. Ia terlalu takut akan penilaian masyarakat. Pada masa itu, ketahuan sebagai homoseks berarti kematian. Masyarakat akan menghukum mereka dengan siksaan sampai mati : dipukuli dengan kunci ban, diseret di atas kerikil hingga hidungnya lepas, dan dibiarkan mati dalam selokan. Namun ternyata ancaman itu tidak menyurutkan mereka untuk terus bertemu.

Sejak saat itu Jack dan Ennis rutin bertemu. Setidaknya dua kali dalam setahun dan mereka melakukan perjalanan ke gunung untuk bersenang-senang. Sementara itu hubungan Ennis dan Alma semakin renggang dan puncaknya ketika anak pertama mereka berumur 9 tahun, Alma menceraikan Ennis dan menikah dengan toko pemilik bahan makanan di Riverton.

Tahun1983 mereka bertemu untuk terakhir kalinya. Hingga berbulan-bulan sejak pertemuan terakhir mereka baru Ennis tahu perihal kecelakaan yang menewaskan Jack. Kesedihan mahadasyat menghajar Ennis habis-habisan. Ennis menebak bahwa kematian Jack pasti karena ‘kunci ban’ bukan kecelakaan seperti halnya yang di bilang Laureen, istri Jack. Dua puluh tahun hubungan mereka berakhir tragis.

Yang aku kagumi dari novel ini, meskipun ini kisah tragis dengan akhir yang menyayat hati, tetapi Annie Proulx tidak membuatnya menjadi kisah cinta cengeng penuh ratapan serta merengek-rengek meminta belas kasihan seperti kebanyakan drama pada umumnya. Cerita ini hadir secara wajar dan manusiawi dalam narasi yang memikat. Brokeback Mountain ini menurutku tidak hanya bercerita dari segi homoseksualitas nya, tetapi juga mengenai dua orang manusia biasa yang terjebak dalam situasi luar biasa, bagaimana mereka terikat, bagaimana hubungan dapat berlangsung selama bertahun-tahun dalam kebisuan, kenyataan hanya milik mereka sendiri, dan semua ini karena perasaan mereka yang kuat satu sama lain.

Aku tidak bisa bilang aku setuju dengan hubungan macam ini. Tapi kalau aku dihadapkan dengan ―dan memang aku pernah mengalaminya― seseorang disekitarku yang mengalami hal ini, aku tidak menyangkal bahwa bergidik adalah reaksi pertamaku, perasaan tidak percaya jelas membayangi mataku, tapi kemudian kupikir, ini hak mereka untuk mencintai siapa, yang kulakukan sebagai teman hanya bisa mengingatkan dia dan memberikan dukungan secara moril. Tidak mudah tau memberikan reaksi yang tepat untuk mereka tanpa melukai perasaan atau terkesan dibuat-buat.. Hew..

Nah, kembali ke topik. Seperti yang aku sudah bilang di awal, novel ini memang sudah difilmkan. Karena aku nonton filmnya sudah bertahun-tahun silam aku hanya ingat sepotong-potong ceritanya. Tapi sejauh aku baca novelnya, aku bisa sedikit ingat dan ingatanku mengatakan bahwa antara film dan bukunya tidak banyak perbedaan. Bahkan kurasa versi filmnya dibuat semirip mungkin dengan versi novel. Film yang direlease tanggal 16 Desember 2005 (USA) oleh Alberta Film Entertainment dan Focus Features ini mendapatkan 3 penghargaan di 78th Academy Awards, 4 penghargaan di 63rd Golden Globe Awards, 4 penghargaan di 59th BAFTA Awards, dan masih banyak lagi.

Film yang memakai judul yang sama dengan bukunya ini diperankan oleh Jake Gyllenhaal sebagai Jack Twist, Heath Ledger sebagai Ennis Del Mar, Michelle Williams sebagai Alma, dan Anne Hathaway sebagai Laureen. 

Sebelum Brokeback Mountain, Jake Gyllenhaal membintangi beberapa film dan salah satunya adalah The Day After Tommorow. Belum lama ini ia bermain di Prince of Persia: The Sands of Time sebagai sang tokoh utama.

Heath Ledger, aktor kelahiran Perth, Australia ini adalah si Joker dalam film The Dark Knight. Sayangnya ia meninggal muda. Ia meninggal pada tanggal 22 Januari 2008 di usia 28 tahun karena intoksisitas obat-obatan untuk penyakit-penyakitnya dan ditemukan oleh pembantunya di apartemen miliknya di kawasan SoHo, Manhattan.

Michelle Williams sendiri adalah pemeran Jen Lindley di serial TV Dawson Creek yang sangat terkenal di masanya. Film ini jaman aku SD dan aku bela-belain nonton malam-malam sendirian pula. Hhaha..  

Dan yang terakhir ada Anne Hathaway. Kalau aktris ini tidak usah di pertanyakan lagi. Dia sudah main di banyak judul film, sebagian darinya adalah The Princess Diaries, The Devil Wears Prada, Passengers , Alice in Wonderland, dan Love and Other Drugs dimana dia bertemu dengan Jake Gyllenhaal lagi sebagai lawan mainnya.

Ratingku buat novel ini : 8,4

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on May 30, 2011 in Drama/Romance

 

Man And Wife


  • Pengarang               :    Tony Parsons
  • Genre                      :    Drama
  • Tebal                       :    504 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    50.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2002
  • Cetakan                   :    Desember 2007
  • Tanggal Beli             :    16 Maret 2011

Ketika Harry Silver merasa siap untuk menata hidupnya kembali, ternyata hidup perkawinan keduanya tidaklah semudah seperti yang ia bayangkan. Ia harus membagi perhatiannya antara istri dan mantan istrinya; antara putranya dan anak tirinya; antara pekerjaannya sendiri, karier istrinya yang sedang berkembang dengan cepat, dan masalah keluarga baru mantan istrinya. Harry mendapati bahwa akhir kisah dongengnya menjadi semakin jauh dari impiannya. Sementara itu, ibunya, yang menjadi tempatnya bersandar dan sumber penyejuk hatinya, sedang berjuang melawan kanker dan membutuhkan dirinya untuk tetap tegar.

Apakah ia terlanjur membuat suatu komitmen yang terlalu cepat? Dapatkah ia mengemudikan bahtera kehidupan barunya yang rumit ini atau malah akan berantakan? Pada saat pikirannya sedang kusut dan hatinya sedang galau, ia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya mempertanyakan semua yang telah dilakukannya.

Review :

Aku baru baca sampai halaman belasan udah terharu dan kasihan. Tapi kalau melihat cerita dari sisi lain, bikin jengkel. Belum lagi semakin lanjut bacanya hingga ke bagian tengah akhir. Waduh.. Bagus sih. Tapi nggak sebagus Man And Boy. Heu..

Buku ini memang sekuel dari Man And Boy, dan kali ini Man And Wife bercerita lebih ke kisah hidup Harry Silver, si tokoh utama, setelah ia menikah dengan Cyd. Sayangnya pernikahan kedua ini tidak selancar yang di bayangkan Harry. Banyak masalah yang mengerubunginya.

Misal, kedekatannya dengan anak kesayangannya, Pat, mulai mengendur. Pat yang semakin beranjak besar, saat ini sudah berusia tujuh tahun, memiliki kepribadian tidak seceria semasa ia kecil. Gimana nggak lho, anak sekecil dia udah harus menghadapi situasi perceraian orang tuanya. Kala itu usia Pat empat tahun. Sekarang hak asuh ada di Gina, ibu Pat, dan Harry hanya memiliki waktu jumpa sekali seminggu di akhir pekan. Itulah kenapa hubungan ayah-anak ini merenggang.

Di lihat dari sudut pandang Pat, anak itu kasihan banget. Selain orang tuanya cerai, Ibunya lalu menikah lagi dengan Richard sedangkan ayahnya menikah lagi dengan Cyd yang punya anak perempuan seusia Pat bernama Peggy. Yah, dengan kata lain saudara tiri Pat lah. Tuh kan, rumitnya hidup anak korban perceraian terlihat jelas kan. Pat harus menyesuaikan diri di dua keluarga ‘terpadu’ dan ia jadi kelewat menjaga sikap, jadi anak ini selalu terlihat tegang, kecuali saat ia berada di rumah neneknya dimana ia dapat melupakan apapun yang membuatnya tegang. Walaupun hanya untuk waktu yang sangat singkat.

Kasihan Pat.. Padahal nanti dia diboyong ibunya dan Richard ke Amerika, semakin jauh lagi dari ayahnya..  😦

Selain itu, masalah Harry juga timbul dengan Cyd. Cyd belum menginginkan anak dari Harry dengan alasan sedang ingin konsentrasi pada pengembangan usaha cateringnya. Keadaan makin memburuk ketika bisnis katering Cyd makin maju. Harry merasa tersisih dan cemburu pada laki-laki bernama Luke. Dia mulai memikirkan hal-hal  buruk tentang istrinya. Ckck.. Rupanya impian Harry untuk membina keluarga utuh hingga kematian yang memisahkan rupanya terancam gagal lagi.

Tapi masalahnya, di sinilah kekurangan Harry. Menurutku dia ni suami yang kurang tegas dan aku merasa dia seolah tidak pernah puas dan selalu mencari kebahagiaan di lain tempat. Buktinya dia hampir selingkuh sama sahabat Gina, Kazumi. Dia merasa ia jatuh cinta pada Kazumi dan mulai berniat meninggalkan Cyd demi Kazumi. Ampun-ampuuun.. Aku jadi mikir, apa emang semua cowok di kehidupan nyata punya pemikiran seperti ini?? Haaa, kuharap tidak.. Kuharap laki-laki yang sudah berkomitmen bisa setia sama janjinya.. Amiiinn.. 🙂

Ratingku buat novel ini : 7

 
Leave a comment

Posted by on May 11, 2011 in Drama/Romance

 

Man And Boy


  • Pengarang               :    Tony Parsons
  • Genre                      :    Drama
  • Tebal                       :    472 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    49.500 IDR
  • Pertama terbit          :    1999
  • Cetakan                   :    November 2007
  • Tanggal Beli             :    2 September 2009

“Mengapa banyak lelaki berselingkuh? Karena mereka punya kesempatan. Berselingkuh juga berarti seks tanpa komitmen. Dan nikmatnya seks tanpa komitmen jangan pernah dianggap remeh. Yang kulakukan sekarang adalah seks tanpa komitmen yang tersedia di depan mata. Itulah yang paling menarik bagiku.” 

Maka Harry Silver pun berselingkuh. Cuma sekali. Tapi apakah kalau cuma sekali, cuma semalam, bisa dimaafkan dan dilupakan begitu saja? 
Harry sudah memiliki segalanya: istri yang cantik, putra yang tampan, pekerjaan bergengsi di televisi. Tapi perselingkuhan semalam sudah cukup untuk membuat ia kehilangan segalanya. Dan ia pun harus mempelajari lagi apa sebenarnya arti cinta dan kehidupan.

Review :

Bagian yang aku suka dari buku ini adalah penggambaran cerita yang sangat realistik dalam artian hal seperti ini sangat mungkin terjadi di kehidupan kita. Buktinya tidak sedikit kasus perselingkuhan seperti ini terjadi. Hanya saja yang menarik perhatianku, kalau di buku umumnya diambil dari sudut pandang wanita yang menjadi korban dari suami berselingkuh. Namun buku ini mengambil sudut pandang Harry Silver, lelaki yang bermasalah dengan komitmen dan kesetiaan. Buku ini seolah curahan hatinya, bagaimana rumitnya hidup setelah melakukan suatu kesalahan fatal akibat kebrengsekannya.

Aku tidak bisa bilang simpatik terhadap lelaki ini, toh bagaimana ia bisa mengalami hal-hal yang menyedihkan ini semua juga karena sikapnya yang menyebalkan. Siapa suruh selingkuh?? Tapi itulah manusia. Sifat tidak pernah puas akan apa yang sudah dimilikinya sangatlah tergambar melalui tokoh satu ini.

Di cerita ini yang sungguh menyita perhatianku adalah si kecil Pat, anak Harry dan Gina. Malangnya bocah itu. Bagaimana hubungan Pat dengan neneknya dan kakeknya sangatlah menyentuh. Apalagi saat Kakeknya meninggal. Ya ampun..

Satu lagi, aku sangat suka dengan sebuah nasihat dari ibu Harry, “…Resiko mencintai seseorang adalah kita harus merelakannya. Kalau kau mencintai seseorang, kau tidak menganggap mereka sekedar bagian dirimu. Kau tidak mencintai mereka demi dirimu sendiri. Cinta berarti tahu kapan saatnya melepas kepergian mereka yang kau cintai.”  Wew…

Seperti yang sudah bisa di tebak, tentu saja akhir cerita Happy Ending.  Harry bercerai dengan Gina dan dia mulai menjalin hubungan dengan Cyd, wanita selingkuhannya sedangkan hak asuh Pat jatuh pada Gina. Biar bagaimana pun Gina pasti memiliki peluang sangat besar untuk mendapatkan hak asuh karena selain si anak masih kecil, status ibu kandung lah yang diutamakan dalam merawat anak. Tapi tetap saja, malangnya Pat.. Semoga angka kejadian kasus seperti ini di kehidupan nyata bisa lebih di tekan. Soalnya kasihan anak korban orang tua yang bercerai, bakalan menganggu kondisi mental mereka kan.. Hai para orang tua, jadilah orang tua panutan yaa.. orang tua yang bertanggung jawab dan penyayang 🙂

Ratingku buat novel ini : 7

 
Leave a comment

Posted by on May 6, 2011 in Drama/Romance

 

Luxe 2 – Rumors


  • Pengarang     :   Anna Godbersen
  • Genre            :    Historical-Romance
  • Tebal             :  386 hlm
  • Penerbit         :   Esensi
  • Harga            :   47.600 IDR
  • Pertama terbit:   2008
  • Cetakan         :   22 Februari 2010
  • Tanggal Beli   :   7 Desember 2010

CINTA SEJATI, SAHABAT PALSU, DAN GOSIP MENGGEMPARKAN!

SELAMAT DATANG KEMBALI DI MANHATTAN, TAHUN 1899.

Saat terembus desas-desus mengenai kematian Elizabeth Holland, bintang paling cemerlang di New York, semua mata pun mengawasi orang-orang terdekat Elizabeth. Diana Holland, adik Elizabeth: si cantik yang dikenal pembangkang. Penelope Hayes, sahabat Elizabeth: yang mengklaim semua yang ditinggalkan sahabatnya. Dan juga, Lisa Broud: mantan pelayan Elizabeth, yang kini menyadari bahwa mana kala garis keturunan dan harta dianggap penting, gosip menjadi mata uang nomor satu.

Dalam sekuel The Luxa yang penuh daya tarik dan intrik ini, tak ada yang lebih  BERBAHAYA dibandingkan SKANDAL… dan tak ada yang lebih BERHARGA dibandingkan RAHASIA.

Kisah yang penuh intrik, petualangan cinta, dan pengkhianatan dalam plot yang digambarkan sebagai peleburan antara mahakarya Margareth Mitchell, Gone With The Wind, dan cinta penuh liku ala telenovela Amerika Latin. Buku ini akan membuai Anda menuju romantika di era 19-an.

Pendapatku :

Seri kedua ini lebih, wah! Jalan ceritanya lebih menarik dan seperti yang sudah bisa ditebak, tokoh utamanya beralih ke adik perempuan Elizabeth, Diana Holland. Disini Diana yang seorang pemberontak dan santai dituntut untuk merubah sikap sejak meninggalnya/menghilangnya Elizabeth. Belum lagi dengan masalah keuangan keluarganya yang semakin menipis hingga memaksa keluarga itu menjual harta bendanya satu persatu. Sebenarnya ada satu solusi lagi, yaitu ia, menggantikan Liz, menikah dengan Henry Schoonmaker, lelaki yang ia cintai. Namun kenyataannya tidak semudah itu karena ada Penelope Hayes yang selalu mengandalkan berbagai cara untuk mendapatkan Henry.

Di lain pihak, kehidupan Liz dengan Will mulai mapan di California dan Will sedang mulai berkecimpung di dunia tambang minyak hingga suatu hari Liz mendapat sebuah surat dari Diana yang memberitakan kondisi keuangan keluarga yang semakin memburuk dan ibunya yang sedang sakit. Liz dan Will memutuskan mengambil resiko untuk kembali lagi ke New York. Jelas saja ibunya terkejut dengan kemunculan Liz, ditambah lagi dengan kabar bahwa Liz dan Will telah hidup bersama. Setelah diberi pengertian, akhirnya ibunya mengizinkan Liz menikah dengan Will dengan syarat Liz dan Will harus tinggal jauh dari New York. Liz dan Will setuju. Akhirnya mereka mengadakan sebuah pernikahan yang sangat-sangat sederhana dan terbatas pada keluarga mereka saja karena tidak ada yang tahu mengenai keberadaan Liz di New York, dan memang di usahakan seperti itu. Akhirnya Liz dan Will menikah. Aku senang banget saat baca bagian ini..

Tapi di akhir cerita ada yang membuat bulu kudukku berdiri dan terpekik, suer, aku memekik saking kagetnya dan sedih setengah mati. Will dan Liz di kejar oleh polisi di stasiun karena para polisi menduga Will melakukan penculikan terhadap Liz, seperti gosip yang selama ini terdengar di antara para sosialita. Itulah kenapa para polisi itu menembak Will. Ya ampun sedihnyaa.. Secara mereka baru saja menjadi suami istri, masih bahagia-bahagianya. Tapi sekarang kebahagiaan itu direnggut dari Liz secepat kilat. Tentu saja Liz terjebak dalam kedukaan. Ia selalu bermuram hati. Namun Diana, sang adik, yang juga sedang bersedih karena berita pertunangan Henry dan Penelope, mencoba untuk memberikan semangat pada kakaknya itu. Sebagai penutup, Liz berjanji pada Diana akan membantu gadis itu mendapatkan Henry kembali untuknya.. Ohh… Aku semakin penasaran sama karakter Liz..

Dan yang jelas, aku menantikan buku ketiga nya…

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
Leave a comment

Posted by on April 14, 2011 in Drama/Romance

 

Luxe 1 – The Luxe


  • Pengarang     :   Anna Godbersen
  • Genre            :    Historical-Romance
  • Tebal             :  406 hlm
  • Penerbit         :   Esensi
  • Harga            :   54.400 IDR
  • Pertama terbit       :   19 November 2007
  • Cetakan          :   22 Februari 2010
  • Tanggal Beli   :   18 November 2010

WAJAH-WAJAH MOLEK DALAM BALUTAN GAUN PESTA YANG MEWAH. BERDANSA DAN BERPESTA HINGGA FAJAR TIBA. PARA PRIA TAMPAN DENGAN SENYUM MENGGODA DAN TEKAD YANG BERBAHAYA. DUSTA PUTIH, RAHASIA HITAM, CINTA MEMBARA, DAN HUBUNGAN GELAP YANG MENGGEMPARKAN. INILAH SUASANA MANHATTAN, DI ERA 1899…

Ellizabeth dan Diana Holland adalah kakak beradik yang tengah larut dalam glamornya pergaulan kalangan atas Manhattan, New York di abad 19. Namun, saat mereka tahu situasi finansial keluarga mereka jauh dari aman, masa depan mereka yang cerah pun terancam.

Kisah yang penuh intrik, petualangan cinta, dan pengkhianatan dalam plot yang digambarkan sebagai peleburan antara mahakarya Margareth Mitchell, Gone With The Wind, dan cinta penuh liku ala telenovela Amerika Latin. Buku ini akan membuai Anda menuju romantika di era 19-an.

Pendapatku :

Pertama, covernya baguss..

Kedua, ceritanya juga nggak kalah bagus! Hhaha…

Baru baca bagian prolog nya aja udah dibikin kaget. Gimana nggak, masa ada sebuah koran yang memberitakan tentang kematian Elizabeth, si tokoh utama. Koran itu terbitan 7 Oktober 1899, menyebutkan tentang kematian Ellizabeth pada tanggal 4 Oktober yang lalu dan pemakamannya dilaksanakan esok hari tanggal 8 Oktober 1899. Kupikir, weh, baru juga mulai baca tapi tokoh utamanya udah ketahuan mati. Tapi itulah yang menarik perhatian. Kita jadi lebih penasaran, kenapa kok Ellizabeth bisa meninggal. Jadi, bisa di tebak kan kalau alur ceritanya mundur.

Awal cerita dimulai pada tanggal 16 September 1899, beberapa minggu sebelum kematian Ellizabeth. Dan seiring perjalanan waktu, banyak intrik yang dituangkan dalam novel setebal 400 halaman ini.  Dari perjodohan Liz dengan Henry Schoonmaker padahal pria itu sedang berkencan dengan Penelope Hayes, sahabat Liz. Di lain sisi, Liz memiliki hubungan rahasia dengan Will Keller selama bertahun-tahun. Hubungan mereka tetap dirahasiakan karena posisi Will yang hanya seorang kusir keluarga. Lalu ada konflik Henry yang tidak ingin menikah seperti halnya Liz yang tidak ingin menikah dengan orang yang tidak di cintainya, namun mereka sama-sama tidak memiliki kuasa untuk menolak. Lalu ada Penelope yang sebelum adalah sahabat Liz namun sekarang berniat menggagalkan pernikahan Liz dan Henry bagaimanapun caranya karena ia menginginkan Henry untuk dirinya sendiri. Muncul lah Lina, pelayan pribadi Liz, yang secara tidak sengaja memergoki dan mengetahui hubungan Liz dengan Will, padahal Lina sendiri mencintai Will secara diam-diam. Masalah bertambah pelik dengan adanya kenyataan bahwa adik Liz, Diana, mulai memiliki perasaan cinta pada Henry. Dan konflik terakhir adalah saat Will mengatakan bahwa ia akan meninggalkan New York untuk pergi ke Amerika Barat ―California. Liz pun bingung harus berbuat apa. Antara pergi dengan Will dan meninggalkan Ibu serta Adiknya dengan masalah keuangan yang semakin pelik, ataukah ia harus tinggal dan melupakan Will selamanya.

Sebuah cerita dengan tokoh yang banyak namun memiliki karakter kuat masing-masing. Novel ini benar-benar dapat menggambarkan kehidupan New York era 19-an tanpa menjadi sebuah cerita yang kaku dan membosankan karena masih mengandung unsur jenaka di dalamnya.

Bagi pecinta romansa, novel ini aku sarankan..

Ratingku buat novel ini : 7,6

 
Leave a comment

Posted by on April 14, 2011 in Drama/Romance