RSS

The Earthsea Cycle 3 ─ The Farthest Shore

07 Jun

  • Pengarang               :    Ursula K. Le Guin
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    372 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Media Klasik Fantasi (a division of Mahda Books)
  • Harga                      :    54.800 IDR
  • Pertama terbit          :    1972
  • Cetakan                   :    Agustus 2011
  • Tanggal Beli             :    29 September 2011

Sihir menghilang dari dunia. Para magi di seluruh penjuru Earthsea melupakan mantra mereka, mata air sihir terus mengering. Ged, sang Penakluk Naga dan Archmage, berangkat bersama Arren, seorang pangeran muda keturunan bangsawan, untuk mencari sumber kegelapan. Dalam perjalanannya Ged menemukan lebih banyak masalah; Naga-naga yang saling menyerang dan tempat ajaib yang mengerikan. Mampukah Ged menyembuhkan sebuah daratan yang terluka?

Review :

Kembali kita berjumpa dengan novel karya Ursula K. Le Guin, berisi tentang dunia imajinatif yang sangat mengagumkan, dan disajikan dengan selipan kata-kata bijak yang sangat mengambarkan kehidupan. Setelah melewati buku pertama dan kedua, tidak akan menyesal setelah membaca yang ketiga.

Buku The Earthsea Cycle 3 ─ The Farthest Shore ini dimulai oleh Ged alias Sparrowhawk ─Sang Archmage─ yang melakukan percakapan dengan seorang anak laki-laki putra Pangeran Enlad dan Enlades, pewaris Kerajaan Morred,  bernama Arren, yang datang ke Roke untuk meminta bimbingan. Aku baru baca bagian awal ini saja suda merasakan ketenangannya. Khas kali saat membaca novel ini, karena percakapan yang dilakukan sangatlah santai, tenang, dan berwibawa.

Arren membawa berita menyedihkan bahwa bangsa Barat, di pulau Narveduen, sudah tidak ada sihir lagi. Mantra tidak lagi memiliki kekuatan, dan kata-kata sihir telah dilupakan. Kemudian di pulaunya sendiri, di Enlad, sang ayah menunjuk seorang ahli sihir untuk merapalkan mantra peningkatan jumlah domba. Namun ternyata sang penyihir tidak mampu karena lupa akan kata-kata dan pola mantranya. Lalu ayah Arren pun mengambil alih, namun ternyata beliau merasakan keraguan, bahwa ia memang mengucapkan kata-kata mantranya, hanya saja ia tidak mengerti maknanya. Kemudian terbukti, musim semi berikutnya kawanan domba di Enlad bermasalah, entah induknya yang mati, atau bayi domba lahir tak bernyawa, atau bahkan lahir cacat. Lalu ada kabar angin dari perbukitan, bahwa semua penyihir wanita yang membaca nasib melalui asap dan genangan air melihat kesialan, dan ramuan cinta mereka gagal.

Karena berita-berita inilah Ged memutuskan mengundang para petinggi Roke untuk mengadakan pertemuan. Namun dari hasil pertemuan ini tidak ada sebuah kesepakatan yang pasti. Bahkan kemudian Ged menyatakan bahwa ia akan mengadakan perjalanan untuk mencari tahu penyebab hilangnya sihir di beberapa daerah. Untuk perjalanan ini, Ged memilih Arren sebagai teman perjalanannya.

Segera, keesokan harinya Ged dan Arren meninggalkan Roke. Mereka mengadakan perjalanan laut yang cukup lama. Selama terombang-ambing di laut inilah Arren mulai mengenal sosok Sparrowhawk. Tujuan pertama mereka adalah Hort. Hort merupakan salah satu dari Tujuh Pelabuhan Besar di Kepulauan. Dalam perjalanan ini Sparrowhawk harus menyamar sebagai Paman Hawk yang sedang berlayar bersama keponakannya, Arren. Orang yang mereka temui di Hort adalah seorang sorcerer cacat bernama Hare yang tidak lagi merapalkan mantra karena pernah mengalami kegagalan dalam merapalkannya. Kini Hare hanyalah seorang pria yang hidup dari belas kasihan dan sangat kecanduan hazia (kalau di kehidupan kita, mungkin semacam narkoba :P). Namun akhirnya Sparrowhawk berhasil membuat Hare menceritakan hal yang menimpa dirinya, kenapa ia bisa kehilangan keahlian dan bahasa yang digunakan dalam keahliannya itu.

Malam harinya, terjadi petaka, Arren diculik oleh para penjual budak dan menjadi tawanan dalam kapal budak untuk kemudian di jual. Cukup lama Arren terombang-ambing di laut bersama tawanan budak lainnya sebelum akhirnya Sparrowhawk berhasil menyusul kapal tersebut dan menyelamatkan Arren. Berhari-hari kemudian mereka berdua kembali melanjutkan perjalanannya. Peristiwa penangkapan dirinya membuat Arren beberapa kali mengalami mimpi buruk.

Tujuan mereka berikutnya adalah Lorbanery, sebuah pulau yang termasuk kaya untuk ukuran pulau di Tepi Selatan. Kali ini Sparrowhawk mengaku dirinya berada di Tepi Selatan untuk berburu emmelstone, namun ia tidak menyamarkan diri maupun rekan seperjalanannya. Disini, ia bertemu dengan seorang wanita tua yang juga kehilangan kekuatan dan keahliannya. Kemudian, Sparrowhawk melakukan sesuatu pada wanita tua tersebut yang menyebabkan si wanita dapat hidup lebih tenang. Namun gantian seorang lelaki yang menemuinya. Lelaki gila tersebut bernama Sopli dan ia adalah anak dari di wanita tua yang sebelumnya di temui Sparrowhawk dan Arren. Sopli meminta Sparrowhawk mengijinkannya ikut dalam perjalanan lautnya, dan Sparrowhawk memperbolehkannya. Arren lah yang kesal karena ia merasa terabaikan, pendapatnya tidak dianggap oleh Sparrowhawk.

Berhari-hari kemudian, dalam perjalanan laut mereka, Arren lebih banyak diam. Disini lah terjadi banyak ungkapan batin Arren mengenai rasa kesalnya yang lama-lama berubah menjadi kebimbangan akan keputusannya dahulu, apakah salah ia ikut dalam perjalanan ini, padahal bisa saja ia hidup tenang dan bersantai di istananya. Perasaan kesal Arren terhadap Sparrowhawk dilengkapi oleh rasa bencinya pada Sopli yang terus-terusan menunduk di sudut perahu. Sopli takut laut. Namun kemudian, Arren mulai membuka diri dan mengobrol dengan Sopli, si Lelaki Gila. Entah kenapa, seolah Sopli berhasil menghasutnya karena Arren makin tidak mempercayai Sparrowhawk.

Suatu hari, mereka menemukan daratan, Pulau Obehol. Persediaan air minum mereka menipis dan mereka harus menepi. Tapi sayang, saat mereka berusaha merapat di sebuah teluk, mereka diserang oleh lemparan tombak. Terpaksa mereka kembali ke arah laut. Ternyata Sopli sudah tidak di atas perahu dan Sparrowhawk terkena salah satu tombak di pundaknya. Kini, tanpa sihir yang membantu pelayaran perahu dan persediaan air yang menipis, serta Arren yang kelelahan karena harus mendayung dan merawat Sparrowhawk, mulai putus asa. Ia tertidur, pingsan. Karena dehidrasi.

Saat terbangun, terdapat serombongan orang yang memberinya air. Ia minum dengan lahap. Di sekitarnya, terdapat begitu banyak rakit yang mengapung bagaikan dedaunan musim gugur yang tergeletak di atas sebuah kolam. Yang keren, rakit-rakit ini bukan sekedar rakit biasa. Ini rakit besar yang terdapat bagian tenda untuk tempat tinggal. Saat Arren sudah memiliki cukup tenaga, ia mencari Sparrowhawk. Ia ditemani oleh pemandunya yang berbadan kecil dan berumur tidak lebih dari dua belas tahun. Arren menemukan Sparrowhawk terbaring di sebuah rakit yang lebih besar dari rakit yang ia singgahi. Kemudian Arren juga berbincang dengan pemipin kawanan ini. Kemudian ia tahu bahwa orang-orang ini tidak berasal dari daratan manapun karena mereka menyebut diri mereka Anak-Anak Laut Lepas. Untuk waktu yang cukup lama, Arren bersenang-senang dengan para Manusia Rakit. Disini hampir sebagian besar mereka adalah anak-anak karena mereka menikah di usia yang sangat dini. Di bagian bab ini kalian akan mendapatkan penjelasan yang cukup menarik mengenai kehidupan Anak-Anak Laut Lepas. Keren😉

Setelah cukup lama waktu berselang, akhirnya Arren di panggil kembali ke rakit sang kepala suku dan bertemu dengan Sparrowhawk yang sudah jauh lebih sehat. Sebelum mereka pergi, mereka mengikuti acara Tarian Panjang yang diadakan di rakit-rakit tersebut. Lalu, keesokan harinya datanglah naga yang memberitahukan sesuatu yang genting pada Sparrowhawk dan memaksa dirinya dan Arren segera bergegas pergi dan mengikuti jejak sang naga.

Kemudian, sesuatu yang jarang terjadi, cerita berpindah setting. Kini cerita beralih pada kehidupan di pulau Roke, di Asrama Besar, dimana para Master dan muridnya sedang mengalami goncangan batin. Dua Master Roke menghilang dan para murid mulai meragukan alasan mereka berada di sini. Mereka mulai tidak mempercayai ilmu yang sedang mereka pelajari. Bahkan Master Perapal pun tiba-tiba tidak mengerti arti dari lagu yang ia ajarkan pada para muridnya. Well, seolah wabah ini telah berhasil memasuki pertahanan Roke dan ini sangat membahayakan karena di tempat sihir sangat kuat pun bisa terjadi kekacauan.

Kembali pada Sparrowhawk dan Arren yang berhasil mencapai pulau penuh naga yang biasa disebut Pelarian Naga. Tidak berbeda dengan kehidupan manusia yang mulai kacau, kehidupan naga pun juga jadi lebih mengerikan. Setelah mendapatkan petunjuk singkat dari seekor naga, Sparrowhawk dan Arren melanjutkan perjalanan lagi ke Utara, ke arah Selidor, pulau terakhir di dunia. Dan sampai disini, akupun masih tidak mengerti apa yang sesungguhnya Sparrowhawk dan Arren cari. Hadeh -.-a

Sesungguhnya guys, aku kurang pintar memahami buku yang seolah penuh filsafat seperti ini. Hhaha.. Ceritanya sangat halus, penuh perbincangan bermakna ganda. Tipikal novel jaman dahulu, dengan bahasa formal dan kaku. Buat aku pribadi sih novel ini memang menarik, perjalanan yang dilalui terasa sangat panjang, namun jujur, novel ini bisa jadi sangat membosankan, rasanya ingin cepet-cepet kulewati bagian itu. Tapi ngga masalah, ngga semua bagian membosankan kok. Saat aku tiba di akhir cerita, aku suka dengan penutupannya. Dan buat kalian yang memang suka novel seperti ini, kurasa kalian bisa coba membacanya. Hanya saja, novel ini ngga ada romantisnya sama sekali karena memang, novel ini bukanlah novel romansa😛

Ratingku buat novel ini : 7,4

 
3 Comments

Posted by on June 7, 2012 in Young-Adult

 

3 responses to “The Earthsea Cycle 3 ─ The Farthest Shore

  1. Dion Yulianto

    June 7, 2012 at 11:13 am

    hehe bacanya memang kudu sabar, banyak hal-hal yang tersirat memang, aku saja baca buku kedua sampai mau kubanting karena ini ceritanya datarrrrrrrrrrrrrrr dan lambatttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt hehe tp overall seri ini bagus dan masuk klasik, tp klo bg para penggemar kisah petualangan yang serba heboh, kayaknya kurang cocok

     
    • koleksinovelku

      June 7, 2012 at 5:29 pm

      SETUJUuu! hhahaha.. makanya seri pertama ma keduanya blum q review ulang ni😛

       
  2. just coment

    June 7, 2012 at 6:49 pm

    ^_^

     

you have a comment? just write here and post it ^^,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: