RSS

Dia, Tanpa Aku

22 Jul

 

  • Pengarang               :    Esti Kinasih
  • Genre                      :    Teenlit
  • Tebal                       :    280 hlm ; 20 cm
  • Penerbit                   :    Gramedia
  • Harga                      :    38.000 IDR
  • Pertama terbit          :    2008
  • Cetakan ke-8            :    Mei 2011
  • Tanggal Beli             :    8 Juli 2011

Ronald, cowok kelas 2 SMA, sudah lama naksir Citra yang masih kelas 3 SMP. Tapi Ronald belum mau PDKT. Ia menunggu sampai Citra masuk SMA, karena itu ia hanya bisa mengamati Citra dari jauh.

Saat yang ditunggu Ronald selama berbulan-bulan akhirnya tiba. Citra masuk SMA! Namun Ronald kecewa karena ternyata Citra masuk SMA yang sama dengan adiknya, Reinald, dan sekelas pula. Namun, keinginan dan harapan terbesar Ronald untuk mendekati Citra tak pernah terwujud. Cowok itu kecelakaan dan tewas di tempat, tidak jauh dari rumah Citra.

Reinald menganggap Citra-lah penyebab kematian kakaknya. Rasa marah dan keinginannya untuk menyalahkan Citra membuat sikapnya terhadap cewek itu menjadi penuh permusuhan. Keduanya kemudian kerap bertengkar tanpa Citra tahu pasti alasan sebenarnya. 

Sikap Reinald berubah drastis ketika Citra memutuskan untuk tidak lagi mengacuhkannya. Kini Reinald berada di posisi yang sama seperti Ronald dulu. Perubahan sikap Reinald itu tanpa sadar mendekatkan keduanya. Dan akhirnya Reinald tak lagi ingin menjaga Citra demi almarhum kakaknya.

“Gue suka cewek lo,” ucap Reinald suatu hari di depan foto Ronald. Dan itu membuat sang kakak kemudian “kembali”!

Review :

Ya ampuuuun! Aku suka sama gaya cerita Esti Kinasih! Aku baru baca buku ini sampe halaman ke dua aja udah dibuat ketawa ngakak. Huft.. Apalagi selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya.. Ckck. Lucunyaa.. Tapi sayangnya nggak untuk seterusnya..

Cerita ini dibuka oleh Ronald dan sahabat karibnya, Andika, dan memang di awal cerita, kedua tokoh ini yang paling banyak muncul, paling mendominasi. Ceritanya Ronald yang kelas 2 SMA hanya bisa memperhatikan, mengawasi, melihat, dan ‘mengantar’ Citra, cewek kelas 3 SMP, dari kejauhan. Ini karena dia belum mau PDKT sama Citra. Dia merasa Citra masih ‘dibawah umur’ buat dipacarin dan yang jelas, dia nggak mau ngeganggu konsentrasi Citra buat persiapan UAN. Dia lebih rela nunggu Citra lulus SMP dan masuk SMA dulu, baru ngedeketin dia.

Kali ini diceritakan bahwa hidup sang tokoh utama, Ronald, sangatlah sederhana. Ia bahkan harus mati-matian menabung dan bahkan jualan lontong dan bakwan hanya untuk membeli kaus dan jins yang ia idamkan selama ini, katanya sih pakaian buat PDKT ma Citra. Astaga.. Aku salut sama tokoh Ronald ini.

