RSS

Lorien Legacies 1 – I Am Number Four

09 Jun

  • Pengarang               :    Pittacus Lore
  • Genre                      :    Fantasy, Action
  • Tebal                       :    496 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Mizan
  • Harga                      :    59.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2010
  • Cetakan                   :    Januari 2011
  • Tanggal Beli             :    1 Juni 2011

 Kami hidup tersamar di tengah-tengah kalian,

di kota kalian, menjadi tetangga kalian.

Menunggu hari saat kami saling bertemu untuk bertempur terakhir kalinya.

Bila kami menang, kalian akan terselamatkan. Bila kami kalah, semua akan musnah.

Sepuluh tahun lalu, sembilan anak dilarikan ke Bumi dari Planet Lorien yang hancur karena perang. Anak-anak tersebut disembunyikan di berbagai tempat di Bumi dan dimantrai sehingga kaum Mogadorian yang kejam tak bisa membunuh mereka kecuali secara berurutan. Kini, satu per satu anak terbunuh, sesuai urutan nomornya: Satu, Dua, Tiga. Dan, John Smith adalah Nomor Empat.

Itu sebabnya John selalu dalam pelarian. Berpindah-pindah, memakai nama dan identitas baru setiap enam bulan. Hingga pelariannya itu membawanya ke Paradise, Ohio, tempat dia menemukan Sarah ―menemukan cintanya. Dan John tak ingin lari lagi. Dia bertekad untuk melawan. Dia pun berjuang mengembangkan kekuatannya, Pusaka Lorien, untuk melawan kaum Mogadorian yang terus memburu.

Berhasilkah John mengalahkan kaum Mogadorian? Ataukah John harus meninggalkan Sarah dan hidup diburu selamanya? Ikuti kisah heroik pelarian Planet Lorien yang diklaim sebagai The Next Twilight Saga ini!

Review  :

Aku penasaran sama bukunya karena aku sudah nonton filmnya. Saat aku mulai baca bukunya, aku semakin semangat karena buku ini ditulis dengan apik dan lugas dan diambil dari sudut pandang si tokoh utama, John. Pada pembukaannya juga cerita ini sama dengan di filmnya, jadi aku menyimpulkan bahwa film I Am Number Four ini dibuat semirip mungkin dengan bukunya. Mengenai penulis novel ini sebenarnya bukanlah Pittacus Lore beneran. Pittacus Lore hanyalah panggilan yang digunakan oleh Jobie Hughes dan James Frey. Jadi intinya, buku ini ditulis oleh dua orang pengarang, yaitu Hughes dan Frey.

Awal cerita diceritakan tentang kaum Mogadorian yang berhasil menemukan Nomor Tiga di Kongo dan membunuhnya. Nomor Empat yang saat itu tinggal di Florida dan bernama Daniel Jones dapat merasakan kematian Nomor Tiga. Mereka memiliki sebuah sistem yang dapat memberitahukan keadaan masing-masing. Jika salah satu dari mereka ditemukan dan dibunuh oleh Mogadorian, akan muncul bekas luka berbentuk goresan di sekeliling pergelangan kaki kanan mereka yang masih hidup. Dan dipergelangan kaki kiri mereka terdapat tanda melingkar kecil yang serupa dengan jimat yang mereka kenakan.

Diceritakan sembilan anak kecil dilarikan dari Planet Lorien untuk melindungi mereka. Setiap anak didampingi oleh satu pelindung. Anak-anak itu di sebut Garde, warga yang memiliki Pusaka atau kekuatan, sedangkan pelindung mereka di sebut Cȇpan, warga yang tidak memiliki kekuatan. Dalam hal ini John adalah Garde sedangkan Henri adalah Cȇpan nya. Setelah sampai di Bumi, mereka berpencar dan menjalani hidup masing-masing. Mereka diberi mantra pelindung. Mantra pelindung itu menjamin bahwa mereka hanya bisa dibunuh sesuai dengan nomor urut mereka, asalkan mereka tetap terpisah. Jika mereka bertemu, mantra pelindung itu terpatahkan.

Setelah tanda Nomor Tiga muncul, Henri langsung membawa Daniel pergi dari kota itu dan berganti identitas menjadi John Smith sedangkan Henri tetap memakai namanya, hanya berganti nama belakang untuk disesuaikan dengan nama baru si Nomor Empat. Mereka memutuskan kali ini mereka akan menetap di Paradise Ohio. Henri adalah pelindungnya. Dan dalam peran kehidupan mereka, Henri adalah ayah John.

Lagi, dan lagi. Nama baru dan sekolah baru. John berusaha untuk tidak tampil mencolok. Aku suka perbincangan John dan Henri saat mobil berhenti di depan sekolah baru John. Karakter Henri sangat manis. Ia digambarkan dengan ayah yang baik, penyayang dan sedikit protektif terhadap anak lelakinya. Menurutku itu manis banget🙂

Di hari pertama dan baru mau masuk gedung, John berkenalan dengan Sarah Hart, anak dari agen properti yang membantu Henri mencari rumah. John menyukai Sarah seketika itu juga. Sayangnya ia juga segera mendapat peringatan dari Mark James, bintang tim football di sekolah ini. Mark ternyata pernah berkencan dengan Sarah saat gadis itu bergabung di tim cheerleaders. Tapi tiba-tiba ia berhenti dari tim dan mencampakan Mark. Namun Mark tetap saja masih ngejar Sarah. Setelah keluar dari tim, Sarah menekuni hobi fotografi nya sehingga kemanapun ia pergi selalu saja membawa kamera. Disekolah baru ini setidaknya John punya teman baru bernama Sam Goode yang sangat tertarik dengan alien dan tetekbengeknya.

Di festival halloween kota Paradise, John pergi dengan Henri dan bertemu Sarah serta Sam disana. Sarah kemudian mengajak John untuk naik wahana gerobak dorong yang membawa mereka memasuki sebuah rumah hantu. Sayangnya John malah di keroyok Mark dan gengnya. Karena emosi saat mendengar teriakan Sarah, John menggunakan kekuatannya untuk melawan mereka. Ia tidak peduli kalau harus meninggalkan Ohio malam itu juga asalkan orang-orang ini berhenti menganggu Sarah. Ia sungguh jatuh cinta pada Sarah.

Sarah mengundang John dan Henri untuk merayakan Thanksgiving bersama keluarganya. Sayangnya, hari itu Henri harus ke Athens untuk mencari tahu kebenaran sebuah artikel majalah yang menyebutkan tentang keberadaan kaum Mogadorian. Henri berjanji pada John maksimal jam satu siang ia sudah dirumah untuk kemudian memenuhi undangan makan malam. Sayangnya, sampai jam lima lewat John tidak mendapatkan kepastian keberadaan Henri. Ia sangat cemas dan kalut kalau-kalau Henri meninggal. Saat makan malam itulah John mendapatkan kemampuan telekinetisnya, padahal selama ini ia dan Henri hampir yakin dan putus asa bahwa John tidak akan mendapatkannya. Saat itu juga ia pamit pada Sarah sekeluarga dan meminta bantuan Sam untuk mencari Henri.

Benar saja, ternyata John menemukan Henri disekap di kantor majalah itu. Dan saat mereka akan pergi, muncullah kaum Mogadorian. Beruntung mereka dapat pergi dengan segera. Sejak saat itu Sam tahu mengenai siapa John sebenarnya. Sering kali ia juga ikut menyaksikan sesi latihan John bersama Henri. Suatu hari John, Sam dan Sarah mendapat undangan pesta di rumah Mark. Awalnya pesta berjalan lancar, dengan para pemain football yang mabuk disana-sini. Tapi ternyata menjelang tengah malam timbul kegemparan. Rumah Mark dilahap api dan Sarah terjebak di dalamnya bersama dua anjing Mark. John yang memiliki kemampuan tahan api segera menerobos ke dalam untuk menyelamatkan mereka. Sayangnya, walaupun John sudah berhati-hati agar tidak ada yang melihatnya masuk dan keluar dari rumah, tetap saja ada dua orang yang melihat dan mereka mengungkapkannya kepada polisi dan seorang wartawan bernama Baines. Walaupun John dengan lihainya berdalih dan menghapus kecurigaan polisi, wartawan itu tetap bersikukuh untuk mendapatkan kebenarannya karena ia tidak mempercayai cerita John.

Setelah penyelamatan itu, Sarah menjadi tahu bahwa John adalah alien dari planet Lorien. Tidak seperti yang John takutkan, ternyata Sarah menanggapinya dengan biasa. “…. Aku tak peduli apa kau ini atau dari mana kau berasal. Bagiku kau adalah John, laki-laki yang kucintai.”  Wew.. Dasar cinta🙂

Oia, tar di hari senin pasca kejadian kebakaran, mulailah terjadi kekacauan. Berita mengenai John muncul di media online, bahkan ada video saat ia masuk dan keluar dari rumah Mark. Pokoknya kacau. Henri aja sampe marah besar. Tapi aku iba sama dia. Hhu.. Kasihan Henri. Terlihat banget kalau dia sangat menyayangi John dan sangat ingin melindunginya. Tapi kan sekarang prioritas John lebih ke Sarah, jadi dia tidak memperdulikan keselamatannya sendiri. John meninggalkan Henri untuk kembali ke sekolah dan menemui Sarah. Saat itu jam usai sekolah, dan situasi di sana terasa mencekam dan tidak wajar. John menemukan Sarah di ruang fotografi dan saat mereka akan pergi, mereka di hadang oleh para Mogadorian. Mereka terus berlari dan bersembunyi. Saat inilah muncul si Nomor Enam. Nomor Enam memiliki kemampuan menghilang. Dia bisa menghilangkan diri dan benda apapun yang dipegangnya, seperti kemampuan kakek John. Saat situasi menggenting, muncul Henri dan Mark. Jadi sekarang mereka berlima harus melarikan diri secara diam-diam karena Mogadorian sudah mengepung mereka. Peperangan pun tak terelakkan lagi. Keadaan sangat kacau hingga mereka lupa pada kenyataan bahwa mantra pelindung mereka sudah terpatahkan karena John dan Nomor Enam ada di satu lokasi yang sama. Mereka harus lebih berhati-hati lagi. Sayang berhati-hati saja pun tidak cukup. Mereka jelas-jelas kalah jumlah. Yang jelas, waktu aku baca bagian ini, heu, aku nggak bisa berhenti membalik halaman. Aku benar-benar terhanyut dalam cerita dan terhipnotis dari adegan ke adegan. Huaa.. Kasihan Henri, aku cinta karakter Henri!! Aku nggak rela dia mati😥

 

Hah, sudahlah. Daripada terlarut dalam kesedihan terus, lebi baik sekarang kita bahas filmnya aja. Film dengan judul I Am Number Four yang diproduseri oleh Michael Bay ―produser dari seri Transformer― ini dibawah naungan DreamWorks SKG, Reliance Big Entertainment dan Bay Films. Film ini berdurasi 109 menit dan direlease tanggal 18 Februari 2011 di USA.

Para aktor dan aktris yang terlibat dalam proyek film ini adalah Alex Pettyfer sebagai John Smith, Timothy Olyphant  sebagai Henri Smith, Teresa Palmer sebagai Number Six, Dianna Agron sebagai Sarah Hart,  Callan McAuliffe sebagai Sam Goode, dan Jake Abel sebagai Mark James.  

Secara keseluruhan aku memang lebih suka versi bukunya. Tapi menurutku versi filmnya juga nggak kalah seru, walaupun ternyata versi filmnya merubah beberapa detail yang menurutku kebanyakan tidak terlalu penting. Tapi ada satu detail paling penting yang berubah, yaitu mengenai kemampuan John. Di buku, John diceritakan memiliki kemampuan tahan api. Tapi kalau di film, kemampuan tahan api Ini dimiliki bukan oleh John, tapi Nomor Enam. Wew.. Jadi kebayang kan nanti bagaimana bedanya situasi perang di buku dan film. Hhe.. Nah, alasan lain ku suka versi buku karena kalau di versi buku, aku bisa mendapatkan feel nya.. Terutama bagaimana perasaan John dan Henri selama perjalanan hidupnya ini. Perasaan mereka lebih tergambarkan melalui kata-kata daripada gambar di film.

Perbedaan lain antara buku dan film yaitu kalau di filmnya, di akhir-akhir cerita waktu perang Mark sama sekali tidak ada alias tidak terlibat padahal kalau di buku Mark cukup memegang peran. Selain itu kalau di film, Henri tidak ada dalam peperangan karena Henri diceritakan mati di penggerebekan oleh para Mogadorian saat di kantor majalah, tapi kalau dibukunya Henri baru mati saat perang ini. Huh, menyedihkan waktu lihat Henri mati di versi filmnya, tapi lebih menyedihkan waktu baca di bukunya😦

Ada satu hal yang menarik dari buku ini, nama yang digunakan kedua penulis, Pittacus Lore, sebenarnya juga dicantumkan atau disebutkan satu kali dalam cerita, di halaman 99, yaitu sebagai nama Tetua terkuat, pemimpin para Tetua planet, dan dengan kata lain penguasa Planet Lorien. Hhihi..

Ratingku buat novel ini : 8,4

 
Leave a comment

Posted by on June 9, 2011 in Science Fiction

 

you have a comment? just write here and post it ^^,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: