RSS

Tunnels 1 – Tunnels

19 Jun

  • Pengarang               :    Roderick Gordon & Brian Williams
  • Genre                      :    Adventure
  • Tebal                       :    660 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Mizan
  • Harga                      :    78.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2007
  • Cetakan ke-6            :    Oktober 2009
  • Tanggal Beli             :    29 Desember 2010

“Penyusup!” seru si pria misterius. Refleks, Will meraih sekop, tetapi pria itu merebutnya. 

“Kami telah menantikan kedatanganmu. Kata ayahmu, kau akan menyusulnya,” tambahnya. 

“Ayahku? Di mana ayahku? Apa yang kalian lakukan padanya?” Will meronta, menendangi pria itu. 

“Tak ada gunanya melawan. Tempat ini akan menjadi penjara buatmu!” Pria itu mengendus Will. “Topsoilers. Menjijikkan!” 

Will berusaha menemukan ayahnya, Dr. Burrows, yang menghilang tanpa jejak. Menjelajahi lorong-lorong purba bawah tanah, sebuah rahasia maut pun terungkap dan mengancam jiwa Will: koloni bawah tanah yang terlupakan oleh dunia atas. 

Dipimpin oleh Styx, koloni itu merencanakan sebuah revolusi untuk menyerbu manusia dunia atas. Seperti apakah dunia koloni bawah tanah itu? Berhasilkah Will menemukan ayahnya, sekaligus menggagalkan upaya makar Styx dan koloni bawah tanah?

Review :

Aku tertarik beli novel ini karena ada kata-kata ‘The Next Harry Potter’ nya. Penasaran tahu, gimana sih ceritanya kok bisa dibilang ‘The Next Harry Potter’.. Dan saat aku mulai baca, ehm, beda topik sih sama Harry Potter. Kalo di HarPot kan ada unsur sihirnya, kalo disini sama sekali nggak ada. Di novel ini lebih ke permainan ‘nalarisasi’ :p Yang menarik dari seri Tunnels ini ada ilustrasi yang sesekali muncul untuk menggambarkan suatu situasi. Bagus lho.. Aku suka..

Cerita Tunnels ini karena masih buku pertama dari seri Tunnels yang ada empat buku, jadinya kebanyakan masih menceritakan tentang bagaimana Will menemukan sebuah koloni di bawah tanah. Will dan ayahnya yang seorang kurator museum di Highfield, London, Dr. Roger Burrows, memiliki hobi aneh yaitu menggali tanah untuk menemukan benda-benda bersejarah. Bagi anak seusia Will ―empat belas tahun― kebiasaan ini tentu saja aneh. Belum lagi ternyata Will memang dikucilkan diantara  teman-teman sekolahnya karena ia adalah seorang albino. Kegiatan penggalian ayah dan anak ini sebenarnya cukup menarik. Gimana nggak, mereka bahkan menemukan sebuah stasiun bawah tanah tua yang telah lama terbengkalai! Stasiun itu sudah tidak terpakai sejak tahun 1895. Ckck.. Tapi hobi itulah yang menyebabkan mereka terjerumus dalam situasi yang lebih pelik.

Suatu hari Dr. Burrows menghilang. Tanpa meninggalkan pesan apapun. Hal terakhir yang terjadi sebelum Dr. Burrows menghilang adalah ia bertengkar hebat dengan istrinya. Sejak menghilangnya Dr.Burrows, keluarga Will semakin berantakan. Diceritakan bahwa Ibu Will memiliki ketergantungan terhadap TV. Wanita tua itu hampir selalu di depan TV dan hampir selalu mengabaikan anak-anaknya. Sedangkan Rebecca, adik perempuan Will, selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak jarang ia dan Will bertengkar. Sejak ayahnya menghilang, ibunya terpaksa masuk ke dalam rehabilitasi sedangkan Rebecca dikirim ke rumah bibinya, Bibi Jean. Karena bisa dibilang hanya Dr.Burrows lah satu-satunya keluarga yang dekat dengannya, itulah yang membuat tekatnya semakin bulat dan mantap yaitu untuk mencari tahu kenapa ayahnya menghilang.

Dengan bantuan dari sahabatnya, Chester Rawls, Ia menyelidiki kesana kemari dan mengarahkan mereka  pada sebuah lubang yang ayahnya buat diam-diam di ruang bawah tanah dalam rumahnya. Will dan Chester memutuskan untuk melakukan perjalanan ke dalam tanah itu. Mereka terkejut saat menemukan sebuah koloni di bawah tanah itu. Sekelompok orang itu disebut dengan Colony. Penduduk Colony berkulit pucat dan berambut putih. Yang lebih mantap lagi, di bawah tanah itu terdapat rumah-rumah layaknya pemukinan manusia di permukaan bumi. Ternyata mereka memiliki sistem saluran udara yang banyak disamarkan dengan bangunan-bangunan di permukaan bumi. Well, ternyataa lagi, para Colony sangat membenci manusia permukaan bumi yang mereka sebut Topsoiler karena Colony menganggap Topsoiler semakin mencemari udara dan merusah banyak sistem ventilasi kaum Colony sehingga kehidupan Colony yang tadinya tenang dan damai mulai terancam.

Karena tertangkap, mereka akhirnya memenjarakan Will dan Chester. Sayangnya nasib Chester kurang beruntung.  Tidak lama kemudian Will dibebaskan oleh sebuah keluarga yang mengaku sebagai keluarga kandung Will. Tentu saja akhirnya Will dapat menjawab dari mana keturunan albino ini ia dapatkan. Will bertemu dengan ayah biologis dan adik laki-laki yang tidak ia sangka ia miliki. Adik nya bernama Caleb ―Cal― Jerome. Ia ternyata juga memiliki seorang Paman, Paman Tam, yang sangat ia suka kepribadiannya. Selain itu Ia juga memiliki seorang nenek yang penyayang. Dan akhirnya, ia mengetahui fakta kehidupannya ―bahwa nama lahirnya adalah Seth Jerome― dan bagaimana ia sampai bisa diasuh oleh keluarga Topsiol. Namun semua ini tidak merubah apapun. Ia tetap bertekat untuk membebaskan Chester dan mencari ayahnya. Dengan bantuan peta dari Paman Tam, Will pergi meninggalkan keluarga ini dan melakukan perjalanan untuk mencari penjara tempat Chester berada. Setelah berhasil mengeluarkan Chester mereka pun segera saja menjadi target pengejaran. Satu hal yang diluar rencana, Cal muncul dan ingin ikut dengan Will. Ckck.. Dasar anak kecil. Mana alasannya simpel pula, ia ingin pergi ke permukaan, seperti halnya Will dan ibu mereka. Ya ampunn.. Dalam keadaan terdesak apa boleh buat kan.. Namun satu lagi kejutan yang Will dapatkan. Ternyata pemimpin para Styx yang mengepung mereka adalah Rebecca, adik yang selama ini ia kenal! Yah, setidaknya Will pikir Will mengenalnya. Tapi ternyata Rebecca juga seorang Styx, semacam pasukan penjaga perdamaian di Colony, namun memiliki misi memusnahkan Topsoiler. Wow.. Aku aja juga kaget waktu membacanya.. Sayangnya, lagi-lagi Will harus melepaskan tangan Chester. Sahabatnya itu sekali lagi berada di tangan para Styx dan Will terpaksa mencari cara lain untuk menyelamatkannya, lagi.

Bersama Cal, Will melakukan perjalanan ke Eternal City. Mereka harus memalui tanah yang memiliki wabah mamatikan sementara mereka hanya memiliki satu masker untuk berdua. Tentu saja, melalui kota mati ini, akhirnya Will bisa membawa Cal kembali ke permukaan tanah. Mereka muncul di sebuah gorong-gorong di dekat sungai Thames. Akhirnya Cal dapat melihat langit untuk pertama kalinya. Walau begitu, Will masih saja merasa bersalah karena meninggalkan Chester di Dunia Bawah. Tentu saja Will masih bertekat untuk menyelamatkan Chester, namun sayangnya mereka berdua harus menyusun strategi. Belum lagi ternyata Will sakit, kemungkinan karena efek wabah Eternal City. Mau nggak mau Will meminta Cal untuk membawa mereka ke rumah bibi Jean dengan arahan dari Will yang semakin sekarat. Di rumah Bibi Jean, ia dirawat oleh Cal sedangkan bibi Jean sendiri sangat suka pada kucing piaraan Cal yang terus mengikutinya kemana ia pergi, Bartleby. Setelah sembuh, Will dan Cal kembali melanjutkan rencana awal mereka, yaitu kembali ke Dunia Bawah dan menyelamatkan sahabatnya. Perjalanan ke bawah tanah lagi pun dimulai..

Secara keseluruhan aku suka novel ini, walaupun mungkin cerita awal-awal sedikit membosankan. Tapi kemudian perjalanan cerita semakin cepat dan seru.

Ratingku buat novel ini : 7,6

 
Leave a comment

Posted by on June 19, 2011 in High Fantasy

 

you have a comment? just write here and post it ^^,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: