RSS

His Dark Materials 1 – The Golden Compass

12 Aug

  • Pengarang               :    Philip Pullman
  • Genre                      :    Fantasy, Science, Adventure
  • Tebal                       :    488 hlm ; 23 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    57.500 IDR
  • Pertama terbit          :    21 Januari 1995
  • Cetakan                   :    November 2006
  • Tanggal Beli             :    8 Januari 2008

Ketika temannya, Roger, lenyap, Lyra dan daemonnya, Pantalaimon, bertekad menemukannya. Pencarian itu membawa mereka ke alam Utara yang dahsyat, muram tapi menakjubkan, tempat beruang-beruang berbaju besi menguasai dunia es tersebut dan ratu-ratu penyihir beterbangan di langit yang membeku –dan tempat sekelompok ilmuwan melakukan eksperimen mengerikan.

Lyra berhasil melalui berbagai kengerian ini, tapi sesuatu yang lebih berbahaya menunggunya –yang tak pernah terbayangkan olehnya…

Review :

Well, The Golden Compass. Aku senang harus membuat review ini. Aku jadi bisa membaca ulang buku yang merupakan salah satu novel favoritku. Kenapa? Karena menurutku novel ini keren! Asyik banget aku dulu ngikutin buku ini, yah, walaupun kuakui novel ini sedikit berat buat bacaan fantasi anak. Ada unsur science-fiction, fantasy, dan terutama adventure didalamnya. Dan karena aku lebih suka sampul buku versi lama, dulu sampai kubela-belain cari novel ini dengan sampul yang bukan versi filmnya. Menurutku sampul versi lama lebih cantik dan orisinil daripada versi baru. Hha..

Untuk informasi awal, buku ini terdiri dari tiga bagian berbeda dimana masing-masing bagian mewakili setting tempat yang berbeda: Oxford, Bolvangar, dan Svalbard. Di awal halaman buku, kita mendapat sebuah informasi yang cukup penting, “THE GOLDEN COMPASS (KOMPAS EMAS) adalah bagian pertama kisah yang dimuat dalam tiga buku. Bagian pertama ini berlokasi di dunia seperti dunia kita, namun berbeda dalam banyak hal. Bagian kedua, THE SUBTLE KNIFE, berpindah-pindah di antara tiga dunia: dunia THE GOLDEN COMPASS (KOMPAS EMAS); dunia yang kita kenal; dan dunia ketiga, yang berbeda dari dunia kita dalam banyak hal lagi. Bagian terakhir trilogi ini, THE AMBER SPYGLASS, berpindah-pindah di antara beberapa dunia.” Gimana? Kalian yang belum membaca novel ini cukup berminat untuk membacanya?? Aku sarankan, ya. Coba kalian baca.. Tulisannya nggak padat kok, 32 baris tiap halaman, dan ini termasuk wajar. Belum lagi dengan spasi yang lebar dan kertas yang lebih mendukung lagi (tapi aku nggak tahu dengan kertas yang digunakan sama versi cover film lho yaa..), jadi nggak bosan dan mudah capek saat membaca.

Awal cerita dimulai oleh Lyra dan dæmonnya, Pantalaimon, yang sedang mengendap-endap memasuki Ruang Rehat yang selama ini dilarang dimasuki oleh siapapun kecuali para Cendekiawan, para tamu, dan Kepala Pelayan saja. Diceritakan bahwa hampir seumur hidupnya Lyra tinggal di Akademi Jordan ini. Kita juga mulai mendapatkan informasi, apa itu dæmon dan bagaimana karakteristiknya. Dæmon adalah makhluk yang pasti dimiliki oleh setiap manusia dan mereka masih bisa berubah-ubah bentuk selama pemiliknya masih kanak-kanak. Namun saat si anak menginjak semakin dewasa, maka dæmon mereka pun akan kehilangan kemampuan berubah wujud dan akan tetap pada satu bentuk hewan favorit mereka selama ini, dan kadang bentuk dæmon ini dapat menunjukkan kepribadian dari pemiliknya.

Nah, saat Lyra dan Pan sedang melihat-lihat ruangan, terdengar suara langkah kaki di luar. Mereka pun segera bersembunyi di bawah meja. Ternyata Master dan seorang pelayan yang masuk. Mereka  membicarakan tentang kedatangan seorang tamu, Lord Asriel. Pelayan itu kemudian meninggalkan sang Master seorang diri. Lyra semakin penasaran. Lord Asriel adalah pamannya yang luar biasa ia kagumi dan takuti. Ia jarang bertemu dengan Lord Asriel, namun sepanjang yang ia dengar dari orang-orang, pamannya itu adalah seorang yang terlibat dengan politik tingkat tinggi, penjelajahan rahasia, dan peperangan di tempat jauh. Selain itu pamannya ini adalah orang yang keras, jadi kalau Lyra berbuat salah, ia pasti akan dihukum berat, dan bersembunyi di dalam ruangan ini memiliki resiko serupa. Namun apa yang ia saksikan kemudian membuatnya bingung. Ia melihat Master menuang bubuk putih kedalam botol anggur dan mengaduknya lalu menutup kembali botol sebelum kemudian beliau pergi meninggalkan ruangan. Saat Lyra dan Pan akan pergi, ternyata mereka sudah terjebak. Mereka terpaksa kembali bersembunyi di dalam sebuah lemari dan menunggu pertemuan para Cendekiawan itu selesai. Dan yang pasti, ia tidak mungkin membiarkan Master meracuni pamannya, Lord Asriel. Saat Lyra sedang duduk dibalik pintu lemarinya, Lord Asriel masuk ke ruangan dan Kepala Pelayan pergi untuk memanggil Master. Lyra terus mengamati paman dan dæmon pamannya yang berbentuk macan tutul salju. Oia, disini ceritanya dæmon bisa bicara, jadi sekarang Lord Asriel sedang mengobrol dengan Stelmaria, sang dæmon. Saat Pamannya menuang anggur itu, barulah Lyra berteriak memperingatkannya, bahkan menyambar gelas hingga jatuh dan pecah. Otomatis Lord Asriel langsung memelintir tangan Lyra dan memarahinya. Namun kemudian Lyra menjelaskan dan Lord Asriel terlihat lebih marah lagi. Akhirnya Pamannya memerintahkan Lyra untuk kembali ke lemari, bersembunyi, dan mengamati tindak tanduk Master untuk kemudian dilaporkan pada Lord Asriel kemudian.

Tidak lama kemudian para Cendekiawan masuk dan Lord Asriel memulai presentasinya tentang hasil perjalanannya jauh ke Utara. Bahkan Lyra menyadari kalau Lord Asriel menempatkan Master agar duduk dekat lemari Lyra, dan benar saja, Lyra mendengar bisikan Master dan seorang Pustakawan mengenai anggur itu. Tapi diluar itu semua, Lyra lebih senang lagi karena ia bisa menyaksikan apa yang dipresentasikan pamannya. Ia memang tidak mengerti, namun pamannya menunjukkan beberapa gambar fotogram dengan dua bahan yang berbeda, satu dengan emulsi perak nitrat standar sedangkan yang satunya adalah emulsi baru yang memang disiapkan oleh Lord Asriel untuk membuktikan satu teori. Bersama gambar-gambar itu, ia membahas sesuatu yang bernama ‘Debu’ dan tampaknya, melihat dari reaksi para peserta, mereka mengerti apa yang dimaksud Debu oleh Lord Asriel, kecuali Lyra. Selain itu Lord Asriel juga menunjukkan sebuah fotogram Aurora yang disebut sebagai Cahaya Utara. Dari fotogram pertama, terlihat Aurora biasa, namun saat Lord Asriel mengganti slide dari bahan emulsi baru, terlihat jelas bahwa di dalam Aurora itu terdapat sebuah kota lengkap dengan bangunan-bangunan yang dimata Lyra seperti tergantung di udara! Tentu saja para Cendikiawan semakin tertarik, kecuali Master dan Pustakawan. Selain presentasi itu, Lord Asriel juga melaporkan tentang hasil pencariannya terhadap Dr. Grumman yang melakukan ekspedisi dan menghilang delapan belas bulan yang lalu. Lord Asriel melaporkan bahwa Dr. Grumman sudah meninggal dan membawa bukti berupa kepala Dr. Stanislaus Grumman yang ia temukan di luar Svalbard. Ternyata kepala itu ditemukan dalam kondisi sudah dikuliti dan terdapat lubang di puncak kepala, biasanya merupakan ulah bangsa Tartar. Tentu saja Lord Asriel tidak mengizinkan Lyra untuk melihatnya saat pertemuan itu selesai. Ia bahkan memerintahkan Lyra untuk segera kembali ke kamar dan tidur setelah Lyra melaporkan apa yang didengarnya.

Di bab ketiga kita akan membaca cerita tentang kehidupan sehari-hari Lyra di Akademi Jordan. Bagaimana ia sangat bandel seperti berandal kecil dan senang berpetualang. Ia hobi naik ke genteng Akademi dan menjelajahi genteng-genteng bersama Roger, sahabatnya yang seorang pelayan dapur. Di bab ini juga disinggung cerita tentang seorang wanita cantik berdæmon seekor monyet berbulu emas yang sedang menculik anak-anak gelandangan dan kemudian mengirim mereka ke Utara. Masalahnya, anak-anak ini tidak sadar kalau sedang diculik. Mereka terlampau terpesona pada wanita itu hingga mau menuruti apapun yang diminta si nyonya cantik. Tidak terkecuali Billy, anak seorang Gipsi bernama Ma Costa, yang masih tergolong bangsawan di kalangan Gipsi. Padahal orang Gipsi terkenal sangat melindungi anak-anak mereka karena anak-anak dianggap berharga dan selalu dilimpahi kasih sayang. Kini, teror para penculik yang mereka panggil Pelahap itu semakin mencekam. Semakin banyak anak-anak yang menghilang. Saat Lyra sedang mencari bersama kawan-kawannya, ia baru ingat Roger dan ia belum melihatnya sejak pagi tadi. Karena cemas, Lyra langsung berlari kembali ke Akademi Jordan, mencari Roger. Namun di dapur tempat ia biasa bekerja juga tidak ada. Lyra pun ketakutan dan berniat akan mencari Roger. Namun sayangnya rencana itu harus ditunda sebentar.

Lyra terpaksa menghadiri perjamuan Master untuk tamu-tamunnya dari akademi lain dan salah satunya, tanpa sepengetahuan Lyra, adalah si ‘Pelahap’, Mrs. Coulter. Wanita muda nan cantik berambut hitam mengilat yang membingkai pipi-pipinya, dan dæmonnya yang berbentuk monyet emas. Seperti anak pada umumnya, Lyra juga merasakan keterpesonaan pada kesan glamor wanita muda itu. Disini Mrs. Coulter mengenalkan dirinya sebagai anggota Akademi Dame Hannah, salah satu Cendikiawan wanita yang ada disitu juga. Namun Lyra mengabaikan yang lainnya karena ia terlalu asyik mengobrol dengan Mrs. Coulter. Saat para tamu pergi, barulah Master mengajaknya ngobrol. Ia mengatakan bahwa sudah saatnya Lyra perlu mendapatkan pendamping wanita dan sekolah. Namun Lyra menolak dengan keras karena menurutnya Akademi Jordan lah rumahnya. Namun saat Master menawari Lyra untuk berada dalam pengasuhan Mrs. Coulter, segera Lyra bersuka cita dan bersemangat. Ia sangat mengagumi wanita itu dan ingin menjelajahi Utara seperti yang dilakukan Mrs. Coulter.  Oia, sekedar informasi dari Master, tidak ada Mr. Coulter karena suaminya itu meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Jadi intinya, Mrs. Coulter janda. Dan setelah disepakati, segera Lyra akan pergi bersama Mrs. Coulter, yaitu dini hari besok.

Ketika langit masih gelap, seseorang mengguncang dan membangunkannya dari tidur. Ternyata Mrs. Lonsdale yang menyampaikan pesan Master dengan berbisik bahwa Lyra harus menemui Master sekarang sebelum Lyra harus pergi sarapan dengan Mrs. Coulter. Lyra pun segera berlari menemui Master. Ya ampun. Sebenarnya aku merasa Master ini orang yang baik dan sangat menyayangi Lyra, terlepas dari rencana jahatnya membunuh Lord Asriel. Master kemudian memberi Lyra sesuatu dan  memaksa gadis itu untuk berjanji merahasiakannya, bahkan pada Mrs. Coulter ataupun pada siapapun. Kemudian, untuk pertama kalinya Lyra melihat alethiometer, sebuah benda berupa piringan kuningan dan kristal tebal seperti kompas, dan kegunaan benda itu sendiri untuk mengetahui kebenaran. Namun Master tidak bisa sempat mengajarinya dan segera menyuruh Lyra kembali ke kamarnya.

Segera Lyra berangkat ke London, tinggal di apartemen Mrs. Coulter yang menakjubkan, pergi menghadiri perjamuan, dan berbelanja. Sebuah kehidupan yang sebelumnya belum pernah Lyra kenal. Malam harinya, setelah Mrs. Coulter mengucapkan selamat malam dan Lyra hampir tertidur, Pan mengingatkan Lyra tentang Alethiometer. Langsung saja Lyra bangkit, mengambil benda itu dan mengamatinya bersama Pan. Benda itu memang mirip kompas, namun bukan angka yang berada di atas permukaan kaca, namun tiga puluh enam gambar kecil yang masing-masing dilukiskan dengan ketepatan yang luar biasa. Di samping kompas ada tiga pemutar kecil bergerigi, dan masing-masing memutar salah satu dari tiga jarum pendek yang bisa diatur menunjuk gambar mana saja. Lalu ada jarum keempat yang lebih panjang dan ramping. Namun berbeda dari ketiga jarum yang lain, jarum yang ini tidak bisa dikendalikan oleh Lyra dan terus berbutar seperti layaknya jarum kompas dan tidak pernah berhenti di satu gambar manapun. Walaupun Lyra tidak mengerti tentang benda ini, namun ia sangat menikmati benda ini, sampai tiba-tiba ia mendengar suara Mrs. Coulter di depan pintu kamarnya dan Lyra segera menyembunyikan alethio di bawah bantal.

Hari berikutnya, dalam perbincangan tanpa sengaja Lyra mengungkapkan pengetahuannya tentang Debu dan ini membuat suasana ruangan tegang bukan main. Ia pun berkata acuh tanpa mengungkapkan bahwa Lord Asriel lah sumber pengetahuannya. Akhirnya musim berganti dan enam bulan pun berlalu. Mrs. Coulter memutuskan untuk mengadakan pesta koktail entah untuk merayakan apa. Namun Pan mulai semakin gelisah dan yakin bahwa Mrs. Coulter tidak akan pernah mengajak mereka ke Utara. Wanita itu akan terus menahan mereka di rumah ini. Namun Lyra tetap percaya bahwa suatu saat ia pasti akan pergi ke Utara bersama Mrs. Coulter. Namun sebelum pesta koktail dimulai, Lyra harus mengakui pendapat Pan benar bahwa ia seperti hewan peliharaan bagi Mrs. Coulter. Saat itu timbul perdebatan bahwa Mrs. Coulter ingin Lyra melepas tas sandangnya sementara Lyra ingin tetap memakainya karena ia sudah terbiasa memakainya. Masalahnya di dalam tas itu terdapat Alethiometer. Namun tiba-tiba monyet emas Mrs. Coulter secepat kilat menyerang Pan dan mencengkeramnya dengan kuat. Lyra merasakan perasaan takut dan nyeri dan ia menangis memohon agar Mrs. Coulter melepaskannya. Setelah janji bahwa ia akan patuh, monyet itu melepaskan Pan. Sejak saat itu Lyra jadi merasa ngeri dan marah pada Mrs. Coulter. Di pesta, Lyra diam-diam mendengarkan banyak percakapan yang menarik, terutama yang menyinggung Debu, Lord Asriel, dan Pelahap. Informasi yang ia dapatkan menyebutkan bahwa Lord Asriel di tawan di Svalbard oleh panserborne, beruang berbaju besi. Dan satu lagi fakta yang meresap di pikirannya, Mrs. Coulter tampaknya terlibat dalam kegiatan Pelahap. Tanpa pikir panjang lagi, ia dan Pantalaimon pun segera kabur. Namun dijalan ia malah di tangkap oleh para pedagang Turki dan untungnya ada seseorang yang menyelamatkannya dan ternyata orang itu adalah Tony Costa, kakak dari Billy Costa yang hilang, dan anak dari Ma Costa, Gipsi Oxford yang ia kenal. Lyra senang setengah mati bertemu dengan mereka. Maka Ma Costa pun membawa Lyra untuk menemui John Faa, raja kaum Gipsi, dan Farder Coram. Kepada mereka akhirnya ia bercerita tentang segala sesuatunya. Dan bahkan dari mereka akhirnya ia tahu bahwa orang tuanya masih hidup dan ternyata Lord Asriel dan Mrs. Coulter lah orangtua kandungnya. Alamak..

Akhirnya, kaum Gipsi mengumpulkan orang-orangnya dan mereka akan pergi ke Utara untuk menyelamatkan anak-anak. Tentu saja Lyra bertekad untuk ikut, namun John Faa melarang wanita untuk ikut, apalagi Lyra yang masih kecil. Bukan sifat Lyra untuk menurut. Suatu ketika saat ia sedang belajar membaca Alethiometer, Lyra ternyata berhasil. Ia mendapatkan jawaban atas pertanyaanya yang kemudian terbukti seperti sebuah ramalan dan ini disaksikan oleh Farder Coram. Itulah kenapa John Faa akhirnya memutuskan untuk membawa Lyra yang sudah pasti senang bukan main. Ia ingin menyelamatkan Roger dan ayahnya yang ditawan oleh panserborne, walaupun tidak tahu bagaimana caranya.

Mereka memulai perjalanan. John Faa dan para pemimpin lain memutuskan berlayar ke Trollesund, pelabuhan utama Lapland. Mereka memutuskan untuk meminta bantuan para penyihir untuk menyelamatkan anak-anak. Di awal perjalanan, Lyra memang sering mabuk laut. Namun setelah ia menyibukkan diri, menjelajah kapal, dan berkenalan dengan awak kapal, ia mulai melupakan mabuk lautnya. Di Trollensund, mereka menemui Konsul Penyihir dan seekor beruang tanpa baju besi bernama Iorek Byrnison, yang bekerja di kota itu dan mendapat upah berupa bir, makanan, dan tempat tinggal. Farder Coram dan Lyra datang menemui Iorek untuk menawari pekerjaan. Beruang terkenal menepati janji apabila sudah berjanji dan ia adalah prajurit yang tangguh. Itulah kenapa Farder Coram ingin merekrutnya. Ternyata Iorek tertahan di kota ini karena dulu warga kota membuatnya mabuk dan mencuri baju perang Iorek. Bagi panserborne, beruang tanpa baju perang sama dengan manusia tanpa dæmon, dan manusia tanpa dæmon sama halnya seperti manusia tanpa kepala. Jadi di seri ini, digambarkan kalau ada seseorang yang tidak terlihat dæmonnya di sekitarnya, mereka yang menyaksikan akan menghadapi kengerian. Dæmon seperti jiwa bagi manusia.

Setelah menawari Iorek pekerjaan dan Iorek menolaknya, Farder Coram dan Lyra pergi. Namun Lyra gigih. Ia mencari tahu dimana warga menyembunyikan baju perang Iorek dengan Alethiometer dan kemudian Lyra memberitahu Iorek. Iorek pun berhutang budi pada Lyra dan berjanji akan mengabdi pada gadis itu. Selain Iorek, mereka juga bertemu Lee Scoresby, seorang aëronaut dan bisa menerbangkan balon udara. Akhirnya perjalanan mereka berlanjut dengan tambahan dua personil ini. Setelah beberapa jam melaju, Lyra menggunakan Alethiometer nya dan menemukan suatu petunjuk yang harus ia lakukan. Alethiometer memintanya untuk pergi ke sebuah desa di dekat danau dimana ada seseorang atau hantu salah satu anak yang hilang. Dengan izin dari Lord Faa, Iorek pun membawa pergi Lyra. Ternyata yang ditemukan Lyra adalah seorang anak kecil yang telah terpenggal. Inilah maksud dari pemenggalan itu. Para Pelahap memenggal anak-anak dan dæmonnya. Di sebuah gudang ikan, Lyra menemukan Tony Makarios, bocah yang terpenggal dari dæmonnya. Kondisinya sangat mengenaskan. Iorek dan Lyra pun membawa Tony kembali ke para Gipsi.

Perjalanan kembali berlanjut dan kini mereka semakin dekat dengan Bolvangar. Selama perjalanan ini, Lyra banyak mendapatkan cerita dan pelajaran dari sana sini, termasuk Iorek dan Scoresby. Tapi sayangnya, mereka mendapat serangan mendadak dari orang Samoyed dan Lyra diculik untuk kemudian dijual kepada sebuah laboratorium percobaan. Inilah lab yang selama ini mereka cari,  lab Bolvangar, dimana anak-anak yang diculik ditawan. Beberapa hari Lyra berada di dalam fasilitas itu untuk diteliti dan diukur, dan selama itu juga ia, Roger dan Billy membuat rencana untuk kabur. Saat situasi sudah tepat, Lyra membunyikan tanda yang sudah disepakati dan anak-anak lain berhamburan keluar gedung. Sudah pasti, terjadi hiruk pikuk dan peperangan pun tak terhindarkan. Para Gipsi dan penyihir telah tiba dan mereka melawan bangsa Tartar yang menjaga fasilitas itu. Wew.. Cukup ramai..

Tentu saja peperangan dimenangkan pihak Gipsi dan kini Lyra harus melanjutkan perjalanan lagi. Menuju Svalbard. Bersama Roger, Iorek Byrnison, Lee Scoresby, dan Serafina Pekkala menggunakan balon udara Scoresby. Mereka akan menemui Lord Asriel. Tapi sayangnya, lagi-lagi mereka mendapat halangan hingga membuat Lyra jatuh dari balon udara dan menjadi tawanan Iofur Raknison, raja kaum beruang yang haus kekuasaan dan sangat ingin memiliki dæmon. Di dalam penjara, Lyra berjumpa dengan seorang Profesor bernama Jotham Santelia dan dari ia lagi-lagi Lyra mendapat tambahan pengetahuan. Karena bingung saat menghadapi Iofur, Lyra terpaksa mengadu domba Iofur dan Iorek. Lyra ingat bahwa Iofur sangat menginginkan dæmon. Itulah kenapa Ia mengatakan pada Iofur bahwa dirinya adalah dæmon milik Iorek. Iofur yang sudah membenci Iorek hingga sumsum tulang, kini semakin membencinya dan menantang Iorek untuk bertarung. Tentu saja Iorek menang dan kembali menduduki jabatannya sebagai raja para beruang. Karena tahu Mrs. Coulter masih mengejarnya, Lyra dengan ditemani Roger dan Iorek harus melanjutkan perjalanan ke tempat Lord Asriel. Ternyata saat Lyra jatuh sebelumnya, Iorek dan Roger ikut jatuh kemudian, Serafina Pekkala harus bertarung melawan klan penyihir lainnya dan Lee Scoresby untungnya bisa mengendalikan balon dan kembali mengudara tapi sayangnya ia  terbawa angin jauh meninggalkan mereka dibelakang. Jadi mereka berlima terpisah dan hanya Iorek, Lyra, dan Roger yang melanjutkan perjalanan. Namun sayangnya, pertemuan Lyra dengan ayahnya tidak seindah bayangannya. Ternyata selama ini ia tidak mengerti secara pasti apa maksud dari Alethiometer saat kompas itu mengatakan bahwa Lord Asriel membutuh sesuatu yang dibawaLyra. Selama ini Lyra menganggap bahwa Alethiometer lah yang dibutuhkan Lord Asriel, tapi ternyata ia salah. Sayang, Lyra harus menanggung akibat, kehilangan sahabatnya tercinta di tangan sang ayah.

Tahun 2007, sebuah film dengan judul The Golden Compass direlease. Film yang berdurasi 113 menit ini diproduksi oleh  New Line Cinema, Ingenious Film Partners, Scholastic Productions dan Depth of Field. Sudah pasti film ini diadaptasi dari novel His Dark Materials 1 – The Golden Compass karangan Philip Pullman. Namun sudah pasti juga, versi buku jauh lebih menarik daripada versi filmnya.

Film yang diperankan oleh aktor-aktor kawakan Hollywood ini memang berhasil meraup keuntungan besar, dan kurasa karena selain penontonnya adalah para pecinta novel The Golden Compass yang penasaran dengan versi filmnya, pemerannya yang bintang-bintang top juga menjadi alasan tersendiri. Sebut saja Nicole Kidman dan Daniel Craig yang masing-masing berperan sebagai Marisa Coulter dan Lord Asriel. Untuk pemeran utamanya, Lyra Belacqua, diperankan oleh seorang gadis Inggris bernama Dakota Blue Richards. Dan Freddie Highmore serta Ian McKellen pun juga tak mau kalah ambil bagian. Highmore sebagai pengisi suara dari Pantalaimon, hewan kesayangan Lyra, sedangkan McKellen mengisi suara Iorek Byrnison, beruang yang kemudian menjadi sahabat Lyra.

Untuk para pemeran pendukung, kita akan menemukan Ben Walker yang memerankan Roger. Lalu ada Eva Green, Jim Carter, Tom Courtenay, Sam Elliott, Kristin Scott Thomas, dan Ian McShane yang berperan sebagai Serafina Pekkala, John Faa, Farder Coram, Lee Scoresby, Stelmaria, dan Ragnar Sturlusson.

Nicole Kidman, wanita kelahiran Hawaii ini telah membintangi 58 judul film, diantaranya adalah The Interpreter (2005), Bewitched (2005), Happy Feet (2006), The Invasion (2007) dimana ia juga bertemu dengan Daniel Craig sebagai lawan mainnya, Margot at the Wedding (2007), Australia (2008), dan Just Go with It (2011) bersama Adam Sandler dan Jennifer Aniston.

Daniel Craig sendiri adalah… well, siapa yang nggak tau Daniel Craig sih?? Yups, dialah si 007, James Bond. Beda-beda tipis dengan Kidman, Craig telah membintangi 59 judul film yang dua diantaranya adalah film James Bond yang legendaris, Casino Royale(2006) dan Quantum of Solace (2008). Sedangkan untuk film-film yang lain adalah Layer Cake (2004), The Jacket (2005), Munich (2005), Infamous (2006), The Invasion (2007), Flashbacks of a Fool (2008), Defiance (2008), dan Cowboys & Aliens (2011). Untuk filmnya yang siap luncur adalah Dream House (2011) dan film yang sudah memasuki akhir produksi ada The Adventures of Tintin (2011) dan The Girl with the Dragon Tattoo (2011) yang diangkat dari sebuah novel dengan judul sama karangan Stieg Larsson. Satu film yang siap diproduksi lagi adalah film James Bond yang rencana akan diluncurkan tahun 2012. Hha..

Nah, kini giliran Dakota Blue Richards, sang tokoh utama. Cewek kelahiran Brighton, Inggris, 11 April 1994 ini masih tergolong baru dalam dunia perfilman. Bahkan The Golden Compass ini adalah film pertamanya. Hingga kini, ia hanya memerankan 6 judul film, diantaranya adalah  The Secret of Moonacre (2008) dan sebuah serial TV berjudul Skins.

Oke, siapa yang nggak kenal Freddie Highmore? Cowok bernama lengkap Alfred Thomas Highmore ini kelahiran London, 14 Februari 1992, memulai debut di dunia akting sejak berusia 7 tahun di sebuah TV show berjudul Walking on the Moon (1999). Sejak itu hingga kini ada 27 judul yang ia perankan, sebagian diantaranya adalah Finding Neverland (2004) dan Charlie and the Chocolate Factory (2005) dengan lawan main si nyentrik Johnny Depp. Aduuduh. Mauu.. Hha. Nah, kalau film lainnya yang juga mengusung namanya adalah Arthur and the Invisibles (2006), August Rush (2007), The Spiderwick Chronicles (2008), Astro Boy (2009), Arthur and the Revenge of Maltazard (2009), Master Harold… and the Boys (2010), Arthur 3: The War of the Two Worlds (2010), Toast (2010), dan sebuah film yang memiliki Emma Roberts sebagai lawan mainnya, The Art of Getting By (2011).

Bintang besar kita yang terakhir adalah Ian McKellen. Pria berusia 72 tahun ini memiliki andil dalam film-film keren, seperti X-Men (2000), X2 (2003), X-Men: The Last Stand (2006) sebagai Eric Lensherr alias Magneto. Selain itu, beliau juga berperan sebagai Gandalf dalam The Lord of the Ring Trilogy, The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2011), The Lord of the Rings: The Two Towers (2002), dan The Lord of the Rings: The Return of the King (2003). Kalau kalian perhatikan, beliau juga bermain di The Da Vinci Code (2006) sebagai Sir Leigh Teabing.

Untuk perbandingan isi cerita dari versi buku dan versi film sendiri cukup banyak. Wajar memang, cerita dari buku setebal 486 halaman harus dimampatkan dalam film berdurasi 113 menit. Segalanya jadi serba simpel. Secara garis besar memang inti cerita tidak banyak berubah, namun banyak detail yang berubah di sana-sini. Misal, saat Lord Asriel memberikan presentasi, slide fotogram yang digunakan di film hanya satu karena sudah merangkum beberapa slide yang digunakan di versi buku. Lalu, kalau di buku, Lyra adalah satu-satunya wanita dalam perjalanan kaum Gipsi, sedangkan kalau di film perjalanan itu diikuti oleh beberapa wanita lain. Dan ada yang lain, bocah yang Lyra temukan di tepi danau adalah Tony Makasios, namun kalau di film bocah itu adalah Billy Costa. Belum lagi kalau di buku digambarkan gudang itu berada di sebuah desa, tapi kalau di film, bangunan itu adalah sebuah pondok yang berdiri sendiri tanpa rumah lain di sekitarnya. Tapi yang cukup memberikan perbedaan yang mencolok adalah plot nya. Kalau di buku, terjadi perang Bolvangar dahulu baru Lyra menghadapi bangsa beruang. Tapi kalau di film, Lyra berada di bangsa beruang dulu baru menghadapi perang di Bolvangar. Well, kalau mau disebutkan satu persatu setiap perbedaan detail, pasti akan menimbulkan sebuah daftar yang lumayan panjang. Jadi kurasa cukup segini aja deh. Hhe.. Kan cuma untuk gambaran aja bagaimana letak perbedaannya. Tapi terlepas dari perbedaan-perbedaan itu, aku cukup menikmati filmnya kok. Walau tetap, aku lebih menyukai bukunya🙂

Nah, kurasa sekian dulu buat ulasanku kali ini karena, wew, ternyata sudah cukup banyak juga ya..  Nggak nyadar😀 Kalau gitu, sampai jumpa di review selanjutnya <^.->/

COVER BARU (NC)

Ratingku buat novel ini : 8,2

 
7 Comments

Posted by on August 12, 2011 in High Fantasy

 

7 responses to “His Dark Materials 1 – The Golden Compass

  1. dradmawati

    August 12, 2011 at 7:01 pm

    wah panjang ya reviewnya

    Sepaham, cerita ini memang agak berat untuk ukuran fantasy anak2.

    Sedih juga ketika Lyra trpaksa mau ga mau hrus pisah ama Will

    Soalnya mau dipaksain bersama juga dunia mereka beda dimensinya. Tubuh ga kuat dengan dunia yg baru

     
    • koleksinovelku

      August 13, 2011 at 8:15 am

      hhahaha.. ini karena aku smangat baca ulang novel ini, jdinya ku tulis deh apa yg kubaca😛 hum, tapi ini masih buku satunya, blum dua buku sisanya. dan aku memang lebih suka saat ada kehadiran Will. lebii mantaap, dan seru, dan bagus. hha.. jadi ga sbr buat baca buku keduanya lagii😉

       
  2. uthiiee

    August 13, 2013 at 3:35 pm

    thx bgt buat review nya .. sangat membantu u/ ikut berimajinasi dengan cerita yg km buat..
    btw, golden compas ad versi indonesia nya g ?? soalnya ak cobba cari novelnya di mbah google, adanya versi bhs.inggris.. >.<
    400 hlman kn g sdikit guys..
    mhon bnyuan link nya ya klo ada ^,^

     
    • koleksinovelku

      November 12, 2013 at 11:04 pm

      wah, kalo buat versi pdf aku kurang ngerti uthiiee, yang jelas kalo bukunya ada yang versi Indonesia, tapi cover berbeda dengan cover buku yang aku punya soalnya yg aku punya masih cover versi lama😀

       
  3. wi_Nda

    January 17, 2014 at 11:45 am

    Halo, Mb Tidiyu maaf yah q selama ini jdi silent readers blognya heehe
    soalny kalo mau beli novel itu aku suka liat review dlu tentang novelny soalnya aku kadang-kadang juga suka kecewa sama novel yang covernya bagus tapi isinya nggak😦 #koqjadicurhatya
    owh y mb q mw nny nih mb bisa ksh tw q g’ beli novel Trilogi His Dark Materials dmna soalny q uda nyari-nyari tapi g’ prnh dpt, mhn infonya y mb..
    tq🙂

     
    • koleksinovelku

      January 20, 2014 at 12:44 pm

      Halo juga winda, terimakasih sudah jalan” di blog q yaaa.. tapi maaf dah lama ngga update nii, sikon yg memaksa, q masih sibuk dengan keseharianq :9 Nah, kalo untuk trilogy his dark materials, pas aku buka message mu, aku kbetulan lgi di toko buku, tpi syg dsitu lgi kosong, dan q ngga sempat untuk ke tokobuku lain nii.. jdi maaf aku ngga bisa kasi info ni buat sementara🙂

       
  4. Belle

    June 8, 2016 at 8:10 pm

    kira-kira kalo mau beli bukunya di mana ya? aku nyari di gramedia kok nggak ada yah? tolong infonya yah =D

     

you have a comment? just write here and post it ^^,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: