RSS

Shopaholic 1 – Confessions Of A Shopaholic

01 Jul

  • Pengarang        :    Sophie Kinsella
  • Genre               :    Drama
  • Tebal                :    472 hlm ; 18 cm
  • Penerbit            :    Gramedia
  • Harga               :    46.000 IDR
  • Pertama terbit   :    14 September 2000
  • Cetakan ke-7     :    Januari 2011
  • Tanggal Beli      :    17 Februari 2011

Rebecca Bloomwood adalah seorang jurnalis. Pekerjaannya menulis artikel tentang cara mengatur keuangan. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan… berbelanja.

Terapi belanja adalah jawaban untuk semua masalahnya. Namun belakangan Becky dikejar-kejar surat-surat tagihan. Ia tahu ia harus berhenti, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia mencoba mengurangi pengeluaran, mencoba memperbesar penghasilan, tapi tak ada yang berhasil. Satu-satunya penghiburan adalah membeli sesuatu… sesuatu untuk dirinya sendiri.
Akhirnya sebuah kisah mengusik hatinya dan menggugah rasa tanggung jawabnya, dan artikelnya di halaman depan menggulirkan rangkaian kejadian yang akan mengubah hidupnya-selamanya.

Review :

Oke.. Setelah sekian tahun aku nonton filmnya ―ehm, sebenarnya baru dua tahun yang lalu sih― akhirnya aku memutuskan buat beli box set nya Shopaholic yang terdiri dari 6 buku karangan Sophie Kinsella. Aku penasaran sama versi bukunya. Ditambah lagi dengan pengalamanku baca buku karangan Kinsella yang enak buat diikuti. Tidak terkecuali seri Shopaholic ini.

Awal cerita kita disuguhi oleh surat-surat penawaran dan tagihan yang ditujukan oleh Ms Rebecca Bloomwood. Lalu kemudian kita dihadapkan oleh kepanikan Rebecca alias Becky dalam menghadapi tagihan-tagihan ini. Ya ampun, konyol banget.. Yang lebih lucu, disaat dia sedang menghadapi krisis keuangan ini, dia tetap saja membelanjakan uangya yang ekstra mepet. Cerita ini diambil dari sudut pandang Becky si tokoh utama dan aku suka perdebatan batinnya. Diungkapkan dengan sangat lugas dan cerdik oleh si pengarang, Sophie Kinsella. Sangat menarik. Walaupun sejujurnya, kadang terasa berlebihan dan bikin jengkel😉

Walaupun Becky bekerja di bidang keuangan, dia sangat payah dalam mengatur keuangannya sendiri. Waktu aku baca novel ini, aku kembali berfikir, apa emang gini ya barang-barang ―terutama aksesoris dan pakaian― di mata shopaholic?? Aku jadi ikut-ikutan membayangkan bahwa segala sesuatunya itu INDAH dan CANTIK. Belum lagi di cerita ini bakalan selalu berorientasi dengan merek dagang, walaupun nggak semua aku kenal dan aku juga nggak tahu merek itu emang asli adanya atau hanya karangan. Tapi aku beranggapan bahwa semua itu benar-benar real. Dunia fesyen memang ngeri.. bagi aku yang nggak begitu memperhatikan fesyen dan bukan pengikut tren fesyen.. hhehe..

Kembali ke Becky. Diceritakan bahwa Becky bekerja di sebuah majalah keuangan Successful Saving dan memiliki seorang bos bernama Philip dan sahabat bernama Suze ―yang sangat baik― yang tinggal bersamanya di Fulham dan Elly Granger yang bekerja di Investor’s Weekly News. Sesungguhnya apartemen itu milik Suze, hanya saja Becky tinggal bersamanya dan membayar uang sewa yang tidak seberapa dibandingkan harga pasaran sesungguhnya. Hari itu Becky sedang ada konflik mengenai surat tagihan, lalu Philip mengutusnya untuk menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh Brandon Communications ―sebuah perusahaan PR paling besar di London, dalam perjalanan Becky tergoda oleh kata SALE yang terpampang di jendela Denny and George, ia menemukan sebuah scarf yang selama ini ia idamkan juga masuk kategori SALE itu. Karena VISA-nya tertinggal di meja kantor, ia memohon pada pegawai toko agar scarf itu disimpankan hingga batas jam 6 sore nanti. Ia akhirnya pergi ke Brandon Communications lalu meminjam uang tunai pada temannya di tengah konferensi. Sayangnya suaranya terlampau keras sehingga seluruh peserta dapat mendengar suaranya. Bahkan Luke Brandon sang pemilik Brandon Comm pun mendengarnya. Akhirnya Luke meminjaminya 20 Pound setelah Becky mengaku ―namun boong― bahwa uang itu untuk membelikan bibinya yang sedang sakit sebuah hadiah. Alamak.. Padahal selama ini Becky tidak suka dengan Luke Brandon, apalagi dengan asistennya si Alicia. Namun malah Luke lah yang ‘menyelamatkannya’. Ckck.. Tapi eeh, waktu Becky baru keluar dari Denny and George, ia berpapasan dengan Luke. Aku ketawa waktu baca percakapan mereka.

“Sudah dapat?” katanya dengan dahi sedikit berkerut.
“Apa?”
“Kado untuk bibimu.”
“Oh yah,” ujarku, menelan ludah. “Ya, sudah… sudah kudapat.”
“Yang itu?” ia menunjuk kantongku dan pipiku mulai memerah.
“Ya,” kataku akhirnya. “Kupikir sebuah… sebuah syal pasti cocok.”
“Kau sangat murah hati. Denny and George.” Alisnya terangkat. “Bibimu pasti seorang wanita modis.”
“Memang.” ujarku, lalu berdeham. “Dia sangat kreatif dan istimewa.”
“Aku yakin begitu.” ujar Luke…
 

Ampun-ampun.. Bikin geli. Terutama saat nanti Becky memutuskan bahwa membeli lotere adalah solusi untuk masalah keungannya. Ia bahkan membeli 9 lotere! Aiih.. pikiran dangkal. Tapi dia bisa-bisanya membayangkan panjang lebar kali tinggi mengenai apa yang akan ia lakukan sebagai pemenang lotere. Ia bahkan membayangkan membeli rumah, membayar tagihan-tagihannya, dan yang terutama, berbelanja! Lucu banget membayangkan imajinasinya ini.. Apalagi entah kenapa ia sangat yakin bahwa ialah sang pemenang lotere. Ia pun sampai merenungkan apa yang harus ia lakukan saat si pembawa acara National Lottery mengumumkan bahwa ia pemenangnya. Apakah ia akan menjerit?? Atau apakah ia akan diam saja?? Ckck.. Bener-bener konyol.. Tapi udah ketebak kan gimana akhirnya? Jelas aja ia nggak menang. haha…

Kini muncul ide gila lain dari Becky. Ia akan mulai berhemat dan mengikuti semua saran dari buku David E. Barton tentang mengatur keuangan. Ia menahan diri buat belanja, makan diluar, pergi berlibur, dan selalu mencatat pengeluarannya setiap hari. Wow.. Ternyata ada juga ya orang yang sebegitu banyaknya pengeluaran dalam sehari walaupun menurutnya hanya beli barang-barang kecil. Aku juga jadi lebih yakin bahwa sebenarnya penawaran-penawaran di toko yang sering kita lihat seperti, diskon, beli ini gratis itu, beli ini dapat satu paket itu, kupon belanja, dll. Itu sungguh-sungguh penipuan. Ya ampun.. gila-gilaan benar ya dunia perdagangan itu. Buat yang emang nggak hobi belanja, atau pintar mengendalikan diri, atau juga yang tahu bahwa semua ini hanya siasat yang menyesatkan ―dan keseringan membuat kita terlena dan menyebabkan kita terus-terusan beli barang untuk mendapatkan kupon gratis dan sebagainya― sebenarnya sangatlah hebat. Namun sayangnya sang tokoh utama kita ini digambarkan sebagai sosok yang sangat ―sangat― doyan belanja dan walaupun berniat untuk berhemat, dia selalu menemukan alasan lain yang membuatnya dapat memiliki barang itu. Alasan yang kadang-kadang berlebihan. Akhirnya ia memutuskan bahwa Kurangi Belanja bukanlah solusi yang tepat buat dia. Kini pilihannya hanya tinggal Perbesar Penghasilan dan dia tahu-tahu sudah mendapatkan ide, ia akan menjadi jurnalis freelance. Itulah kenapa ia harus mencari koneksi seluas-luasnya.

Di sebuah acara konferensi pers tentang peluncuran dana pensiun oleh Sacrum Asset Management, ia berkenalan dengan Eric Foreman dari Daily World. Rupanya Eric yang duduk tepat disebelahnya ini membuat suatu kekacauan melalui pertanyaan-pertanyaan kritis pada Sacrum Management, yang membuat mereka mati kutu, lalu pergi begitu saja dari depan umum. Wow.. Waktu aku baca bagian ini aku sampai nyengir.. berani bener ya para jurnalis itu. Keren😀

Dan heii, Becky dapat kerja paruh waktu tiap hari sabtu sebagai asisten sales di toko pakaian Ally Smith! Menurutnya yang penting ia dapat diskon belanja dan dia beranggapan bahwa ia akan mendapat bayaran selagi berbelanja. Ckck.. Cewek ini pikirannya simpel tapi implikasinya rumit.. Aku suka karakter gini.. Tapi rupanya ia sudah dipecat padahal ia belum gelap menyelesaikan shift kerja hari pertamanya. Edan..

Ide lainnya, ia ingin menjadi broker keuangan dan mendatangi firma head-hunter untuk mencari lowongan kerjaan. Sayangnya ia sangat berlebihan dalam menulis CV. Ia mengaku fasih berbahasa Finlandia. Jelas aja waktu ia ada wawancara dengan calon bos Finland nya, ia nggak bisa jawab dan malah lari meninggalkan ruangan. Heu.. Di luar gedung, ia bertemu Luke Brandon dan cowok itu meminta bantuannya untuk memilihkan kopor. Becky pun sangat senang karena setelah itu Luke juga mengajaknya makan siang. Hatinya mulai melambung dan beranggapan bahwa Luke memiliki perasaan padanya. Tapi ternyata dengan entengnya Luke berkata bahwa kopor itu akan ia hadiahkan kepada pacarnya, Sacha. Becky kecewa setengah mati lalu pergi sebelum makan malamnya datang.

Di apartemen, Becky membaca majalah  Suze yang ada artikel tentang Seratus Bujangan Terkaya di London. Ia nggak heran membaca nama Luke Brandon sebagai lelaki terkaya ke 31 dimana juga disebutkan tentang kekasihnya, Sacha de Bonneville, putri seorang multimilyuner Prancis. Ia masa bodoh dengan informasi ini dan tetap membaca nama orang-orang lain yang masuh daftar. Saat matanya berhenti di nama Tarquin Cleath-Stuart, ia syok. Rupanya ini Tarquin yang sama dengan Tarquin sepupu Suze, Tarquin yang sama yang diam-diam naksir Becky, dan Tarquin yang sama yang mengajaknya berkencan malam besoknya dan ia menyetujuinya hanya karena ia tidak tega mengecewakan Suze. Tarquin yang sama yang Becky mati-matian hindari. Ya ampun.. Dan Tarquin adalah Bujangan terkaya ke 15! Haha.. Taulah kemudian gimana. Becky berusaha tampil cantik dan terlihat seolah senang berkencan dengan Tarquin. Namun diluar imajinasi liarnya, ternyata Tarquin hanya mengajak Becky makan di Pizza Express dan saat Tarquin sedang ijin ke kamar kecil, Becky membaca buku cek Tarquin yang tergeletak di meja. Tapiii, rupanya Tarquin melihatnya dari jauh dan itu membuat Becky merasa tidak enak. Akhirnya makan malam pun berakhir dengan canggung. Haduh.. kasihan Tarquin.. Ia menganggap bahwa Becky telah menolaknya karena melihat gelagat Becky yang tidak nyaman selama makan malam itu. Suze pun sedikit kecewa karena Becky telah mengecewakan sepupu tersayangnya.

Hari berikutnya, Becky pergi berbelanja untuk menghilangkan perasaannya yang campur aduk. Namun ternyata entah kenapa prosesi ini tidak bisa mengembalikan mood-nya. Yang lebih parah, saat akan membayar, semua kartu kreditnya telah dibekukan dan ia harus menanggung malu di depan banyak orang. Wow.. Rupanya ini sedang masa-masa kelam Becky. Walaupun karakternya yang tidak bisa menahan diri sering membuatku sebal, toh aku juga kasihan karena sifatnya ini. Ia jadi sering terlibat kesulitan karenanya. Yang jelas, aku baca novel ini membuatku berpikir, “banyak kah orang-orang seperti Becky di luar sana?” Yah, sebetulnya nggak usah jauh-jauh. Setidaknya aku punya teman yang kurang lebih kayak Becky gini, sifat shopaholicnya maksudku. Tapi dia memang dari keluarga yang berada. Kalau ia memang mampu dalam hal finansial, tidak masalah memang. Tapi kalau orang itu ―yang punya kecenderungan shopaholic― kesulitan dalam keuangan namun tetap berbelanja, itu kebangetan namanya. Setidaknya kita harus menyadari lah bagaimana kondisi keuangan kita sendiri. Jadilah orang yang bijak🙂 Ceileh, kok aku jadi ada curhatnya gini.. Tapi nggak papa, sekali-kali deh..

Oia, mengenai novel ini, secara keseluruhan memang menarik dan enak buat diikuti walaupun jangan heran kalau ada saat nanti kamu dibuat jengkel dengan ulah Becky😀

Oke, sekarang kita bahas mengenai filmnya yaa.. Seperti yang kita tahu, buku ini sudah difilmkan dengan judul yang sama, yaitu Confessions Of A Shopaholic. Di Indonesia film ini di release pada tanggal 11 Maret 2009. Film yang berdurasi 104 menit ini diproduksi oleh Touchstone Pictures dan Jerry Bruckheimer Films dengan Isla Fisher dan Hugh Dancy sebagai dua tokoh utamanya dan Krysten Ritter, Leslie Bibb, Robert Stanton, dan Nick Cornish sebagai para pemeran pendukung.

Isla Fisher yang berperan sebagai Rebecca Bloomwood pernah ambil bagian dalam film Wedding Crashers, Wedding Daze, dan Definitely, Maybe dan akhir-akhir ini ia terlibat dalam film Rango sebagai pengisi suara karakter Beans. Hugh Dancy berperan sebagai Luke Brandon. Lelaki tampan ini pernah membintangi beberapa film diantaranya adalah Black Hawk Down, Ella Enchanted, King Arthur dan Blood And Chocolate.

  

Krysten Ritter yang berperan sebagai sahabat Becky, Suze, ini juga pernah membintangi beberapa film, diantaranya 27 Dresses dan What Happens In Vegas. Sedangkan Leslie Bibb kebagian peran sebagai Alicia Billington, sang sekretaris yang gaya. Bibb membintangi Christine Everhart di dua film Iron Man. Untuk Robert Stanton, ia adalah pemeran Derek Smeath. Stanton ini sebagai besar hanya berperan sebagai tokoh pembantu seperti di Merkury Rising dan Arthur and the Revenge of Maltazard. Namun di film ini, menurutku tokoh ini cukup penting karena dialah sang penagih utang yang terus-terusan membayangi dan menimbulkan ketakutan Becky si tokoh utama. Tokoh terakhir yang menurutku penting adalah Tarquin yang diperankan oleh Nick Cornish. Namun sayangnya tokoh ini berbeda peran antara di film dan bukunya.

Secara keseluruhan aja ya, antara film dan novelnya sangat jauh berbeda jalan ceritanya walaupun intinya masih sama, Rebecca hobby belanja, trus butuh pemasukan lebih banyak, trus dia nyari kerjaan lain, trus dikejar-kejar sama Derek Smeath trus akhirnya jadi terkenal dan masuk TV walaupun, ya ampunn, bedanya hampir di keseluruhan cerita. Kalau di film kan Becky kenalan sama Luke saat ia wawancara kerja, tapi kalau di buku mereka sudah saling kenal dari awal. Belum lagi dari awal cerita, kalau di buku, Becky memang sudah kerja di Successful Saving, tapi kalau di film ia harus wawancara kerja dulu baru masuk perusahaan ini. Selain itu, tokoh Tarquin kalo di buku pertama seri Shopaholic ini adalah sepupu Suze, sedangkan kalo di filmnya, Tarquin adalah pacar Suze! Yah, pokoknya niih, kalau aku disuru ngebandingin antara dua versi Confessions Of A Shopaholic ini, ampuun, nyerah aku. Kenapa? Karena memang dua versi ini jalan ceritanya udah beda banget! Ckck..

COVER BARU (NC)

Ratingku buat novel ini : 7,8

 
2 Comments

Posted by on July 1, 2011 in ChickLit

 

2 responses to “Shopaholic 1 – Confessions Of A Shopaholic

  1. rosyiida arbil (@just_teen_bieb)

    July 16, 2013 at 10:23 pm

    wah aku juga suka banget baca novel terjemahan entah kenapa?
    well salam kenal. Mnurutku stlh bca novel shopaholic ini emang beda jauh ama filmnya ya….. tpi filmnya tetep enak kok dilihat iya kan? klo boleh tanya ini semua novelnya sudah punya semua ya? bagi2 dong…. he he he ^_^

     
    • koleksinovelku

      November 12, 2013 at 10:49 pm

      salam kenal juga rosyiida..
      hhehe, iyaa, overall filmnya cukup enak buat dinikmati kok.
      yups, novel yang aku muat di mini library aku sudah punya semua, tapi itu masih sebagian aja, masi ada yg belum aku review dan belum ada kesempatan buat ngeposting nya nii🙂

       

you have a comment? just write here and post it ^^,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: