RSS

Category Archives: ChickLit

Chick-lit is a genre of fiction within women’s fiction written for females. It generally deals with the issues of modern women humorously and lightheartedly.

Remember Me?


  • Pengarang               :    Sophie Kinsella
  • Genre                      :    Drama
  • Tebal                       :    464 hlm ; 18 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    55.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan                   :    Juli 2009
  • Tanggal Beli             :    17 Desember 2011

Lexi terbangun di rumah sakit. Setahunya, ini tahun 2004, dia berusia 25 tahun, dengan gigi dan kehidupan cinta yang berantakan. Tapi ternyata sekarang tahun 2007, usianya 28, giginya rata, dia jadi bos departemennya, dan sudah menikah! Dengan jutawan tampan pula! Bagaimana dia bisa mendapatkan hidup impian ini?

Tapi semakin lama dia mengenal dirinya yang baru, mulai muncullah garis-garis retak di kehidupannya yang sempurna. Sahabat-sahabat lamanya membencinya. Pesaing mengincar jabatannya. Kemudian ada pria unik dan seksi muncul… menjatuhkan bom lain lagi.

Apa gerangan yang telah terjadi? Bisakah dia mendapatkan kembali ingatannya yang hilang? Kalau tidak, bagaimana dong?

Review :

Prolog. Kisah ini dimulai dengan sebuah prolog dimana Alexia Smart a.k.a Lexi sedang berusaha menghentikan taksi di tengah hiruk pikuk kehidupan malam di London Tenggara. Ia frustasi karena kehujanan, jari-jari kesakitan karena sepatu bot kekecilan, dan pacar yang mengingkari janji, tidak datang untuk menemui Lexi hingga membuat dirinya terus menerus melihat pintu depan klub. Suasana hatinya makin buruk ditambah dengan dirinya yang tidak mendapat bonus dari kantornya karena ia belum satu tahun kerja disitu, padahal, seminggu lagi ia sudah terhitung satu tahun bekerja. Tanggung amat. Hhaha.. Tapi yang makin parah, ayahnya baru saja meninggal dan akan dimakamkan seesokan harinya. Dan sayangnya, selama ini ia tidak mengenal ayahnya dengan baik 😦

Malam itu makin bertambah parah saat akhirnya ia akan mendapat taksi namun ada orang yang lebih dahulu menyerobot taksinya dan ia terpaksa mengejarnya dengan kemurkaan, namun sayang, ia terpeleset dan jatuh dari tangga. Boom! Ia terbangun sudah dirumah sakit dengan kebingungan karena hal-hal di sekitarnya mulai berubah. Ibunya yang datang menjenguk tampak lebih tua. Dan semakin digali, ternyata ia mengalami amnesia pascatrauma. Seingatnya, ia berada di rumah sakit karena jatuh dari tangga, tapi ternyata ia terdaftar sebagai pasien kecelakaan mobil. Tentu saja Lexi tertawa karena dirinya merasa tidak bisa menyetir dan tidak punya mobil, apalagi mobil Mercedes Konvertibel yang jelas-jelas tidak mungkin sanggup ia beli. Tapi nyatanya memang itulah mobilnya. Bahkan para dokter pun menunjukkan sebuah koran yang bertanggal 6 Mei 2007, tiga tahun kemudian! Tetap saja ia merasa ia masih hidup di tahun 2004. Hhaha..

Melihat dirinya yang sekarang membuat Lexi limbung. Pasalnya, sekarang ia jadi cantik, memiliki tubuh yang langsing, kaki yang jenjang, gigi yang putih dan kuku yang indah. Sangat bertolak belakang dengan dirinya yang dulu ia ingat, gemuk, gigi berantakan dan kuku yang terkikis karena ia gigiti.

Kemudian akhirnya ia bertemu dengan adiknya, Amy, yang ternyata sudah menjadi seorang remaja cantik namun sangat berani dan blak-blakan, sangat berbeda dengan Amy yang Lexi ingat, Amy yang pendiam dan pemalu. Yang lebih mengejutkan, ternyata ia sudah bersuami! Eric, cowok super tampan dan sangat kaya, pemilik sebuah perusahaan properti.

Sekarang dimulailah misi mengembalikan tiga tahun ingatan Lexi yang hilang, termasuk mengenai pernikahannya. Ibunya, Amy, dan Eric membawakan berbagai foto dan video yang mungkin dapat memancing ingatan Lexi. Tapi ternyata ia tetap merasa otaknya seperti memiliki lubang hitam yang besar. Segala hal pasca malam ia terjatuh dari tangga saat mencari taksi, ia lupakan.

Kemudian, demi mengembalikan ingatan dan mengenal kehidupannya lagi, Lexi kembali kerumahnya bersama Eric. Well, penggambaran rumah mewah yang wow. Kehidupan glamour seorang kaya raya. Tentu saja Lexi merasa kehidupan di rumahnya ini bagaikan mimpi. Semuanya serba modern. Namun, makin lama ia tinggal bersama suaminya, ia mulai merasakan keanehan. Eric tipikal suami yang sangat rapi dan teratur. Kemudian, Lexi kembali ke kantor hanya untuk menemukan bahwa sahabat-sahabatnya dahulu ─Fi, Carolyn, dan Debs─ membencinya. Lalu ada koleganya yang bernama Byron yang terang-terangan mengincar jabatan Lexi. Ia terus mencari celah untuk menyudutkan Lexi, terutama terkait dengan pekerjaan yang bahkan belum Lexi ingat sama sekali.

Satu lagi masalah besar. Ada cowok bernama Jon Blythe yang mengaku sebagai selingkuhan Lexi dan terus mengejar Lexi agar meninggalkan Eric. Tampaknya di “kehidupan sebelumnya” Lexi dan Jon pernah berjanji untuk hidup bersama karena Lexi merasa tidak bahagia hidup dengan Eric. Hmm.. Benarkah? ^.-a

Lima minggu setelah Lexi kembali dari rumah sakit, ia mencoba untuk penuh waktu bekerja lagi. Ia masih gigih untuk mendapatkan perhatian kawan-kawannya. Tapi sayang, rencananya tidak berjalan lancar. Bahkan malah memperburuk situasi diantara mereka. Belum lagi ada Byron yang kembali merongrong Lexi. Hadeh. Ngga heran Lexi sedih. Tapi ia berjuang untuk tegar dan semangat. Bagus untuknya 😀

Well, guys.. Aku bikin review ini entah kenapa rasanya bingung apa yang harus ku tuliskan. Sebenarnya mungkin secara garis besar apa yang terjadi di kehidupan Lexi setelah keluar dari rumah sakit cukup banyak detailnya, namun entah kenapa aku ngga dapet point-point utamanya. Ngga seperti biasanya aku baca novel, selalu muncul sebuah point penting, yaah, mungkin kalau di pelajaran bahasa Indonesia  semacam kalimat utama dalam suatu paragraf laah. Hhe.. Tapi saat baca novel ini plotnya teruuuuus mengalir. Entah ini bagus ato ngga karena biasanya kalau aku baca novel dan menemukan sebuah bagian yang menarik, aku bakal berhenti tuk menuangkannya di review. Tapi bisa jadi aku juga menikmati cerita ini karena aku bacanya juga terus-terusan. Tapiii, secara garis besar nii, ceritanya tipikal Sophie Kinsella  banget. Setelah baca 6 buku Seri Shopaholic-nya, aku banyak mendapatkan perasaan yang sama saat baca novel ini. Terutama dengan kehidupan mewah karakternya yang sering menunjukkan digit angkat Poundsterling yang banyak. Hhe..

Ratingku buat novel ini : 7,4

 
Leave a comment

Posted by on June 11, 2012 in ChickLit

 

Shopaholic 6 – Mini Shopaholic


  • Pengarang        :    Sophie Kinsella
  • Genre               :    Drama
  • Tebal                :    568 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Gramedia
  • Harga               :    60.000 IDR
  • Pertama terbit   :    2 September 2010
  • Cetakan            :    Desember 2010
  • Tanggal Beli      :    17 Februari 2011

Becky Brandon (dahulu Bloomwood) berpikir mudah saja menjadi ibu, dan putrinya akan menjadi teman belanja seumur hidup!

Tapi Minnie yang baru dua tahun ternyata memiliki pendekatan yang berbeda dalam berbelanja. Dia sering menjerit “Mauuuu!” tanpa pandang bulu, menciptakan kekacauan dari Harrods sampai Harvey Nichols, suka memanggil taksi untuk pergi ke toko, bahkan memesan baju di eBay tanpa bilang-bilang.

Sementara itu, negara mereka dilanda krisis keuangan. Semua orang melakukan pengetatan ikat pinggang–padahal Becky dan Luke masih tinggal di rumah orangtua Becky. Rencana untuk membeli rumah pun gagal. Untuk membangkitkan semangat, Becky memutuskan membuat pesta kejutan– dengan biaya hemat. Tapi bukan Becky namanya kalau tidak terlibat dalam masalah yang lebih rumit.

Sanggupkah Becky mengatasinya? Apakah harapan rahasianya dapat menjadi nyata?

Review :

Oh wow, akhirnya sampai juga kita di buku terakhir Shopaholic Series 😀 Hmm, seperti biasa, sangat khas, cerita diawali dengan kalimat ‘jangan panik’-nya Rebbeca ─Becky─ Brandon. Tapi kali ini yang membuat dia terserang panik adalah, karena putrinya, Minnie Brandon, yang sudah berusia dua tahun sedang merajuk dengan berteriak-teriak ingin membeli kuda poni mainan. Nah lhoo..

Cerita dimulai dengan perginya Becky beserta keluarga besarnya ke sebuah departemen store untuk berbelanja hadiah Natal. Baru bab pertama saja, kita sudah di suguhi Becky kecil alias Minnie yang juga maniak belanja ─a shopaholic. Just like her mom. Hhaha.. 😉 Oia, Becky sendiri tampaknya tidak mengalami perubahan sifat lhoo, tetap seorang shopaholic dengan segala sifat simple nya, membeli segala sesuatunya, selalu hanya dengan segala pemikiran positifnya. Hhaha..

Dari awal cerita, kita mendapat beberapa informasi mengenai apa yang terjadi selang kelahiran Minnie hingga saat ini, seperti bahwa ternyata perusahaan PR milik Luke Brandon sedang aktif melakukan persidangan melawan Arcodas Group, lalu ternyata Becky, Luke, dan Minnie masih tinggal di lantai atas rumah orang tua Becky karena belum mampu membeli dan tidak kunjung mendapatkan rumah yang cocok. Kemudian ada tragedi, ternyata enam bulan yang lalu ibu angkat Luke, Annabel, meninggal dunia. Padahal dibandingkan dengan Ibu kandung Luke yang menyebalkan ─Eleanor, bisa dibilang Annabel lah Ibu Luke yang sesungguhnya, dan Luke sangat menyayangi Annabel. Kini Ayah Luke tinggal di Australia bersama adik Luke.

Secara garis besar kini konflik dari novel ini adalah tentang sifat Minnie yang, well, manja, walaupun kebanyakan orang disekitar Becky tidak mau mengakui hal ini, termasuk Becky. Lalu, beberapa hari berlalu. 28 Desember adalah perayaan Natal kedua bagi keluarga Becky dan Janice ─tetangga Becky, karena Jess ─kakak tiri Becky─ dan Tom ─anak Janice─ akan kembali dari Chile hari ini. Bahkan Suze dan Tarquin serta ketiga anak mereka datang untuk perayaan bersama. Wow. Hari yang sibuk, ramai, dan menyenangkan. Minus Luke yang masih saja sibuk bekerja 😉

Oia, ada berita menggembirakan sekaligus mengecewakan dari Jess dan Tom nii. Sumpa, aku ga habis pikir mereka bisa ngelakuin hal ini tanpa memberitahu keluarga mereka. Tapi, yah, kurasa itu yang terbaik bagi mereka deh, mengingat sifat orang-orang terdekat mereka yang, well, suka kehebohan. Hhaha..

Saat hari pembaptisan Minnie, sayangnya, malah seperti hari bencana. Ya ampun. Semua ─maksudku benar-benar semua─ orang mengalami kegemparan. Saat pembaptisan akan segera mulai, Luke nggak muncul-muncul. Padahal Becky sudah melakukan segala cara untuk mengulur waktu, menunggu kedatangan Luke. Tapi sayangnya, Luke ga datang. Bahkan malah terjadi kehebohan karena berita mengenai Bank of London yang bangkrut atau semacamnya. Yang jelas, karena masalah inilah terjadi krisis keuangan di seantero Inggris. Mak..

Seperti halnya di luar, di dalam rumah orang tua Becky pun terjadi goncangan hidup. Kini orang tua Becky sibuk melakukan penghematan dan PIP (Pengetatan Ikat Pinggang), istilah yang digunakan ayah Becky untuk menjalani hidup kedepannya. Tapi yang membuatku heran sekaligus jengkel, kenapa sikap Becky begitu kekanakan sih. Dia seperti tidak terpengaruh dengan masalah keuangan ini, ia tetap berbelanja dan bahkan ia menggembar-gemborkan kesana-kemari kalau ia akan membuat pesta ulang tahun kejutan untuk Luke, tanggal 7 Maret mendatang. Hampir semua orang yang mendengar rencana Becky ini jadi skeptis. Pasalnya, Becky ingin pesta dengan segala konsep kemewahannya. Ckck.. Belum lagi, pesta kejutan? Masalahnya Becky bermulut besar. Bisakah pesta ini jadi pesta yang ‘rahasia’, dilakukan sembunyi-sembunyi dibelakang Luke? Hmm, meragukan 😉 Tapi demi membuktikan keraguan orang-orang di sekitarnya, ia malah nantangin kalau ia bisa melakukannya. Ckck.. Bukan Becky kalau nggak bikin masalah kan 😛

Itulah yang terjadi. Semakin kebelakang, konflik-konflik dari novel ini mulai muncul kepermukaan. Pertama, Becky bilang kalau dalam dua hari ia akan pindah, keluar dari rumah orang tuanya. Tentu saja orang tuanya senang karena akhirnya mereka dapat kembali mengadakan jamuan untuk teman-teman mereka dan mereka juga senang karena akhirnya Becky memiliki rumahnya sendiri. Padahal kenyataannya, Becky dan Luke belum punya rumah karena rumah yang akan mereka beli malah bermasalah.

Karena tidak mau malu, maka Becky memaksa Luke untuk bener-bener segera pindah, namun ke rumah kontrakan. Tanpa sepengetahuan orang tuanya! Well, orang tua Becky tidak suka kalau Becky harus mengontrak. Yang lucu, truk barang Becky terpaksa berputar-putar dulu karena orang tua dan Janice, tetangga Becky, mengikuti truk untuk mengantar kepindahan Becky hingga kerumah barunya. Bencana bagi Becky karena ini diluar rencana. Karena lelah, mau nggak mau Becky jujur pada ibunya kalau ia belum punya rumah. Tentu saja  Becky malah bertengkar hebat dengan sang Ibu.

Belum lagi, Becky juga bertengkar dengan Suze, sahabatnya, karena masalah pesta rahasia Luke ditambah dengan kemarahan Suze akibat ulah Danny terhadap Tarquin, suami Suze, dan Suze menumpahkannya pada Becky. Pasalnya, Becky adalah teman Danny, si perancang busana terkenal dari Amerika.

Kemudian, ada masalah Becky di tempat kerja. Akhirnya, siasat Becky dalam jual beli pakaian selama ini ketahuan oleh salah satu suami dari pelanggannya. Becky bahkan hampir kena tuntut, dan pastinya, bos Becky marah besar. Ia diskors dari kerjaannya hingga batas waktu yang tidak ditentukan 😉

Lalu ada masalah dengan pesta ulang tahun yang akan Becky adakan karena, well, entah kenapa pestanya jadi super gede dan mewah. Belum lagi, kini pesta itu nggak bener-bener rahasia lagi karena ─lagi-lagi ulah─ Danny, yang membocorkan rahasia itu pada wartawan sebuah majalah saat diwawancarai, dan kini berita itu tercetak dengan jelas dalam salah satu halaman wacana mengenai aktifitas Danny. Ya ampuun!

Tapi yang paling parah, Becky masih saja menyangkal bahwa Minnie anak yang manja dan bandel dan memerlukan pendidikan dari ahlinya. Luke diam-diam menyiapkan seorang Nanny yang expert di bidangnya, dan Nanny itu punya acara reality show, yaitu Nanny Sue. Terasa familier?? 😛

Nahnah, kini bertambah lagi masalah Becky. Ia jadi bertengkar dengan Luke. Untuk waktu yang cukup lama Becky hanya bicara pada Luke seperlunya. Bahkan ia mencari cara agar saat Nanny Sue datang untuk menilai sikap Minnie secara keseluruhan, Nanny akan menilai Minnie adalah anak yang manis. Tapi apa buktinya, saat Minnie dan Becky pergi berbelanja dengan disertai si Nanny, lagi-lagi timbul masalah di dalam Mall. Alamak. Aku sendiri bacanya ikut malu kok 😉 Parah..

Secara keseluruhan cerita, jujur, aku merasa jengkel pada Becky lebih dari yang kurasakan dari buku-buku sebelumnya. Dan aku salut pada Kinsella yang berhasil membuat kita merasakan suatu perasaan tertentu terhadap tokohnya karena itu berarti, dia berhasil menghidupkan karakter tokoh tersebut. 😀 Tapi wah, jangan salah, Sophie Kinsella selalu tahu gimana harus mengakhiri ceritanya, guys. Segala proses menuju akhir cerita, cukup menyenangkan. Terutama saat Luke mendapatkan kejutan yang sesungguhnya dari Becky. Dan Becky tak kalah surprise dengan kejutan dari Luke. Hhehe.. Happy Ending!  ^.~d

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
Leave a comment

Posted by on March 10, 2012 in ChickLit

 

Shopaholic 5 – Shopaholic And Baby


  • Pengarang        :    Sophie Kinsella
  • Genre               :    Drama
  • Tebal                :    536 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Gramedia
  • Harga               :    50.000 IDR
  • Pertama terbit   :    2006
  • Cetakan ke-5     :    Januari 2011
  • Tanggal Beli      :    17 Februari 2011

Becky Brandon (dahulu Bloomwood) kembali lagi dalam petualangan shopaholic-nya yang paling menegangkan!

Betapa indah hidup Becky! Bersama Luke, ia sedang sibuk mencari rumah baru (harus ada Kamar Sepatu-nya…), dan yang lebih penting, ia sedang menantikan kelahiran bayinya! Tak ada lagi yang membuatnya lebih gembira, apalagi setelah ia menyadari belanja ternyata bisa membantu mengatasi mual-mual di pagi hari. Duh, betapa panjang daftar belanjanya! Semua harus yang terbaik untuk si bayi: kamar bayi rancangan desainer, kereta bayi paling keren dan canggih, hingga dokter kandungan paling top langganan selebriti.

Masalahnya, dokter selebriti itu ternyata adalah Venetia Carter, mantan pacar Luke yang glamor dan intelek. Tapi tentunya hal itu tidak jadi masalah buat Becky, kan? Atau…?

Review :

Nah, seperti biasa, kalimat pembuka untuk Shopaholic Series pasti ada kata “jangan panik” yang ada dalam pikiran Rebecca Brandon alias Becky, si tokoh utama kita. Ya, tidak terkecuali buku ke lima ini, Shopaholic And Baby. Hhe.. Tapi kali ini ia memang lagi panik karena gugup. Dia akan cek USG untuk pertama kalinya! Dan konyolnya, ia sempat meyakini bahwa bayinya hanya memiliki satu lengan. Adoh. Apalagi dengan bodohnya dia memakai sendiri alat USG saat si ahli sonografi pergi dari ruangan bersama Luke Brandon, sang suami tercinta. Ya ampun, masa dia menangis terharu lihat kepala bayinya dan terus berbicara, mengajak si janin ngobrol. Tapi ternyata itu bukan kepala janinnya, tapi kandung kemihnya! Bhahaha.. Ginilah kalo orang sok tau njalanin alat yang nggak ia tau.

Setelah yakin kandungannya baik-baik aja, dia pun mulai menghimpun tenaga buat shopping! Tentu saja sepulang dari checkup langsung ia pergi ke toko. Well, saat berbelanja lah ia mendengar nama Venetia Carter, si dokter selebritis, disebut-sebut. Bukan sifat Becky untuk tidak ikut tren. Tentu saja ia menghubungi Venetia tanpa sepengetahuan Luke karena Luke ngotot akan tetap memakai Mr. Braine yang  sudah sangat berpengalaman dibidangnya dan jadi dokter keluarganya.

Lalu ada masalah, akhirnya Luke tahu kalau Becky punya 15 rekening -15, oey!- dan 15 kartu kredit tentu saja. Tapi ternyata nggak cuma di London, tapi juga di berbagai negara lainnya, termasuk Namibia, Bangladesh, dan Indonesia. Ckck.. Perdebatan pun terjadi. Terutama karena masalah  investasi dana perwalian untuk bayi mereka. Ampuuun! Mau punya anak kok rasanya ribet banget ya bagi Becky..? Hhaha.. Untuk adilnya, akhirnya kedua orang ini membagi dana perwalian jadi dua dan masing-masing menginvestasikannya di tempat yang mereka suka. Welewele..

Di pesta ulang tahun ibunya yang ke-60, akhirnya Becky jumpa lagi dengan sahabatnya ─Suze, kakak tirinya ─Jess, juga orang-orang terdekat lainnya. Tentu saja kemudian ia memamerkan bahwa ia dan Luke baru saja membeli  rumah baru yang mewah dan jadi idamannya. Ia juga bercerita bahwa akhirnya ia punya janji temu dengan si dokter selebriti, yah, walaupun ayahnya sendiri juga ragu apakah pindah dokter adalah keputusan yang tepat? Dan tentu saja Becky berkata, Ya!

Akhirnya Becky mengunjungi Venetia Carter dan akhirnya Luke bertemu lagi dengan teman se-geng dan mantan pacarnya itu. Ceritanya, mereka dulu punya geng waktu jaman kuliah di Cambridge bersama beberapa kawan lagi dan setelah masing-masing sibuk mereka mulai hilang kontak. Uum, menurutku sejauh ini Venetia nggak -atau belum?- menunjukkan gelagat jahat sih. Orangnya ramah-ramah aja, bahkan sikapnya manis. Dan menurutku wajar aja sikap yang ditunjukkan Luke dan Venetia sebagai dua orang teman se-geng yang sudah sangat lama tak berjumpa. Apakah nanti Venetia akan menjadi si tokoh antagonis? Hhe, kita liat nanti deh.. Yang jelas, setelah tau kalau Venetia punya pacar, Becky jadi rileks kembali.

Kini yang lebih dicemaskan Becky adalah kerjaannya. Dia adalah kepala divisi Pembelanjaan Pribadi di sebuah depstor baru bernama The Look. Sayangnya depstor ini dianggap sebagai bencana retail terbesar sepanjang sejarah karena hampir nggak ada pengunjung yang masuk ke toko ini. Becky gemes melihat hal ini, apalagi dia pernah berhadapan dengan Iain Wheeler ─chief marketing top dari Arcodas Corporation, mitra kerja Luke─ yang terang-terangan menghina The Look. Becky pun jadi geram. Itulah kenapa dia punya ide mengundang seorang desainer top kenalannya, Danny Kovitz, untuk mengadakan suatu acara yang keren dan ekslusif untuk depstor itu. Well, sejauh ini, itulah ide brilian Becky untuk menyelamatkan pekerjaannya. Tapi akhirnya tar berhasil lho.. Bahkan sikap Danny selama tinggal di London sangat konyol, termasuk saat ia dan Becky akan makan di sebuah restoran yang berjarak hanya beberapa meter darinya namun ia pakai menghubungi sekertarisnya buat booking tempat, padahal sekretarisnya ada di AMERIKA! Bodoh..

Kemudian, hubungan Luke dan Venetia semakin intens, dalam artian, mereka semakin sering bes-SMS-an, dalam bahasa Latin pula! Jadi tentu saja Becky tidak bisa mengerti pembicaraan mereka. Ditambah kini Luke dan Venetia semakin sering ketemuan. Wah wah, Becky pun curhat pada Suze dan Jess, kakak tirinya dan mereka untungnya berpikiran positif dan  terbuka. Namun tetap saja tidak mengurangi tingkat kecemasan Becky. Padahal beberapa minggu lagi ia akan melahirkan.

Kecurigaan Becky semakin besar karena Luke berbohong mengenai acara penghargaan yang dihadirinya. Akhirnya, Becky menyewa jasa detektif untuk membuktikan benar tidaknya Luke berselingkuh. Owow.. Susah kalo orang lagi hamil dihadapkan dengan kemungkinan perselingkuhan gini ya 😉 Yang nggak hamil aja pusing, apalagi yang lagi hamil. Kasihan janinnya kalau ibunya stres terus.

Tapi well, ternyata kehidupannya tidak selancar yang ia kira. Perusahaan Luke ternyata sedang mengalami krisis yang sangat karena partner barunya, Arcodas Corporation, membuat masalah internal  berturut-turut dan Luke terpaksa mengambil jalan untuk membatalkan kontrak kerja walaupun ia harus membayar denda yang sangat besar. Belum lagi beberapa cabang Brandon Communications di seluruh Eropa yang terpaksa ditutupnya. Dan yang lebih parah, Becky dan Luke batal memiliki rumah baru padahal apartemennya sudah terjual dan dalam beberapa minggu ini mereka harus segera pindah.

Ups.. Udah kelihatan kan gimana konflik cerita di buku kali ini? Yang jelas seperti biasa, Sophie Kinsella menyelesaikan masalah-masalah ini dengan suatu penyelesaian yang efisien dan dengan kebodohan dan ke’polos’an Becky, selalu bisa membuat kita jengkel dan marah tapi juga ketawa 😀

Ratingku buat novel ini : 7,6

 
1 Comment

Posted by on September 11, 2011 in ChickLit

 

Shopaholic 4 – Shopaholic And Sister


  • Pengarang        :    Sophie Kinsella
  • Genre               :    Drama
  • Tebal                :    504 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Gramedia
  • Harga               :    50.000 IDR
  • Pertama terbit   :    2004
  • Cetakan ke-3     :    Januari 2011
  • Tanggal Beli      :    17 Februari 2011

Becky Brandon (d.h. Bloomwood) tidak menyangka perkawinannya tak seindah impian. Masalah bermula ketika Becky mengatakan pada Luke dia hanya belanja sedikit saat bulan madu. Padahal ada dua truk besarnya yang datang ke apartemen mengirim barang belanjaannya.

Sekarang anggaran belanjanya dibatasi, dia belum punya pekerjaan, dan yang paling parah, Suze sahabatnya punya teman baru. Becky sangat sedih – sampai dia menerima kabar bahwa dia sebenarnya punya kakak perempuan!

Asyik! Akhirnya Becky punya kakak sungguhan. Mereka bisa belanja, memilih sepatu, ke salon bersama…

Tapi… ya ampun. Masak sih, kakak Becky itu benci belanja?

Review :

Sudah sepuluh bulan sejak Becky dan Luke menikah, dan kini mereka masih dalam perjalanan bulan madu mereka! Aduh, asyiknyaa.. Kini mereka ada di Sri Lanka dan sebelumnya mereka sudah ke India, Australia, Belanda, Prancis, Mesir, Kenya, Tanzania, Thailand, HongKong, Maroko, Utah, Alaska, dan tak lupa Indonesia, dan lain sebagainya mungkin, yang jelas aku nggak bisa mengurutkan mana negara yang mereka datangi duluan. Ckck.. Bikin ngiri, bisa keliling dunia. Hha.. Tapi yang lebih menarik, Luke digambarkan sudah beda dengan Luke yang dulu. Luke yang gila kerja sekarang terlihat sangat santai. Kulit kecoklatan, tubuh berotot, rambut dibiarkan panjang dan kemerahan terkena panas matahari, pergelangan tangan dihiasi gelang persahabatan dari Masai Mara, dan sebelah telingannya memakai anting kecil dari perak! Whahahaha.. Hidup santai ala Luke.

Tapi tetap, kalau Becky ngga ada perubahan. Dimana saja tetap berbelanja. Bahkan saat melakukan yoga spiritual, ia masih saja terpikat dengan seorang penjual gelang murahan. Hhihi.. Jadi ceritanya Luke dan Becky menginap di Blue Hills Resort and Spiritual Retreat dan sekarang keduanya sedang mengikuti kelas yoga di hotel itu. Dari awal cerita, aku sudah dibuat tertawa sama ulah Becky dan bagaimana Luke menanggapi istrinya ini. Kurasa cerita kali ini lebih seru ni. Semoga 😉

Oia, kalian ingat Suze kan? Istri Tarquin? Nah, sekarang mereka sudah punya anak tiga! Wkakaka.. Saat Becky dan Luke sedang bersantai, ada surat yang datang dari Inggris dan salah satunya dari sang sahabat tercinta. Isinya berupa undangan pembaptisan anak kembar mereka, Wilfrid dan Clementine Cleath-Stuart yang sekarang berusia empat bulan. Bahkan Becky belum melihat wajah si kembar. Tapi ia belum mau pulang dan masih mau melanjutkan petualangannya bersama Luke. Benarkah?? Tiba-tiba ia bimbang dan ingin kembali ke Inggris, kembali menghadapi kejamnya dunia sehari-hari. Tapi yang jelas, ia sangat rindu berbelanja dan mengenakan sepatu yang layak. Wkakaka..

Setelah keputusan kembali ke Inggris diambil, secepat kilat Luke beraksi. Ia sudah membuat janji meeting di sana-sini padahal tiba di Inggris aja belum. Rencananya, sebelum kembali ke Inggris Luke akan mampir ke Italia untuk satu rapat dengan perusahaan Arcodas Group. Nah, liburan terakhir ini rupanya bener-bener berkesan bagi Becky. Setidaknya ia mendapatkan tas Angel yang sangat ─sangat─ langka dan trendi, berharga dua ribu Euro! Alamak, hanya untuk sebuah tas?? Ckck.. Tapi ia mendapatkan tas inipun tidak gampang. Becky harus masuk ke daftar tunggu tas ini dulu untuk mendapatkannya. Tapi ia sangat tidak sabar dan ingin segera memilikinya. Untung ada seorang pria tambun bernama Signore Nathan Temple ─yang sepertinya adalah seorang pelanggan toko yang sangat berpengaruh dan kaya raya─ yang membantunya untuk mendapatkan tas ini. Nah, karena saat itu ia tidak membawa dompet, ia pun membayar dengan MasterCard Gawat Darurat nya yang ia simpan di dalam kotak bedak. Hhaha.. Luke aja nggak tahu keberadaan kartu ini. Yah, cara yang salah untuk memulai sebuah perkawinan, ketidak jujuran. Belum lagi Becky tidak mengaku bahwa ia juga membeli barang lain hari itu kecuali sabuk kulit hadiah untuk Luke. Tentu saja Luke terharu karena ia pikir Becky hanya khusus membelikan sabuk itu untuknya (tanpa belanja yang lain!) padahal saat itu kali pertama bagi Becky datang ke pusat mode dunia. Milan. Tidak bisa dipungkiri kalau Luke pikir ia pasti bakal menemukan Becky dengan tas-tas belanjaan yang banyak ditangannya. Tapi ternyata tidak. Tapi ternyata Luke juga salah. Aduuh..

Akhirnya Becky dan Luke kembali menginjak aspal Inggris. Ia sangat senang dan gugup dengan rencana kejutan untuk orang tuanya. Tapi ia harus kecewa. Setibanya di rumah orangtuanya, mereka tidak ada. Dan saat mereka akan meninggalkan rumah, muncul Ayah dan Ibunya yang di tikungan jalan dengan seorang wanita muda. Tapi yang mengejutkan, Ayah dan Ibunya kembali mundur dan menghilang. Sesaat kemudian mereka muncul tanpa wanita itu dan memasang muka drama mereka. Ada yang mereka sembunyikan. Luke juga merasakannya. Ternyata acara penyambutan yang seharusnya penuh suka cita sedikit terasa hambar bagi Becky. Orangtuanya bahkan tidak membatalkan rencananya dan meninggalkan Becky dirumah. Luke mengatakan pendapatnya bahwa menurutnya wanita yang ia lihat tadi adalah agen property dan orangtua Becky kemungkinan ingin menjual rumah mereka karena kini setelah Becky menikah rumah ini pasti telalu besar untuk mereka. Becky pun setuju dengan teori Luke dan ia sedih kalau memang begitu kenyataannya.

Hari berikutnya, giliran Suze yang mendapat kejutan Becky. Awalnya ia takut kalau Suze juga menghindarinya, seperti yang dilakukan kedua orang tuanya. Tapi ternyata tidak. Suze tetap sahabat Becky yang paling baik dan menyambut kedatangan Becky dengan suka cita. Hari itu adalah hari pembaptisan Wilfrid dan Clementine. Namun hati Becky mulai dilanda kegundahan. Muncul sosok Lulu yang kini menjadi sahabat Suze. Wanita itu sangat baik dan bagaikan malaikat di mata Suze. Ia membantu Suze menghadapi ‘masalah bayi’ ini karena Lulu sendiri memiliki empat orang anak yang masih kecil-kecil. Jadi intinya, Becky kalah di pengalaman mengasuh anak. Walaupun menurut orang-orang, Lulu adalah wanita yang baik dan sahabat Suze, bagi Becky sendiri ia tidak senyaman itu di dekat Lulu. Ia merasa ada sesuatu yang lain dari Lulu. Bibirnya agak terlalu tipis dan tatapannya agak terlalu dingin. Dan yang utama, Becky merasa cemburu karena posisi ‘sahabat terbaik’-nya untuk Suze diambil alih oleh Lulu. Akhirnya ia bertekad, ia tidak akan menyerahkan sahabat terbaiknya pada seseorang suka memerintah, seperti Lulu. Namun ternyata tidak semudah yang diharapkannya dan ia sungguh merasa terdepak saat Suze ternyata sudah memiliki rencana merayakan ulang tahunnya bersama Lulu dan bayi-bayi di sebuah spa. Haa, kasiannya Becky 😦 Ia harus menahan kepedihan saat pergi meninggalkan kediaman Suze dengan dalih Luke harus melanjutkan bisnisnya dan mereka harus segera kembali ke London.

Well, satu minggu akhirnya berlalu. Becky sudah tidak lagi memikirkan masalah Suze atau Lulu. Hari ini ia dan Luke sedang menunggu kiriman paket barang-barang hasil petualangan mereka. Dan astaga, aku aja sampai geleng-geleng, ada dua kontainer yang menanti mereka di depan pintu apartemen! Mantap. Saat dibongkar pun menimbulkan emosi antara kagum dan jengkel terhadap ulah Becky yang seenak hati. Ia lupa pada sebagian besar barang yang ia beli. Dan yang terburuk, sebagian besar Luke tidak tahu-menahu kalau Becky membelinya! Belum lagi setelah Luke mengecek tagihan-tagihan rekaning mereka, banyak barang yang tidak terdaftar di tagihan itu. Itu berarti Becky punya cara lain untuk membayar barang-barang itu. Wah. Sudah pasti Becky disidang Luke. Masa bisa-bisanya ada dua pasang meja makan yang masing-masing berkursi sepuluh buah dari dua negara yang berbeda. Astaga! Kalau yang satu Luke memang tahu mereka membelinya. Tapi yang satunya, Becky bahkan tidak ingat pernah membelinya. Kebangetan.. Hha.. Selain itu, ada lima meja kopi, guciguci Cina yang besar, patung-patung jerapah, dua puluh jubah tidur sutra dari Cina, tujuh belas permadani, satu peti besar berisi empat puluh mug, lukisan-lukisan batik dari Bali dan lain-lain, dan lian-lain, dan lain-lain lagi, dan yang paling wah, ada seperangkat gamelan dari Indonesia! Ya ampuuuun.. emang dia mau bikin studio musik? Atau museum? Atau apa sih, kok, sampai beli gamelan segala.. heran akuu.. Tapi yang menurutku agak lucu, mereka menyebutkan ‘lukisan batik dari Bali dan gamelan dari Indonesia’ seolah menganggap Bali dan Indonesia terpisah. Ya ya, aku memang tahu sih kalau sebagian besar masyarakat dunia mengenal Bali terlepas dari Indonesia, pernah ada seorang bule yang bertanya, “Indonesia itu sebelah mananya Bali?” Nah loo.. Dia pikir Indonesia dan Bali bertetangga?? Bali itu ya di Indonesia, booss 😀

Yah, kembali ke masalah Becky. Akhirnya ia mengaku kalau ia memiliki kartu Gawat Darurat dan tentu saja Luke langsung mempertanyakan, “Apa, meja makan darurat? Gamelan Indonesia darurat?” ckck.. Tapi aku salut dengan Luke. Setelah menuntaskan masalah dengan serangan-serangan yang membuat Becky cukup tersudut, akhirnya ia menghela nafas dan mengeluarkan nada suara hangatnya. Ia meredam amarahnya dan memberikan pengertian yang amat sangat besar kepada sang istri tercinta. Dengan manis dan tenang ia akhirnya memutuskan untuk menetapkan anggaran belanja kepada Becky. Anggaran belanja hari pertama, dua puluh Pound. Tunai. Keluar dari dompet Luke. Wkakaka.. Becky menganggap ini sebagai sebuah tantangan sebagai seorang istri, seperti seorang istri di jaman perang dahulu. Yaelah.. Kini ia bahkan punya proyek baru. Proyek : Istri yang Mendukung. Ia akan membantu Luke di pekerjaannya. Aduh. Kini Luke yang pusing. Kasihan kali Luke ini punya istri yang…hhehe. Gitu deh 😛 Sebenarnya Becky sudah punya pekerjaan. Hanya saja, kantor itu membutuhkan Becky kalau departemen store tempat Becky akan bekerja sudah buka, yaitu tiga bulan lagi. Selama tiga bulan ini tetap saja Becky harus menganggur. Padahal ia butuh uang.

Saat Becky sedang ‘berbenah rumah’, orangtuanya datang berkunjung. Ternyata mereka punya sebuah kabar yang ingin disampaikan. Becky sudah ketakutan akan berbagai spekulasi di kepalanya. Namun ia tidak menyangka akan berita bahwa ia memiliki seorang kakak perempuan yang lebih tua dua tahun darinya. Orangtuanya bercerita bahwa si kakak yang bernama Jessica Bertram ini datang untuk mengabari perihal sebuah kondisi genetik yang ia derita dan ingin memperingatkan hal ini pada ayah biologis dan Becky, takut-takut kalau mereka juga menderita karena kelainan genetik ini. Jadi rupanya dalam pemeriksaan Jessica menemukan bahwa ia memiliki darah yang mudah membeku dan bisa jadi sangat berbahaya dalam situasi tertentu, seperti dalam operasi. Itulah yang menjadi pemicunya untuk menemukan sang ayah biologis.

Seminggu kemudian akhirnya Becky memiliki kesempatan bertemu dengan Jess. Sejak ia tahu bahwa ia memiliki kakak, hidupnya jadi tidak tenang lagi. Ia sangat bahagia bahwa ternyata ia punya seorang kakak yang selama ini memang ia idamkan. Namun khayalannya yang terlalu muluk tentang hubungan adik-kakak ini membuat hatinya sakit saat menemukan fakta bahwa ia tidak cocok dengan Jess. Jess tipe gadis yang suka belajar, cinta pada bebatuan dan benci pada belanja. Ya, ia benci belanja. Hhm, kurasa Becky seperti ditampar saat jess mengatakan dengan jelas bahwa ia. benci. belanja. Wew.. Bahkan Luke aja bisa langsung mengenali tipikal pribadi Jess yang adem ayem dan simpel. Dia meminta Becky untuk tidak terlalu berharap pada ‘hubungan adik-kakak yang bersahabat’ ini. Kurasa Luke tahu bahwa Becky bakal lebih terluka kalau tahu memiliki kakak yang selama ini ia idamkan ternyata tidak seindah keinginannya. Namun tahulah sifat Becky. Ia bersikeras dan ingin membuktikan bahwa hubungannya dengan Jess akan baik-baik saja. Itulah kenapa ia meminta Jess untuk menginap sehari akhir pekan sebelum Jess kembali ke kotanya yang jauh di Utara.

Tapi lagi-lagi rencana Becky tidak berjalan lancar. Mereka benar-benar tidak cocok. Ibarat cewek kota metropolitan dan cewek pedesaan yang jelas-jelas memiliki gaya hidup yang bertolak belakang. Bahkan kini Jess malah tahu tentang masalah keuangan Becky dan mulai menggurui Becky tentang cara  berhemat. Becky digambarkan sangat jengkel, disini. Belum lagi dengan satu masalah Nathan Temple. Karena ingin berterimakasih pada Mr. Temple, dengan santainya Becky menjanjikan kemitraan dengan perusahaan Luke tanpa sepengetahuan Luke. Ia pikir ini akan menjadi kejutan bagi Luke karena Becky telah berhasil mendekati seorang pebisnis perhotelan bintang lima. Tapi rupanya Nathan Temple ini adalah (dulunya) raja permotelan dan pernah terlibat skandal dan punya catatan kriminal. Tentu saja ini tipe klien yang tidak akan didekati perusahaan Luke. Namun Becky telah terlanjur menawarkan dan ia tidak berhasil membatalkannya dan tetap menyembunyikan hal ini dari Luke. Gawat dobel-dobel bagi Becky. Tapi inilah konflik yang disajikan buku keempat seri Shopaholic ini, tentu saja selain masalah Becky dengan sahabatnya, Suze, dan dengan kakak tirinya, Jess.

Yang lebih gawat lagi, Becky tanpa sengaja menjual sepuluh jam tangan Tiffany milik Luke yang akan ia berikan pada Arcodas Group sebagai hadiah perusahaan, di eBay. Luke pun marah pada Becky dan Becky juga jadi bertengkar hebat dengan Jess yang menyebabkan kakaknya itu langsung angkat kaki dari apartemen ini. Sesungguhnya teman-teman, aku suka dengan prinsip hidup Jess yang serba hemat. Menurutku keren bisa mengatur keuangan sedemikian rinci. Mungkin karena aku nggak bisa melakukan hal tersebut kali ya.. Aku memang boros, tapi setidaknya nggak sampai kayak Becky yang, wow, ngeri. Hhi..

Nah, dua minggu berlalu sejak itu. Namun Becky masih diliputi perasaan sebal pada Jess yang tiba-tiba mencampuri urusan keuangannya. Ia juga masih terus terngiang kata-kata yang ia curi antara Luke dan Jess tentang bagaimana pendapat Luke hidup bersamanya, dan Luke menganggap hidup bersama Becky itu sulit. Tentu saja Becky sedih. Dan ia masih tidak sadar, bagian darimana dari dirinya yang membuat Luke merasa sulit hidup dengannya. Saat ia membuat daftar tentang kelakuannya yang menyulitkan orang, astaga, aku ikutan jengkel.. Grrr, bebal atau terlalu polos atau gimana sih cewek ini. Sungguh. Aku merasa dia selalu memandang segala sesuatu dari sisi simpelnya sih.

Untung Luke mendapatkan proyek Arcodas Group nya. Ia dalam posisi sedang berbahagia dan siap berpesta dengan para karyawan kantornya. Namun kemunculan Nathan Temple di kantor Luke membuat Luke kembali tegang. Terutama Becky yang semakin panik dan takut karena kemarahan Luke. Mau nggak mau Becky pun bercerita tentang hubungannya dengan Temple dan bagaimana Becky menjanjikan hubungan kerja itu. Terpaksa Luke harus menjadi partner Nathan Temple dalam peluncuran hotel yang sangat dibenci Luke. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah kepalang basah. Tidak bisa ditolak. Hanya bisa berharap semoga yang dilakukan Luke ini setimpal dengan tas Angel yang Becky dan ada hasil positif kelak di kemudian hari. Hew.. Kalau melihat jalan situasi, bisa jadi sih memang begitu kemungkinannya. Pasti nanti di akhir cerita ada keuntungan tersendiri Luke melakukan ini. Yah, kita lihat nanti deh.

Kembali ke Becky. Selama seminggu kedepan Luke terus mendiamkannya. Tidak mengacuhkannya.  Mereka bertengkar dan kini Becky merasa merana. Kalau pendapatku pribadi sih, biarin lah. Toh ini emang karena ulang Becky yang ceroboh, tanpa pikir panjang, egois, dan menyebalkan. Harusnya ia sudah bisa belajar banyak dari pengalaman-pengalamannya dulu yang terlilit utang dan sebagainya. Tapi ternyata nggak! Amit-amit deh ada orang begini menyebalkan. Ya ampun. Kenapa aku jadi kebawa emosi gini. Hha.. Maafkan aku 😉 Tapi kasihan juga melihat pernikahan mereka belum genap satu tahun namun sudah terlihat hancur. Huft. Semoga mereka yang sudah menikah dan sedang memulai kehidupan rumah tangga mereka mampu mengatasi hal-hal seperti ini dengan lebih baik 🙂

Akhirnya dia mendapatkan ide. Ia akan minta bantuan Jess. Ia akan minta maaf pada jess dan akan belajar dari Jess tentang cara berhemat dan menyelamatkan rumah tangganya. Segera, berangkatlah ia ke Cumbria, desa Jess, jauh di Utara Inggris dengan kereta api. Sesampainya disana, ia berkeliling desa dan menemukan rumah Jess. Namun yang mengecewakan Jess menolaknya dan mengusirnya. Belum lagi keadaan semakin parah dengan tingkah Becky di desa itu. Hmm, kalo menurutku sih sebenarnya penduduk desa tidak masalah dengan itu, namun tampaknya Jess terlalu kaku dan tegang, jadi ia selalu marah dengan apa yang dilakukan Becky. Puncaknya, Jess mengatakan sesuatu yang membuat Becky sedih dan memutuskan untuk pergi, tidak ingin mengenal Jess lebih jauh, karena kini ia menyadari bahwa ia memang terlahir sebagai anak tunggal dan akan tetap menjadi anak tunggal, tidak memiliki kakak seorangpun. Tapi sebelum pergi, ia dan Jim, pemilik toko di desa, pergi ke rumah Jess sementara Jess sedang pergi ke gunung. Di rumah inilah ia menemukan bukti (yang tidak otentik) bahwa Jess itu kakaknya. Ia pun nekat menyusul Jess, walaupun cuaca sedang buruk. Ia naik gunung yang lumayan terjal dan tiba-tiba hujan mendera. Padahal ia hanya mengenakan heels-nya bukan sepatu gunung yang wajar digunakan oleh para pedaki. Ampuun.. Tentu saja di tengah kesendirian dan kehujanan, ia tergelincir dan jatuh, tepat setelah menemukan Jess. Ia patah kaki di dua tempat, lecet dan lebam di beberapa tempat, dan dilanda pusing berat. Adoooh.. Untung kemudian Suze berhasil menemukannya dan Jess menggunakan helikopter Tarquin dengan bantuan tim evakuasi koneksi Tarquin, karena tim penyelamat yang ada lebih memilih untuk menunggu setelah badai reda, padahal Suze sudah sangat cemas.

Yah, untuk beberapa hari kemudian Becky harus tinggal di rumah Jess karena Luke masih tertahan di Cyprus. Untung ada Suze yang selalu menemani. Kini Becky dan Suze malah terlibat dengan kampanye penduduk desa untuk menentang pembangunan pusat perbelanjaan di salah satu tempat di desa itu. Karena tahu proyek itu bakal merusak alam, maka Becky pun menjadi pemimpin protes ini. Tapi saat hari-H, ia baru tahu kalau perusahaan yang akan dilawannya adalah Arcodas Group, partner kerja Luke yang baru. Astaga… Masalah nggak pernah kelar aja ni sama Becky. Belum lagi ternyata Luke sendiri yang datang ke sana sebagai perwakilan perusahaan untuk menghadapi protes. Dan tentu saja, Luke tidak tahu menahu kalau Becky yang menjadi pemimpin kelompok penentang itu. Ta daa..

Pendapatku mengenai buku kali ini sebenarnya cukup singkat. Aku sih suka ceritanya. Konflik yang disajikan cukup menarik. Juga bagaimana Sophie Kinsella menyelesaikan setiap masalahnya dengan singkat dan padat, seperti buku-buku Shopaholic sebelumnya. Hanya saja aku merasa sedikit bosan dengan sikap Becky. Itu saja. Hhe..

Ratingku buat novel ini : 7,4

 
Leave a comment

Posted by on August 14, 2011 in ChickLit

 

Shopaholic 3 – Shopaholic Ties The Knot


  • Pengarang        :    Sophie Kinsella
  • Genre               :    Drama
  • Tebal                :    576 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Gramedia
  • Harga               :    55.000 IDR
  • Pertama terbit   :    2002
  • Cetakan ke-4     :    Januari 2011
  • Tanggal Beli      :    17 Februari 2011

Hidup Becky Bloomwood sungguh mulus: dia punya pekerjaan yang menyenangkan, dia tinggal di apartemen Manhattan bersama pacarnya, Luke, dan mereka membuka rekening gabungan (walaupun belum sepakat apakah rok Miu Miu termasuk pos pengeluaran rumah tangga).

Kemudian Luke melamarnya! Dan hidup Becky jadi rumit lagi. Ibunya ingin mereka menikah di Inggris, mengenakan gaun pengantinnya dulu. Ibu Luke ingin mereka menikah di Plaza Hotel New York, dengan pesta mewah, kue pengantin hebat, dan kada-kado luar biasa.
Becky harus mengambil keputusan—tapi sulit sekali! Waktu terus berjalan, padahal ada dua rencana yang sedang digodok di dua negara. Becky pun menyadari dia punya masalah besar.

Review :

Kita sampai di buku ketiga dari Shopaholic Series. Yeii..!!

Kali ini, cerita diawali oleh Becky yang dengan susah payah ingin memasukkan lemari koktail 1930-an barunya ke dalam sebuah taksi hanya karena ia ingin sedikit menghemat biaya ongkos kirim. Jelas aja, soalnya sayang juga sih, toh rumah dia hanya di ujung jalan tapi ongkos kirimnya mahal banget. Tapi lucu juga, masa idenya pake taksi?? Terang aja gagal. Bahkan sang sopir taksi meninggalkannya begitu saja. Akhirnya ia menyerah dan memakai jasa layan antar itu. Ckck..

Anyway, Becky udah setahun tinggal di New York bersama Luke looh.. Di sebuah apartemen indah di West 11st Street. Di ceritakan malam hari itu mereka akan bersiap terbang kembali ke London untuk menghadiri pernikahan sahabatnya, Suze, dengan Tarquin! Alamak.. Jadinya mereka menikah?! Lucu juga ya nikah sama sepupu sendiri 🙂 Nah, disini kita dikenalkan dengan sosok Danny, tetangga Becky, yang juga seorang desainer baju. Bahkan gaun pendamping wanita Becky, Danny yang buat.. Tapi orangnya agak santai dan konyol dan bodoh menurutku. Apalagi saat membujuk Becky untuk segera menikah, di depan Luke pula..! Hhaha.. Tapi taulah, Becky orangnya gimana. Dia gampang membela diri namun biasanya malah menjerumuskan dirinya sendiri ke masalah yang lebih pekat. Yups, dia bilang pada Danny (di depan Luke juga) bahwa ia tidak ingin menikah dalam waktu dekat, setidaknya tidak dalam 10 tahun kedepan. Nah looh.. Gimana reaksi Luke?? Wajah dia mah pandai menyembunyikan suasana hati, tapi tingkah lakunya kadang menunjukkan dengan jelas apa yang terjadi padanya.

Esok harinya, mereka sudah tiba di London dan segera menuju Hampshire, ke rumah Suze, Harborough Hall. Kedua sahabat ini bersuka cita karena pertemuan mereka. Mereka menikmati hari yang mereka lewatkan bersama hingga pernikahan Suze menjelang. Astaga, rupanya Suze hamil! Tapi dia nanggapinnya dengan santai dan sejauh ini berhasil menyembunyikannya, bahkan dari orangtua dan Tarquin sendiri. Hha.. Aku masih geli lho, tahu Suze mau nikah sama Tarquin. Ya ampun, bahkan namanya bakalan nggak ada perubahan sama sekali, tetep Susan Cleath-Stuart. Ckck.. Tapi memang sudah jadi hal yang cukup umum sih nikah sama sepupu sendiri, tapi setidaknya di lingkunganku belum pernah nemuin yang begini. Hem, kayak cowok di dunia ini cuma sebatas keluarga sendiri aja. Pew.. Namanya cinta yaa.. nggak pandang bulu siapa orangnyaa..

Well, beginilah pernikahan ala bangsawan Skotlandia. Aku juga baru ingat kalau Suze dan Tarquin masih keturunan bangsawan. Makanya pernikahan ini sangat mewah, namun karena keluarga mereka sudah terbiasa mengadakan pesta, jadi persiapannya tidak perlu ambil pusing. Dan ohh.. Akhirnya Suze dan Tarquin resmi menjadi suami istri! Dan heiiii, Suze juga bertunangan dengan Luke!! Astaga..! Tanpa di duga lhoo.. Aku aja nggak nyangka. 😀 Manis banget.. Tanggal pernikahan pun sudah ditetapkan kemudian, yaitu 22 Juni yang artinya hanya beberapa bulan lagi sebelum keduanya menjadi suami istri. Ibu Becky dengan senang hati dan penuh semangat merencanakan pernikahan putri tunggalnya ini.

Tapi sayangnya lagi-lagi Elinor Sherman, ibu Luke, tidak meninggalkan kesan yang baik, kali ini di depan orang tua Becky. Di ceritakan kebetulan Elinor sedang singgah di London sebelum melanjutkan perjalanannya ke Swiss untuk operasi facelift nya. Namun di pertemuan makan siang itu, mereka hanya bertemu 12 menit sebelum kemudian Elinor pergi lagi. Ckck.. Nah, kembalinya Luke dan Becky ke New York, Becky terkejut saat Elinor ingin menemuinya. Ternyata Elinor memperkenalkan seorang wanita bernama Robyn de Bendern, ia adalah wedding planner. Rupanya tanpa sepengetahuan Becky, Elinor telah merencana pernikahan putranya ini di Plaza Hotel dengan segala kemewahannya. Ya ampun, bertolak belakang dengan rencana Ibu Becky, dan yang terpenting, di New York pula! Ia ingin menikah di kampung halamannya, di Oxshott. Ketegangan antara Becky dan Elinor semakin parah. Keduanya sama-sama keras kepala, dan sayangnya Luke pasti memihak ibunya. Tapi rupanya kunjungan singkat Becky ke Plaza Hotel membuatnya terpesona. Belum lagi Robyn terus-terusan memberinya laporan perkembangan persiapan pernikahan yang semakin hari semakin keren aja. Aku bisa ngebayangi kalau emang pernikahan kayak gini bener-bener terwujud, pasti sangat mewah, megah, dan.. wow! Mantaplah. Dan yang lebih ngeri, Elinor yang membiayai segala macamnya. Orang kayaaa..

Lalu gimana dengan keluarga Becky? Pernah Becky mencoba bicara pada ibunya melalui telepon, namun rupanya tidak berjalan lancar. Belum lagi ternyata sang ibu selama ini terus menerus menyiapkan pernikahannya. Lagi-lagi dilema dan membuatnya semakin merasa bersalah. Akhirnya dua persiapan pernikahan untuk hari yang sama, tanggal yang sama, namun di dua benua yang berbeda tetap berlanjut tanpa ada kepastian dari Becky mana yang akan ia pilih. Tapi Luke yang memasrahkan segalanya pada Becky membuatku takjub. Ia tidak mau bertengkar hanya karena tetek bengek pernikahan dan ia ingin Becky yang memilih karena ingin Becky bahagia. Ya ampun cowok ini, baiknyaa..

Becky pun meyakinkan diri bahwa seusai pesta pertunangannya, ia harus bisa memutuskan, dimana pernikahan ini akan diadakan. Ya, pesta pertunangan Becky dan Luke. Rupanya Elinor mengadakan sebuah pesta pertunangan buat mereka. Acara diadakan di apartemen mewah Elinor. Sayangnya dari semua undangan yang ada, tidak ada yang Becky kenal dengan baik kecuali Michael Ellis. Ia teman baik Becky dan rekan bisnis serta sahabat Luke. Kalau kalian ingat, di buku kedua, Michael cukup membantu Becky tentang banyak hal. Tapi nanti Michael dan Luke malah bertengkar hebat dan membuat Luke keluar dari ruangan. Ya Ampun.. Tapi hei, setidaknya Becky tidak sesendiri yang ia kira. Sahabatnya, Suze dan Tarquin, datang mengunjunginya. Belum lagi Danny, tetangganya yang desainer. Ia sangat bahagia setidaknya sahabatnya itu ada bersamanya.

Hari berikutnya, mereka berdua jalan-jalan untuk mencari gaun pengantin. Akhirnya Suze tahu mengenai rencana pernikahan Becky di New York dan ia marah sekali. Kenapa? Karena Suze sudah melihat sendiri bagaimana Ibu Becky menyiapkan segala macam untuk pernikahan Becky! Aku setuju sih sama Suze. Menurutku disini emang Becky keterlaluan. Dia bisa membuat Ibunya sedih banget kalau ia membatalkan pernikahannya di London. Apalagi alasan Becky semata karena segala kemewahan yang ditawarkan pesta New York. Ya ampun. Mengecewakan memang. Banget.. Yang lebih mengecewakan, walaupun akhirnya Becky sudah memutuskan akan menikah di London, ia terus menerus menunda untuk mengatakannya pada Elinor atau setidaknya Robyn, sehingga mereka bisa menghentikan usaha persiapan ini. Keseringan Becky menemukan alasan lain untuk menunda-nunda, tapi kemudian karena sebuah rasa gengsi terhadap Alicia Billington, ‘saingan’ dulu, ia berubah pikiran lagi. Buh.. Di buku kali ini kita bener-bener dihadapkan oleh sikap nggak tegas Becky yang menyebalkan ─aku aja sampai gondok banget sama dia. Bahkan agenda belanja yang di dua buku sebelumnya lumayan banyak, kali ini sedikit berkurang dan digantikan dengan segala macam tetek bengek persiapan pernikahan dan masalah batin yang melanda Luke. Kasihan sebenarnya si Luke ini. Walaupun caranya salah, tapi segala tindakan yang ia lakukan untuk Elinor terlihat jelas didasarkan atas rasa haus akan kasih sayang dan perhatian dari sang Ibu. Hew.. Inilah yang menimbulkan pertengkarannya dengan Michael dan beberapa hari kemudian Luke mendapat kabar mengenai serangan jantung Michael. Luke sangat hancur dan merasa bersalah. Belum lagi ditambah dengan masalah dengan ibunya. Pokoknya keadaan Luke sangat berantakan. Hhu..

Walaupun aku tidak begitu greget pada perjalanan panjang buku ini, setidaknya aku menyukai akhir ceritanya. Seperti biasa, Sophie Kinsella memberi akhir cerita yang ringkas, cepat dan tepat sebagai penyelesaian atas segala konflik yang disajikan. Walaupun sebenarnya dari awal aku udah menebak kalo solusi masalah-masalah Becky pasti begitu, yah, inti penyelesaiannya aja maksudku, kerana detail pelaksanaannya kan aku nggak mungkin setepat itu juga. Hhe.. Tapi senang juga karena setidaknya tebakanku benar 😀 Anyway, aku juga suka membaca surat-surat yang Becky dapatkan kali ini. Ada beberapa yang menurutku konyol banget. Hhe..

Ratingku buat novel ini : 7,6

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2011 in ChickLit

 

Shopaholic 2 – Shopaholic Abroad


  • Pengarang        :    Sophie Kinsella
  • Genre               :    Drama
  • Tebal                :    496 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Gramedia
  • Harga               :    49.000 IDR
  • Pertama terbit   :    3 September 2001
  • Cetakan ke-4     :    Januari 2011
  • Tanggal Beli      :    17 Februari 2011

Bagi Rebecca Bloomwood, hidup ini sunggup mudah. Ia muncul setiap pagi di TV, manajer banknya sangat baik hati, dan soal belanja, motonya adalah Hanya Beli Apa Yang Kauperlu – dan ia sungguh-sungguh mematuhinya!(Kira-kira begitulah). Dan hidupnya lebih sempurna ketika kekasihnya, Luke Brandon yang terkenal, menawarinya kesempatan untuk bekerja di New York.
Astaga, New York! Di sana kan ada banyak tempat belanja hebat seperti Saks atau Bloomingdale`s. Atau Barney`s. Dan obral-obral sampel misterius tempat kau bisa mendapatkan gaun Prada seharga seratus dolar, ya? Ha, rasanya dolar bukan uang sungguhan, rasanya seperti main monopoli.

Review :

Setelah memiliki pengalaman buruk yang menyangkut hutang, kini Rebecca Bloomwood yang bekerja di sebuah stasiun televisi dan membawakan acara Morning Coffe tentang bagaimana mengatur keuangan pribadi dan tetek bengeknya, mendapatkan pengawasan dari Suze, sahabat dan teman seapartemennya, dalam hal berbelanja. Hhe.. Lucu juga. Sekarang dia punya prinsip yang harus mati-matian ia pegang, yaitu hanya beli apa yang diperlukan. Baru bab awal aku baca buku ini aja uda dibuat nyengir. Becky benar-benar berusaha menahan nafsu belanjanya walaupun perasaan tergoda selalu membayanginya dan lagi-lagi ia selalu mendapat alasan untuk membeli suatu barang. Ya Ampunn..

Nah, kali ini cerita dibuka dengan Becky yang sedang kelimpungan menyiapkan barang bawaan yang akan ia bawa untuk berlibur tiga hari kesebuah penginapan di pedesaan bersama Luke Brandon, kekasihnya. Cuma tiga hari lho! Tapi dia menyiapkan barang bawaan seolah ia mau pergi berminggu-minggu. Ckck.. Padahal nanti Luke meninggalkan pesan bahwa ia harus membawa barang seminimal mungkin karena mereka tidak membawa mobil besar sehingga bagasinya hanya muat sedikit saja. Becky bingung, namun ia tidak habis akal. Ia punya ide, ia akan memakai jasa pengiriman barang untuk mengirimkan koper-kopernya ke tempat penginapan. Konyol kali.. Tapi itulah Becky, selalu berpikiran simpel tapi terlalu luas. Sayangnya, paket itu terlambat satu hari hingga membuat dia kelimpungan mencari pakaian yg bisa ia kenakan. Bodoh banget tingkahnya. Hha..

Nah, di hari pertama liburan mereka, Luke malah ada acara meeting dengan rekan bisnis di penginapan itu. Menyebalkan memang, liburan kok masih kerja.. Tapi apa boleh buat. Di buku ini sangat digambarkan bagaimana Luke sangat sibuk bekerja. Di penginapan itulah Becky bertemu Alicia Billington, seorang account executive di Brandon Communications, dan kurang lebih musuh Becky. Alicia selalu membuat Becky jengkel, tidak terkecuali kali ini. Alicia membocorkan bahwa Luke berencana untuk pindah ke New York, dan Becky sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana Luke ini! Antara marah dan tetap bersabar menunggu penjelasan Luke mengenai masalah ini.

Tom Webster, tetangga Becky dan teman masa kecil Becky, akan menikah dengan Lucy. Yang lucu, keluarga Webster beranggapan bahwa Becky mencintai Tom, padahal sama sekali tidak benar. Whahaha.. Itulah kenapa ia sangat ingin memperkenalkan Luke kepada tetangga-tetangganya. Ditambah lagi dengan mereka ―dan orang tuanya sendiri!― yang kurang percaya bahwa Becky berpacaran dengan seorang pengusaha kaya bernama luke Brandon yang sangat amat terkenal sehingga mungkin pikir mereka Becky tidaklah level dengan orang sekaliber Luke Brandon. Hal ini membuat perasaan Becky tidak nyaman dan sangat marah. Tapi kok Luke nggak datang-datang ya? Padahal acara pernikahan sudah lama dimulai. Waktu aku baca bagian ini, ya ampuun, aku kasian sama Becky, dan sebel sama Luke. Tapi setidaknya jangan membual gitu dong. Becky mengatakan pada orang-orang bahwa Luke ada di acara ini, akhirnya jadi kacau sendiri kan.. Semua orang semakin nggak percaya sama dia. Untung kemudian Luke bener-bener dateng. Bawa berita bahagia pula 🙂

Rupanya Luke harus pindah ke New York beneran. Dan Becky juga ikut! Yeii.. Bahagianya tu cewek.. Luke bahkan diam-diam sudah mengatur jadwal wawancara untuk Becky di stasiun TV Amerika. Nah, perjalanan selama dua minggu yang harus mereka jalani besok akan menjadi acara pemantapan buat mereka. Luke mengurus segala macam perjanjian bisnis sedangkan Becky melakukan beberapa pertemuan dengan stasiun TV. Dan kegiatan belanja tentu saja. Dan gila-gilaan! Ampun, aku aja ampe ngeri ngebayangin pengeluaran Becky dan bagaimana dia dengan santainya menanggapi segala macam tagihan. Ckck.. Nah, di sela-sela liburannya ini juga tar Becky bertemu dengan ibu kandung Luke, dan wew, sepertinya Becky tidak meninggalkan kesan yang baik padanya.

Disisi lain, ternyata Luke sangat kesulitan untuk mengatur segala macam perjanjian bisnisnya ini dan ia sangat bekerja keras untuk menunjukkan pada calon rekan bisnisnya bahwa ia mampu dan memegang kendali atas segalanya, baik itu kehidupan pribadi maupun bisnisnya. Disaat semuanya akan ditentukan dalam rapat yang akan ia hadiri, sebuah berita mengguncang datang. Masalah hutang Becky terekspos! Oh wow.. sangat-sangat memalukan. Dan jujur, waktu aku baca bagian ini, aku berpikir, tau rasa lah kamu. Siapa suruh sebegitu seenak hatinya aja. Keadaan Becky kacau. Bahkan ia putus sama Luke dan kehilangan pekerjaannya. Wew.. Gimanakah cara Becky untuk memperbaiki kondisinya? Tidak terduga sebenarnya, tapi juga tidak mengherankan. Satu hal yang pasti, film Confessions Of A Shopaholic rupanya mengambil cerita dari kedua novel pertama seri Shopaholic 🙂

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
Leave a comment

Posted by on July 8, 2011 in ChickLit

 

Shopaholic 1 – Confessions Of A Shopaholic


  • Pengarang        :    Sophie Kinsella
  • Genre               :    Drama
  • Tebal                :    472 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Gramedia
  • Harga               :    46.000 IDR
  • Pertama terbit   :    14 September 2000
  • Cetakan ke-7     :    Januari 2011
  • Tanggal Beli      :    17 Februari 2011

Rebecca Bloomwood adalah seorang jurnalis. Pekerjaannya menulis artikel tentang cara mengatur keuangan. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan… berbelanja.

Terapi belanja adalah jawaban untuk semua masalahnya. Namun belakangan Becky dikejar-kejar surat-surat tagihan. Ia tahu ia harus berhenti, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia mencoba mengurangi pengeluaran, mencoba memperbesar penghasilan, tapi tak ada yang berhasil. Satu-satunya penghiburan adalah membeli sesuatu… sesuatu untuk dirinya sendiri.
Akhirnya sebuah kisah mengusik hatinya dan menggugah rasa tanggung jawabnya, dan artikelnya di halaman depan menggulirkan rangkaian kejadian yang akan mengubah hidupnya-selamanya.

Review :

Oke.. Setelah sekian tahun aku nonton filmnya ―ehm, sebenarnya baru dua tahun yang lalu sih― akhirnya aku memutuskan buat beli box set nya Shopaholic yang terdiri dari 6 buku karangan Sophie Kinsella. Aku penasaran sama versi bukunya. Ditambah lagi dengan pengalamanku baca buku karangan Kinsella yang enak buat diikuti. Tidak terkecuali seri Shopaholic ini.

Awal cerita kita disuguhi oleh surat-surat penawaran dan tagihan yang ditujukan oleh Ms Rebecca Bloomwood. Lalu kemudian kita dihadapkan oleh kepanikan Rebecca alias Becky dalam menghadapi tagihan-tagihan ini. Ya ampun, konyol banget.. Yang lebih lucu, disaat dia sedang menghadapi krisis keuangan ini, dia tetap saja membelanjakan uangya yang ekstra mepet. Cerita ini diambil dari sudut pandang Becky si tokoh utama dan aku suka perdebatan batinnya. Diungkapkan dengan sangat lugas dan cerdik oleh si pengarang, Sophie Kinsella. Sangat menarik. Walaupun sejujurnya, kadang terasa berlebihan dan bikin jengkel 😉

Walaupun Becky bekerja di bidang keuangan, dia sangat payah dalam mengatur keuangannya sendiri. Waktu aku baca novel ini, aku kembali berfikir, apa emang gini ya barang-barang ―terutama aksesoris dan pakaian― di mata shopaholic?? Aku jadi ikut-ikutan membayangkan bahwa segala sesuatunya itu INDAH dan CANTIK. Belum lagi di cerita ini bakalan selalu berorientasi dengan merek dagang, walaupun nggak semua aku kenal dan aku juga nggak tahu merek itu emang asli adanya atau hanya karangan. Tapi aku beranggapan bahwa semua itu benar-benar real. Dunia fesyen memang ngeri.. bagi aku yang nggak begitu memperhatikan fesyen dan bukan pengikut tren fesyen.. hhehe..

Kembali ke Becky. Diceritakan bahwa Becky bekerja di sebuah majalah keuangan Successful Saving dan memiliki seorang bos bernama Philip dan sahabat bernama Suze ―yang sangat baik― yang tinggal bersamanya di Fulham dan Elly Granger yang bekerja di Investor’s Weekly News. Sesungguhnya apartemen itu milik Suze, hanya saja Becky tinggal bersamanya dan membayar uang sewa yang tidak seberapa dibandingkan harga pasaran sesungguhnya. Hari itu Becky sedang ada konflik mengenai surat tagihan, lalu Philip mengutusnya untuk menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh Brandon Communications ―sebuah perusahaan PR paling besar di London, dalam perjalanan Becky tergoda oleh kata SALE yang terpampang di jendela Denny and George, ia menemukan sebuah scarf yang selama ini ia idamkan juga masuk kategori SALE itu. Karena VISA-nya tertinggal di meja kantor, ia memohon pada pegawai toko agar scarf itu disimpankan hingga batas jam 6 sore nanti. Ia akhirnya pergi ke Brandon Communications lalu meminjam uang tunai pada temannya di tengah konferensi. Sayangnya suaranya terlampau keras sehingga seluruh peserta dapat mendengar suaranya. Bahkan Luke Brandon sang pemilik Brandon Comm pun mendengarnya. Akhirnya Luke meminjaminya 20 Pound setelah Becky mengaku ―namun boong― bahwa uang itu untuk membelikan bibinya yang sedang sakit sebuah hadiah. Alamak.. Padahal selama ini Becky tidak suka dengan Luke Brandon, apalagi dengan asistennya si Alicia. Namun malah Luke lah yang ‘menyelamatkannya’. Ckck.. Tapi eeh, waktu Becky baru keluar dari Denny and George, ia berpapasan dengan Luke. Aku ketawa waktu baca percakapan mereka.

“Sudah dapat?” katanya dengan dahi sedikit berkerut.
“Apa?”
“Kado untuk bibimu.”
“Oh yah,” ujarku, menelan ludah. “Ya, sudah… sudah kudapat.”
“Yang itu?” ia menunjuk kantongku dan pipiku mulai memerah.
“Ya,” kataku akhirnya. “Kupikir sebuah… sebuah syal pasti cocok.”
“Kau sangat murah hati. Denny and George.” Alisnya terangkat. “Bibimu pasti seorang wanita modis.”
“Memang.” ujarku, lalu berdeham. “Dia sangat kreatif dan istimewa.”
“Aku yakin begitu.” ujar Luke…
 

Ampun-ampun.. Bikin geli. Terutama saat nanti Becky memutuskan bahwa membeli lotere adalah solusi untuk masalah keungannya. Ia bahkan membeli 9 lotere! Aiih.. pikiran dangkal. Tapi dia bisa-bisanya membayangkan panjang lebar kali tinggi mengenai apa yang akan ia lakukan sebagai pemenang lotere. Ia bahkan membayangkan membeli rumah, membayar tagihan-tagihannya, dan yang terutama, berbelanja! Lucu banget membayangkan imajinasinya ini.. Apalagi entah kenapa ia sangat yakin bahwa ialah sang pemenang lotere. Ia pun sampai merenungkan apa yang harus ia lakukan saat si pembawa acara National Lottery mengumumkan bahwa ia pemenangnya. Apakah ia akan menjerit?? Atau apakah ia akan diam saja?? Ckck.. Bener-bener konyol.. Tapi udah ketebak kan gimana akhirnya? Jelas aja ia nggak menang. haha…

Kini muncul ide gila lain dari Becky. Ia akan mulai berhemat dan mengikuti semua saran dari buku David E. Barton tentang mengatur keuangan. Ia menahan diri buat belanja, makan diluar, pergi berlibur, dan selalu mencatat pengeluarannya setiap hari. Wow.. Ternyata ada juga ya orang yang sebegitu banyaknya pengeluaran dalam sehari walaupun menurutnya hanya beli barang-barang kecil. Aku juga jadi lebih yakin bahwa sebenarnya penawaran-penawaran di toko yang sering kita lihat seperti, diskon, beli ini gratis itu, beli ini dapat satu paket itu, kupon belanja, dll. Itu sungguh-sungguh penipuan. Ya ampun.. gila-gilaan benar ya dunia perdagangan itu. Buat yang emang nggak hobi belanja, atau pintar mengendalikan diri, atau juga yang tahu bahwa semua ini hanya siasat yang menyesatkan ―dan keseringan membuat kita terlena dan menyebabkan kita terus-terusan beli barang untuk mendapatkan kupon gratis dan sebagainya― sebenarnya sangatlah hebat. Namun sayangnya sang tokoh utama kita ini digambarkan sebagai sosok yang sangat ―sangat― doyan belanja dan walaupun berniat untuk berhemat, dia selalu menemukan alasan lain yang membuatnya dapat memiliki barang itu. Alasan yang kadang-kadang berlebihan. Akhirnya ia memutuskan bahwa Kurangi Belanja bukanlah solusi yang tepat buat dia. Kini pilihannya hanya tinggal Perbesar Penghasilan dan dia tahu-tahu sudah mendapatkan ide, ia akan menjadi jurnalis freelance. Itulah kenapa ia harus mencari koneksi seluas-luasnya.

Di sebuah acara konferensi pers tentang peluncuran dana pensiun oleh Sacrum Asset Management, ia berkenalan dengan Eric Foreman dari Daily World. Rupanya Eric yang duduk tepat disebelahnya ini membuat suatu kekacauan melalui pertanyaan-pertanyaan kritis pada Sacrum Management, yang membuat mereka mati kutu, lalu pergi begitu saja dari depan umum. Wow.. Waktu aku baca bagian ini aku sampai nyengir.. berani bener ya para jurnalis itu. Keren 😀

Dan heii, Becky dapat kerja paruh waktu tiap hari sabtu sebagai asisten sales di toko pakaian Ally Smith! Menurutnya yang penting ia dapat diskon belanja dan dia beranggapan bahwa ia akan mendapat bayaran selagi berbelanja. Ckck.. Cewek ini pikirannya simpel tapi implikasinya rumit.. Aku suka karakter gini.. Tapi rupanya ia sudah dipecat padahal ia belum gelap menyelesaikan shift kerja hari pertamanya. Edan..

Ide lainnya, ia ingin menjadi broker keuangan dan mendatangi firma head-hunter untuk mencari lowongan kerjaan. Sayangnya ia sangat berlebihan dalam menulis CV. Ia mengaku fasih berbahasa Finlandia. Jelas aja waktu ia ada wawancara dengan calon bos Finland nya, ia nggak bisa jawab dan malah lari meninggalkan ruangan. Heu.. Di luar gedung, ia bertemu Luke Brandon dan cowok itu meminta bantuannya untuk memilihkan kopor. Becky pun sangat senang karena setelah itu Luke juga mengajaknya makan siang. Hatinya mulai melambung dan beranggapan bahwa Luke memiliki perasaan padanya. Tapi ternyata dengan entengnya Luke berkata bahwa kopor itu akan ia hadiahkan kepada pacarnya, Sacha. Becky kecewa setengah mati lalu pergi sebelum makan malamnya datang.

Di apartemen, Becky membaca majalah  Suze yang ada artikel tentang Seratus Bujangan Terkaya di London. Ia nggak heran membaca nama Luke Brandon sebagai lelaki terkaya ke 31 dimana juga disebutkan tentang kekasihnya, Sacha de Bonneville, putri seorang multimilyuner Prancis. Ia masa bodoh dengan informasi ini dan tetap membaca nama orang-orang lain yang masuh daftar. Saat matanya berhenti di nama Tarquin Cleath-Stuart, ia syok. Rupanya ini Tarquin yang sama dengan Tarquin sepupu Suze, Tarquin yang sama yang diam-diam naksir Becky, dan Tarquin yang sama yang mengajaknya berkencan malam besoknya dan ia menyetujuinya hanya karena ia tidak tega mengecewakan Suze. Tarquin yang sama yang Becky mati-matian hindari. Ya ampun.. Dan Tarquin adalah Bujangan terkaya ke 15! Haha.. Taulah kemudian gimana. Becky berusaha tampil cantik dan terlihat seolah senang berkencan dengan Tarquin. Namun diluar imajinasi liarnya, ternyata Tarquin hanya mengajak Becky makan di Pizza Express dan saat Tarquin sedang ijin ke kamar kecil, Becky membaca buku cek Tarquin yang tergeletak di meja. Tapiii, rupanya Tarquin melihatnya dari jauh dan itu membuat Becky merasa tidak enak. Akhirnya makan malam pun berakhir dengan canggung. Haduh.. kasihan Tarquin.. Ia menganggap bahwa Becky telah menolaknya karena melihat gelagat Becky yang tidak nyaman selama makan malam itu. Suze pun sedikit kecewa karena Becky telah mengecewakan sepupu tersayangnya.

Hari berikutnya, Becky pergi berbelanja untuk menghilangkan perasaannya yang campur aduk. Namun ternyata entah kenapa prosesi ini tidak bisa mengembalikan mood-nya. Yang lebih parah, saat akan membayar, semua kartu kreditnya telah dibekukan dan ia harus menanggung malu di depan banyak orang. Wow.. Rupanya ini sedang masa-masa kelam Becky. Walaupun karakternya yang tidak bisa menahan diri sering membuatku sebal, toh aku juga kasihan karena sifatnya ini. Ia jadi sering terlibat kesulitan karenanya. Yang jelas, aku baca novel ini membuatku berpikir, “banyak kah orang-orang seperti Becky di luar sana?” Yah, sebetulnya nggak usah jauh-jauh. Setidaknya aku punya teman yang kurang lebih kayak Becky gini, sifat shopaholicnya maksudku. Tapi dia memang dari keluarga yang berada. Kalau ia memang mampu dalam hal finansial, tidak masalah memang. Tapi kalau orang itu ―yang punya kecenderungan shopaholic― kesulitan dalam keuangan namun tetap berbelanja, itu kebangetan namanya. Setidaknya kita harus menyadari lah bagaimana kondisi keuangan kita sendiri. Jadilah orang yang bijak 🙂 Ceileh, kok aku jadi ada curhatnya gini.. Tapi nggak papa, sekali-kali deh..

Oia, mengenai novel ini, secara keseluruhan memang menarik dan enak buat diikuti walaupun jangan heran kalau ada saat nanti kamu dibuat jengkel dengan ulah Becky 😀

Oke, sekarang kita bahas mengenai filmnya yaa.. Seperti yang kita tahu, buku ini sudah difilmkan dengan judul yang sama, yaitu Confessions Of A Shopaholic. Di Indonesia film ini di release pada tanggal 11 Maret 2009. Film yang berdurasi 104 menit ini diproduksi oleh Touchstone Pictures dan Jerry Bruckheimer Films dengan Isla Fisher dan Hugh Dancy sebagai dua tokoh utamanya dan Krysten Ritter, Leslie Bibb, Robert Stanton, dan Nick Cornish sebagai para pemeran pendukung.

Isla Fisher yang berperan sebagai Rebecca Bloomwood pernah ambil bagian dalam film Wedding Crashers, Wedding Daze, dan Definitely, Maybe dan akhir-akhir ini ia terlibat dalam film Rango sebagai pengisi suara karakter Beans. Hugh Dancy berperan sebagai Luke Brandon. Lelaki tampan ini pernah membintangi beberapa film diantaranya adalah Black Hawk Down, Ella Enchanted, King Arthur dan Blood And Chocolate.

  

Krysten Ritter yang berperan sebagai sahabat Becky, Suze, ini juga pernah membintangi beberapa film, diantaranya 27 Dresses dan What Happens In Vegas. Sedangkan Leslie Bibb kebagian peran sebagai Alicia Billington, sang sekretaris yang gaya. Bibb membintangi Christine Everhart di dua film Iron Man. Untuk Robert Stanton, ia adalah pemeran Derek Smeath. Stanton ini sebagai besar hanya berperan sebagai tokoh pembantu seperti di Merkury Rising dan Arthur and the Revenge of Maltazard. Namun di film ini, menurutku tokoh ini cukup penting karena dialah sang penagih utang yang terus-terusan membayangi dan menimbulkan ketakutan Becky si tokoh utama. Tokoh terakhir yang menurutku penting adalah Tarquin yang diperankan oleh Nick Cornish. Namun sayangnya tokoh ini berbeda peran antara di film dan bukunya.

Secara keseluruhan aja ya, antara film dan novelnya sangat jauh berbeda jalan ceritanya walaupun intinya masih sama, Rebecca hobby belanja, trus butuh pemasukan lebih banyak, trus dia nyari kerjaan lain, trus dikejar-kejar sama Derek Smeath trus akhirnya jadi terkenal dan masuk TV walaupun, ya ampunn, bedanya hampir di keseluruhan cerita. Kalau di film kan Becky kenalan sama Luke saat ia wawancara kerja, tapi kalau di buku mereka sudah saling kenal dari awal. Belum lagi dari awal cerita, kalau di buku, Becky memang sudah kerja di Successful Saving, tapi kalau di film ia harus wawancara kerja dulu baru masuk perusahaan ini. Selain itu, tokoh Tarquin kalo di buku pertama seri Shopaholic ini adalah sepupu Suze, sedangkan kalo di filmnya, Tarquin adalah pacar Suze! Yah, pokoknya niih, kalau aku disuru ngebandingin antara dua versi Confessions Of A Shopaholic ini, ampuun, nyerah aku. Kenapa? Karena memang dua versi ini jalan ceritanya udah beda banget! Ckck..

COVER BARU (NC)

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
2 Comments

Posted by on July 1, 2011 in ChickLit