Lalu cerita dengan cepat mengalir dan tau-tau Citra udah masuk SMA. Tapi Ronald kecewa dan kesal karena Citra malah satu sekolah sama Reinald, adik Ronald yang juga baru aja masuk SMA, satu kelas pula! Yang lucu, Ronald minta sama Reinald buat jaga Citra biar cewek itu nggak diganggu sama kakak kelasnya, terutama yang cowok, waktu MOS. Terang aja Reinald nolak mentah-mentah. Kenal aja nggak, masa disuru jadi bodyguard-nya. Hhaha.. Disinilah yang membuatku semakin suka sama Ronald, cowok itu cintanya sama Citra bener-bener, makanya selama ini bikin Andika pusing kalo Ronald cerita panjang lebar mengenai Citra, padahal Ronald sama Citra aja nggak saling kenal. Ckck.. Reinald juga geleng-geleng kepala kalo lihat tingkah Ronald, Reinald pun mengenali Citra di sekolah barunya juga karena saking seringnya ia lihat foto-foto Citra yang diambil diam-diam oleh Ronald dan disimpan kakaknya itu dilaci mejanya. Wew, ada sedikit kengerian juga ya sebenernya, pakai acara nguntit gitu juga karena saking cintanya ;-)

Pasca MOS tiga hari, akhirnya Reinald pun pakai baju SMA nya, begitu juga dengan Citra. Ronald senang bukan main, akhirnya cewek yang selama ini ia ikuti perkembangannya dari jauh udah jadi cewek yang lebih dewasa, udah jadi cewek SMA, udah nggak aneh lagi kalau suatu hari Ronald jalan dan menggandengnya. Akhirnya, malam hari itu pun ia melancarkan aksinya, menjalankan rencana yang udah berbulan-bulan ia tangguhkan. Ia akan mendatangi rumah Citra dan mengungkapkan perasaannya pada cewek itu. Persiapan yang ia lakukan sangat panjang, pokoknya suasana hatinya hari itu sangat baik, dan tingkah lakunya sangat aneh, baik di sekolah maupun dirumah. Andika, sang sahabat, memaksakan diri agar Ronald mengijinkannya mengantarnya hanya sampai di luar gang luar rumah Citra. Walaupun hanya dengan taksi, Ronald pun menyamput permintaan sahabatnya itu dengan tangan terbuka. Sepanjang sore, Ronald melakukan banyak persiapan, termasuk menyeterika sendiri kaus dan jins akan ia pakai. Ia bahkan melakukan hal-hal yang bahkan sebelumnya tidak pernah ia lakukan, dan ini membuat Reinal dan Raina, adiknya yang paling kecil, keheranan. Sebelum pergi, ia meminta doa restu dari seluruh anggota  keluarganya, bahkan juga mamanya yang kebetulan saat itu belum pulang, jadi Ronald meneleponnya. Begitu selesai berpamitan, Andika datang dengan taksi yang akan mereka tumpangi. Lagi-lagi Ronald bertingkah lucu dan aneh. Ia sangat gugup dan bahagia setengah mati. Saat taksi berhenti di seberang jalan ke rumah Citra, Ronald keluar dari taksi dan berpamitan kepada Andika, dan ya ampun.. Aku tahu, inilah detik-detik menjelang kematian Ronald. Sumpah, tersera kalian mau bilang aku cengeng atau apa, tapi aku beneran nangis disini :-( Sebuah kecelakaan, dan Ronald pun meninggal. Aku sedih banget melalui perasaan kehilangan Andika, bagaimana ia melarang seorangpun untuk duduk di kursi kosong Ronald, hingga saat cowok itu mengeluarkan kesedihannya dengan mengamuk di gudang sekolah. Hhhuhuhuhu… Kasihan Ronald, kasihan Andika, kasihan Reinald, kasihan semuanyaa.. Sediiiihnyaa… T_T

Lalu, segalanya jadi jelas buat Reinald. Ia membenci Citra karena ia menganggap Citra lah penyebab kematian Ronald. Citra yang bertanggung jawab. Dan Citra yang akan menanggungnya. Kemudian, sejak kembalinya Reinald ke kelas, ia menjadi aneh dan suka marah pada Citra. Awalnya Citra menganggap hal ini wajar, karena Reinald baru saja kehilangan kakaknya. Namun semakin lama pertanyaan-pertanyaan Reinald semakin aneh dan menganggunya. Kesabaran dan kemarahan Citra tidak terbendung lagi. Ia balik marah-marah pada Reinald. Namun sayangnya ia membuat sebuah kesalahan yang membuatnya malah terjebak dengan Reinald dalam meja yang sama. Yups. Kini Reinald dan Citra terpaksa berbagi meja, mereka duduk bersebelahan. Banyak spekulasi lucu yang keluar dari mulut teman-temannya, dan menurutku ini cukup lucu sebenarnya.

Namun rupanya dengan duduk bersebelahan malah mempersering tersulutnya api kemarah masing-masing. Mereka mudah bertengkar, dan seringkali ini menyebabkan teman-teman sekelasnya terkesima, heran, dan bahkan ada momen lucu juga disini. Namun lagi-lagi Citra menyuarakan pertanyaan yang sama, kenapa Reinald suka marah-marah? Dan Kenapa ia marah pada Citra? Namun dengan keras kepala Reinald tidak mau memberitahukan alasannya dan terus memaksakan kehendaknya pada Citra. Hingga akhirnya Citra mencapai titik kesepakatan dengan dirinya sendiri, bahwa ia akan mengacuhkan Reinald. Akan bersabar dan tidak menanggapi segala kemarahan Reinald. Ia akan bungkam.

Benar saja, ini menimbulkan efek menenangkan secara batin buat Citra, namun ternyata kebungkamannya ini tanpa sadar membuat Reinald semakin emosi. Berhari-hari Citra mengacuhkannya, dann… entahlah, Reinald mulai merasakan perasaan yang asing sejak saat tu. Akhir-akhir ini, ia sering membaca catatan-catatan kecil sang kakak, Ronald, mengenai Citra. Catatan yang Ronald buat dari hasil segala pengamatannya terhadap Citra selama berbulan-bulan. Catatan tentang identitas Citra, segala favorit Citra, hobi Citra, kebiasaan Citra, bahkan tentang momen-momen spesial Citra. Ternyata kata-kata dalam catatan Ronald terus terpatri dalam ingatan Reinald dan berlahan, setiap kata-kata itu terbentuk dalam sebuah tindakan yang Citra lakukan. Lagi-lagi, setiap Reinald menyaksikan tindakan Citra yang seolah mempraktikan kalimat-kalimat Ronald, Reinald kembali merasakan perasaan asing itu. Ia tidak menyukai hal ini. Apalagi dengan tindakan bungkam Citra. Perlahan ia jadi meyakini bahwa perasaan asing yang merambati hatinya belakang ini  adalah karena Citra telah membuatnya berdiri di tempat yang sama seperti Ronald! Menempatkannya di luar lingkaran. Hanya bisa melihat. Hanya bisa mengawasi. Dan hanya bisa diam. Reinald pun mulai ketakutan. Namun ia bertekad bahwa Citra tidak boleh menempatkannya di tempat yang sama dengan Ronald. Ia akan terus melakukan berbagai cara agar cewek itu mau bersuara lagi. Ckck.. Jadi semacam obsesi juga.. Akhirnya Reinald ngalami sendiri apa yang Ronald alami.

Tanpa sadar ia sebenarnya jadi ngejar Citra. Dia selalu berusaha membuat agar Citra mau bicara padanya. Dan akhirnya saat itu datang juga. Suatu hari, setelah hari pengabaian yang panjang, akhirnya Citra bicara. Awal mula, Reinald tahu kalo Citra lupa bawa buku cetak PKN. Reinal pun memberikan bukunya pada Citra dan menanggung resiko mendapat omel panjang lebar dari bu guru. Citra merasa nggak enak setelahnya. Mulai saat Reinald memberikan buku itu, akhirnya Citra bicara juga! Haduhh.. Akhirnyaa.. Hhaha.. Bahkan karena merasa bersalah atas diusirnya Reinald dari kelas karena dia, Citra pun mentraktir Reinald dan untuk pertama kalinya, keduanya ngobrol panjang lebar, pertama kalinya mereka berdekatan tanpa bertengkar, pertama kalinya makan di kantin berdua, dan pertama kalinya mereka merasa dekat satu sama lain. Ahhahaii :-D

Satu bulan pun berlalu. Perlahan, hubungan mereka mulai berkembang. Mereka tidak lagi sering bertengkar. Dan, aiih, manisnya mereka ini, mereka mulai semacam PDKT. Hhehe.. Bahkan setelah beberapa bulan, akhirnya Reinald memberanikan diri buat menatap foto Ronald lagi dan bilang, “Gue suka cewek lo,” ucapnya kemudian. Suaranya lirih dan bergetar…, “Boleh nggak, dia buat gue?” Reinald meneruskan kalimatnya dengan susah payah.

Haaaah… Taukan gimana selanjutnya? Yups, seperti kata sinopsisnya, “Dan itu membuat sang kakak kemudian kembali! ” Ampuuun… Asli deeh.. Aku aja ikut mrinding. Dan OMG, halaman 260 bener-bener bikin aku mrinding sejadi-jadinya! Tapi guys, kalo kalian niat mau baca novel ini, diikuti dari awal yaa, jangan langsung lompat-lompat, sumpah, novel ini bikin kita ngerasain segala emosi, senang, bahagia,  ketawa-ketawa, lalu kasihan, bangga, tiba-tiba sedih, dan kekhawatiran, juga ketakutan. Huft.. Karakter tokoh-tokohnya sangat kuat. Aku suka sama novel ini deh. Banget! Recommended! :-D

Ratingku buat novel ini : 8,8

About these ads
 
10 Comments

Posted by on July 22, 2011 in TeenLit

 

10 responses to “Dia, Tanpa Aku

  1. daUMM

    January 7, 2012 at 9:28 pm

    kerenn

     
  2. Qim ZOng

    February 1, 2012 at 11:51 am

    gilaaa keren euych…

    semua emozshi perasaan ada di dalamnya… :-)

     
  3. kiki

    November 16, 2012 at 12:49 pm

    Kemaren mau beli novel ini pas ke Gramedia, sinopsisnya menarik banget padaal. Tapi mesti pikir-pikir dulu buat beli novelnya :'(

     
  4. Dinda Bekti Pertiwi

    December 18, 2012 at 8:56 am

    saya pikir novel karangan esti kinasih keren semuaaaaaaaaaaaaaaaa :) apalagi yang still, trus baru deh dia tanpa aku. aku pernah baca, tapi cuma pinjem. skrang mau beli, ehh slalu ngk ada

     
  5. rossii

    July 17, 2013 at 10:47 am

    keerrreeennn bbaannggeeetttt
    smpek kluar air mata :'(

     
    • koleksinovelku

      November 12, 2013 at 10:52 pm

      hhihi.. aku aj pingin baca lagi nii. tapi sayang nda punya waktu :(

       
  6. Hikmah cutte

    October 20, 2013 at 7:56 pm

    Masih ada kah buku ini..?? Aku suka sekalii buku2 karangan esti kinasih…

     
  7. rinrinda

    September 1, 2014 at 9:19 pm

    aku suka banget semua novel mbak esti
    apalagi yg ini
    ngerasin gimana jadi Ronald yg cinta bnget sama Citra
    apalagi waktu si Reinald dilema sendiri
    ngefeel banget deh semua emosinya :D

     
  8. nabilla

    September 6, 2014 at 4:12 pm

    pernah baca novel ini . novel nya seru ! :D bisa buat org ketawa,gelisah,nangis,senyum2 :D pokok nya nice (y) sukses selalu yah buat novel DIA TANPA AKU :* Keren (y)

     
  9. Shindy

    October 27, 2014 at 7:20 pm

    pengen banget kalo novel ini di film in :D
    Aku baca novel ini sampe nangis :’)

     

you have a comment? just write here and post it ^^,

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 196 other followers

%d bloggers like this: