RSS

Shopaholic 4 – Shopaholic And Sister

14 Aug

  • Pengarang        :    Sophie Kinsella
  • Genre               :    Drama
  • Tebal                :    504 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Gramedia
  • Harga               :    50.000 IDR
  • Pertama terbit   :    2004
  • Cetakan ke-3     :    Januari 2011
  • Tanggal Beli      :    17 Februari 2011

Becky Brandon (d.h. Bloomwood) tidak menyangka perkawinannya tak seindah impian. Masalah bermula ketika Becky mengatakan pada Luke dia hanya belanja sedikit saat bulan madu. Padahal ada dua truk besarnya yang datang ke apartemen mengirim barang belanjaannya.

Sekarang anggaran belanjanya dibatasi, dia belum punya pekerjaan, dan yang paling parah, Suze sahabatnya punya teman baru. Becky sangat sedih – sampai dia menerima kabar bahwa dia sebenarnya punya kakak perempuan!

Asyik! Akhirnya Becky punya kakak sungguhan. Mereka bisa belanja, memilih sepatu, ke salon bersama…

Tapi… ya ampun. Masak sih, kakak Becky itu benci belanja?

Review :

Sudah sepuluh bulan sejak Becky dan Luke menikah, dan kini mereka masih dalam perjalanan bulan madu mereka! Aduh, asyiknyaa.. Kini mereka ada di Sri Lanka dan sebelumnya mereka sudah ke India, Australia, Belanda, Prancis, Mesir, Kenya, Tanzania, Thailand, HongKong, Maroko, Utah, Alaska, dan tak lupa Indonesia, dan lain sebagainya mungkin, yang jelas aku nggak bisa mengurutkan mana negara yang mereka datangi duluan. Ckck.. Bikin ngiri, bisa keliling dunia. Hha.. Tapi yang lebih menarik, Luke digambarkan sudah beda dengan Luke yang dulu. Luke yang gila kerja sekarang terlihat sangat santai. Kulit kecoklatan, tubuh berotot, rambut dibiarkan panjang dan kemerahan terkena panas matahari, pergelangan tangan dihiasi gelang persahabatan dari Masai Mara, dan sebelah telingannya memakai anting kecil dari perak! Whahahaha.. Hidup santai ala Luke.

Tapi tetap, kalau Becky ngga ada perubahan. Dimana saja tetap berbelanja. Bahkan saat melakukan yoga spiritual, ia masih saja terpikat dengan seorang penjual gelang murahan. Hhihi.. Jadi ceritanya Luke dan Becky menginap di Blue Hills Resort and Spiritual Retreat dan sekarang keduanya sedang mengikuti kelas yoga di hotel itu. Dari awal cerita, aku sudah dibuat tertawa sama ulah Becky dan bagaimana Luke menanggapi istrinya ini. Kurasa cerita kali ini lebih seru ni. Semoga😉

Oia, kalian ingat Suze kan? Istri Tarquin? Nah, sekarang mereka sudah punya anak tiga! Wkakaka.. Saat Becky dan Luke sedang bersantai, ada surat yang datang dari Inggris dan salah satunya dari sang sahabat tercinta. Isinya berupa undangan pembaptisan anak kembar mereka, Wilfrid dan Clementine Cleath-Stuart yang sekarang berusia empat bulan. Bahkan Becky belum melihat wajah si kembar. Tapi ia belum mau pulang dan masih mau melanjutkan petualangannya bersama Luke. Benarkah?? Tiba-tiba ia bimbang dan ingin kembali ke Inggris, kembali menghadapi kejamnya dunia sehari-hari. Tapi yang jelas, ia sangat rindu berbelanja dan mengenakan sepatu yang layak. Wkakaka..

Setelah keputusan kembali ke Inggris diambil, secepat kilat Luke beraksi. Ia sudah membuat janji meeting di sana-sini padahal tiba di Inggris aja belum. Rencananya, sebelum kembali ke Inggris Luke akan mampir ke Italia untuk satu rapat dengan perusahaan Arcodas Group. Nah, liburan terakhir ini rupanya bener-bener berkesan bagi Becky. Setidaknya ia mendapatkan tas Angel yang sangat ─sangat─ langka dan trendi, berharga dua ribu Euro! Alamak, hanya untuk sebuah tas?? Ckck.. Tapi ia mendapatkan tas inipun tidak gampang. Becky harus masuk ke daftar tunggu tas ini dulu untuk mendapatkannya. Tapi ia sangat tidak sabar dan ingin segera memilikinya. Untung ada seorang pria tambun bernama Signore Nathan Temple ─yang sepertinya adalah seorang pelanggan toko yang sangat berpengaruh dan kaya raya─ yang membantunya untuk mendapatkan tas ini. Nah, karena saat itu ia tidak membawa dompet, ia pun membayar dengan MasterCard Gawat Darurat nya yang ia simpan di dalam kotak bedak. Hhaha.. Luke aja nggak tahu keberadaan kartu ini. Yah, cara yang salah untuk memulai sebuah perkawinan, ketidak jujuran. Belum lagi Becky tidak mengaku bahwa ia juga membeli barang lain hari itu kecuali sabuk kulit hadiah untuk Luke. Tentu saja Luke terharu karena ia pikir Becky hanya khusus membelikan sabuk itu untuknya (tanpa belanja yang lain!) padahal saat itu kali pertama bagi Becky datang ke pusat mode dunia. Milan. Tidak bisa dipungkiri kalau Luke pikir ia pasti bakal menemukan Becky dengan tas-tas belanjaan yang banyak ditangannya. Tapi ternyata tidak. Tapi ternyata Luke juga salah. Aduuh..

Akhirnya Becky dan Luke kembali menginjak aspal Inggris. Ia sangat senang dan gugup dengan rencana kejutan untuk orang tuanya. Tapi ia harus kecewa. Setibanya di rumah orangtuanya, mereka tidak ada. Dan saat mereka akan meninggalkan rumah, muncul Ayah dan Ibunya yang di tikungan jalan dengan seorang wanita muda. Tapi yang mengejutkan, Ayah dan Ibunya kembali mundur dan menghilang. Sesaat kemudian mereka muncul tanpa wanita itu dan memasang muka drama mereka. Ada yang mereka sembunyikan. Luke juga merasakannya. Ternyata acara penyambutan yang seharusnya penuh suka cita sedikit terasa hambar bagi Becky. Orangtuanya bahkan tidak membatalkan rencananya dan meninggalkan Becky dirumah. Luke mengatakan pendapatnya bahwa menurutnya wanita yang ia lihat tadi adalah agen property dan orangtua Becky kemungkinan ingin menjual rumah mereka karena kini setelah Becky menikah rumah ini pasti telalu besar untuk mereka. Becky pun setuju dengan teori Luke dan ia sedih kalau memang begitu kenyataannya.

Hari berikutnya, giliran Suze yang mendapat kejutan Becky. Awalnya ia takut kalau Suze juga menghindarinya, seperti yang dilakukan kedua orang tuanya. Tapi ternyata tidak. Suze tetap sahabat Becky yang paling baik dan menyambut kedatangan Becky dengan suka cita. Hari itu adalah hari pembaptisan Wilfrid dan Clementine. Namun hati Becky mulai dilanda kegundahan. Muncul sosok Lulu yang kini menjadi sahabat Suze. Wanita itu sangat baik dan bagaikan malaikat di mata Suze. Ia membantu Suze menghadapi ‘masalah bayi’ ini karena Lulu sendiri memiliki empat orang anak yang masih kecil-kecil. Jadi intinya, Becky kalah di pengalaman mengasuh anak. Walaupun menurut orang-orang, Lulu adalah wanita yang baik dan sahabat Suze, bagi Becky sendiri ia tidak senyaman itu di dekat Lulu. Ia merasa ada sesuatu yang lain dari Lulu. Bibirnya agak terlalu tipis dan tatapannya agak terlalu dingin. Dan yang utama, Becky merasa cemburu karena posisi ‘sahabat terbaik’-nya untuk Suze diambil alih oleh Lulu. Akhirnya ia bertekad, ia tidak akan menyerahkan sahabat terbaiknya pada seseorang suka memerintah, seperti Lulu. Namun ternyata tidak semudah yang diharapkannya dan ia sungguh merasa terdepak saat Suze ternyata sudah memiliki rencana merayakan ulang tahunnya bersama Lulu dan bayi-bayi di sebuah spa. Haa, kasiannya Becky😦 Ia harus menahan kepedihan saat pergi meninggalkan kediaman Suze dengan dalih Luke harus melanjutkan bisnisnya dan mereka harus segera kembali ke London.

Well, satu minggu akhirnya berlalu. Becky sudah tidak lagi memikirkan masalah Suze atau Lulu. Hari ini ia dan Luke sedang menunggu kiriman paket barang-barang hasil petualangan mereka. Dan astaga, aku aja sampai geleng-geleng, ada dua kontainer yang menanti mereka di depan pintu apartemen! Mantap. Saat dibongkar pun menimbulkan emosi antara kagum dan jengkel terhadap ulah Becky yang seenak hati. Ia lupa pada sebagian besar barang yang ia beli. Dan yang terburuk, sebagian besar Luke tidak tahu-menahu kalau Becky membelinya! Belum lagi setelah Luke mengecek tagihan-tagihan rekaning mereka, banyak barang yang tidak terdaftar di tagihan itu. Itu berarti Becky punya cara lain untuk membayar barang-barang itu. Wah. Sudah pasti Becky disidang Luke. Masa bisa-bisanya ada dua pasang meja makan yang masing-masing berkursi sepuluh buah dari dua negara yang berbeda. Astaga! Kalau yang satu Luke memang tahu mereka membelinya. Tapi yang satunya, Becky bahkan tidak ingat pernah membelinya. Kebangetan.. Hha.. Selain itu, ada lima meja kopi, guciguci Cina yang besar, patung-patung jerapah, dua puluh jubah tidur sutra dari Cina, tujuh belas permadani, satu peti besar berisi empat puluh mug, lukisan-lukisan batik dari Bali dan lain-lain, dan lian-lain, dan lain-lain lagi, dan yang paling wah, ada seperangkat gamelan dari Indonesia! Ya ampuuuun.. emang dia mau bikin studio musik? Atau museum? Atau apa sih, kok, sampai beli gamelan segala.. heran akuu.. Tapi yang menurutku agak lucu, mereka menyebutkan ‘lukisan batik dari Bali dan gamelan dari Indonesia’ seolah menganggap Bali dan Indonesia terpisah. Ya ya, aku memang tahu sih kalau sebagian besar masyarakat dunia mengenal Bali terlepas dari Indonesia, pernah ada seorang bule yang bertanya, “Indonesia itu sebelah mananya Bali?” Nah loo.. Dia pikir Indonesia dan Bali bertetangga?? Bali itu ya di Indonesia, booss😀

Yah, kembali ke masalah Becky. Akhirnya ia mengaku kalau ia memiliki kartu Gawat Darurat dan tentu saja Luke langsung mempertanyakan, “Apa, meja makan darurat? Gamelan Indonesia darurat?” ckck.. Tapi aku salut dengan Luke. Setelah menuntaskan masalah dengan serangan-serangan yang membuat Becky cukup tersudut, akhirnya ia menghela nafas dan mengeluarkan nada suara hangatnya. Ia meredam amarahnya dan memberikan pengertian yang amat sangat besar kepada sang istri tercinta. Dengan manis dan tenang ia akhirnya memutuskan untuk menetapkan anggaran belanja kepada Becky. Anggaran belanja hari pertama, dua puluh Pound. Tunai. Keluar dari dompet Luke. Wkakaka.. Becky menganggap ini sebagai sebuah tantangan sebagai seorang istri, seperti seorang istri di jaman perang dahulu. Yaelah.. Kini ia bahkan punya proyek baru. Proyek : Istri yang Mendukung. Ia akan membantu Luke di pekerjaannya. Aduh. Kini Luke yang pusing. Kasihan kali Luke ini punya istri yang…hhehe. Gitu deh😛 Sebenarnya Becky sudah punya pekerjaan. Hanya saja, kantor itu membutuhkan Becky kalau departemen store tempat Becky akan bekerja sudah buka, yaitu tiga bulan lagi. Selama tiga bulan ini tetap saja Becky harus menganggur. Padahal ia butuh uang.

Saat Becky sedang ‘berbenah rumah’, orangtuanya datang berkunjung. Ternyata mereka punya sebuah kabar yang ingin disampaikan. Becky sudah ketakutan akan berbagai spekulasi di kepalanya. Namun ia tidak menyangka akan berita bahwa ia memiliki seorang kakak perempuan yang lebih tua dua tahun darinya. Orangtuanya bercerita bahwa si kakak yang bernama Jessica Bertram ini datang untuk mengabari perihal sebuah kondisi genetik yang ia derita dan ingin memperingatkan hal ini pada ayah biologis dan Becky, takut-takut kalau mereka juga menderita karena kelainan genetik ini. Jadi rupanya dalam pemeriksaan Jessica menemukan bahwa ia memiliki darah yang mudah membeku dan bisa jadi sangat berbahaya dalam situasi tertentu, seperti dalam operasi. Itulah yang menjadi pemicunya untuk menemukan sang ayah biologis.

Seminggu kemudian akhirnya Becky memiliki kesempatan bertemu dengan Jess. Sejak ia tahu bahwa ia memiliki kakak, hidupnya jadi tidak tenang lagi. Ia sangat bahagia bahwa ternyata ia punya seorang kakak yang selama ini memang ia idamkan. Namun khayalannya yang terlalu muluk tentang hubungan adik-kakak ini membuat hatinya sakit saat menemukan fakta bahwa ia tidak cocok dengan Jess. Jess tipe gadis yang suka belajar, cinta pada bebatuan dan benci pada belanja. Ya, ia benci belanja. Hhm, kurasa Becky seperti ditampar saat jess mengatakan dengan jelas bahwa ia. benci. belanja. Wew.. Bahkan Luke aja bisa langsung mengenali tipikal pribadi Jess yang adem ayem dan simpel. Dia meminta Becky untuk tidak terlalu berharap pada ‘hubungan adik-kakak yang bersahabat’ ini. Kurasa Luke tahu bahwa Becky bakal lebih terluka kalau tahu memiliki kakak yang selama ini ia idamkan ternyata tidak seindah keinginannya. Namun tahulah sifat Becky. Ia bersikeras dan ingin membuktikan bahwa hubungannya dengan Jess akan baik-baik saja. Itulah kenapa ia meminta Jess untuk menginap sehari akhir pekan sebelum Jess kembali ke kotanya yang jauh di Utara.

Tapi lagi-lagi rencana Becky tidak berjalan lancar. Mereka benar-benar tidak cocok. Ibarat cewek kota metropolitan dan cewek pedesaan yang jelas-jelas memiliki gaya hidup yang bertolak belakang. Bahkan kini Jess malah tahu tentang masalah keuangan Becky dan mulai menggurui Becky tentang cara  berhemat. Becky digambarkan sangat jengkel, disini. Belum lagi dengan satu masalah Nathan Temple. Karena ingin berterimakasih pada Mr. Temple, dengan santainya Becky menjanjikan kemitraan dengan perusahaan Luke tanpa sepengetahuan Luke. Ia pikir ini akan menjadi kejutan bagi Luke karena Becky telah berhasil mendekati seorang pebisnis perhotelan bintang lima. Tapi rupanya Nathan Temple ini adalah (dulunya) raja permotelan dan pernah terlibat skandal dan punya catatan kriminal. Tentu saja ini tipe klien yang tidak akan didekati perusahaan Luke. Namun Becky telah terlanjur menawarkan dan ia tidak berhasil membatalkannya dan tetap menyembunyikan hal ini dari Luke. Gawat dobel-dobel bagi Becky. Tapi inilah konflik yang disajikan buku keempat seri Shopaholic ini, tentu saja selain masalah Becky dengan sahabatnya, Suze, dan dengan kakak tirinya, Jess.

Yang lebih gawat lagi, Becky tanpa sengaja menjual sepuluh jam tangan Tiffany milik Luke yang akan ia berikan pada Arcodas Group sebagai hadiah perusahaan, di eBay. Luke pun marah pada Becky dan Becky juga jadi bertengkar hebat dengan Jess yang menyebabkan kakaknya itu langsung angkat kaki dari apartemen ini. Sesungguhnya teman-teman, aku suka dengan prinsip hidup Jess yang serba hemat. Menurutku keren bisa mengatur keuangan sedemikian rinci. Mungkin karena aku nggak bisa melakukan hal tersebut kali ya.. Aku memang boros, tapi setidaknya nggak sampai kayak Becky yang, wow, ngeri. Hhi..

Nah, dua minggu berlalu sejak itu. Namun Becky masih diliputi perasaan sebal pada Jess yang tiba-tiba mencampuri urusan keuangannya. Ia juga masih terus terngiang kata-kata yang ia curi antara Luke dan Jess tentang bagaimana pendapat Luke hidup bersamanya, dan Luke menganggap hidup bersama Becky itu sulit. Tentu saja Becky sedih. Dan ia masih tidak sadar, bagian darimana dari dirinya yang membuat Luke merasa sulit hidup dengannya. Saat ia membuat daftar tentang kelakuannya yang menyulitkan orang, astaga, aku ikutan jengkel.. Grrr, bebal atau terlalu polos atau gimana sih cewek ini. Sungguh. Aku merasa dia selalu memandang segala sesuatu dari sisi simpelnya sih.

Untung Luke mendapatkan proyek Arcodas Group nya. Ia dalam posisi sedang berbahagia dan siap berpesta dengan para karyawan kantornya. Namun kemunculan Nathan Temple di kantor Luke membuat Luke kembali tegang. Terutama Becky yang semakin panik dan takut karena kemarahan Luke. Mau nggak mau Becky pun bercerita tentang hubungannya dengan Temple dan bagaimana Becky menjanjikan hubungan kerja itu. Terpaksa Luke harus menjadi partner Nathan Temple dalam peluncuran hotel yang sangat dibenci Luke. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah kepalang basah. Tidak bisa ditolak. Hanya bisa berharap semoga yang dilakukan Luke ini setimpal dengan tas Angel yang Becky dan ada hasil positif kelak di kemudian hari. Hew.. Kalau melihat jalan situasi, bisa jadi sih memang begitu kemungkinannya. Pasti nanti di akhir cerita ada keuntungan tersendiri Luke melakukan ini. Yah, kita lihat nanti deh.

Kembali ke Becky. Selama seminggu kedepan Luke terus mendiamkannya. Tidak mengacuhkannya.  Mereka bertengkar dan kini Becky merasa merana. Kalau pendapatku pribadi sih, biarin lah. Toh ini emang karena ulang Becky yang ceroboh, tanpa pikir panjang, egois, dan menyebalkan. Harusnya ia sudah bisa belajar banyak dari pengalaman-pengalamannya dulu yang terlilit utang dan sebagainya. Tapi ternyata nggak! Amit-amit deh ada orang begini menyebalkan. Ya ampun. Kenapa aku jadi kebawa emosi gini. Hha.. Maafkan aku😉 Tapi kasihan juga melihat pernikahan mereka belum genap satu tahun namun sudah terlihat hancur. Huft. Semoga mereka yang sudah menikah dan sedang memulai kehidupan rumah tangga mereka mampu mengatasi hal-hal seperti ini dengan lebih baik🙂

Akhirnya dia mendapatkan ide. Ia akan minta bantuan Jess. Ia akan minta maaf pada jess dan akan belajar dari Jess tentang cara berhemat dan menyelamatkan rumah tangganya. Segera, berangkatlah ia ke Cumbria, desa Jess, jauh di Utara Inggris dengan kereta api. Sesampainya disana, ia berkeliling desa dan menemukan rumah Jess. Namun yang mengecewakan Jess menolaknya dan mengusirnya. Belum lagi keadaan semakin parah dengan tingkah Becky di desa itu. Hmm, kalo menurutku sih sebenarnya penduduk desa tidak masalah dengan itu, namun tampaknya Jess terlalu kaku dan tegang, jadi ia selalu marah dengan apa yang dilakukan Becky. Puncaknya, Jess mengatakan sesuatu yang membuat Becky sedih dan memutuskan untuk pergi, tidak ingin mengenal Jess lebih jauh, karena kini ia menyadari bahwa ia memang terlahir sebagai anak tunggal dan akan tetap menjadi anak tunggal, tidak memiliki kakak seorangpun. Tapi sebelum pergi, ia dan Jim, pemilik toko di desa, pergi ke rumah Jess sementara Jess sedang pergi ke gunung. Di rumah inilah ia menemukan bukti (yang tidak otentik) bahwa Jess itu kakaknya. Ia pun nekat menyusul Jess, walaupun cuaca sedang buruk. Ia naik gunung yang lumayan terjal dan tiba-tiba hujan mendera. Padahal ia hanya mengenakan heels-nya bukan sepatu gunung yang wajar digunakan oleh para pedaki. Ampuun.. Tentu saja di tengah kesendirian dan kehujanan, ia tergelincir dan jatuh, tepat setelah menemukan Jess. Ia patah kaki di dua tempat, lecet dan lebam di beberapa tempat, dan dilanda pusing berat. Adoooh.. Untung kemudian Suze berhasil menemukannya dan Jess menggunakan helikopter Tarquin dengan bantuan tim evakuasi koneksi Tarquin, karena tim penyelamat yang ada lebih memilih untuk menunggu setelah badai reda, padahal Suze sudah sangat cemas.

Yah, untuk beberapa hari kemudian Becky harus tinggal di rumah Jess karena Luke masih tertahan di Cyprus. Untung ada Suze yang selalu menemani. Kini Becky dan Suze malah terlibat dengan kampanye penduduk desa untuk menentang pembangunan pusat perbelanjaan di salah satu tempat di desa itu. Karena tahu proyek itu bakal merusak alam, maka Becky pun menjadi pemimpin protes ini. Tapi saat hari-H, ia baru tahu kalau perusahaan yang akan dilawannya adalah Arcodas Group, partner kerja Luke yang baru. Astaga… Masalah nggak pernah kelar aja ni sama Becky. Belum lagi ternyata Luke sendiri yang datang ke sana sebagai perwakilan perusahaan untuk menghadapi protes. Dan tentu saja, Luke tidak tahu menahu kalau Becky yang menjadi pemimpin kelompok penentang itu. Ta daa..

Pendapatku mengenai buku kali ini sebenarnya cukup singkat. Aku sih suka ceritanya. Konflik yang disajikan cukup menarik. Juga bagaimana Sophie Kinsella menyelesaikan setiap masalahnya dengan singkat dan padat, seperti buku-buku Shopaholic sebelumnya. Hanya saja aku merasa sedikit bosan dengan sikap Becky. Itu saja. Hhe..

Ratingku buat novel ini : 7,4

 
Leave a comment

Posted by on August 14, 2011 in ChickLit

 

you have a comment? just write here and post it ^^,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: