RSS

Drachenreiter

28 Aug

  • Pengarang               :    Cornelia Funke
  • Genre                      :    Fantasy, Adventure
  • Tebal                       :    416 hlm ; 23 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    50.000 IDR
  • Pertama terbit          :    1997
  • Cetakan                   :    April 2009
  • Tanggal Beli             :    24 Juli 2009

Karena tempat tinggal para naga terancam diusik manusia, para tetua naga mengutus Lung pergi ke Kaki Langit. Maka berangkatlah sang naga muda ke Pegunungan Himalaya, mencari tempat yang selama ini diduga hanya merupakan legenda itu.

Ia ditemani Bulubelerang si gadis goblin dan Ben, bocah laki-laki yatim piatu. Sayang perjalanan mereka tidak berjalan mulus, sebab Nettlebrand, makhluk ganas mirip naga raksasa bersisik emas ciptaan sang alkemis, mengincar mereka. Nettlebrand dibantu Kakiranting, homunkulus–manusia mini–yang menjadi mata-mata dengan menyusup ke ransel Ben.

Perjalanan makin berat, sebab Lung, Ben, dan Bulubelerang ternyata juga harus berhadapan dengan para kurcaci gila emas, peri-peri jail, basilisk, ular laut, burung raksasa Rock, bahkan jin bermata seribu!

Review :

Drachenreiter atau Sang Penunggang Naga adalah buku karangan Cornelia Funke yang mana ceritannya  terutama ditujukan untuk para pembaca cilik. Buku yang terdiri dari 57 bab —ya, 57 bab oey!— mengisahkan tentang perjalanan Lung dan teman-temannya untuk menyelamatkan komunitas Naga. Well, oke, mungkin 57 terasa sangat banyak. Tapi sebenarnya, masing-masing bab paling nggak hanya terdiri dari 4-6 lembar saja. Jadi kisah ini terasa singkat dan tahu-tahu kita sudah berganti bab lagi. Jadi kita nggak bakal merasa bosan karena terus berada dalam satu bab yang panjang. Belum lagi dengan gambar-gambar menarik yang menyertai cerita. Dijamin anak-anak pasti senang. Buku ini bakal cocok jadi bedtime stories mereka lah🙂

Awal cerita dimulai oleh si tikus yang sedang menyampaikan berita buruk pada Lung dan Bulubelerang. Lung adalah seekor naga sedangkan Bulubelerang adalah seorang gadis goblin yang masih muda, mungil bagaikan anak manusia. Si Tikus memberi kabar tentang kedatangan manusia hingga memaksa Lung untuk membangunkan yang lainnya. Naga lain, maksudnya😀

Janggut Kelabu adalah naga tetua di Lembah Naga. Para naga pun berkumpul dan mendengarkan kabar dari si Tikus. Si Tikus bercerita bahwa manusia yang terkenal serakah dan tidak pernah puas itu berencana untuk menjadikan Lembah Naga semacam bendungan. Mereka akan menenggelamkan Lembah Naga, termasuk goa-goa hunian mereka selama ini. Tentu saja muncul banyak argumen. Janggut Kelabu memerintahkan mereka untuk kembali ke Kaki Langit, tempat kelahirannya dulu. Namun bagi naga-naga muda yang lain, keberadaan Kaki Langit sama saja dongeng. Hanya Lung yang mempercayai bahwa Kaki Langit memang ada. Malam itu juga, dengan nasihat dan peringatan serta ingatan Janggut Kelabu yang samar-samar mengenai Kaki Langit, Lung berangkat mengarungi luasnya langit. Ia memulai petualangannya. Dengan ditemani Bulubelerang yang suka mengomel tentu saja, mereka pergi untuk menemukan Kaki Langit dan akan kembali untuk menjemput yang lain.

Di perjalanan pertama, sesuai pesan si tikus, mereka harus menemukan salah satu sepupunya yang pandai membuat peta. Hanya saja si sepupu tinggal di sebuah gudang tepi sungai di kota besar yang penuh manusia. Setelah dua malam mereka terbang, Lung dan Bulubelerang menemukan kota itu. Mereka bersembunyi di salah satu kanal yang bau. Tidak disangka ada seorang anak manusia laki-laki yang tinggal di situ juga. Ben namanya. Ben pun membantu Bulubelerang mencari si sepupu Tikus sementara Lung harus beristirahat sejanak. Mereka menemukan si Ekorkelabu dan akhirnya mendapatkan peta yang akan menuntun mereka ke pegunungan yang mereka tuju. Tapi kali ini petualangan bereka disertai oleh si Ben🙂

Astaga, petualangan mereka semakin ramai saja. Terutama dengan Bulubelerang yang cerewet dan sok tahu, membuat mereka jadi salah arah dan malah bertemu dengan kaum kurcaci tambang. Ada Janggut Gips, Kilau Timah, Brewok Kerikil, Batu Badam, dll. Yang jelas nama-nama yang digunakan di buku ini unik-unik. Hhehe.. Tapi yang membahayakan, ternyata mereka singgah di dekat hunian Nesselbrand, Yang Berkilau Emas. Ia adalah naga buatan sang alkemis beratus-ratus tahun silam. Ia berbadan besar dan suka memburu naga sebagai mangsanya. Diceritakan kalau Nesselbrand ini sudah sangat bosan dengan kehidupannya yang monoton. Ia hanya ditemani oleh makhluk mini bernama Kakiranting. Hari demi hari Kakiranting menggososk kulit keras Nesselbrand, membersihkan debu dari gerigi punggungnya, menyikat giginya yang kemilau, dan mengasah cakarnya. Saat inilah muncul salah satu kurcaci yang membawa berita mengenai Lung dan kedua temannya. Nesselbrand pun langsung bersemangat. Ia segera memerintahkan Kakiranting untuk menjadi mata-mata, mencari tahu apa yang dilakukan Lung beserta kedua temannya. Kakiranting kemudian menyusup ke dalam tas Ben dan Ben tidak menyadarinya hingga mereka sampai ke tempat yang cukup jauh.

Lalu suatu halangan muncul. Saat mereka sedang terbang ke Selatan, badai menerjang dan memaksa Lung mendarat di daratan yang dianggap berbahaya oleh peta. Umm gini, peta yang diberikan oleh Ekorkelabu sudah ada peringatan warna, mana tempat yang aman dan mana yang berbahaya untuk mereka datangi. Lalu, karena suatu hal membuat Bulubelerang tertangkap oleh sekelompok manusia arkeolog dan Bulubelerang pun jadi tawanan. Ben harus menyelamatkannya. Dan disaat inilah keberadaan Kakiranting terungkap, namun Ben terlalu mempercayai kisah Kakiranting dan tidak merasakan adanya ancaman bahaya. Ia pun memperbolehkan Kakiranting untuk ikut dengannya.

Sementara itu, Lung menemukan fakta bahwa ia tertidur di sebuah goa milik Basilik, mahkluk langka  berbahaya yang mematikan karena pandangan matanya. Untung ada seorang profesor arkeolog baik bernama Barnabas Wiesengrund yang menolongnya. Tak lama kemudian Ben, Bulubelerang dan Lung kembali berkumpul. Malam itu, mereka ditambah sang profesor dan Kakiranting, makan bersama dan berdiskusi. Barnabas memberikan banyak informasi dan saran. Ia menyarankan agar kelompok ini mendatangi Jin bermata seribu yang bisa menjawab segala pertanyaan dan memberi saran agar mereka menanyakan letak Kaki Langit, untuk menyingkat waktu mereka daripada harus berputar-putar mencarinya. Namun tentu saja dalam mengajukan pertanyaan harus dengan tiga syarat, bahwa yang mengajukan pertanyaan adalah manusia, pertanyaan belum pernah ditanyakan sebelumnya, dan pertanyaan harus tepat berjumlah tujuh kata. Dengan perbekalan yang diberikan Barnabas, mereka pun berangkat ke tempat si Jin dengan kesetiaan Ben taruhannya karena kalau Ben menyampaikan pertanyaan yang pernah ditanyakan maka Ben harus melayani si Jin seumur hidupnya.

Sayangnya, tanpa sepengetahuan teman-teman seperjalanannya, Kakiranting, si makhluk mini, terus melaporkan segala perkembangan yang telah mereka lalui kepada sang musuh, Nesselbrand. Kakiranting bisa menghubungi Nesselbrand dimanapun asal ada genangan air. Heu.. dasar mata-mata..

Hari-hari berikutnya, Lung terbang lebih cepat. Disisi lain, Barnabas Wiesengrund mendapat kunjungan dari Nesselbrand yang mencari sisiknya. Wkakaka.. Kejadian kejar-kejaran yang terjadi malah lucu menurutku. Barnabas bersembunyi di kaki belakang Nesselbrand sementara karena tubuhnya yang kaku Nesselbrand tidak bisa mencapai kakinya. Hhi.. Tapi ada satu hal yang membuat Barnabas cemas, bahwa ternyata ada seorang mata-mata diantara kelompok kecil Lung yang melapor pada Nesselbrand tentang tujuan perjalanan mereka. Dan kini Barnabas mencari akal untuk memperingatkan Lung, tapi bagaimana??

Di sisi lain, perjalanan Lung dan kawan-kawannya semakin seru, mereka bertemu dengan si jin bermata seribu, peri, dan bahkan ular laut. Hanya satu kendala utama mereka, yaitu cahaya bulan yang beberapa kali harus meredup hingga ikut meredupkan kekuatan Lung, karena kekuatan utama para naga memang cahaya bulan. Jadi mereka harus segera menyelesaikan misi sebelum bulan baru mati tiba. Saat bulan menghilang, sudah pasti Lung tidak akan bisa terbang. Walau begitu, atas saran Barnabas, ia dan kawannya mengunjungi seseorang bernama Subaida Ghalib, sang peneliti naga, yang kabarnya menemukan sesuatu yang bisa menggantikan kekuatan cahaya bulan terhadap naga jadi naga tidak perlu terbang tanpa cahaya bulan yang sesungguhnya. Umm, perjalanan kesana memang berisiko tinggi sih. Tapi sepadan.

Di desa kecil di muara sungai Indus itu, mereka menemukan seseorang yang tidak terduga. Ya, mereka kembali berjumpa dengan Profesor Barnabas Wiesengrund beserta istri dan anaknya, Vita dan Guinever Wiesengrund. Di desa ini mereka disambut dengan baik karena warga desa sangat menghormati legenda, terutama naga. Bahkan ada makam penunggang naga di dekat situ, dan Ben kini disebut sebagai penunggang naga. Hhe..

Setelah selesai dengan urusan di desa, rombongan kembali melanjutkan perjalanan yang sudah tidak jauh lagi, ke Pegunungan Himalaya. Namun bahaya Nesselbrand semakin mengancam sehingga mereka harus melawannya. Belum lagi dengan fakta bahwa para naga di Kaki Langit telah berubah menjadi bebatuan karena saking lamanya mereka bersembunyi dan melupakan cahaya bulan, kecuali satu, naga betina muda bernama Maia. Wah.. sayang sekali. Tapi bersama, kini mereka berniat melawan si naga emas Nesselbrand😀

Alamak, cerita yang sangat —sangat— enak buat diikuti. Sangat ringan dan asyik. Yang jelas, cukup banyak makhluk ajaib yang digambarkan oleh Cornelia Funke sehingga selalu memberikan warna tersendiri saat mengikuti ceritanya.

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
4 Comments

Posted by on August 28, 2011 in Dragons

 

4 responses to “Drachenreiter

  1. sinta

    August 29, 2011 at 12:36 am

    hiks, udah lama aku pengen baca buku ini, tapi kayaknya sekarang udah susah didapetin yak

     
    • koleksinovelku

      August 29, 2011 at 1:50 pm

      hhe,aku jg uda lama belinya, jdi kurang merhatiin lgi gimana di peredaran🙂

       
  2. mochi apapa

    September 29, 2013 at 3:10 pm

    Wah saya juga suka buku ini karena memang saya penggemar novel fantasi. Oh ya saya juga lagi mencoba membuat blog resensi buku seperti blog ini. Blog koleksinovelku lebih canggih dan profesional. Keren lah. Mohon bantuannya yah

     
    • koleksinovelku

      November 12, 2013 at 11:55 pm

      hhihi, semngat yaaa mochi apapa!
      asal telaten pasti bisa kok..
      hhe..

       

you have a comment? just write here and post it ^^,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: