RSS

How to Be Popular

19 Aug

  • Pengarang               :    Meg Cabot
  • Genre                      :    Teenlit
  • Tebal                       :    312 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    40.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2006
  • Cetakan                   :    Desember 2010
  • Tanggal Beli             :    21 Desember 2010

Apakah kau ingin menjadi populer?
Semua orang ingin populer—termasuk Stephanie Landry. Steph adalah cewek paling tidak populer di kelas sejak terjadi musibah Super Big Gulp lima tahun yang lalu.

Pentingkah menjadi populer?
Penting banget—bagi Steph. Karena itulah tahun ini dia berencana secepatnya bergabung dengan Kalangan A. Dia mendapat sebuah senjata rahasia: sebuah buku tua berjudul—apalagi kalau bukan—Panduan Menjadi Gadis Populer.

Apa saja syarat untuk menjadi populer?
Yang harus dilakukan Steph hanyalah mengikuti semua petunjuk dalam buku, dan dia akan segera berpesta dengan Kalangan A (termasuk Mark Finley, gelandang tim football sekolah), alih-alih melewatkan malam Minggu dengan duduk-duduk di The Hill, memandangi bintang-bintang di langit dengan sobat kuper-nya, Becca, dan Jason yang lebih kuper (sekarang dia lumayan seksi, tapi tetap saja), yang tertarik pada astronomi.
Siapa yang butuh ditemani para kurcaci merah jika kau diundang ke pesta paling seru di kota?

Tapi jangan abaikan hal terpenting tentang popularitas!
Menjadi populer itu mudah. Kenapa tidak? Ikuti panduannya!

Review :

Stephanie ─Steph─ Landry, cewek enam belas tahun yang tinggal di Bloomville, Indiana, kerja paruh waktu di toko buku Courthouse Square Books milik orangtuanya sendiri, punya empat adik (akan lima karena ibunya hamil lagi ;-)), berambut keriting coklat pendek, bertubuh pendek dan berbokong lebar. Yang jelas, dia merasa dirinya bukan tipe cewek populer banget. Tapi dia terkenal. Hal ini berkat Lauren Moffat, “mantan teman” nya semasa SD, yang membuat istilah, “Jangan seperti Steph Landry.” atau “Kelakuanmu seperti Steph banget!” atau “Jangan seperti Steph dong!”. Well, kini istilah itu jadi sangat popular terutama bila ada anak yang melakukan tindakan aneh atau bodoh, kalimat itu pasti terlontar dari mulut orang-orang. Padahal keseringan orang nggak tahu siapa itu ‘Steph Landry’ yang mereka sebut-sebut.  Yah, masalah pertamanya gini, saat Steph duduk di kelas enam, ia menumpahkan Super Big Gulp merah ke rok D&G putih Lauren di depan semua orang di kafe, dan Lauren tidak pernah memaafkan kesalahan Steph sejak kejadian itu. Dan sial bagi Steph, Lauren juga tidak membiarkan siapapun melupakannya. Alhasil, Steph selalu jadi bulan-bulanan anak-anak populer di sekolahnya. Bahkan di kotanya.

Steph ini punya dua sahabat, Jason dan Becca, dan ia mendapat julukan Crazytop dari Jason yang jelas-jelas Steph benci namun Jason tetap saja memanggilnya dengan julukan itu. Sejak musim panas yang lalu, Steph mulai merasa Jason semakin seksi. Wuuii.. hhaha.. Jadi gini, selama ini Steph nggak pernah merasakan sesuatu yang istimewa dari Jason. Dari SD, SMP, bahkan awal SMA hormon pertumbuhan kedua anak ini seimbang, berat dan tinggi badan nyaris sama. Namun musim panas yang lalu Jason dan neneknya pergi berlibur ke Eropa, dan saat kembali tinggi badannya sudah bertambah lima belas senti dibanding saat berangkat. Dan juga, menurut Steph, lebih seksi😛 Sejak itu keduanya jadi sering canggung saat melakukan gulat kaki, seperti yang biasa mereka lakukan sejak kecil. Namun Steph meyakinkan diri, “…Jangan sampai hormon-hormon pertumbuhan menganggu persahabatanmu. Itu penting.” Dan aku setuju dengan pernyataan ini. BANGET!!😛

Nah, kembali ke topik. Seperti biasa, Meg Cabot membuat cerita ini jadi sangat sederhana dan enak untuk diikuti. Cerita ini mengambil sudut pandang Steph dan cerita ini sendiri ‘berdurasi’ satu minggu. Awal cerita dimulai pada hari Sabtu, 26 Agustus, dua hari menjelang masuk sekolah pasca liburan, dan diakhiri pada hari Minggu, 3 September, tengah malam.

Tanggal 26 Agustus pukul 20.25 Jason dan Becca datang ke toko, menjemput Steph untuk menghabiskan sisa minggu terakhir sebelum masuk sekolah. Ini adalah minggu pertama Jason memiliki mobilnya, itulah kenapa mereka akhirnya bisa berkendara keliling Main Street, area jalan-jalan di pusat kota Bloomville, tidak hanya duduk-duduk di The Wall atau berbaring di rerumputan The Hill ─menonton anak-anak kaya yang punya mobil menjelajahi Main Street─ seperti yang sebelumnya selalu mereka lakukan. Namun ternyata duduk di kursi belakang mobil Jason tidak seenak duduk di The Wall. Ia bosan. Yang jelas, ia jadi tidak bisa mengamati segala hal yang terjadi di Main Street, alih-alih cuma mendengarkan komentar Jason dan Becca yang duduk di depan.

Dengan ketidak populeran Steph, ia berniat untuk ‘mengubah diri’. Ternyata ia memiliki sebuah buku, semacam buku panduan untuk jadi populer yang ia temukan di loteng rumah Kitty ─ panggilan mereka untuk Mrs. Hollenbach, nenek Jason, yang memang meminta mereka untuk memanggil dengan nama gadisnya. Steph tidak pernah menceritakan tentang buku itu pada siapapun, karena ia malu mungkin. Atau bisa jadi kedua sahabatnya ini malah hanya akan menertawakannya. Seperti saat ini, setiap kali Jason melihat Mark Finley, ia selalu mengejek Steph, “Lihat, Steph,” kata Jason. “Itu pacarmu.” Yah, Steph memang mengidolakan Mark, cowok paling seksi (lebih daripada Jason) dan keren. Mark adalah gelandang football di sekolahnya, SMA Bloomville. Dan tentu saja, cowok itu berkencan dengan Lauren. Tipikal cerita teenlit😉

Nah, parahnya Steph, ia sering memata-matai Jason. Well, karena kamar Jason terletak segaris dengan kamar mandi rumah Steph, tiap malam ia sering menghabiskan waktu mengunci diri di kamar mandi dengan lampu mati hanya untuk melihat Jason bertelanjang dada dan bersiap tidur. Aduuuh.. Cape dee.. Tapi nanti kebelakangnya, Pete ─adik Steph yang pertama─ yang mempergokinya. Ckck.. Memalukan..

Oia, aku belum menyinggung tentang hubungan Ibu dan kakek Steph ya?? Nah, dua orang ini tidak dalam hubungan yang baik. Ibu Steph marah pada ayahnya, alias kakek Steph karena si kakek menjual sebagian  tanah pertaniannya untuk dijadikan Super Sav-Mart. Dengan keberadaan Super Sav-Mart ini membuat semua toko di sepanjang alun-alun terancam gulung tikar, termasuk Courthouse Square Books. Makanya Ibu Steph tidak mau bicara dengan ayahnya. Dan lagi, kakek Steph ini menghabiskan segepok uangnya hasil penjualan tanah untuk pembangunan sebuah observatorium yang akan beliau hibahkan pada kota. Alamak.. Dan satu lagi, sebenarnya kakek Steph ini berencana untuk menikah lagi. Dengan siapa?? Dengan Kitty, nenek Jason. Haaa.. Tentu saja hubungan Jason dan Steph jadi ─apa, aku juga nggak ngerti─ tiri. Wew.. Nah, karena saking cintanya kakek Steph pada Kitty, beliau mempersembahkan observatorium itu untuk Kitty karena tahu Jason sangat mencintai astronomi dan Kitty sangat menyayangi Jason. Yah, buat mencuri hati gitoh.. Hhaha.. Pernikahannya sendiri akan diadakan akhir pekan tanggal 2 September esok.

Tanggal 28 Agustus, hari pertama sekolah, Jason kaget setengah mati dengan perubahan Steph. Baik dari rambut Steph yang dicatok, hingga selera fashion Steph yang jadi ngikutin tren, bahkan nggak kalah dari Lauren. Aku tertawa saat membaca bagian Jason yang marah-marah. Sangat lucu, dan terlihat frustasi dengan perubahan Steph. Uum, sebenarnya waktu baca awal-awal buku ini, aku ada keyakinan bahwa sebenarnya Jason suka sama Steph, tapi diam-diam aja dan enggan untuk menyatakannya. Entah kenapa😉 Yah, setidaknya sekarang Steph berhasil menjalankan misi awalnya. Perlahan, ia mulai menarik perhatian teman-temannya, bahkan Mark Finley. Belum lagi saat acara pembukaan tahun ajaran, Steph memberanikan diri untuk memberi pendapat dan saran tentang bagaimana cara menggalang dana untuk acara berlibur anak-anak kelas dua belas. Sesuai tradisi, anak-anak kelas bawahnya lah yang menggalang dana. Jadi kini Steph mengambil kesempatan ini sebagai batu loncatannya untuk menjadi populer. Yups, dia memberi usul tentang acara pelelangan bakat, dan ternyata Mark yang berperan sebagai presiden angkatan kelas dua belas, menyetujuinya. Kini banyak orang yang menemui Steph untuk menanyakan apakah mereka memungkinkan untuk ikut acara pelelangan ini. Selangkah lagi Steph jadi anak populer.

Disisi lain, digambarkan juga kalau sebenarnya Becca, sahabat Steph juga sering menarik perhatian Jason, tapi cowok itu entah terlalu cuek atau perhatiannya terlalu terpusat pada Steph, tidak terlalu menggubris Becca. Hmm, Becca memang ‘teman baru’ bagi persahabatan Steph dan Jason yang sudah saling kenal sejak mereka TK sih. Jadi kurasa Jason belum benar-benar membuka diri bagi Becca. Yang mengejutkan, suatu kali Becca mengirim email pada Steph dan meminta tolong pada Steph untuk menanyakan perasaan Jason terhadap Becca. Agak-agaknya Becca menganggap Jason itu jodohnya. Geli aku waktu baca bagian Becca yang uring-uringan dan selalu menganggap Jason itu jodohnya, bahkan saat Lauren menyinggung perihal hubungan Jason dan Steph. Lauren bilang, “Well, bukannya Steph dan Jason berpacaran?” Dan dengan tegas Becca berkata bahwa mereka cuma berteman. Aduh.. Polosnya cewek ini.. Steph pun jadi jengkel pada Lauren. Juga Becca sebenarnya, karena temannya itu bermulut besar, sehingga topik ini jadi terangkat.

Tapi sayangnya, karena perubahan sikap Steph dan semakin dekatnya pernikahan Kitty dengan kakek Steph, Jason sibuk membantu dan jadi jarang bertemu dengan Steph. Cowok itu masih marah pada Steph yang berubah 180 derajat. Jadi sekarang Becca dan Steph tidak lagi menumpang mobil Jason. Dan Becca lah yang lagi-lagi uring-uringan. Tapi hal ini tidak diambil pusing Steph. Ia semakin sibuk mengurus pelalangan karena acara ini hanya tinggal esok malam. Tanggal 31 Agustus. Disisi lain, hatinya semakin melambung dengan perhatian yang diberikan Mark padanya. Akhirnya..

Tapi apakah sebanding apabila ia mendapatkan popularitas sementara ia juga kehilangan sahabatnya? Hampir kehilangan sahabat. Memang, Steph dan Jason belum saling bicara lagi. Dan yang membuat Steph ketakutan dan berubah jadi keheranan adalah saat pelelangan berlangsung. Giliran Becca yang maju. Namun setelah beberapa saat, tidak ada yang membeli bakatnya hingga memaksa Mr. Taylor, ayah Becca yang mengangkat papan untuk menawar putrinya sendiri! Astaga.. Untung akhirnya Jason lah yang menyelamatkan Becca dengan memberikan penawaran sangat tinggi. Becca yang masih beranggapan Jason belahan jiwanya, langsung senang. Steph yang jadi heran, apakah Jason ternyata diam-diam juga suka pada Becca?? Nah loh.. Bahkan malam harinya, saat Steph sedang mengintai Jason, muncul Becca ─BECCA!─ dikamar Jason. Tentu saja Jason terlihat kaget. Entah bagaimana, mereka berdua berciuman! Oh oh.. Steph tambah kaget. Ditambah, saat itulah Pete masuk ke kamar mandi dan memergoki Steph yang sedang memata-matai Jason. Wah. Ribet.. Yang lebih parah, hari berikutnya Becca bungkam seribu bahasa dan Steph menganggap kalau Becca dan Jason menyembunyikan hubungan mereka dibelakang Steph. Ckck.. Andai ia tahu. Masalahnya kini Steph merasa nggak perlu memikirkan teman-temannya karena berkat kemenangannya mendapatkan Mark Finley di pelelangan membuatnya memiliki lebih banyak waktu lagi buat bersama cowok pujaannya. Benarkah begitu? Apalagi cowok itu akhirnya menciumnya. Hooo.. Steph dihadapkan oleh dilema, rupanya.. Dia harus memilih, antara mempertahankan popularitasnya atau merelakannya usahanya seminggu ini sia-sia belaka dengan  menyelamatkan observatorium kakeknya dari kehancuran karena akan dipakai teman-teman Steph untuk berpesta, padahal besok adalah hari pernikahan sang kakek!

Nah, gimana menurut kalian? Cerita yang sudah cukup biasa kan..? Namun yang aku suka dari karya Cabot ini ya kelugasan ceritanya. Cara penuturan cerita yang santai, enak buat diikuti dan sangat ringan memberikan nilai plus tersendiri. Oia, mengenai isi buku yang dibicarakan oleh Steph sendiri, memang tersurat di setiap halaman sebelum awal bab baru kok. Jadi kita memang disuguhi berbagai macam tips and trik buat jadi populer.. Hha.. Buat kalian yang mau memperluas pergaulan, bisa ni jadi referensi. Asal jangan jadi patokan mati. Jadilah dirimu sendiri, kurasa itu sudah cukup🙂 Well, yang terakhir nih, ada satu quote yang aku suka dari buku ini : “Hindarilah popularitas jika kau menginginkan kedamaian.”  ─Abraham Lincoln─

Ratingku buat novel ini : 7,6

 
Leave a comment

Posted by on August 19, 2011 in TeenLit

 

you have a comment? just write here and post it ^^,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: