RSS

Lumatere Chronicles 1 – Finnikin of the Rock

26 Sep

  • Pengarang               :    Melina Marchetta
  • Genre                      :    Fantasy
  • Tebal                       :    580 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Ufuk
  • Harga                      :    79.900 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan                   :    Juli 2011
  • Tanggal Beli             :    5 September 2011

Finnikin dan pembimbingnya, Sir Topher, sudah sepuluh tahun tidak pulang ke Lumatere yang sekian lama diselimuti kutukan dan pembantaian. Sepupu Raja yang kejam telah menyatakan dirinya sendiri sebagai penguasa baru. Suatu hari, Finnikin mendapat perintah untuk bertemu dengan Evanjalin, seorang perempuan muda yang menyatakan kalau Pangeran Balthazar, sang pewaris takhta Lumatere, masih hidup. Evanjalin harus pulang ke Lumatere karena dialah satu-satunya orang yang bisa membawa mereka kepada sang pewaris takhta.

Dalam perjalanan mereka menuju Lumatere, Finnikin terpesona oleh semangat dan keangkuhan perempuan itu. Lalu, mampukah mereka membebaskan Pangeran Balthazar dan orang-orang yang terperangkap di dalam kerajaan itu? Dan, mampukah Finnikin melepaskan ayahnya yang telah dijebloskan ke penjara dan mengembalikan kedamaian di negerinya?

Review :

Jujur, hal pertama dari novel ini yang menarik perhatianku adalah covernya. Ku pikir, wah, cakep ni cowok. Hhaha.. Barulah aku baca sinopsisnya, dan aku cukup tertarik. Akhirnya masuk wistlistku deh. Baru beberapa minggu kemudian keturutan beli😛

Konyol memang. Tapi waktu pertama buka buku ini buat aku baca, aku membalik halamannya dengan  perlahan. Tiap halaman aku cermati. Di lembar pertama, kita ketemu sama foto si cowok cakep lagi, mirip dengan cover depan😛 Baru di lembar ketiga kita menemukan sebuah puisi ─atau lirik lagu?─ yang berjudul If This Is A Man karya Primo Levi. Saat kita balik halamannya lagi, kita menemukan sebuah peta SKULDENORE secara umum dan peta LUMATERE secara khusus. Nah, disini lagi-lagi aku berhenti buat mencermatinya. Hhe.. Aku paling suka sih kalo ada novel yang disertai gambar peta, seperti seri Inheritance-Eragon ataupun The Lord Of The Rings😀

Untuk prolog buku ini merupakan sebuah cerita singkat tentang masa kecil dari Finnikin of the Rock beserta kedua sahabatnya, Pangeran Balthazar dan Lucian of the Monts. Tentang mimpi Finnikin yang tak terlupakan, bahwa dia akan mengorbankan nyawa demi menyelamatkan istana kerajaan Lumatere.

Hingga kemudian terjadilah lima hari nestapa yang tak terperikan, ketika keluarga kerajaan terbantai, ketika sepupu raja terdahulu masuk ke kerajaan dan membakar Penghuni Hutan di rumah mereka, ketika Kapten Pasukan Keamanan Trevanion, ayah Finnikin, ditangkap atas tuduhan berkhianat dan dijebloskan ke sebuah penjara di luar kerajaan, ketika Lady Beatriss, ibu tiri Finnikin, meninggal saat melahirkan bayinya di sel bawah tanah istana, dan ketika Seranonna, seorang pemuka Penghuni Hutan, meneriakkan kutukan berdarah saat dipanggang hidup-hidup di tiang hukuman.

Sepuluh tahun kemudian, Finnikin dan pembimbingnya, Sir Topher ─yang dulu adalah Tangan Kanan Raja─ dalam perjalanan kembali ke Lumatere setelah Finnikin terus bermimpi tentang Balthazar. Namun tidak secepat dan semudah itu. Mereka pergi ke biara Sendecane yang terpencil dimana mereka menemui seorang pendeta wanita Lagrami yang dipanggil Sir Topher dengan sebutan Kiria. Pendeta ini memperkenalkan mereka kepada seorang pendeta wanita muda bernama Evanjalin yang memiliki kemampuan istimewa, yaitu masuk ke mimpi orang lain dan dalam hal ini Evanjalin masuk ke dalam mimpi sang pewaris tahta yang hilang, Pangeran Balthazar.

Sang pendeta meminta Finnikin dan pembimbingnya untuk membawa Evanjalin ke Sorel ─yang terkenal sebagai tempat yang kejam hingga Finnikin sendiri berpikir lebih baik membawa gadis ini ke neraka daripada ke Sorel─ untuk mendapatkan jawaban tentang sang pewaris tahta yang hilang. Finnikin tentu saja jengkel karena ini bukan rencana mereka untuk kembali ke Lumatere. Apalagi ia sangat meragukan ‘kemampuan’ gadis ini. Tapi ia harus menggigit lidahnya agar tidak melontarkan pendapat sarkastisnya dan membuat gurunya marah.

Berhari-hari mereka dalam perjalanan, Evanjalin terus membisu. Ia memang sudah bersumpah tidak akan bicara lagi untuk menghukum diri karena ia telah melanggar sebuah sumpah sebelumnya. Kini mereka tiba di Sarnak dan menuju Charyn.

Di Sarnak, Evanjalin di rampok. Saat ia dan Finnikin hampir terhimpit, Evanjalin memperlihatkan aksinya, bertarung menggunakan pedang. Melihat pertarungan Evanjalin, Finnikin pun semakin yakin bahwa gadis ini bukan gadis biarawati biasa yang sedang menjalankan sumpah untuk membisu. Karena Evanjalin kehilangan sebuah cincin yang tampaknya sangat berharga, ia pun mencari-cari si pencuri dan berhasil menemukannya. Disini aku cukup geli dengan Finnikin karena ia sungguh-sungguh berusaha menahan amarah dan rasa jengkelnya terhadap Evanjalin. Selain itu, terkadang Finnikin dan Sir Topher juga melontarkan lelucon sarkastis yang bikin aku mendengus geli. Hhihi..

Karena sikap si pencuri yang menyebalkan dan kemungkinan besar akan menjual informasi tentang Finnikin pada siapapun yang membayarnya dengan mahal, maka Finnikin dan Sir Topher terpaksa membawa pemuda pembangkang itu bersama mereka hingga ke Sorel, dan tentu saja, akhirnya pemuda ini pun mulai terlihat ketakutan setelah tahu dirinya akan dibawa pergi ke Sorel.

Kemudian mereka tiba di Charyn. Mereka menyusuri salah satu sungai di Charyn dan empat hari kemudian mereka menemukan kemah-kemah pengungsi Lumatere. Mereka di sambut hangat oleh para pengungsi. Tampaknya kehidupan lima puluh pengungsi di kemah ini selama sepuluh tahun belakangan mulai berkembang. Kini mereka hidup berkecukupan. Di perkemahan ini, Finnikin pun menjadi seorang pencerita yang menceritakan kembali kisah cinta Kapten Trevanion dan Lady Beatriss yang terkenal. Banyak warga yang suka dengan kisah ini. Bagi mereka yang sudah tua, kisah ini merupakan campuran antara kenangan indah dan kesedihan karena ingat bahwa mereka telah kehilangan dunia yang dulu mereka miliki.

Perjalanan pun berlanjut. Namun Finnikin dan Evanjalin sempat memisahkan diri dari Sir Topher dan tahanan mereka. Finnikin dan Evanjalin harus mengunjungi seorang pejabat Lumatere yang sekarang bekerja pada Raja Belegonia, di Belegonia. Pejabat itu bernama Lord August. Yang membuat Finnikin marah, disini Evanjalin akhirnya membuka mulut dan berbicara dengan bahasa Lumatere dan Belegonia sama lancarnya dengan dirinya. Evanjalin berkata bahwa Raja gadungan yang sekarang memimpin Lumatere hanya batu loncatan bagi kerajaan Charyn yang licik untuk merebut Belegonia.

Setelah berkumpul lagi dengan Sir Topher, Finnikin menumpahkan kekesalannya. Namun sejak itu, entah kenapa ia merindukan suara Evanjalin, terutama saat ia berbicara dengan bahasa Lumatere yang ia rindukan.

Mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di Sorel yang suram.Di perkemahan, mereka di datangi oleh lima prajurit dan mereka menanyakan “mana penghianat yang mengaku-ngaku sebagai pangeran Lumatere yang telah mati?” dan yang paling membuat Finnikin bingung dan merasakan darahnya berhenti mengalir adalah saat biarawati itu mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya pada Finnikin. Ya ampun.. Penghianat..

Lalu cerita beralih ke sebuah penjara di bawah pertambangan Sorel. Seorang lelaki kekar dan bisa jadi buas saat ada yang memancing amarahnya, namun tidak pernah membuka mulut untuk berbicara, menjadi sorotan utama. Datang para sipir yang membawa seorang tahanan baru yang masih muda. Penjara ini memiliki tradisi pertarungan antar-tahanan untuk memperebutkan tahanan baru dimana pemenangnya bisa memperbudak pendatang baru ini.

Malam itu, si lelaki yang ternyata adalah Kapten Trevanion ini mendapat kunjungan dari Evanjalin. Evanjalin memberi instruksi-instruksi kepada Kapten untuk melarikan diri dari tambang, dan kemana lelaki itu harus pergi. Kemudian saat Evanjalin mengatakan bahwa tahanan baru itu adalah putra dari sang Kapten, Kapten pun langsung marah. Mau nggak mau ia harus ikut pertarungan itu untuk menyelamatkan putranya.

Hampir dua minggu Finnikin dan ayahnya mempersiapkan pelarian mereka, dan waktu yang sama bagi Evanjalin dan Sir Topher yang menunggu mereka di sebuah pondok, tempat mereka akan berkumpul. Wah, pelarian yang berbahaya. Tapi yang terpenting, aku suka dengan bagaimana hubungan ayah-anak ini digambarkan. Sang ayah yang terlalu berusaha melindungi anaknya dan anaknya yang kesal karena diperlakukan seperti anak kecil. Hhehe.. Manis🙂

Akhirnya mereka berhasil bertemu lagi. Bahkan kini Evanjalin kembali mendapatkan cincinnya yang hilang dan si pencuri ─yang kemudian diketahui bernama Froi─ kembali setelah sebelumnya sempat menjual si pencuri pada pedagang budak. Kemudian, Evanjalin membawa mereka pada sebuah kelompok pengungsi yang kondisinya sangat mengenaskan. Melihat Sir Topher ─sang Tangan Kanan Raja─ dan Kapten Trevanion ─sang Kapten Pasukan Keamanan─ menimbulkan secercah harapan dalam mata para pengungsi. Heuu.. Kasian kondisi mereka😦

Rombongan kecil ini juga menemui seorang Pendeta Kerajaan Lumatere yang masih hidup dan mengabdi dengan merawat para pengungsi yang sakit di satu tempat dan tempat lainnya. Disini, tiga petinggi kerajaan ini berkumpul dan melakukan diskusi. Sayangnya Trevanion masih saja tidak mempercayai Evanjalin, bahkan ingin mengingkari keberadaan gadis itu. Namun apa yang kemudian di lakukan Evanjalin membuat lelaki itu mengambil keputusan sebaliknya. Dan ini jelas membuat Evanjalin sangat bahagia, bahkan hampir ia memeluk Trevanion karena saking senangnya.

Empat hari kemudian mereka memulai perjalanan. Rombongan para pengungsi dan Pendeta pergi ke Belegonia di Barat sedangkan rombongan Finnikin pergi ke Selatan untuk mencari anak buah Trevanion yang kabarnya bermukim di Yutlind. Karena cuaca buruk, mereka berkemah di dalam sebuah gua. Disinilah Evanjalin mendapatkan mimpi-mimpi itu lagi dan kali ini ia menceritakan informasi terbarunya pada rombongan, bahwa ternyata gadis-gadis Lumatere yang terjebak di dalam benteng tidak mati karena suatu sebab, tapi mereka berpura-pura mati karena sebab yang lain. Dan Trevarion membenci hal ini karena ia tidak tahu apa yang menyebabkan para ayah dan ibu itu berpura-pura bahwa putri mereka telah mati. Selain itu, Evanjalin juga mengungkapkan bahwa ternyata Lady Beatriss masih hidup dan tampaknya telah melahirkan satu anak lagi.

Seperti yang sudah kita duga, rombongan ini akan menemukan pasukan Trevarion walaupun butuh pengorbanan dan hampir saja nyawa Finnikin melayang. Nah, kalo yang ini nggak mungkin. Masa Finnikin mati?? Langsung tamat ditempat lah kalo gituu.. hhaha..

Yah, pokoknya, nanti satu persatu rahasia mulai terungkap. Hubungan Finnikin dan Evanjalin semakin meningkat. Finnikin menemukan sahabatnya tercinta. Dan yang terpenting, warga Lumatere akhirnya kembali ke tanah mereka, walaupun dengan sebuah peperangan perebutan wilayah yang digambarkan oleh Melina Marchetta dengan cukup simple namun jelas.

Well, Finnikin of the Rock, sebuah cerita yang bagus dan layak untuk diikuti. Walaupun kalau kita tidak fokus, kita kadang akan kebingungan dengan pola ceritanya, namun terlepas dari itu semua, kita disuguhi dengan sebuah cerita yang kompleks dan mantap. Beberapa typo memang terjadi, namun tidak sampai menganggu kok. Seru.. Dan aku menantikan buku keduanya, Froi of the Exiles.

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
Leave a comment

Posted by on September 26, 2011 in High Fantasy

 

you have a comment? just write here and post it ^^,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: